Mobil pun melaju dengan kecepatan sedang. Meka yang dari tadi mencoba menghubungi Mamanya untuk meminta izin, belum juga diangkat. Lalu Meka mencoba menghubungi Asih sahabat di kostnya. Tlp pun diangkat.
"Halo, Assalamu'alaikum Asih," sapa Meka
"Wa'alaikumussalam Mek, ada apa?" tanya Asih.
"Aku tadi menghubungi Mama ku tapi gak diangkat juga. Lo sekarang dimana Sih?" tanya Meka balik.
"Gw di kost. Tunggu bentar biar aku lihat ke kamar mu," jawab Asih.
Lalu Cha pun menunggu dengan apa yang dikatakan Asih. Sedangkan Asih melihat Mamanya Cha ke kamar.
'Tok Tok Tok Tok'
"Bun....!" panggil Asih dari luar kamar.
"Buuuunnn!" Asih mencoba memanggilnya kembali hingga terdengar suara pintu kamar dibuka.
"Kenapa nak?" tanya Mamanya Meka dengan wajah mengantuk.
"Ini Meka katanya tadi mencoba menghubungi Bunda, tapi gak diangkat juga," ucap Asih.
"Iya Bunda ngantuk banget, trus ponsel bunda di meja kayaknya. Tadi Bunda mengecilkan deringnya," jelas Mamanya Meka.
"Nih Bun, Meka nya mau ngomong," Asih memberikan ponselnya kepada Mamanya Meka.
"Hallo, Assalamu'alaikum nak, kamu blom pulang?" tanya Mamanya.
"Ma, Meka malam ini nginep bareng teman ya di rumah Deon. Tapi nih kami lagi jalan diluar, jawab Meka.
"Loh, Mama sendirian dong disini!" ucap Mamanya sedih.
"Sekali ini aja ya Ma. Meka udah jauh-jauh hari janji sama teman-teman kumpul di rumah Deon, sebelum Mama ke Jogja," ucap Meka yang merasa gak enak meninggalkan Mamanya.
"Ya udah, gak apa-apa sayang. Tapi kamu harus hati-hati dijalan ya nak. Jangan aneh-aneh," ucap Mamanya yang memberikan izinnya.
"Siap Ma, Meka gak akan aneh-aneh," balas Meka senang.
Setelah itu Meka melihat kearah Zain. Dia tersenyum senang karena dapat izin dari mamanya.
"Gimana Mek, dibolehin sama mama Lo?" tanya Isna dari belakang.
"Alhamdulillah aman," jawab Meka.
"Duh enaknya ya beib, punya Mama yang perdulian. Eike mah si nyokap sibuk muluuuuu nyari uang, samapi lupa sama eike si cantik manis ini," ucap Deon cuek.
"Udah jangan sedih gitu dong beib, kan ada kita-kita buat menghibur Lo. Ya kan Mek," ucap Isna.
"Makasih ya beib, kalian emang sahabat eike yang apling setia," balas Deon.
Zain yang sedang menyetir, merasa terharu mendengarkan obrolan kekasihnya dan sahabat kekasihnya.
"Benar-benar kompak kalian," ucap dosganya tiba-tiba.
"Iya dong Pak," sahut Shinta senyum.
Isna menoleh kearah Shinta. Karena dari tadi Shinta diam saja. Tapi tiba-tiba menjawab ucapan dosga mereka.
"Kayaknya benar nih pikiran gw. Dia tertarik sama Pak Zain," bathin Isna.
Lalu Isna kembali mengajak ngobrol Deon yang duduk nya di tengah.
"De, nanti pas kegiatan study tour, Lo udah izin blom sama ortu?" tanya Isna.
"Gak usah izin beib. Mereka gak pernah perduli sama eike. Jadi yei tenang, eike pasti ikut," jawab Deon.
"Lo Mek, udah ngasih tau Mama Lo blom buat study tour?" tanya Isna kepada Meka.
"Blom sih Na, tapi semoga Mama gw sih ngizinin," jawab Meka.
"Kalau Lo gimana Shin?" tanya Meka dari depan.
"Gw sih gampang. Nyokap dah ngizinin kok. Jadi tinggal berangkat aja," jawab Shinta.
"Kalau begitu, kalian semua ikut ya kegiatan study tour nanti?" tanya dosga mereka.
"Ikut dong Pak," jawab Shinta langsung.
"Pasti dong Pak," jawab Isna.
"Jangan ditanya Pak, harus ikut," sambung Deon.
"Insyaallah ya," jawab Meka yang duduk disamping Zain.
"Kita masih lama ya Pak? tanya Shinta dengan manisnya.
"Masa yei gak pernah sih beib ke Bukit Paralayang," cetus Deon yang mulai heran melihat sikap Shinta.
"Wah ketinggalan Lo Shin. Disana tuh keren banget. Kita bisa lihat sunset loh," sambung Isna. Isna yang notabennya dari Jogja, sudah sering datang ke sana bersama teman-temannya waktu SMA. Dan saat ini, pertama kalinya dia ke Bukit Paralayang bersama sahabat kuliahnya.
"Emang gw blom pernah kesana. Gw kan bukan asli Jogja kayak Lo, Na," ketus Shinta yang mulai tidak suka melihat Isna.
