Deon menoleh ke Dosga mereka. Deon heran, kenapa Meka sahabatnya bisa mengatakan hal yang tidak masuk akal. Karena yang Deon tau, Papanya itu sedang tugas di luar kota. Dan Mamanya tidak pernah terlihat mencurigakan atau dalam keadaan bersedih.
"Pak, Papa eike itu lagi tugas di luar kota. Mereka sangat sibuk bekerja. Kenapa kalian bertanya lagi?" Deon merasa kesal karena harus menjawab hal yang tidak masuk akal.
"De, coba deh hubungi no Papa kamu? Aku gak bohong De!" Meka meyakinkan Deon.
"Ok eike akan coba menghubungi nya," Deon menghubungi no Papanya.
Sebenarnya Meka tidak mau mengatakan ini semua. Dia tau akan membuat Deon tidak mempercayainya. Tapi nalurinya mengatakan bahwa Papanya Deon memang sudah meninggal karena hal yang tidak masuk akal. Dan tidak seorangpun yang mengetahui kepergian Papanya Deon.
"Sayang, kamu kenapa bisa berbicara seperti itu? Nanti kamu dipikir orang yang mengada-ada. Aku gak mau orang berpikir buruk tentangmu sayang!" Zain merangkul Meka dan memberikan ketenangan untuknya.
"Maaf Zain, aku tau ini pasti sulit diterima orang lain. Aku juga gak tau kenapa bisa seperti ini.
Semenjak aku datang ke Jogja ini, aku merasakan sesuatu dalam diriku. Aku sering melihat sekelebet bayangan yang tak jelas. Dan setiap aku melihat bayangan itu, aku juga melihat laki-laki ganteng dengan pakaian jaman dulu. Aku juga sering mendengar bisikan suara laki-laki.
"Sejak kapan sayang, kamu mengalami hal itu?" Zain menatap Meka.
"Saat aku menginjakkan kaki ke Kota Jogja ini Zain," ucap Meka.
"Apa kamu pernah memimpikan sesuatu hal yang aneh?" tanya Zain.
Meka mengangguk, mengiyakan ucapan Zain.
"Kamu mimpi apa sayang? Kenapa kamu tidak cerita ke aku?" Zain agak kecewa dengan sikap Meka yang tidak mau berbagi dengannya.
"Maaf, aku takut kalau kamu tidak akan mempercayainya dan menganggap aku mengada-ada," Meka menggenggam tangan Dosganya.
Zain membalas genggaman tangan Meka dan membuatnya merasa nyaman.
Tiba-tiba Deon masuk ke dalam kamar nya dan menatap ke arah Meka dengan tatapan yang tidak biasa. Deon memperlihatkan wajah emosi dan marah terhadap Meka.
"Eike sudah bilang kan! Yei gak percaya kalau Papa eike masih hidup. Barusan kami ngobrol. Kenapa Mek, yei tega ngomong seperti itu?!" Deon kelihatan emosi saat mengatakan bahwa dia baru saja bisa berkomunikasi dengan Papanya.
Zain menatap ke Meka dengan mengerutkan keningnya. Dan Zain juga ikut-ikutan menghardik Meka.
"Kamu memang aneh sayang! Orang bisa menganggap kamu tidak waras! Awalnya aku mau mempercayaimu, namun setelah mendengar pengakuan Deon, aku jadi salah menilaimu. Kamu aneh...!" bentak Zain.
Meka tidak percaya kalau orang yang dicintainya bisa berkata seperti itu. Meka sakit hati dan merasa tak dipercayai pasangan itu membuat Meka kecewa.
"Kamu bilang aku aneh!" teriak Meka di hadapan Zain. "Fine, kita bubaran! Aku tidak mau berhubungan dengan orang yang tidak mempercayai pasangannya. Aku sangat kecewa sama kamu Pak," Meka mendorong dada Zain hingga membuat nya mundur kebelakang.
Lalu Meka keluar dari kamar Deon dan menatap tajam ke arah Deon sahabatnya.
"Gw berkata apa adanya De, semoga kamu tidak menyesali perbuatanmu hari ini," Meka meninggalkan mereka dengan rasa kecewanya.
Dia berlari menuruni anak tangga, dan sekilas menatap ke arah Bayangan yang berada di lantai atas bagian ujung.
Isna berteriak memanggil nama Meka. Dia mengejar Meka keluar rumah.
"Meka..tunggu!! Isna berusaha menggapai Meka.
"Ngapain kamu ngejar aku. Kamu sama kan dengan mereka, menganggap aku aneh!" teriak Meka. Dia terus berlari meninggalkan rumah Deon sambil berjalan kaki.
