Tiga hari sudah Yuda tidak bekerja, dirinya kacau dan acak acakan, sampai saat ini Yuda belum menyentuh makanan. Ayah kemudian menyapanya.
"Nak kamu makanlah sudah 3 hari perutmu belum terisi, disana makanan sudah tersedia." Ucap ayahnya sambil menunjuk ke meja makan.
Ayah aku khawatir pada Hana ?
Jika aku makan saat ini apa Hana disana juga makan ?
Bagaimana keadaannya sekarang apa dia baik baik saja disana?
Sampai hari ini, belum ada satu orang pun yang memberi kabar tentangnya.
Jawab ayah, apakah aku bisa makan dengan duduk santai dimeja itu ?
Gadis kecil itu adalah tanggung jawabku, sesuai janjiku pada keluarganya.
Dalam hidupku, sudah cukup aku kehilangan adik perempuanku yang tewas seketika di depan mataku. Aku tidak ingin mengulang kesalahan yang sama, tidak akan kubiarkan orang orang menyakiti dirinya, kenapa takdir tidak begitu baik padaku, disaat aku ingin memulai mengenal dan melindunginya, gadis itu malah diculik. Aku hanya ingin melindunginya."
Mendengar ucapan Yuda, seketika ayah hanya diam, tidak mampu ia berkata kata lagi.
Yuda kemudian pergi seorang diri mengemudikan mobil sport miliknya membelah seluruh jalanan kota Jakarta. Satu persatu jalan demi jalan di laluinya, tidak ada seorangpun yang berani bertanya padanya kemana akan pergi. Ibu yang menyaksikan pembicaraannya pada ayah hanya bisa menitihkan air matanya.
Akhirnya Yuda tiba di suatu tempat, di pesisir pantai, disana terlihat suasana sangat sepi karena masih pagi sekali, matahari baru mulai memancarkan sinarnya, Yuda duduk di terpahan ombak pantai itu sambil mengibas ibaskan tangannya.
Sementara semenjak siuman Danu membawah Hana pulang ke kontrakannya, untuk di rawat. Sengaja Danu tidak membawa Hana kerumah orang tuanya, agar berita Hana tidak menyebar sampai ke kampung.
Tidak terasa seminggu telah berlalu, Danu belum perna pergi bekerja, karena dirinya harus merawat Hana, untuk sementara dia digantikan oleh sahabatnya. Danu juga sibuk membantu Hana mencari beberapa daun herbal di perkebunan sesuai petunjuk dari adiknya itu.
Sampai dirumah akhirnya mereka berhasil membuat ramuan herbal yang diracik Danu, atas petunjuk Hana, sisa sisa daunnya juga dikeringkan dan kemudian dibuat kapsul sesuai takarannya.
Melihat adiknya yang jenius entah itu obat yang dipelajarinya dari mana, Danu tidak paham soal ramuan tradisional, tetapi buktinya Hana telah pulih tubuhnya bahkan lebih sehat dari biasanya, luka dikepala itu hanya tinggal bekasnya saja. Danu serasa tidak percaya, adiknya bisa secerdas ini.
"Hana kapsul kapsul ini sebaiknya dijual saja, atau diolah menjadi suatu usaha yang menguntungkan, aku bisa membantumu Hana, walau kau anak kecil, tetapi otakmu berfungsi dengan baik."
Inilah yang membuat Danu kagum dan sangat menyayangi adiknya itu, sehingga dia selalu memenuhi kebutuhan Hana, sampai mengirim uang bulanan untuknya, disamping hidupnya yang mapan, Danu juga bisa berbagi dengan saudaranya yang lain. Kecerdasan Hana tidak perna diragukan Danu, banyak bukti nyata yang telah dilihatnya.
"Jangan kak, aku takut... itu hanya kapsul biasa saja, penghilang rasa sakit bagian kepala, aku membuatnya untuk komsumsi pribadi.
Siapa yang akan percaya dengan anak kecil seperti aku. Lagipula ini baru kali pertama aku membuatnya, kakak jangan mengada ngada."
"Aku serius Hana, kamu punya bakat yang luar biasa."
"Kakak suatu saat itulah harapanku ketika impian bisa tercapai, menjadi profesor dan dokter handal, meracik dan meramu berbagai jenis obat obatan yang bisa di eksport dan di akui dunia. "
"Aku tak menyangka adikku ini punya impian yang begitu tinggi." Ucap Danu.
"Kak, apa aku boleh meminta sesuatu ?"
"Ada apa katakanlah, kalau bisa aku akan memberikan segalanya."
"Apa boleh aku menelpon orang tuaku dikampung, beberapa hari yang lalu adikku Hanum juga sedang menjalani operasi, saat ini pasti keluarganya Yuda juga sedang sibuk mencariku, entah apa yang terjadi dengan kak Rosalin aku tidak tahu kabarnya."
"Untuk adikmu Hanum, alhamdulillah operasinya berjalan lancar, ibu sempat mengabariku soal itu, kalau urusan Rosalin aku tidak mau terlalu pusing, semoga saja kebaikan dia dan ibunya padamu tidak ada maksud apa apa Hana." Ucap Danu sambil berdiri mengambil handponenya.
" Assalamualaikum paman...
Bagaimana kabar kalian? "
"Wa'alaikumsalam nak, alhamdulillah semuanya baik, tumben baru menelpon paman.
Ada apa nak ?"
"Syukurlah paman. Ini aku sedang bersama Hana, dia ingin bicara dengan kalian." Kata Danu, sambil memberikan telpon genggamnya ke Hana.