Shinta berasal dari Banten. Orang tuanya saat ini berada disana. Sedangkan Shinta kuliah diJogja karena kemauannya. Di Jogja dia sama seperti Meka. Menjadi anak kost.
"Sama dong Shin, gw juga baru pertama kali ke sana," sambung Meka dengan melihat kebelakang ke arah Shinta sambil tersenyum.
"Berarti Lo sama aja Mek sama Shinta," celetuk Isna.
"Gak masalah dong Na, namanya juga kami pendatang, wajar dong blom menginjakkan kaki ke sana," ucap Meka yang berusaha menengahi mereka berdua.
"Bentar lagi kita sampai ya," ucap dosganya yang memotong pembicaraan mereka.
"Asyiiik," balas Deon.
"Gak sabaran gw mau lihat sunset," ucap Meka.
"Pasti keren Mek, tar kita mengabadikan foto ya di sana," sambung Isna.
"Wah mantep tuh," Deon ikut-ikutan mendukung Isna.
Akhirnya mereka sampai juga di Bukit Paralayang. Deon bersama dua sahabatnya turun dari mobil. Sedangkan Meka menunggu dosganya memarkirkan mobil. Lalu mereka pun menyusul yang lainnya.
Mereka menuju ke tempat yang ramai pengunjungnya. Disana mereka nongkrong di cafe sambil memesan makanan dan minuman.
"Waowww beib banyak bingit kaum adam nya!" seru Deon.
"Lo juga kau adam De," sindir Shinta.
"Eike gregetan banget loh beib. Jadi susah eike milihnya," ucap Deon yang tidak memperdulikan ucapan Shinta.
"Emang pakaian De, pakai milih segala," sambung Meka.
"Begindang beib. Yei kayak gak tau eike aja. Susah boooo buat naksir sama seseorang, jadi harus bener-bener diseleksi dan di pilih-pilih," ucap Deon menjelaskan panjang.
"Iya deh, gw ngikut aja. Dari pada bonyok hahahaha," ledek Meka sambil terbahak-bahak.
"Ihhhhh Meka ku sayang, kamu jahilin eike mulu sih," ucap Deon dengan wajah juteknya.
"Duh...Deon ku yang cantik, jangan ngambek dong...Nanti kaum adam gak ada yang suka loh...," bujuk Meka dengan senyuman.
"Meka kamu mau pesan apa nih?" tanya dosganya.
"Kok Meka aja sih Pak yang ditanya..Kita mau dong ditanya juga," jawab Shinta yang to the point.
"Si Meka kan kekasihnya dosga kita, beib. Jadi biarin lah ditanya sama yayangnya," ucap Deon sambil menaik-naikkan alisnya dan menatap ke arah Meka.
"Iya nih, Shin biarin tau," celetuk Isna yang ikut menimpali ucapan Deon.
Shinta diam aja, dia males berdebat dengan kedua sahabatnya itu. Namun dia menatap Meka dengan sinis.
"Ngeselin banget sih. Meka terus yang diperhatikan. Masa Pak Zain tidak tertarik dengan ku. Apa ada yang kurang ya dengan susuk yang aku gunakan. Atau aku pakai cara lain?" bathin Shinta.
Meka pura-pura tak melihat ke arah Shinta. Dia mencoba menjaga perasaan sahabatnya itu. Dan tiba-tiba dia mendengarkan suara bisikan.
"Jauhi dia, jauhi....," terdengar ditelinga Meka suara seseorang berkata. Tapi tetap saja Meka tak menemukan nya.
"Siapa sih yang berbisik. Atau jangan-jangan demit lagi ya, ihhhhh," bathin Meka sambil merinding.
"Kenapa Lo Mek?" tanya Isna yang melihat Meka melamun.
"Ah, eh nggak. Gw lagi mikirin tentang study tour kita," Meka berkilah.
"Kirain Lo kemasukan demit sini. Awas loh jangan ngelamun," sambung Isna.
"Iya beib, jangan melamun ya," Deon pun mengingatkan Meka.
Berbeda dengan Shinta. Dia malah sibuk mengajak dosganya ngobrol. Namun si dosga tidak begitu menggubrisnya. Hanya beberapa kali dosganya merespon ucapan Shinta.
Waktu terus berjalan hingga sore menjelang malam dimana akan adanya sunset yang sangat indah.
"Benar-benar keren ya beib," ucap Deon.
"Waowww indahnya sunset di sini," sambung Meka yang merasa takjub.
Mereka pun mengabadikan moment-moment itu sambil berfoto bersama. Zain juga mengambil kesempatan untuk foto berdua dengan Meka kekasihnya.
"Sayang, sini foto berdua," ajak Zain sambil menggenggam tangan Meka.
"Sini Mek, gw ambilin foto kalian berdua," ucap Isna menawarkan diri membantu mengambil foto mereka.
Shinta merasa kesal melihat pemandangan yang membuatnya cemburu dan iri. Karena sahabatnya sangat memperhatikan Meka saja.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 230 Episodes
Comments
Yoga Andri
Kapan ya main ke sana lagi. Enaknya ke bukit paralayang
2022-08-27
0