Setelah selesai sarapan pagi, mereka pergi meninggalkan tempat itu dan pergi menuju kampus.
Kembali di cafe. Eko yang melihat Meka sarapan bareng seorang laki-laki yang tidak diketahuinya karena posisi Zain membelakanginya. Sehingga Eko tidak melihat sosok laki-laki yang bersama Meka.
"Kamu kenapa dek?" tanya kakaknya yang tak? lain adalah Bu Arin. Dosen yang mengajar di kampus Meka.
"Oh itu kak, tadi aku melihat perempuan yang aku ceritain sama kakak barusan," jawab Eko.
"Trus kenapa kamu tidak nyamperin nya?" tanya kakaknya lagi.
"Orangnya keburu pergi. Gak tau sih kenapa. Tadi aku lihat dia baru datang, terus tiba-tiba dia pergi dari sini ketika melihat aku kak," ucap Eko menjelaskan.
"Loh kenapa bisa begitu?" tanya kakaknya.
"Ntahlah kak," jawab Eko sambil menaikkan bahunya.
Namun Eko masih penasaran dengan kepergian Meka. Dan Eko juga penasaran dengan laki-laki yang bersama Meka.
"Udah gak usah dipikirin. Nanti kalau ketemu kan bisa ditanya," ucap kakaknya yang tau dengan pikiran adiknya.
"Hehehe sok tau," hardik adiknya.
Di kampus Meka dan Zain baru saja sampai. Meka menyuruh Zain belakangan keluar dari mobil. Karena dia tidak mau orang-orang dikampus mengetahui kisah cintanya.
"Biarin aja mereka tau, biar gak ada yang deketin kamu," ucap Zain yang tidak suka dengan kemauan Meka.
"Ih...di bilangin, aku gak enak tau sama sahabat-sahabat ku. Nih juga mereka pasti menungguku untuk melakukan konfirmasi," celetuk Meka kesal.
"Sayang, kan kamu bisa bilang kita ketemu di depan gerbang," balas Zain.
Cha pun berpikir sejenak, kemudian dia pun mengiyakan usulan Zain.
"Ok, aku setuju. Cuss kita keluar dari mobil," ajak Meka tersenyum.
Zain juga menyunggingkan senyumannya merasa menang atas keinginannya.
Mereka keluar dari mobil bersamaan. Syukurnya tidak ada yang menyadari kebersamaan mereka. Meka dan Zain masuk ke dalam area kampus. Ternyata di depan kelas sudah ada para sahabatnya.
Sahabat-sahabat Meka melihat kehadiran Meka bersama dosganya.
"Auuuu Meka ku sayangggggg!" teriak Deon melihat ledatangan Meka.
"Kok sama si dosga ya?" tanya Isna yang merasa heran.
"Apa mereka berangkat bareng ya Na?" tanya Shinta yang juga keheranan melihat sahabatnya bisa jalan sama dosganya.
"Apa jangan-jangan merekaaaaa," Isna berhenti berbicara.
"Punya hubungan beib," sambung Deon.
Dari jauh Meka sudah merasa was-was karena melihat tatapan penuh tanda tanya dari ketiga sahabatnya.
"Waduh, alamat bakalan di cecar banyak pertanyaan nih," gumam Meka.
"Udah santai aja sayang. Kalau mereka bertanya, ya kamu tinggal jawab kalau kita punya hubungan, selesai kan," ucap Zain enteng.
Meka diam aja, dia terus berjalan ke arah sahabat-sahabat.
"Pagi pak...!" sapa mereka secara bersamaan.
Zain hanya mengangguk membalasnya.
"Mek, kok bisa bareng pak dosga?" tanya Isna penasaran.
Iya beib, eike kan jadi cembokur sama yei," sambung Deon.
"Sayang, aku keruangan ku dulu ya. Nanti kalau kamu udah selesai kuliah, aku tunggu diruangan ku," bisik Zain, lalu meninggalkan Meka dan yang lainnya.
"Insyaallah ya pak," jawab Meka dengan suara keras," ucap Meka yang sengaja mengeraskan suaranya.
Zain tak menghiraukannya. Dia berjalan terus menuju ruangannya.
Sedangkan ketiga sahabat Meka, terbengong melihat interaksi mereka berdua antara dosen dan mahasiswa.
"Pasti nih ada apa-apa nya nih dengan Meka!" seru Shinta.
"Mek, plis deh jujur sama kita-kita. Lo ada hubungan kan dengan tuh dosga?" tanya Isna yang dari tadi sudah gatal ingin bertanya.
"Hussssst jangan berisik, tar didengar yang lain tau. Banyak kuping nempel didinding," ucap Meka menyuruh mereka diam.
"Cicak kali beib nempel didinding," celetuk Deon.
"Ember," sahut Shinta.
"Kalau gw cerita, kalian janji jangan berteriak, ok," ucap Meka.
"Iya kami janji gak akan teriak," balas Shinta.
"Sebenarnya gw dan pak dosga punya hubungan. Kami sepasang kekasih sekarang," gumam Meka ditengah-tengah sahabatnya.
"What....," Deon jelas terkejut. Tapi dugaannya benar bahwa Meka udah jadian sama dosganya.
Shinta dan Isna bersamaan menutup mulutnya gak percaya.
"OMG Mek...!" seru mereka bersama-sama.
"Udah gak usah kaget begitu. Sekarang kalian sudah tau kan," ucap Meka menyeringai.
"Duh selamat ya beib, eike turut bahagia dengar khabar jadian yei. Walaupun hati eike hancur berkeping-keping, tapi eike rela melepaskan dosga kita untuk yei," ucap Deon lebay.
