Meka dan sahabatnya serta dosganya menikmati makan malam mereka di Bukit Paralayang. Mereka bersenda gurau sambil sesekali saling meledek. Sedangkan si dosga lebih menikmati makanannya dan menjadi pendengar yang baik diantara obrolan mereka.
Pukul sudah menunjukkan jam 9 malam, mereka benar-benar tidak ingin beranjak dari Bukit Paralayang. Suasana Disana sangat dingin, disuguhkan dengan pemandangan yang indah dilihat dari atas bukit itu.
Akhirnya mereka memutuskan untuk turun dari Bukit dan kembali ke rumah Deon. Meka bersama sahabatnya menginap di rumah Deon. Si dosga juga ikut serta menginap di rumahnya Deon. Orang tua Deon saat ini sedang berada di luar kota bertugas, jadi Deon dan sahabatnya bebas dirumah itu.
"De, berarti setiap hari Lo sendirian dong disini?" tanya Isna.
"Ya mau gimana lagi beib. Namanya juga eike anak tunggal, harus membiasakan diri untuk sendiri. Makanya eike ajak kalian sering nginep disini biar ada temen eike loh," ucapnya.
"Yeee, kalau kami sering nginep disini, gimana dengan mama gw De, enak aja," celetuk Meka.
"Ya kalau nyokap Lo dah balik ke Sumatera, Lo kan bisa nginep disini bareng kita-kita," sahut Isna dari samping Shinta.
Meka gak sengaja melihat lagi bayangan hitam berada di lantai dua rumah Deon. Bayangan itu berdiri mengahadap ke arah mereka. Meka tidak bisa melihat bentuk asli nya, dia hanya bisa melihat sebatas bayangan saja.
"Apa itu? Kenapa lagi-lagi gw ngelihatnya. Masa sih demit ada dirumah Deon? Kayaknya gak mungkin Deon melihara demit disini," pikir Meka sambil memandangi Deon.
"Sayang, kamu kenapa diam aja?" bisik dosganya yang melihat Meka menatap kearah lantai dua.
"Gak apa-apa kok yanx," jawab Meka dengan suara pelan.
"Jujur loh sayang, jangan nyemburin sesuatu dariku, dari tadi aku ngelihat kamu selalu melihat kelantai dua. Ada apa?" Zain berbisik lagi disamping Meka.
Deon melihat gelagat aneh dari Meka. Dia pun melihat arah pandangan Meka. Deon melihat arah lantai dua.
"Kenapa Meka melihat kesana ya?" bathin Deon.
Deon melihat kearah Meka kembali. Dia pun mengerutkan keningnya menatap heran. Lalu dia pun mengalihkan pandangan Meka.
"Yuk ah beib, kita masuk ke kamar. Oh ya Pak dosga bobonya di sofa depan aja ya. Kan gak mungkin gabung sama kita-kita," ucap Deon.
"Lo juga harus tidur diluar," Isna menoyor kepala Deon sambil terkekeh.
"Ih...beib, eike kan sejenis sama kalian," ucapnya.
"Sejenis apaan, sejenis ikan ko'i ya," Isna menjahilin Deon terus-terusan. Karena bagi Isna dengan menjahilin Deon, bisa menghidupkan suasana di antara mereka.
"Hahaha, kalian ini bisa aja bercandanya," Pak dosga nya pun ikut nimbrung.
"Iya nih Pak, si Isna emang biasa gitu. Sukanya jahilin Deon mulu," kini Shinta pun ikut menimpali ucapan dosganya.
Meka masih diam mendengarkan celotehan para sahabatnya. Dia mendengar bisikan seperti biasa.
"Keluar dari rumah itu!!"bisik suara yang tak terlihat sosoknya.
"STOP.....!!"
Meka spontan berteriak, dia menutup kedua telinganya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Pergi dari rumah itu....!!" teriak sosok itu dengan suara yang hanya terdengar oleh Meka.
"Tidak...tidak...jangan ganggu aku...!" Meka terus berteriak kencang.
Sahabat-sahabat Meka kebingungan melihat sikap Meka. Terutama Zain, dia mencoba memeluk Meka untuk menenangkan nya.
"Sayang, kamu kenapa? Jangan buat aku khawatir!" seru Zain sembari mengusap-usap punggung Meka. Zain juga melantunkan ayat kursi di telinga nya untuk membuat Meka tenang.
"Allohu laa ilaaha illaa Huwal Hayyul Qoyyuum, laa ta’khudzuhuu sinatuw walaa nauum, la Huu maa fis samawaati wa maa fil ardh, mann dzalladzii yasyfa’u ‘inda Huu, illa bi idznih, ya’lamu maa bayna aidiihim wa maa kholfahum, wa laa yuhiituuna bisyayim min ‘ilmi Hii illaa bi maa syaa’, wa si’a kursiyyuus samaawaati walardh, wa laa yauudlu Huu hifdzuhumaa, wa Huwal ‘aliyyul ‘adziiim."
