Zain membelokkan mobilnya sesuai dengan apa yang diarahkan Asih.
"Sih, ayang Lo dah tau kan kita mau ketempat dia?" tanya Meka.
"Tadi sih udah gw kirim pesan ke dia, dan dianya juga udah bales," jawab Asih yang memperhatikan kedepan.
"Itu pak rumahnya yang kanan warna abu-abu," tunjuk Asih memberitahukan.
Zain pun memarkirkan mobilnya di depan rumah abu-abu.
"Mek, Lo mau ikut gw atau mau nunggu disini?" tanya Asih yang hendak keluar dari mobil.
"Meka disini aja," jawab Zain tanpa ekspresi.
"Ok kalau gitu, gw kedalam dulu ya," sahut Asih. Lalu dia keluar dari mobil dan masuk ke dalam rumah pacarnya.
Di dalam mobil, Zain menatap ke arah Meka dengan menyenderkan tubuhnya ke pintu mobil.
"Kenapa pak ngelihatin saya gitu?" tanya Meka yang grogi di lihatin.
"Pengen lihat aja, bolehkan," jawab dosganya cuek.
"Gak boleh, tar cantik saya luntur," balas Meka percaya diri.
"Sepertinya kamu sudah melupakan sesuatu ya," ucap dosganya.
"Apa?" tanya Meka.
Lalu dosganya mendekatkan diri kearah Meka, hingga membuat Meka memundurkan tubuhnya kebelakang.
"Pak Zain mau ngapain?" tanya Meka.
Dosganya tak menjawab. Dia justru tersenyum kearah Meka. Perlahan-lahan tapi pasti dosganya mel**** bibir Meka dengan penuh kelembutan hingga beberapa menit ciuman itu berlangsung, Asih datang mengetuk pintu mobil dari luar. Hingga membuat Meka tersentak dan melepaskan ciuman mereka. Meka membenahi rambutnya dan riasan wajahnya. Sedangkan dosganya terlihat santai.
"Dasar mesum," cibir Meka.
Pintu mobil pun terbuka. Asih masuk kedalam mobil itu bersama pacarnya.
"Mek, Pak, nih kenalin ayang gw," ucap Asih yang memperkenalkan pacarnya.
"Hai..., gw Meka dan ini Pak Zain," sapa Meka sambil menoleh kebelakang dan memperkenalkan dirinya.
"Hai juga, aku Eko pacarnya Asih. Seneng bisa berkenalan dengan mu," sahut lelaki itu sambil mengedipkan matanya tanpa sepengetahuan Asih.
Meka terkejut melihat pacar Asih yang bersikap genit. Begitu juga dengan Zain, dia tak sengaja melihat lelaki itu dari kaca spion, ketika lelaki itu mengedipkan matanya. Zain dan Meka saling berpandangan dengan menautkan alisnya secara bersamaan. Zain mengepalkan tangannya ingin mengajar laki-laki yang mencoba menggoda kekasihnya.
Namun Meka menahannya dengan menggenggam tangan Zain.
"Sayang, kita mau kemana nih?" tanya Meka yang sengaja meredamkan amarah dosganya ini.
Zain hanya diam saja dan tidak merespon pertanyaan Meka.
Meka jadi salah tingkah, bingung mau berbuat apa. Dia pun berinisiatif memeluk lengan kekasihnya agar tidak ngamuk.
"Sayang, jangan marah, tak cepat tua. Kalau udah tua, aku gak mau sama kamu karena udah jelek dan keriput," bisik Meka sambil menggoda Zain.
Zain menatap Meka dengan tajam dan dingin. Lagi-lagi dia tidak menggubris ucapan Meka.
Meka pun putus asa, namun dia mencobanya sekali lagi.
"Bener-bener nih singa kalau udah marah, bawaannya mau nerkam orang aja," bathin Meka.
Akhirnya Meka mencoba ide gilanya untuk meredamkan amarah kekasihnya.
"Sayang, kalau kamu marah gini, aku juga bisa marah. Biar aja, tidak akan aku kasih jatah kamu. Dan aku tidak akan masuk kuliah biar tidak ketemu kamu lagi," bisik Meka pura-pura merajuk.
Zain menatap Meka sekilas, karena dia sedang menyetir. Lalu dia berkata,
"Udah pinter kamu ngancam aku ya," tukas dosganya sambil menyunggingkan senyumannya.
"Habis dari tadi diajak ngobrol, diem aja. Kan bete di cuekin gitu, balas Meka yang masih setia memeluk lengan dosganya tanpa perduli dengan dua mahluk dibelakang mereka. Seolah-olah dunia milik mereka berdua.
"Ekhem ekhem...," Asih sengaja berdehem agar mereka sadar bahwa dibelakang masih ada penumpangnya.
"Enak banget ya di depan, serasa dunia miliknya sendiri dan yang lainnya cuma numpang," sindir Asih sambil cekikikan.
"Santai dong di boncengan," celetuk Meka sambil melihat kearah Asih.
"Oh ya, gimana kalau kita ke Bukit Bintang, tempat asyik banget dan romantis. Bisa makan jagung bakar loh disana," saran Eko sama Asih.
"Ih....mau. Ayo kesana. Aku juga blom pernah kesana," sahut Asih kesenangan.
