"Hahaha gw napsong sama Lo," ucap Meka becanda.
"Sialan Lo, gw masih normal kali," balas Asih sambil melepaskan pelukannya.
"Udah yuk ke depan. Lo kan mau gw kenalin sama dosga gw," ajak Meka sambil menarik tangan asih agar keluar dari dalam kamarnya.
"Hei, jangan bilang kalau Lo punya hubungan sama tuh dosga," celetuk Asih.
"Hussst berisik Lo. Udah yuk buruan kedepan," paksa Meka berjalan kedepan.
"Aihhh gak sabaran sih Lo," protes Asih.
Mereka pun berjalan kearah ruang tamu. Sebelum sampai di depan, mereka mendengar mamanya Meka terbahak-bahak ngobrol dengan Zain.
Meka dan Asih saling berpandangan. Asih mengedikkan bahunya, karena dia tau Meka bertanya kepadanya melalui tatapan Meka.
Lalu Meka berdehem, "Ekhem."
"Loh kenapa lama banget nak, dari tadi udah ditungguin nak Zain loh," ucap mamanya Meka melihat kedatangan anaknya.
"Eh Tante, biasalah Tan, Meka lama banget berkaca nya tadi di dalam kamar. Syukur nya Asih datang, kalau gak bisa berabad-abad dandannya," ledek Asih tanpa melihat ke Meka, tapi dia justru tersenyum melihat Zain.
"Awas Lo, matanya dijaga," bisik Meka sambil mencubit pinggang Asih.
"Awwww!!" pekik Asih.
"Kenapa nak Asih?" tanya mamanya Meka.
"Ah gak apa-apa Tan, nih Meka biasa lah Tan, cemburuan," bisik Asih yang mendekatkan dirinya ke arah mamanya Meka.
Mamanya Meka tersenyum melihat anaknya yang cemburu.
"Apa itu artinya, mereka punya hubungan spesial," bathin mamanya.
"Ya udah Tante tinggal ya kedalam, kalian ngobrol aja. Ayo Asih temenin Tante kedalam," ajak mamanya Meka untuk meninggalkan mereka berdua.
"Tapi Tan, saya kan blom kenalan sama tamunya Meka," rajuk Asih.
"Gak usah kenalan, nanti Tante carikan yang sama seperti itu," canda mamanya Meka.
"Eh, hai pak, kenalkan nama saya Asih sahabatnya Meka yang paling cantik," sapa Asih dengan memperkenalkan namanya.
"Idih ngarep!" hardik Meka.
"Biarin, sayang dilewatkan," celetuk Asih dengan genitnya.
"Ayo nak Asih kita kedalam," ajak mamanya Meka.
"Dasar genit! Awas Lo ya ntar gw pites Lo habis nih," canda Meka sambil menjulurkan lidah nya ke Asih sahabatnya.
"Wekkk," ejek Asih yang juga menjulurkan lidahnya kearah Meka.
Sepeninggalan mereka, Meka melihat dosganya senyum-senyum sambil menggelengkan kepalanya.
"Lucu ya sahabat kamu yanx," ucap dosganya.
"Resek dia itu pak. Suka banget jahilin aku," sahut Meka dengan memanyunkan bibirnya.
"Duduk sini," panggil si dosga.
"Disini aja pak, gak enak sama yang lainnya," sahut Meka yang memilih duduk di depan dosganya.
Besok, bareng aku ya berangkat nya. Kebetulan besok aku ada jam ngajar pagi. Kamu kuliah jam berapa yanx?" tanya dosganya.
"Iya pagi sih. Tapi..nanti aq turun duluan ya. Gak enak sama teman-teman kalau lihat aq jalan sama kamu yanx," jawab Meka memohon.
"Gak boleh. Kita turun bareng. Gak usah pedulikan orang lain," balas di dosga gak perdulian.
"Ihhhhhhh mana bisa gitu! Udah ah terserah kamu aja," Meka pun ngambek.
"Ya udah aku mau balik dulu ya, mana mama kamu. Aku mau pamit," ucap dosganya yang tidak memperdulikan sikap Meka.
Meka pun melangkah meninggalkan dosganya dengan wajah juteknya.
"Ma...," tuh tamunya mau pamit pulang," ucap Meka menyamperin mamanya di dalam kamar.
"Iya mama bentar lagi ke depan," sahut mamanya dari dalam kamar.
