"Silahkan mbak, mas, kalau mau pesan, bisa panggil dengan saya Cici," ucap pelayan itu memperkenalkan dirinya.
"Iya mbak, kita lihat dulu menunya ya. Kalau dah selesai, kita akan panggil ya," ucap Isna.
Semua terjadi begitu saja. Mereka tak mungkin menyadari hal mengikuti kemana langkah semuanya bergerak. Hal yang tak bisa mengungkapkan terjadi di semua tempat.
Si pelayan pun permisi dari tempat itu. Namun
"Loh kalian disini juga?" tanya orang itu yang tak lain adalah Bu Arin.
"Kenapa kembali dengan cepat? Apa yang terjadi?"
"Tapi Bu, tempatnya udah gak ada!" sahut Isna
"Iya Bu, Ibu mau duduk dimana, kan gak ada tempat lagi," sambung Shinta sambil berpandangan dengan yang lainnya.
"Loh, saya bisa duduk disamping pak Zain kan bisa, nih masih ada kan," balas Bu Arin kepedean.
Pak Zain hanya diam, diam sibuk memainkan ponselnya tanpa menghiraukan kehadiran Bu Arin.
Membuat semua merasa terasingkan dengan hal yang tak biasa. Bisa menjerat keadaan tak lazim sesuai dengan permintaan dia. Milan tak bisa berbuat apa yang terjadi dengan semua mendadak itu.
Tiba-tiba dosga itu berdiri dan menyuruh Milan bertukar posisi.
"Milan kamu keluar dulu, biar saya duduk dipojoknya dan kamu ditempat duduk saya sekarang," perintah dosga itu tanpa ekspresi.
Milan yang mendengarkan perintah kekasihnya, menahan senyum bahagianya. Dia pun mengikuti perintah kekasihnya untuk bertukar tempat.
"Ternyata kangmas ku ini ngerti juga ya perasaan gw. Bagus lah," bathin Meka.
"Sialan nih Zon. Tunggu aja Zon ku sayang, tidak lama lagi kamu akan bertekuk lutut dihadapan ku mengemis cintaku," bathin Bu Arin sambil menyunggingkan senyumnya.
"Ya udah Bu, sini duduk dekat saya," ucap Milan yang sedari mungkin merasa sesuatu hal kemungkinan terjadi akibat hal setelah bertukar posisi dengan dosganya.
Bu Arin pun duduk disebelah Milan. Mereka makan sambil ngobrol membahas tentang tour kampus nanti.
Milan tau akan konsekuensi terjadi kemudian hari. Sementara hal itu akan menimbulkan kata yang terpendam merasakan hawa panas ketika berdekatan dengan Bu Arin.
"Kenapa gw merasa kepanasan ya dekat dengan Bu Arin. Padahal kan tadi dingin, sejuk. Ada apa ini?" bathin Milansambil melirik ke arah Bu Arin.
Tau akan hal yang tak bisa terjadi dan menunggu waktu yang tepat bersama asem kali buat terjadi di kebun belakang. Ruangan itu terasa pengab dan tidak ada pentilasi udaranya. Kenapa bisa mendadak tak ada udara segar di dalamnya.
Milan keluar saja dari ruangan itu. Semua hal yang dia lihat tak menjamin keadaanya tenang kembali.
"Kenapa Milan?"
"Aku tidak mengerti ini semua mendadak pada saat yang bersamaan," jelasnya.
"Sudahlah jangan hiraukan dia Milan. Ayo bergabung dengan semua nya. Kita happy saja dan bersama dengam hari yang riang.
Lalu bagaimana jika seseorang memiliki kelebihan tersendiri untuk tidak melakukan tindakan yang akan datang menghampiri mereka.
Apa keinginan mereka saat penampakan itu terjadi. Semua histeris dan menegangkan. Sejujurnya ini hal yang sangat mendebarkan bagi Milan dan Zon.
"Itu dia...!" serunya.
"Ayo kejar mereka semua!" perintahnya.
Mereka tak bisa melihat dalam kegelapan malam itu. Ketakutan yang melayang dalam pikirannya sendiri yang lainnya sudah menjadi bagian penting dalam kamar dan melihat siapa yang datang untuk memberikan perhatian lebih pada saat ini.
"Janji jangan tinggalkan kamu di sini," pintanya.
"Tentu aku akan menjaga senantiasa Milan. Yakinlah apa yang dilihat semua sangat jelas keberadaannya," terang Zon.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 230 Episodes
Comments