Rasa penasaran Meka terhadap perubahan Shinta membuat Meka selalu memandang ke arah Shinta. Dia mencari-cari dimana letak perubahan di wajah Shinta. Semakin dia menelisik wajah Shinta, justru dia tidak menemukan ya. Hingga tiba-tiba dia mendengar seseorang berbisik dan berkata,
"Hati-hati dengan sekelilingmu, jauhi dia," ucap suara bisik itu.
Meka terkejut mendengar bisikan halus itu. Dia menoleh kesana kemari, namun tak ada bayangan yang samar dilihatnya didekatnya.
Akhirnya gak terasa waktu berjalan, mereka pun sampai di rumah Deon. Ya rumah Deon sangat besar. Dia anak dari orang kaya yang ada di Jogja. Kedua orang tuanya sibuk bekerja, hingga dia tak memiliki teman dirumahnya. Karena Deon adalah anak satu-satunya dikeluarga ya.
"Waowww De, rumah Lo besar banget kayak istana, ucap Shinta penuh kekaguman.
"Ini mah emang istana Shin," sambung Isna yang juga menatap kagum rumah Deon.
Lagi-lagi Meka merasakan aura yang tak nyaman berada disekelilingnya. Ketika mereka memasuki rumah Deon, Meka melihat sekelebat bayangan hitam berada di lantai atas yang sedang menatap kearah mereka.
Meka kaget, namun dia pura-pura tidak melihatnya. Bayangan itu tidak jelas. Tapi Meka bisa melihat bahwa bayangan itu besar. Dia memalingkan wajahnya kearah Deon.
"De, orang tua Lo kemana?" tanya Meka yang mengalihkan perhatiannya dari bayangan itu.
"Lagi sibuk Mek, biasalah kerja nyari uang buat eike hehehe," jawab Deon cengengesan.
"Lo gak kesepian apa De ditinggal mulu? Isna ikut menimpali.
"Udah biasa loh...Udah buruan mandi yuk ke kamar eike aja. Biar juga gantian, nanti Abang ganteng eike datang kemari," Deon melirik ke arah Meka.
"Siapa Abang ganteng Lo De? Katanya Lo anak tunggal, kok punya Abang?" tanya Shinta bingung.
"Ihhhh, Abang ganteng eike kan si dosga kita. Walaupun dia nya udah berpaling dari eike, namun cinta eike tetap buat dia," jawab Deon berlagak sedih.
"Sialan, masih juga mengharapkannya," celetuk Isna.
"Gw duluan ya mandi," Shinta meninggalkan mereka dan masuk ke kamar mandi yang ada di kamar Deon.
"Eike juga mandi deh. Eike mandi di kamar nyokap aja. Biar kagak kelamaan ya beib," Deon pun meninggalkan mereka ke kamar nyokapnya.
Tinggallah Isna dan Meka yang berada diruangan itu. Tiba-tiba Meka melihat sekelebat bayangan hitam melintas dari depan kamar Deon ketika dia membuka pintu kamarnya.
Meka pun merinding melihat penampakan yang tidak begitu jelas.
"Na, Lo merasa aneh gak dengan Shinta?" tanya Meka menatap Isna.
"Iya Mek, sepertinya Shinta menutupi sesuatu deh. Dan gw perhatiin, setiap Lo dekat dengan dosga, dia seperti kurang suka. Gw gak tau apa ini perasaan gw aja atau gimana gitu," jelas Isna yang mengingat beberapa kejadian saat Meka berada dekat dosganya.
"Masa sih Na? tanya Meka gak percaya.
"Suerrr terkewer-kewer loh Mek...," tekan Isna.
"Ah Lo main suer-suer aja. Gak percaya gw. Mana mungkin Shinta seperti itu," celetuk Meka.
"Hussst jangan kencang-kencang, nanti orangnya denger," balas Isna yang menyuruh Meka memelankan suaranya.
"Lama banget tuh si Shinta mandinya," ucap Isna yang menoleh ke arah kamar mandi.
Tiba-tiba Deon masuk ke dalam kamar dan melihat Meka dan Isna blom juga mandi.
"Loh kalian kenapa blom mandi beib?" Eike aja udah harum semerbak begini," ucap Deon sambil berkaca di depan meja riasnya.
"Tau tuh si Shinta blom keluar-keluar dari kamar mandi, lama amat ritualnya," celetuk Isna kesal.
Isna dan Meka, sudah merasa bete menunggu Shinta. Kemudian Shinta pun keluar dari dalam kamar mandi dan berdiri diam menatap ketiga sahabatnya.
"Lama banget sih Lo! Ngapain aja sih," ketus Isna.
"Sorry say, gw kan kalau mandi emang suka lama, biar harummmm," ucap Shinta tanpa merasa bersalah dan diapun melenggang berjalan ke meja rias Deon.
"Udah Mek, Lo aja duluan mandi. Nanti si dosga datang lagi. Gw belakangan aja," suruh Isna.
"Ya udah gw mandi bebek deh biar gak kelamaan," balas Meka yang melangkah masuk ke dalam kamar mandi.
Diluar rumah, ternyata Zain sudah datang. Dia memasuki area rumah Deon. Lalu Zain turun dari mobilnya dan menekan bel rumah Deon.
Dia pun menunggu beberapa menit hingga pintu terbuka. Ketika pintu terbuka, yang terlihat oleh Zain adalah pembantunya.
"Deonnya ada Bisa..?" tanya Zain saat melihat pembantu itu.
