"Assalamu'alaikum Tante, maaf kami agak malam pulangnya, karena tadi kami jalan-jalan ke Bukit Bintang," ucap Zain jujur.
"Oh Tante kira kalian kenapa-napa, Tante khawatir," balas mamanya Meka.
"Maaf ya Tante, jadi kepikiran. Sekarang saya kembalikan Meka nya dengan selamat," ucap Zain tersenyum.
"Hehehe, iya ma. Nih Meka kembali tak kurang sedikitpun," sambung Meka becanda.
"Ada kurangnya, bibir nya udah di cium," bisik Zain.
Meka cengengesan menanggapi ucapan dosga nya.
"Tante, saya permisi pulang dulu ya. Besok mau mengajar lagi," pamit Zain.
"Oh iya nak Zain, hati-hati dijalan," balas mamanya Meka.
"Ma, Meka antar dulu ya ke depan," sambung Meka.
"Tante, Asih juga mau ke kamar ya, dah ngantuk nih. Besok mau kuliah. Tante yuk masuk juga, dah malam kan. Gak baik diluar lama-lama," ucap Asih yang mengajak mamanya Meka masuk ke dalam rumah.
Meka mengantar Zain ke depan. Mereka berjalan ke arah mobil.
"Sayang, besok aku jemput kamu kuliah ya. Kita berangkat bareng dan sekalian sarapan bareng diluar," ucap Zain sambil berjalan.
"Jam berapa besok mau jemput?" tanya Meka yang berhenti di depan mobil Zain.
"Sekitar jam 8 ya aku jemput. Kamu kuliah jam berapa?" tanya Zain balik.
"Kalau gak salah sih jam 9 pagi yanx," jawab Meka.
"Ya udah, aku balik dulu ya sayang," pamit Zain sambil memeluk Meka.
Tiba-tiba Zain mendekatkan wajahnya dan mel**** bibir Meka dengan lembut. Meka pun membalasnya. Namun ciuman itu hanya sebentar karena takut ketahuan sama mamanya Meka.
Zain tersenyum menatap Meka. Dia mengusap bibir Meka yang sangat disukainya.
Meka tersipu malu melihat Zain yang menatapnya.
"Jangan tatap aku seperti itu, kamu kelihatan mesum dengan tatapan begitu," ucap Meka malu.
"Biarin, mesumnya kan sama kamu yanx," sambung Zain tersenyum.
"Udah gih balik sana, kalau kamu lama-lama disini, bisa-bisa kamu melahap aku disini," sindir Meka yang melihat wajah mesum Zain.
"Hehehe, tau aja kamu yanx. Nikah yuk yanx, biar bisa kelonan terus," balas Zain sambil menaik-naikkan alisnya menggoda Meka.
"Ngajak nikah kok disini. Ngomongnya tuh ke mama aku dong!" seru Meka.
"Ok, sapa takut. Besok pagi aku datang, akan meminta kamu sama camer ku. Biar aku buktikan kalau ucapan ku serius," balas Zain tak mau kalah.
"Sapa takut," sahut Meka.
Zain pun tersenyum dan mengecup pipi Meka. Lalu dia pun masuk kedalam mobil pergi meninggalkan kost-kostan Meka.
Meka melambaikan tangannya ke arah Zain. Lalu Meka menyusul mamanya ke dalam kamar kost.
"Ma, udah tidur blom?" tanya Meka ketika melihat mamanya berbaring ditempat tidur.
"Belom nak, ada apa?" tanya mamanya.
"Maaf ya ma, tadi aku pulang telat. Karena tadi kami harus ngantar temannya Asih," jelas Meka.
"Iya mama gak marah kok nak. Asalkan jaga kepercayaan mama ya. Jangan aneh-aneh," balas mamanya.
"Maaf ya ma, Meka udah melanggarnya. Meka udah ngecewain mama. Mudah-mudahan Pak Zain mau bertanggung jawab," bathin Meka.