"Idih lebay banget deh Lo De," celetuk Shinta.
"Udah yuk masuk kelas, ntar lagi dosennya masuk," ajak Meka terhadap ketiga sahabatnya.
"Yuk lah," sambung Deon sambil menggandeng lengan Meka.
Mereka berempat masuk ke dalam kelas dan menunggu kedatangan dosennya.
Didalam ruangan, mereka mendengar bisik-bisik dari beberapa mahasiswi.
"Eh tadi pas gw diparkiran, gw gak sengaja lihat Meka jalan sama dosen populer dikampus kita cuy," ucap mahasiswi itu.
"Masa sih, kapan Lo lihatnya?" tanya temannya.
"Tadi loh barusan gw lihat mereka berangkat bareng ke kampus," jawab mahasiswi itu.
"Wah keduluan deh gw buat deketin tuh dosga," balas temannya.
"Bisa aja tuh si Meka gercep. Kita kalah gercep deh," ucap kedua mahasiswi itu.
Meka dan ketiga sahabatnya mendengar obrolan mereka. Deon ingin menghampiri mereka, namun ditahan oleh Meka.
"Biar aja De, gak usah di tanggepin. Gw aja cuek gak perduli apa kata orang," ucap Meka cuek.
"Ihhhhhhh beib, eike gerem banget dengan mulut combrengnya, pengen tak pites kayak kutu biar pada bungkam," balas Deon yang kesal melihat mahasiswi itu.
"Sabar De, biarin aja tuh Mak lampir mau ngomong apa. Yang penting sahabat kita ini yang jadi penakluk si dosga kutub es, hehehe," piiis ucap Shinta kepada Meka.
Meka merangkul Deon sahabatnya, supaya tidak terpancing dengan ucapan Mak lampir itu.
Tak berapa lama, dosen masuk ke dalam kelas mereka.
"Pagi menjelang siang semuanya!" sapa dosen itu yang tak lain adalah Zain.
"Loh beib, kok dosga yang masuk. Kemana Pak Anton?" tanya Deon yang melihat ke arah sahabat-sahabatnya.
Meka pun kaget melihat kehadiran kekasihnya di dalam kelasnya.
"Pak, kenapa bapak yang masuk. Pak Anton nya kemana Pak?" tanya salah satu mahasiswa.
"Oh.., Pak Anton hari ini berhalangan karena ada urusan keluarga. Jadi saya yang menggantikan beliau mengajar," jelas dosga itu.
"Oh.....!" seru para mahasiswa.
Meka memandang ke depan, tapi dosga nya itu tak memperdulikannya. Bagi Zain, ketika mereka berada dalam ruangan belajar, zain membuat jarak dengan Meka. Namun ketika diluar jam mengajar, Zain memperlihatkan kebucinannya.
"Sekarang catat ini. Nanti setelah kalian mencatatnya, saya akan menerangkannya," ucap si dosga sembari menulis di papan tulis.
Para mahasiswa pun mencatat yang ada di papan tulis. Setelah semuanya mencatat, dosga itu menerangkan apa yang mereka catat. Hingga waktu nya selesai. Jam pelajaran pun selesai. Si dosga menulis pesan kepada Meka.
"Habis ini, datang keruangan saya, gak pake lama," pesan dosga itu.
Meka yang asyik membereskan buku-bukunya, mendengar bunyi pesan masuk diponsel ya. Lalu meka melihat ponselnya, ternyata ada pesan masuk dari dosganya.
"Hmmm, pemaksaan," balas Meka, lalu memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas.
"Kenapa Mek?" tanya Isna yang datang ke bangku Meka.
"Nih si dosga nyuruh gw keruangannya," jawab Meka malas.
"Cie cie...., bucin amat tuh dosga sama Lo," sambung Shinta dari belakang.
"Cembokur eike.....!" seru Deon yang tak mau kalah.
"Gimana dong! Gw pengen gabung sama kalian. Tapi nih dosga main nyuruh-nyuruh aja," ucap Meka kesal.
"Ya udah, Lo kesana aja dulu. Habis tuh baru kumpul bareng kita, kan adil," sambung Shinta.
"Iya bener tuh," celetuk Isna.
"Ya udah deh kalau gitu. Nih gw samperin dulu ya si dosga. Habis tuh gw ke kantin, tungguin gw ya," ucap Meka yang langsung pergi meninggalkan ketiga sahabatnya.
"Ih..gak nyangka ya si dosga kita bisa klepek-klepek sama si Meka," ucap Shinta.
"Iya ih...hebat deh si Meka, menaklukkan siaga kutub es," sambung Isna.
Lalu mereka pergi keluar dari kelas menuju kantin. Ketiga sahabatnya itu menunggu Meka di kantin.
Sedangkan Meka berjalan ke arah ruangan dosganya. Namun sebelum ia sampai di ruangan dosganya, Meka melihat Bu Arin masuk ke dalam ruangan itu.
"Ngapain dia ke ruangan Zain?" tanya Meka dalam hati.
Dia terus memandang kearah ruangan dosganya. Meka duduk di depan kelas yang berdekatan dengan ruangan dosganya. Namun yang masuk kedalam ruangan dosganya blom juga keluar. Meka pun merasa bimbang, meneruskan langkahnya atau tidak.
"Gimana ini, apa aku harus masuk ke dalam? Bagaimana kalau aku melihat hal yang menyakitkan," bathin Meka yang merasa bingung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 230 Episodes
Comments