Tiba-tiba Asih keluar dari dalam kamarnya menemui Meka.
"Mek, temani gw yuk ke tempat ayang gw," rengek Asih yang bergelayut manja di lengan Meka.
"Mau ngapain gw nemani Lo....tar gw jadi obat nyamuk lagi buat kalian. Ogah banget gw ikut," sindir Meka menolak kemauan Asih.
"Ayolah Mek..., kasihanilah sahabat Lo ini. Janji gak akan lama," bujuk Asih.
Zain mendengar obrolan antara Meka dan Asih. Dia pun mendatangi mereka berdua.
"Bagaimana kalau kita pergi bareng," tawar Zain kepada Adih.
"Mau mau mau....! Ayo Mek, tuh dosga Lo aja mau nemenin," ucap Asih antusias.
"Ada udang dibalik batu gak pak?" tanya Meka penuh selidik.
"Hehehe," Zain hanya cengengesan aja.
"Tuh kan bener!" seru Meka bergidik.
Dari belakang mereka, datang mamanya Cha menghampiri mereka.
"Loh nak Zain mau pulang ya?" tanya mamanya Meka.
"Tadi sih mau pulang Tante. Tapi sekarang gak jadi. Saya mau izin nemani Meka dan Asih jalan-jalan," jelas Zain kepada mamanya Meka.
"Oh ya udah gak apa-apa. Tante bersyukur ada yang nemani mereka," sahut mamanya Meka.
"Lo harus bayar semua nya nanti," ucap Meka ke Asih dengan senyum menyeringai.
Asih hanya meringis melihat senyuman Meka yang penuh arti.
"Bentar ya pak dosga, kami dandan dulu," kata Asih yang berlalu dari hadapan dosga nya Meka. Tak lupa dia pun menarik tangan Meka agar segera bersiap-siap.
"Maaf ya nak Zain. Mereka itu emang seperti itu. Meka sama Asih sudah seperti saudara," jelas mamanya Meka.
"Gak apa-apa kok Tan, saya seneng melihat keakraban mereka berdua," balas Zain dengan senyum ramahnya.
Meka dan Asih bersiap-siap di dalam kamar masing-masing. Lalu Asih menemui Meka yang masih berada di dalam kamarnya.
"Ya ampuuun Mek, yang mau ketemuan gw, malah elo yang dandan habis-habisan," celetuk Asih yang geleng-geleng kepala.
"Yeeee, emang Lo aja yang mau ketemu pacar, gw juga mau kencan bareng dosga gw dong," sahut Meka yang gak mau kalah.
"Ayo ah buruan. Ayang gw dah nungguin nih dirumahnya," ajak Asih sewot.
"Iya-iya, nih juga dah kelar kok," balas Meka.
Mereka pun keluar dari dalam kamar Meka dan menemui mamanya Meka di depan.
"Ma, aku berangkat dulu ya," mama mau dibawakan apa nanti?" tanya Meka yang perhatian ke mamanya.
"Terserah kamu aja nak," jawab mamanya tersenyum.
"Tante, Asih bawa Meka dulu ya, gak lama kok, cuma sampai malam hehehe," canda Asih sambil cengengesan.
"Iya jangan kemalaman ya pulangnya," pinta mamanya Meka.
"Kami pamit dulu ya Tante, assalamu'alaikum," ucap Zain sambil menyalami mamanya Meka.
"Meka pergi dulu ya ma, assalamu'alaikum ma," ucap Meka sambil menyalami tangan mamanya.
"Asih pergi dulu ya Tan, assalamu'alaikum," ucap Asih sambil menyalami tangan mamanya Meka juga.
Merek bertiga masuk kedalam mobil dan pergi meninggalkan kost-kostan Meka.
Lalu mamanya Meka masuk kedalam kamar kost-kostan.
Sedangkan di mobil, Asih duduk di belakang, dan Meka duduk di depan bersama Zain.
"Kita kearah mana nih Sih?" tanya Meka.
"Kita ke arah jalan Janti ya Mek," jawab Asih dari belakang.
Zain pun mengendarai mobilnya menuju jalan Janti. Setelah sampai di daerah Janti, Zain bertanya,
"Kemana selanjutnya?"
"Itu pak di depan belok kiri, tar gak jauh kok dari depan gang itu," jawab Asih memberitahu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 230 Episodes
Comments