Zain duduk disamping Meka sambil bersandar di bahu Meka.
"Sayang, nanti ada yang masuk ke dalam gimana?" tanya Meka merasa risih.
"Tenang aja, sudah aku kunci kok dari dalam," jawab Zain enteng.
"Huuuuuuuuu, kamu itu. Nanti mahasiswa lain pada protes loh. Aku gak enak sama yang lainnya," protes Meka.
"Ya udah, aku buka lagi," balas Zain.
"Sayang, kegiatan study tournya jadi gak sih?" tanya Meka.
"Jadi, kamu dan teman yang lainnya sudah daftar kan?" tanya Zain.
"Sudah sih, emang nantinya mau daerah mana buat study tournya?" tanya Meka lagi.
"Kalau yang aku dengar daerah Sukabumi. Nanti akan ada pengarahan dari dosen yang mengurus kegiatan itu," jelas Zain.
"Pasti banyak ya yang ikut kegiatan itu?" Meka membayangkan akan sangat menyenangkan nantinya bisa jalan-jalan ke Sukabumi.
"Ya sepertinya begitu," jawab Zain.
Tiba-tiba ponsel Zain berdering. Zain berdiri dari tempat duduk nya dan berjalan ke arah meja kerjanya. Di ponsel itu, Zain melihat nama Papanya. Zain pun mengangkatnya.
"Assalamu'alaikum Pa, ada apa Papa menghubungi Zain?" tanya Zain.
"Wa'alaikumussalam Zain. Nanti kamu bisa pulang cepat. Karena teman Papa mau makan malam bersama dirumah, sekalia mau memperkenalkan seseorang kepada kamu," jelas Papanya.
Zain yang mendengar permintaan Papanya, merasa jengkel karena terus-terusan di suruh segera menikah.
"Maaf Pa, Zain tidak bisa. Karena harus mempersiapkan kebutuhan untuk kegiatan study tour kampus," tolak Zain tegas.
"Gak bisa, kamu harus pulang. Karena Papa sudah janji akan mengenalkan kamu dengan anak gadisnya. Pokoknya Papa tunggu nanti sore," paksa Papanya yang tidak mau tau dengan penolakan Zain.
"Maaf Pa, Zain tidak bisa. Dan jangan paksa Zain. Karena Zain sudah punya pilihan sendiri," jelas Zain, lalu mematikan ponselnya.
Zain menarik nafasnya perlahan sembari memandang ke arah Meka. Lalu dia berjalan menghampiri Meka dan menghempaskan pan*** nya duduk disamping Meka.
"Siapa yang tlp yanx?" tanya Meka penasaran.
"Papa," jawab Zain cuek.
"Kenapa? Apa kamu di suruh pulang cepat? tanya Meka lagi.
"Ya begitulah. Oh ya, nanti malam aku ikut ya kumpul di rumah Deon bareng kamu. Aku males kalau Papa nyari aku ke Apartement ku," pinta Zain dengan wajah melasnya.
"Mana seru, kalau kamu ikut. Kan aku jadi gak bebas kalau ada kamu," balas Meka ketus.
"Emang kamu mau ngapain disana? Jangan bilang kalian kumpul sama cowok lain, iya," Zain menatap Meka dengan wajah marah.
"Gak baik berprasangka buruk gitu. Bukan hanya aku saja yang tidak bebas. Tapi sahabat-sahabat ku juga akan merasa canggung," balas Meka.
"Nanti aku yang akan bilang ke mereka, pasti mereka setuju. Bagaimana kalau kita nanti sore bergerak ke Bukit Paralayang, kan seru tuh," ajak Zain.
Meka pun diam sejenak memikirkan tawaran Zain untuk ke sana. Lalu dia mengejutkan Zain dan berkata,
"Kayaknya seru tuh yanx, kita kesana sekarang aja biar bisa lihat sunset, gimana?" tanya Meka.
"Ok, aku siapkan dulu ya, setengah jam lagi kita bergerak," ucapnya.
"Kalau begitu aku nemui sahabat ku dulu dikantin buat ngajak mereka," Meka pun berdiri dan keluar dari ruangan dosganya menuju ke arah kantin.
Sesampainya di sana, Meka melihat, sahabatnya masih nongkrong di kantin. Meka pun menyamperin mereka.
"Loh, kalian blom pulang?" tanya Meka heran.
"Blom, bentar lagi beib. Yei kenapa balik lagi?" tanya Deon.
"Tadi diruangan si dosga, kami lagi bahas tentang study tour. Trus si dosga ngasih ide, gimana kalau sekarang kita ke Bukit Paralayang, habis tuh kita balik ke rumah Deon. Gimana, kalian mau gak?" tanya Meka kepada ketiga sahabatnya.
