Saat Meka terlelap tidur, dia bermimpi dikejar dengan seekor harimau putih besar dan kuda putih polos. Meka ketakutan hingga dia meminta pertolongan sama orang-orang disekitarnya. Namun tidak ada yang mendengarnya dan melihat keberadaannya yang sedang berlari.
Meka terus berlari sampai keringat bercucuran. Dia sampai ketakutan dan bersembunyi di balik pohon besar. Tiba-tiba dia tersentak dan bangun dari tidurnya.
"Akhirnya Lo bangun juga," ternyata Asih mendengar Meka meminta tolong. Dia melihat Meka gelisah saat tidur dan kelihatan seperti orang yang sedang dikejar-kejar. Sehingga Asih menggoyang-goyangkan tubuh Meka agar terbangun.
"Gw dimana nih?" Meka masih belom sadar sepenuhnya. Nafasnya masih ngos-ngosan karena berlari.
"Ya Lo dikamar gw Meka..... Lo kenapa Mek? Kok kayak orang ketakutan gitu sampai minta tolong segala. Emang Lo mimpi apa, hah?" Asih mengerutkan keningnya menatap Meka.
Meka menatap Asih dengan pandangan yang bimbang, antara mau bercerita atau tidak. Dia masih takut untuk menceritakan sesuatu yang diluar nalar manusia. Meka masih diam dan bingung.
"Gw gak apa-apa Sih, mungkin karena gw blom baca do'a kali, makanya mimpi serem," kilah Meka.
"Oh...ya udah gih Lo cuci muka dulu atau mandi sekalian biar kita sarapan bareng. Kasihan tuh Mama Lo mengkhawatirin Lo dari semalam. Mending Lo balik ke kamar, habis tuh sarapan baru Lo cerita tentang semalam sama gw. Gw menunggu cerita Lo, ok!" Asih mengajak Meka kembali ke kamarnya.
Meka menuruti apa yang dibilang Asih. Dia pun kembali ke kamarnya dan mengetuk pintu kamar itu.
Tok tok tok tok
"Ma...!" buka pintunya! Nih Meka dah pulang!" ucap Meka yang masih dalam keadaan mengantuk.
Pintu kamar terbuka dan terlihat sosok Mamanya yang sudah bangun dari tadi.
"Loh Nak, kamu udah pulang? Kok wajahnya kusut begini?" Mamanya merasa khawatir dengan kondisi Meka.
"Ma, Meka mandi dulu ya. Nanti Meka ceritakan."
"Ya udah Nak, kamu mandi dulu biar segar. Mama tunggu didepan sama Asih biar kita sarapan di luar bareng Asih."
"Ayok Sih temani Tante nunggu Meka di depan saja kita. Biar Meka bersih-bersih dulu," Mamanya Meka mengajak Asih keluar dari kamar.
"Iya Tante."
Mereka berdua keluar dari kamar meninggalkan Meka sendirian. Meka terduduk didepan meja riasnya. Dan dia mulai bermonolog.
"Gw ini kenapa? Kenapa selalu melihat bayangan yang tak jelas. Kenapa selalu melihat laki-laki itu. Kenapa gw bisa merasakan hal-hal yang tak masuk akal. Ada apa dengan gw? Gw gak mau dianggap orang gila! Orang yang gw sayangi dan gw percaya, justru dia gak mempercayai gw. Jadi siapa yang harus gw percaya?"
Tiba-tiba Meka mendengar suara sahutan dari laki-laki yang sering membisikkannya.
"Suatu saat akan ada orang yang akan menerima kelebihanmu," ucapnya.
"Siapa kamu?! Teriak Meka.
"Keluar...!! Meka melihat kesana-kemari mencari sosok yang sering membisikkannya.
"Blom waktunya, kamu belom bisa menerima kenyataan tentang dirimu," balas suara itu.
"Kenyataan apa?! Keluar....!! Meka seperti orang kesetanan. Berteriak menyuruh suara itu untuk memperlihatkan sosoknya. Namun Meka tidak mendengar suara itu lagi.
Meka menatap dirinya di cermin. Dia pun menangis menahan sesak karena harus mengakhiri hubungannya dengan kekasihnya hanya karena ketidak percayaan tentang dirinya. Lalu dia mengusap air matanya dan berkata.
"Mulai saat ini gw gak akan perduli dengan segala macam hal yang tidak masuk diakal. Gw benci mereka yang tidak bisa mempercayai gw. Mau bagaimana kehidupan mereka, gw harus menjadi orang yang tidak perdulian."
Lalu Meka melangkah masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Dia sengaja berlama-lama untuk menetralkan hatinya dengan berendam di dalam air.
Mama Meka yang menunggu diluar merasa khawatir dengan keadaan Meka.
"Kenapa Meka lama banget ya Sih? Tante khawatir, ada apa dengan Meka? Coba nak, kamu lihat ke kamar. Meka udah selesai apa blom?" Mama Meka menyuruh Asih masuk ke kamar Meka.
"Iya Tante. Tante tunggu disini ya." Asih pergi kedalam melihat keadaan Meka.
"Mek...! Lo dah selesai blom mandinya?" Asih membuka pintu kamar Meka. Tapi tidak ada siapapun didalam.
Asih melangkah masuk kedalam. Dan mengetuk pintu kamar mandi.
"Meka...! Lo masih didalam kan? Cepatan keluar, kasihan si Tante udah nungguin," ucap Asih.