Zain masih terpaku diam membisu di dalam kamar Deon. Dia masih kaget mendengar ucapan Meka yang mengatakan hubungan mereka berakhir.
Hingga beberapa menit, Zain tersadar dan melihat Meka sudah tidak ada.
"Meka kemana?!" tanya Dosganya.
Deon duduk ditepi ranjangnya dan tidak menjawab pertanyaan Dosganya.
"Arrrrrghh!" Zain merasa kesal dan membanting pintu kamar Deon. Dia segera turun dan berlari mencari keberadaan Meka.
"Pak..! Meka pulang sendiri dengan jalan kaki. Saya tidak bisa menahannya!" Isna menangis dengan kejadian saat ini.
"Saya mau mencari Meka," Zain langsung keluar dari rumah Deon.
"Pak, saya ikut..!" Isna mengikuti Zain untuk mencari Meka.
Saat ini Meka sedang berjalan kaki menyusuri jalan. Dia melihat ada sebuah Mesjid. Lalu dia melangkahkan kakinya ke sana. Meka duduk di teras Mesjid karena dia merasa nyaman jika di Mesjid. Pukul sudah menunjukkan jam 22.45. Jalanan sudah mulai sepi. Meka mencoba menghubungi Asih sahabatnya dikost. Namun tak diangkat juga. Meka terus menghubunginya hingga terdengar suara Asih dari seberang.
"Hallo Asih..hiks hiks hiks!" Meka teesedu-sedu menangis.
"Mek, ini Lo?" Tanya Asih gak percaya.
"Asih, Lo bisa gak jemput gw di daerah *********. Gw mau balik ke kost."
"Ya udah Lo share lock aja, gw kesana sekarang," Asih langsung keluar kamar dan meminjam motor salah satu anak kost.
Dia tidak memberitahukan keadaan Meka dengan Mamanya Meka. Dia bergegas menjemput Meka ke lokasi yang sudah di kasih tau Meka.
Meka duduk di depan teras Masjid. Tidak ada seorangpun yang berada disana. Meka menunggu kedatangan Asih sambil melihat kearah jalanan. Hingga dia tak sengaja melihat mobil Zain lewat dari depan Masjid. Meka menundukkan wajahnya sekilas.
Tak berselang lama, Asih datang ke Masjid yang dikaih tau Meka. Dia melihat Meka sedang duduk sendiri. Asih pun bingung dan mengerutkan keningnya. Kemudian Asih turun dan menghampiri Meka.
"Ya ampun Meka..., kenapa Lo ada disini?" Asih berdiri dihadapan Meka.
Meka langsung berdiri dan memeluk Asih sambil menangis.
"Ayo kita pulang Sih, hiks hiks hiks," Meka masih memeluk Asih dan mengajaknya pulang.
"Iya-iya, kita pulang sekarang. Nanti Lo bisa cerita sama gw dikost."
Mereka pergi meninggalkan Mesjid itu. Disepanjang jalan, Meka masih menangis memikirkan sikap Zain yang mengatakannya aneh.
"Asih, tumben Lo bau melati," Cha spontan mengatakan hal yang aneh lagi.
"Bau melati gimana sih Mek, bau iler gini. Lo kan tadi tlp gw pas gw lagi berada di awang-awang sedang mimpi indah dengan seorang laki-laki tampan," Asih menceritakan mimpinya.
Meka hanya diam saja. Dia takut salah ngomong lagi. Dia gak mau sahabatnya ini juga menganggap dia aneh. Meka masih merasakan bau melati yang menyengat dari tubuh Asih.
Dalam perjalanan tidak ada yang berbicara antara Meka dan Asih. Keduanya memilih diam dengan pikiran masing-masing. Hingga mereka sampai dikost-kostan.
"Asih, gw tidur dikamar Lo dulu ya. Gak mungkin gw masuk kamar dalam keadaan begini," Meka menunjuk wajahnya yang berantakan.
"Ya udah Lo masuk duluan ke kamar gw dan ini kunci kamarnya. Gw nyimpen nih motor dulu kedalam," jawab Asih.
Meka melangkah masuk kedalam kamar Asih. Lagi-lagi dia mencium aroma melati dan bau tak sedap. Namun dia berusaha tidak menggubrisnya. Dia langsung merebahkan tubuhnya diatas kasur Asih. Hingga dia terlelap karena letih menangis.
Asih berjalan masuk ke kamarnya dan melihat Meka sudah tertidur.
"Lo kenapa Mek? Belakangan ini kenapa Lo jadi kelihatan aneh. Apa yang terjadi sama Lo sih Mek?" Gumam Asih sembari mengganti bajunya ke kamar mandi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 230 Episodes
Comments