Mereka pun saling memandang dan kembali menatap ke arah Meka.
"Berangkat nya kapan Mek? Aku blom ganti baju, trus gak bawa baju ganti lagi," jawab Shinta.
"Iya Mek, masa ke sana masih bau badan. Kan gak nyaman banget," sambung Isna.
"Ya udah beib, yei-yei pada, mandi nya di rumah eike aja, habis tuh kita tunggu si dosga nyusul ke rumah gw, gimana?" tanya Deon yang memberikan idenya.
"Lo, Mek gimana, mau ikut kita-kita atau bareng si dosga?" tanya Isna.
"Gw ngikut kalian aja deh. Tar biar si dosga nyusul ke rumah Lo De," jawab Meka.
"Ya udah beib, Lo samperin tuh ayang, kasih tau kita ke rumah eike," suruh Deon.
"Yuk bareng aja kita jalan sekalian ke depan kan!" seru Meka mengajak sahabatnya bareng ke luar kampus.
Mereka berempat meninggalkan kantin menuju ke area parkir. Namun sebelumnya Meka singgah dulu ke ruangan dosganya.
"Pak," panggil Meka dari luar.
"Masuk aja sayang, gak dikunci kok," jawab dosganya dari dalam ruangan.
Meka pun masuk ke dalam ruangan dosganya, sedangkan ketiga sahabatnya menunggu di depan ruangan itu.
"Pak, saya duluan ya bareng teman-teman kerumah Deon. Kami mau mandi dulu. Nanti Pak Zain nyusul ya ke rumah Deon. Nanti di share Deon lokasinya," ucap Meka.
"Ok, nanti saya nyusul sekitar setengah jam lagi ya," balas dosganya tersenyum.
Setelah itu Meka pun keluar ruangan menyamperin sahabatnya. Lalu mereka pergi ke rumah Deon.
"Eh Mek, kok bisa sih Pak Zain ngajak kita jalan-jalan ke Bukit Paralayang?" tanya Isna.
"Iya Mek, ada angin apa tuh Pak Zain?" sambung Shinta.
"Kali dia jenuh pengen refreshing. Lagi pengen bareng mahasiswanya kali," jawab Meka.
"Gw salut sama Lo Mek, bisa naklukin dosga kita yang dingin seperti kutub es yang males tersenyum itu," celetuk Shinta.
"Tapi beib, berkat sahabat kita Meka, dosga eike jadi berubah jadi bucin beib....!" seru Deon sambil nyetir.
Mereka gak habis-habisnya membahas tentang dosga mereka. Sepanjang perjalanan menuju rumah Deon, Meka seperti ada yang mengikutinya. Namun Meka tidak tau, siapa dan apa yang mengikutinya.
Meka bisa merasakan adanya bayangan yang tak jelas sesekali di lihatnya di dekat sahabatnya Shinta. Tapi Meka tidak berani mengatakannya, takut merusak acara happy mereka saat ini.
"Mungkin besok, gw akan menanyakannya sama Shinta," bathin Meka. Dia pun menatap Shinta yang duduk dibelakang bersama Isna.
"Shin, kok gw perhatiin sepertinya Lo beda ya. Apa Lo perawatan ya say?" tanya Meka sambil menatap Shinta lekat.
"Mana mungkin gw perawatan Mek...Lo kayak gak tau gw aja Mek. Duit dari mana coba perawatan," ucap Shinta miris.
"Tapi gw lihat Lo makin cantik Shin, benar gak Na?" tanya Meka kepada Isna.
"Kayaknya iya sih ya. Dari tadi gw juga ngelihat ada yang berbeda dengan Shinta. Tapi gw gak bisa menjelaskannya Mek. Ternyata Lo benar, Shinta makin cantik," ucap Isna yang mendukung ucapan Meka.
"Ah kalian bisa aja. Mungkin karena gw seneng makan buah kali, makanya tambah cantik hehehe," ngeles Shinta sambil cengengesan.
Yang terjadi dengan Shinta adalah, dia menggunakan susuk di dekat matanya guna menarik perhatian cowok-cowok dikampusnya. Terutama dosga mereka. Ya Shinta ternyata diam-diam juga sangat mencintai dosga mereka tanpa sepengetahuan sahabatnya. Namun dia berusaha menyembunyikan perasaannya dihadapan para sahabatnya. Apalagi dihadapan Meka.
Terkadang Shinta suka merasa cemburu melihat kedekatan Meka dan dosga mereka. Shinta berusaha menutupi rasa cintanya. Dia hanya ingin dosganya yang mendatangi dirinya dan menyatakan perasaannya. Makanya Shinta pergi ke orang pintar untuk dipasangkan susuk agar dosganya mau melirik kearahnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 230 Episodes
Comments