"Iya ma, ya udah Meka bersih-bersih dulu ya ma," ucap Meka meninggalkan mamanya ke kamar mandi. Dia pun mengganti bajunya dan berbaring di tempat tidur bareng mamanya.
Meka memejamkan matanya, sekilas dia teringat tentang kejadian di kampus bersama dosennya.
"Oh ya ampuuun kenapa aku bisa terlena dengan dosga itu sampai melakukannya. Oh Meka...kamu gak akan bisa lepas dari dosga itu," bathin Meka.
Meka berusaha melupakan kejadian tadi, namun dia terus mengingatnya. Bahkan Meka mengingat bagaimana dosganya itu menyentuhnya dengan kelembutan, mengambil keperawanannya. Hingga mereka tidak ada puas nya melakukan nya.
"Gak elegan banget perawan gw diambil dikampus. Dasar Meka dudung...," bathinnya.
Akhirnya Meka terlelap karena lelah dengan pikirannya. Dia pun tertidur dengan pulasnya.
Pagi pun tiba. Matahari sudah menampakkan dirinya. Begitupun dengan Meka. Dia sudah bangun pagi-pagi sekali. Lalu dia pun bersiap-siap untuk menunggu kedatangan dosganya.
Tepat pukul 8 pagi, Zain sudah datang ke kostan Meka. Zain mengetuk pintu kost-kostan itu. Meka yang sudah menunggu dari tadi, mendengar suara ketukan pintu, dia pun bergegas berjalan ke depan melihat siapa yang datang.
Meka membuka pintu kost-kostan nya, dan dia melihat ternyata dosga nya yang datang.
"Pagi sayang ku...," sapa Zain tersenyum.
"Pagi juga sayang!" sahut Meka membalas senyuman Zain.
"Berangkat sekarang?" tanya Zain.
"Iya, tapi aku panggil mama dulu ya," jawab Meka, kemudian dia masuk ke dalam kamar dan memberitahukan kepada mamanya bahwa di depan ada dosga nya.
Mamanya ke depan bersama Meka menemui Zain.
"Assalamu'alaikum Tante!" sapa Zain sambil menyalami tangan mamanya Meka.
"Wa'alaikumussalam, sahut mamanya Meka.
"Tante, saya kemari mau bernagakt bareng sama Meka sekalian sarapan diluar," ucap Zain dengan sopan.
"Meka emangnya kuliah jam berapa nak?" tanya mamanya kepada Meka.
"Meka kuliah jam 9 ma, tapi sarapan dulu dikantin aja," sahut Meka sembari melirik ke arah Zain.
"Ya sudah kalau begitu, kalian hati-hati dijalan ya," ucap mamanya Meka.
"Tante mau sarapan bareng sama kita?" ajak Zain.
"Iya ma, kita sarapan bareng yuk di dekat sini. Nanti kami antar lagi mama ke sini, gimana?" tanya Meka berharap.
"Gak usah sayang. Mama nanti beli sarapan di depan aja sama Asih sekalian mau belanja buat masak nanti," jawab mamanya.
"Ya udah deh. Meka bernagakt dulu ya ma. Assalamu'alaikum ma," ucap Meka sambil mencium pipi mamanya.
"Saya pamit dulu ya Tante. Assalamu'alaikum Tante," ucap Zain.
Mereka pun pergi meninggalkan kost-kostan Meka dan mamanya. Zain dan Meka masuk ke dalam mobil dan pergi mencari sarapan.
Tak jauh dari kost-kostan Meka, mereka menemukan cafe tempat sarapan. Zain memberhentikan mobilnya di cafe tersebut.
Meka dan Zain keluar dari mobil menuju cafe. Sesampainya didalam, mereka memilih duduk disudut. Ternyata tak jauh dari posisi mereka, ada Eko pacar Asih sedang berduaan dengan Bu Arin.
Meka tak sengaja bertatap mata dengan si Eko.
Lalu Meka memalingkan wajahnya ke arah Zain.
"Sayang, lebih baik kita cari tempat lain aja yuk. Di ujung sana ada Eko sama Bu Arin lagi berdua. Kamu jangan lihat ke belakang ya, karena dia tidak tau aku makan bareng kamu," jelas Cha yang mengajak Zain keluar dari cafe.