"Haloo ayah, bagaimana kabar kalian semua"
"Kami semua baik, maafkan kami selama ini belum sempat mengabarimu nak, ayah sengaja tidak mengganggumu karena ayah tau kau harus fokus pada pelajaran yang akan kau lombakan nanti."
Ternyata selama ini, orang tuanya belum perna menelponnya.
"Ibu dan Hanum dimana ayah, apa operasinya berjalan lancar ?"
"Semuanya beres nak, Hanum tinggal menjalani perawatan saja, kau tidak perlu khawatir, jangan membebani dirimu."
"Hana, saat ini kau bersama Danu. Dimana Yuda, aku tidak mendengar suaranya ?"
Mendengar ucapan ayahnya, Hana langsung teringat pada keluarga Yuda.
"Ayah ada yang ingin aku bicarakan padamu, apa kau punya waktu ?"
"Iya nak ada apa ? Katakanlah...."
"Kemudian Hana menceritakan panjang lebar, bagaimana dia berada di kontrakan Danu, mulai dari saat Hana jadi korban penculikan, hingga dia di buang ke pembuangan sampah pabrik, terakhir bertemu dengan Danu saat melintasi jalanan, karena jadi korban tabrakan."
Ayah yang mendengar cerita Hana, tidak menyangka anaknya dalam kesulitan yang besar, bahkan menjadi korban penculikan.
"Astagfirullahhaladziiim...
Hana, beruntung kamu selamat nak, kamu bisa bertemu dan di tolong kakakmu Danu.
Bagaimana keadaanmu sekarang nak, "
"Aku sudah baikan ayah, tidak perlu cemas, ada kak Danu disini yang merawatku. Itu sebabnya aku menelpon ayah, sudah seminggu aku tinggal bersama kakak Danu, aku tidak tau harus kemana lagi, keluarga Yuda saat ini pasti sedang mencariku ayah... "
"Aneh mereka tidak perna mengabari kami soal hilangnya kamu."
"Mungkin saja mereka takut dan terlalu sibuk mencariku ayah, sudahlah aku baik baik saja kok. Ayah jangan berfikir negatif ya."
"Ayah akan kerumah nenekmu dan menjelaskan padanya apa yang terjadi denganmu.
Bahkan saat ini ayah tidak punya nomornya Yuda atau orang tuanya, nanti nenekmu yang akan menjelaskan ke mereka nak."
"Iya ayah, tolong berikan alamat kak Danu, biar mereka menjemputku nanti."
"Iya nak, kalau begitu ayah pergi dulu. Kamu baik baik disitu, salam sama kakakmu Danu."
"Iya ayah, terimakasih, aku sayang kalian. Daaa ayah..." Hana mengakhiri panggilan dengan ayahnya.
Sementara dikampung Rafa bergegas kerumah ibunya, untuk menceritakan semua kejadian yang menimpah anaknya Hana.
Mendengar semuanya ibunya kaget luar biasa karena setahunya sahabatnya itu selalu menceritakan semua kejadian di Jakarta.
"Apa mungkin mereka sedang panik sampai lupa menghubungi kita."
"Sudahlah bu, Hana sekarang baik baik saja, Danu menjaganya dengan baik." Ucap Rafa pada ibunya.
Di kediaman orang tua Yuda, saat ini mereka sedang tegang melihat telpon genggam ibunya berdering. Nomor tertera disana panggilan dari neneknya Hana.
"Apa yang harus aku katakan pada Sima, saat ini cucunya telah tiada" Ucap ibunya Yuda.
"Bu aku yang bertanggung jawab, ibu tidak perlu membebani diri sendiri.
Berikan telponnya, aku yang bicara padanya." Yuda meminta izin bicara pada nenek.
"Halo nek, apa kabarmu...?
Maaf nek ini Yuda."
"Kami baik baik saja nak, mana ibumu kenapa kamu yang angkat telponnya ?
Hana mana, sejauh ini bagaimana hubungan kalian ?
Kenapa tidak mengabari kami. "
Deg... deg... deg...
Yuda kebingungan, dadanya semakin berdebar, mendengar pertanyaan nenek yang bertubi tubi.
"Anuuu... Ma_maaf nek, ibuku ada di toilet.
Akuuu dan Hana hubungan kami baik nek, tetapi saat ini Hana menghilang nek.
Aku bahkan sudah mengerahkan seluruh anak buahku dan mencarinya diseluruh kota, sampai saat ini belum ada kabar tentang dirinya. Maafkan kami nek."
"Kenapa kalian tidak perna memberitahu kami nak? "
"Maafkan kami sekeluarga nek, kalau nenek ingin menghukum, hukum saja aku sebagai jaminannya.
Kami semua sedang sibuk mencari Hana nek, di seluruh pelosok kota ini."
"Yuda kali ini aku memaafkanmu, katakanlah pada ibumu aku menelponnya.
Kamu dengar ucapan nenek, dan catat alamat ini baik baik. Aku tak akan mengulanginya."
Segera Yuda memasang telinganya mendengar semua ucapan neneknya Hana.
Betapa kaget dan bahagianya Yuda mendengar semua ucapan nenek. Ternyata Hana masih hidup dan tinggal di rumah kakaknya yang ada di Bandung.
Nenek segera mengakhirinya, Yuda mengembalikan handpone ibunya dan menceritakan semua apa yang di ucapkan neneknya Hana.
Yuda kemudian menelpon asistennya.
"Ronal besok kita berangkat ke Bandung segera siapkan perlengkapannya. Aku akan menjemput gadis kecilku."
Ronal yang medengar telpon singkat dari atasannya sedang berfikir, dimana Yuda mengetahui kabar tentang Hana.
Segera saja Ronal menyiapkan segalanya untuk perjalanan mereka besok.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 56 Episodes
Comments