"Iya Sih, nih dah selesai kok," Meka keluar dari dalam kamar mandi. Dia sudah berpakaian rapi.
"Ayok buruan, kasihan Tante sendirian diluar nungguin Lo. Gw juga dah kelaparan nih," rengek Asih.
"Iya-iya, bentar ambil dompet dulu."
Setelah itu mereka keluar dari kamar Meka dan mengunci kamarnya. Lalu berjalan kedepan menemui Mamanya.
"Ya Allah Meka...! Kenapa lama banget mandinya. Mama udah laper nih," Mama Meka berdiri saat melihat Meka dan Asih datang.
"Maaf Ma," Hanya itu yang diucapkan Meka.
"Ya sudah, kita makan soto disana aja. Kalau yang jauh, nanti kelamaan," ajak Mamanya.
Meka dan Asih menurut saja. Mereka mengikuti kemauan Mamanya. Mereka bertiga berjalan kaki menuju lesehan jual soto ayam.
"Pak, pesen soto ayam telu mangkok. Mangan kene," Asih memesan kepada si penjual. Sedangkan Meka dan Mamanya sudah duduk menunggu.
"Nggih mbak, sedhela nggih!" jawab si penjual.
"(Iya mbak, tunggu sebentar ya)!" jawab si penjual.
"Iya Pak."
Asih kembali bergabung dengan Meka dan Mamanya. Dia duduk disamping Meka.
"Udah dipesan Sih?" tanya Mama Meka.
"Udah Tante," jawab Asih.
Saat mereka menunggu pesanan datang. Mamanya Meka kembali menanyakan tentang peristiwa tadi pagi yang memperlihatkan kekacauan pada diri Meka.
"Sekarang ceritakan sama Mama Mek, kenapa tadi pagi kamu pulang dengan wajah kusut begitu?" tanya Mamanya.
Meka lalu menatap Mamanya, kemudian beralih menatap ke Asih. Dia berusaha mengatur nafasnya secara perlahan. Lalu dia bercerita kepada Mamanya, namun tidak dengan cerita yang sebenarnya.
"Meka tadi malam sudah balik Ma kekost. Tapi Meka gak tega bangunin Mama, karena sudah larut malam. Kami gak jadi nginep dirumah Deon. Karena Shinta dan Isna tiba-tiba minta pulang. Mereka ternyata sudah ada janji sama keluarganya untuk pagi ini," Meka menjelaskan cerita dengan mengarang. Padahal apa yang disampaikannya ke Mamanya tidaklah seperti kenyataan yang dialaminya kemaren malam.
"Oh...Mama pikir kamu kenapa-napa. Karena perasaan Mama kemaren malam gak enak. Mama pikir kamu kenapa-napa."
"Mungkin tadi pagi Meka masih ngantuk ma, trus Asih ngusir Meka suruh mandi. Katanya Mama mikirin Meka dari kemaren malam," ucap Meka manja.
"Eh...enak aja bialngin gw ngusir Lo. Gw tuh nyuruh Lo mandi biar segar. Habis Tante, tadi dia mimpi..eummp...,"
Meka menutup mulut Asih sebelum melanjutkan ucapannya.
"Gak usah dengerin Asih, Ma," ucap Meka.
"Loh emang Meka nya kenapa Sih?" Mama Meka melepaskan tangan anaknya dari mulut Asih.
"Meka tadi mimpi sampai iler Meka keluar Ma, hehehe," bohong Meka.
"Bener sih...?" tatap Mamanya Meka ke arah Asih.
"Be..benar Tante. Dia ileran, makanya Asih suruh dia segera mandi biar gak bau," Asih memonyongkan mulutnya ke arah Meka.
Saat mereka ngobrol, pesanan soto ayamnya datang.
"Iki pesenannya, soto ayam telu. Arep ngombe apa?" tanya si penjual.
"(Ini pesanannya, soto ayam tiga, minumannya mau apa ya)?" tanya si penjual.
"Dua teh manis anget sama capuccino susu dingin ya pak," jawab Meka.
"Ya, ngenteni sedhela oke!"
"(Iya, tunggu sebentar ya)!"
Meka dan Mamanya serta Asih mulai menyantap soto ayamnya dengan suasana hening, hingga.
"Meka, besok Mama balik ke Sumatera. Karena Papa kamu sudah selesai tugasnya. Lagian juga adik kamu kasihan dirumah, kelamaan Mama tinggal sama Tante kamu disana," Mamanya melihat kearah Meka.
"Yaaaa, cepat banget Ma, pulangnya," Meka bersikap manja.
"Udah lama ya Meka. Udah cukup Mama nemani kamu disini. Lagiankan udah ada Asih nemani kamu."
"Asih, Tante nitip Meka. Jangan biarin dia sendirian kalau ada masalah. Tante percaya sama kamu, kalau kamu sahabat yang baik buat Meka," Mama Meka meminta Asih menjaga Meka.
"Siap Tante, kalau Meka macem-macem, Asih tinggal lapor ke Tante," Asih tersenyum menyeringai ke arah Meka.
"Dasar tukang ngadu," hardik Meka.
"Bukan tukang ngadu Meka..., Mama kan nitip kamu ke dia!" sahut Mamanya.
"Emang barang Ma, pakai dititip segala!" guyon Meka.
"Kamu ini ya! Dibilang orang tua, gak mau dengar," kesal Mamanya.
"Iya-iya Mamaku sayang....!" Meka memeluk Mamanya, menumpahkan segala kesedihannya di pelukan Mamanya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 230 Episodes
Comments