Meka mendongakkan wajah nya ke arah dosganya.
"Mau ya kesana..., aku pengen makan jagung bakar berdua dengan kamu," rengek Meka dengan wajah memelasnya.
"Boleh, asal besok kamu kasih aku jatah, gimana?" tanya Zain setengah berbisik sambil menaik-naikkan alisnya.
"Bukannya seharusnya kamu yang kasih aku jatah. Kan kamu laki-lakinya. Masa perempuan yang kasih jatah bulanan," ucap Meka yang pura-pura bodoh.
"Kalau jatah bulanan tentu dong sayang, aku yang ngasih. Nih jatah lain," goda dosganya sambari mencium pipi Meka.
"Dasar dosga mesum! Main nyosor ae," celetuk Meka.
"Tapi kamu suka kan sayang, hayo jujur...," ledek dosganya. Membuat wajah Meka merah merona.
Akhirnya mereka memutuskan pergi ke Bukit Bintang, disana mereka menikmati kesejukan dimalam hari sambil makan jagung bakar dan capuccino panas.
Asih duduk bersama Eko di dalam cafe, sedangkan Meka bersama dosganya di dalam mobil sambil menikmati pemandangan lampu-lampu dari Bukit Bintang. Meka menyenderkan kepalanya di dada dosganya sedangkan dosganya memeluk pinggang Meka dari belakang dengan posisi memangku Meka.
"Kamu suka pemandangan nya sayang?" tanya dosganya yang sambil mencium aroma lavender tubuh Meka.
"Suka banget sayang, disini rasanya nyaman dan tentram apalagi kalau sama kamu," ucap Meka sembari menggombal dosganya.
"Kamu sekarang udah pinter ngegombalin aku ya, belajar dari mana kamu, hah?" tanya Zain.
"Kan pinternya karena kamu dosganya," jawab Meka cuek.
"Kapan aku ngajarin kamu buat ngegombal?" tanya Zain lagi.
"Sejak saat kita melakukannya," bisik Meka.
Zain langsung mencubit gemes hidung Meka. Dan memberikan kecupan-kecupan di pipinya Meka.
"Ahhhh, pak jangan ambil kesempatan dalam kesempitan dong! Kalau mau ngambil pas lagi ada kesempatan aja," celetuk Meka sambil memanyunkan bibirnya.
"Akhhhhh pak geli tau
"Jangan di maju-maju kan tuh bibir nya. Mau disosor nih.., mumpung ada kesempatan," sindir dosganya menggelitik pinggang Meka karena gemes.
"Akhhhhh pak geli tau..!" seru Meka kegelian.
"Kamu nih ya suka banget sekarang ngerjain saya," balas dosganya sambil memeluk Meka dari belakang.
"Pak, kalau di kampus kita biasa aja ya. Gak enak sama Bu Arin. Sepertinya dia menyukai kamu deh," ucap Meka.
"Tau dari mana kamu kalau Bu Arin menyukai aku?" tanya Zain cuek.
"Ya dari tatapan matanya, aku bisa lihat tadi pas dicafe, dia tuh pengen banget duduk disamping kamu!" jawab Meka mengingat kejadian tadi siang.
"Aku boleh jujur gak sayang?" tanya Zain cemas.
"Ya boleh lah, masa orang jujur dilarang," celetuk Meka.
"Sebenarnya Bu Arin itu kemaren mencoba menggoda aku ketika kamu tidak datang ke ruanganku. Dia masuk kedalam ruanganku yang aku pikir itu kamu, ternyata dia. Dan dia mencoba melecehkan aku. Aku terkejut dan sangat marah karena bukan kamu yang datang. Dia mencoba mengancam aku dengan mengatakan akan berteriak kalau aku tidak menerima dia," jelas Zain panjang kali lebar.
Meka menutup mulutnya tak percaya dengan penjelasan kekasihnya ini.
"Kamu serius sayang!" seru Meka yang masih tak percaya.
"Serius sayaaaang. Makanya tadi aku kurang suka dia gabung sama kita. Dan aku juga tau dia mengikuti kit sampai di cafe. Dan mengarang cerita agar bisa bareng sama kita," terang Zain lagi.
"Ya ampuuun sayang, jadi aku harus gimana dong?" tanya Meka bingung.
"Kamu biasa aja yanx. Biar itu menjadi urusanku. Kalau bisa kamu jangan dekat-dekat sama dia. Aku takut dia berbuat nekat terhadap kamu yanx," ucap dosganya khawatir.
"Iya, aku akan hati-hati. Kamu juga jangan mudah tergoda sama dia," ketus Meka.
"Ada yang cemburu nih, hehehe," ledek dosganya sambil mencium pipi Meka dengan gemas.
Tiba-tiba Asih dan Eko datang menyamperin mereka ke mobil.
"Mek, udahan yuk. Lihat nih dah malam banget," ucap Asih menunjukkan jam tangannya.
"Oh iya ya, yuk balik," ajak Meka sambil berdiri dari pangkuan dosganya.
Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam. Mereka turun menuju Jogja. Zain mereka mengantar Eko pacar Asih terlebih dahulu. Lalu mereka melanjutkan perjalanan menuju kostan Meka.
Sampai di kostan, ternyata mamanya Meka sudah menunggu di teras.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 230 Episodes
Comments