Zain pun mengikuti ucapan Meka. Dia tidak menoleh kebelakang. Dia beranjak dari tempat duduk dan langsung jalan ke depan tanpa menoleh kesana kemari.
Mereka buru-buru masuk kedalam mobil. Meka takut kalau Bu Arin melihat mobil dosganya. Zain melajukan mobil nya keluar dari cafe itu. Syukurnya Eko tidak mengejar mereka sampai ke parkiran.
"Syukur deh, Bu Arin gak lihat kita. Hahhh, berasa seperti buronan, kabur diam-diam," celetuk Meka yang ngos-ngosan karena jalan cepat-cepat.
"Hehehe, kenapa kalau Bu Arin tau kita punya hubungan?" tanya Zain bingung.
"Kan kamu sendiri bilang, kalau aku jangan dekat-dekat dengan Bu Arin. Berarti Bu Arin gak boleh tau dong kalau kita punya hubungan," jawab Meka menjelaskan.
"Iya sih. Aku khawatir sama kamu yanx," ucap Zain sambil melihat kearah Meka.
"Trus kita sarapan dimana nih?" tanya Meka yang sudah kelaparan.
"Kita cari sebelum kampus. Kan masih banyak cafe buat sarapan," jawab Zain santai.
Meka melihat sepanjang jalan yang dilalui. Blom ada tempat yang pas bagi Meka untuk sarapan. Hingga tak berapa lama, ada sebuah cafe yang sederhana tapi menarik membuat Meka ingin mencoba sarapan di tempat itu.
"Sayang, berhenti di situ aja. Aku mau coba sarapan di cafe itu," tunjuk Meka ke arah cafe itu.
"Ok!" sahut Zain.
Zain pun memarkirkan mobilnya di cafe itu. Mereka pun keluar dari mobil dan berjalan memasuki cafe itu. Sesampainya di dalam, ternyata suasana di cafe itu cukup rame pengunjungnya.
"Wah rame banget ya, padahal cafenya sederhana tapi serame ini!" seru Meka yang heran melihat cafe sederhana yang pengunjungnya rame.
Ketika Meka memasuki cafe itu, Meka merasakan hawa yang panas di cafe itu. Sekelebet bayangan hitam berlalu di arah kasir ke dapur.
"Apa itu tadi ya. Kok gak jelas gitu bentuknya," bathin Meka yang masih terpaku melihat bayangan itu."
"Sayang, kamu kenapa? Kok jadi diam aja. Kita jadi makan gak disini?" tanya Zain yang masih berdiri di depan pintu cafe.
Tiba-tiba Meka mendengar suara bisikan menyuruh dia untuk tidak makan di tempat itu.
"Pergi dari sini....!" suara bisikan.
Meka celingak-celinguk mencari sumber suara tapi tak menemukan sosok yang berbicara.
"Aneh, perasaan tadi ada yang berbisik, kuping gw aja seperti ditiup gitu, ah perasaan gw aja kali ya. Tapi kok gw ngerasa gak nyaman ya disini," bathin Meka sambil melihat ke arah Zain.
Meka mengajak Zain keluar dari cafe itu. Dan meminta nya untuk pergi dari situ.
"Loh kenapa gak jadi makan disitu?" tanya Zain heran.
"Rame banget, gak asyik, buat berisik," ucap Meka yang sengaja berbohong.
"Trus kita mau sarapan dimana sayang??" tanya Zain yang udah mulai kelaparan.
"Terserah deh," celetuk Meka.
Akhirnya Zain mengajak Meka makan di cafe yang dekat kampus. Ternyata disana tidak terlalu ramai. Zain dan Meka menikmati sarapan paginya dengan nasi soto dan teh manis hangat.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 230 Episodes
Comments
Enok Wahyu.S GM Surabaya
lha katanya mau blg ke camernya pak dosga, kok g ada cerita nya sih Thor 🤭🤗
2023-01-23
0