Artinya: “Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa'at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (QS. Al Baqoroh: 255).
Setelah Zain membaca ayat itu, Meka merasa tenang, dia menatap ke mata Zain, dan langsung memeluk Zain kembali.
Deon dan yang lainnya menghampiri Meka dan menunggu keadaan Meka membaik.
"Mek, Lo kenapa say..?" Isna memegang bahu Meka.
Meka melepaskan pelukannya dari dosganya. Dia melihat ke arah Deon.
"De, orang tua Lo kemana?" tanya Meka tiba-tiba.
Deon yang ditanya merasa bingung dengan ucapan Meka.
"Kenapa Beib, Lo nanyain nyokap eike, hah?" tanya Deon kembali.
"Boleh gw naik ke atas De, gw penasaran di atas," jawab Meka dengan tatapan datarnya.
"Tapi Mek, itu kamar nyokap, bokap eike. Lo mau ngapain kesitu?" Deon bertanya kembali.
"Ya udah De, bawa Meka ke kamar Lo aja yuk. Kita bicarakan di dalam aja ya," Pak dosga menyuruh mereka membawa Meka ke kamar.
"Eh say, gw kayaknya hari ini gak bisa nginep bareng kalian deh. Nih gw harus balik ke kost. Karena kakak gw nyariin ke kost," Shinta mengajukan pulang dan tidak bermalam di rumah Deon.
"Loh kok gitu Shin! Lo gak setia kawan banget deh," celetuk Isna dan menatap Shinta tajam.
"Sorry Na, gw ada perlu. Kakak gw datang. Nih lagi nunggu di kost gw. Pleeease kalian ngertiin ya," Shinta mengatupkan kedua tangannya memohon agar sahabatnya mengerti.
"Ya udah Shin, Lo balik aja. Gw gak apa-apa kok," jawab Meka.
Meka di papah sama dosganya ke tempat tidur Deon. Dia pun duduk bersandar di pinggiran tempat tidur.
Zain mengusap-usap lembut kepala Meka. Dia melihat adanya kegelisahan dari dalam diri Meka.
Sedangkan Isna dan Deon mengantar Shinta ke depan. Mereka menunggu Shinta menunggu grab online di depan rumah Deon.
Meka yang berada di dalam kamar Deon, memandang sekeliling kamar itu. Dia melihat adanya lukisan keluarga Deon. Dimana ada Mama dan Papanya serta Deon nya. Mata Meka memandang lekat kelukisan itu. Lalu tiba-tiba Meka berdiri dan menghampiri lukisan itu.
"Papa nya Deon udah meninggal ya Pak?" tanya Meka tanpa menoleh ke arah Pak Zain.
Zain pun berdiri mendatangi Meka yang berdiri tepat dihadapan lukisan itu.
"Kenapa kamu bertanya seperti itu sayang?" tanya Zain balik.
"Kok aku melihat Papanya Deon sudah meninggal ya yanx," ucapnya.
"Gak mungkin. Bukannya tadi Deon mengatakan bahwa Papanya berada diluar kota ya kan. Kamu jangan bicara sembarangan yanx. Nanti gak enak kalau Deon sampai mendengarnya," ucap dosganya.
"Aku juga gak tau yanx, kenapa aku merasakan Papanya sudah tiada," balas Meka.
Deon dan Isna sudah berdiri di dalam kamar nya. Dia mendengar Meka mengatakan hal yang membuat Deon sedih. Dia pun menghampiri Meka dari belakang.
"Kenapa Lo ngomong seperti itu beib?" tanya Deon dari belakang mereka.
Zain dan Meka terkejut mendengar suara Deon yang sudah berdiri di belakang mereka. Mereka berdua segera membalikkan badan menghadap ke Deon.
"Maaf De, gw hanya bertanya," ucap Meka datar.
"Kenapa Lo bisa berpikiran seperti itu Mek?" giliran Isna yang bertanya.
"Gak tau kenapa, gw melihat dari wajah bokap Lo. Dan kalau gw bilang, mungkin tak masuk akal," jelas Meka.
"Kenapa sekarang Lo seperti orang aneh Mek?" tanya Isna lagi.
Meka hanya menggeleng-gelengkan kepalanya tak mengerti dengan dirinya sendiri.
"Kalau boleh tau, emang orang tua kamu dimana Deon?" dosganya ikut bertanya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 230 Episodes
Comments
Hantu
Mudah-mudahan gak lupa
2022-08-31
0
Putra Ponsel
jangan lama² up nya kak, nanti lupa ceritanya
2022-08-30
1