Oh ada Pak, silahkan masuk. Mereka masih diatas. Sebentar saya panggilkan," jawab pembantu itu.
Zain pun duduk di sofa depan menunggu mereka. Sedangkan si bibi sudah naik ke lantai atas memanggil Deon.
"Mas Deon..., ada tamu di depan," si bibi memberitahukan kedatangan dosga mereka.
"Duh...si ganteng cepat bingit datangnya, eike kan blom kelar mempercantik diri," ucap Deon ngasal.
'PLAK'
"Isna menoyor kepala Deon. Udah buruan Lo turun duluan," ujar Isna cengengesan.
Kemudian Meka pun keluar dari dalam kamar mandi. Dia sudah selesai mandi dan menyamperin Isna.
"Sana Lo mandi, nanti keburu si dosga datang," ucap Meka.
"Yeeee, si dosga udah datang tau," balas Isna.
"Loh udah datang ya, kalau gitu gw turun duluan ya. Lah Lo Na mandi buruan," ucap Meka tersenyum.
Lalu Meka pun keluar dari dalam kamar Deon dan menuruni tangga ke arah ruang tamu.
"Na, gw turun juga ya. Nanti Lo nyusul kita kebawah," Shinta pun ingin keluar dari dalam kamar.
Namun Isna menahan tangannya Shinta dan tidak memperbolehkannya keluar duluan.
"Bentar dong Shin, tungguin gw. Gw bentar kok mandinya ya, please....," Isna memohon kepada Shanti agar mau menunggunya.
Meka datang menyamperin Zain dan Deon. Ketika melihat dosganya, Zain langsung berdiri mendatangi Meka.
"Sudah siap semuanya sayang?" tanya Zain memandangi Meka yang sudah kelihatan segar.
"Udah bentar lagi, karena tinggal Isna yang belom selesai. Mereka masih dikamar. Bentar lagi juga kelar," ucap Meka.
"Pak dosga mau minum apa nih.., biar Deon yang ngambilin, ucap Deon yang menghampiri mereka.
"Kok dosga kita doang yang ditawarin De, gw gak Lo tawarin minum.Wah curang Lo, pilih kasih," rajuk Meka yang pura-pura cemberut.
"Yeee, kalau yei sih tinggal ambil aja beib. Lo kan udah beberapa kali kemari. Kalau dosga kita ini baru pertama, jadi harus eike service," ucap Deon santai.
"Biar Meka aja yang ngambil minumnya. Sayang, aku haus buatin teh manis dingin ya," pinta Zain manja.
"Eleuh-eleuh Meka...bisa banget buat dosga kita jadi bucin habis. Ajarin dong beib...," celetuk Deon.
Meka pergi arah dapur dan membuat teh manis permintaan Zain. Sedangkan Zain kembali duduk di ruang tamu depan bersama Deon.
"Pak, kok bisa jadian sih sama Meka?" tanya Deon yang merasa akrab.
"Mmm, kenapa ya?" tanya dosganya kembali.
"Yeeee si dosga, eike yang nanya, malah ditanya balik. Jawab dong Pak...!" seru Deon agak kesal.
"Hehehe, ya namanya juga cinta, langsung ditembak dong," jawab dosganya yang sedikit guyon.
"Ih...mau dong ditembak kalau sama dosen yang ganteng kayak bapak," sambung Deon.
Lalu Meka dan dan bersamaan dengan Isna dan Shinta juga turun dari lantai atas. Mereka sama-sama berjalan ke ruang tamu menemui Deon dan dosganya.
"Buat siapa tuh Mek?" tanya Isna yang hendak meminum minuman dingin itu.
"Eitttt ini buat sayang aku!" seru Meka.
"Cie cie....,udah mulai ngakuin nih sebagai sayang," celetuk Shinta yang gak suka namun berusaha menyimpan rasa sinisnya.
"Hehehe, iya nih Shin. Biar di hak paten kan kepemilikannya," balas Meka cuek.
Isna yang mendengar ucapan Meka, terkekeh kekeh.
"Hahaha, hak paten yeee," ledek Isna.
"Biarin, biar yang lain pada tau kalau dosga kita itu udah menjadi milik Meka seorang," balas Meka.
"Mantep," sambung Isna.
"Ember," celetuk Shinta sinis.
Mereka menghampiri Deon dan dosganya di ruang tamu. Meka pun menyerahkan minuman dingin buat kekasihnya itu.
"Gimana udah siap semuanya. Kita jalan sekarang?" tanya dosganya.
"Pak, kita bawa mobil satu aja ya. Nah gimana kalau kita naik mobil pak Zain aja, kan lebih nyaman tuh," saran Deon.
"Ya udah boleh lah. Saya setuju aja. Yuk jalan," ajak Zain sambil menggenggam tangan Meka.
"Asyiiik naik mobil pak Zain...!" seru Isna.
"Kayak gak pernah naik mobil aja Lo Na," hardik Shinta yang melihat Isna.
"Biarin weeek," balas Isna sembari mengejek.
Shinta melengos meninggalkan Isna yang berjalan dibelakang. Dia pun berjalan ke arah Meka dan dosga mereka.
Mereka berlima masuk ke dalam mobil. Zain dan Meka duduk di depan, sedangkan ketiga sahabat Meka duduk di belakang. Lalu mereka meninggalkan rumah Deon dan berjalan ke Bukit Paralayang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 230 Episodes
Comments