Makanan Pedas

Saat pagi menjelang Rosalin bangun dari tidurnya dan tak menemukan Hana berada di sampingnya.

"Kemana anak itu, pagi benar dia sudah tidak ada di tempat tidurnya, apa yang dia lakukan."

Setelah dari kamar mandi membersihkan wajahnya, Rosalin membuka pintu kamar dan turun kebawah hendak mencari Hana, sebelum itu dilihatnya kamar Yuda masih tertutup.

"Apa Yuda Sudah bangun, kalau dilihat pintunya masih tertutup rapat. "

Saat Rosalin melangkah hendak ke dapur disana Hana sedang sibuk dengan beberapa pembantu rumah ini.

"Hana...!!!

Apa yang kau lakukan disini ?"

Sambil tersenyum Hana menjawab, " Ini kakak, aku meminta izin pada pelayan disini ingin membuat makanan pedas kesukaanku. Oh iya kak, aku berencana ingin membuatkan Yuda dan orang tuanya juga.

Apa boleh kak Ros membantuhku memotong sayuran itu, aku akan mencampurnya dengan ayam yang di potong kecil kecil itu."

"Hana apa pelayan disini tidak keberatan jika kau menyiapkan sarapan untuk keluarga Yuda, dan sejak kapan kau bisa masak, bahkan aku tidak tahu memasak Hana."

"Aku sudah lama bisa masak kak, sejak aku kelas 1 SMP. "

"Nona, kalian tidak perlu memasak kami sudah biasa menyiapkan sarapan untuk nyonya dan tuan kami mereka juga tidak makan makanan pedas, jika ketahuan nyonya besar, kami takut nona." Terlihat pelayan ketakutan dan sambil berbicara, memotong percakapan Hana dan kakaknya.

"Sudahlah kalian jangan takut, adikku Hana sudah biasa masak, kalian pergilah membereskan yang lain atau membantu Hana, berikan apa yang dia butuhkan." Jawab Rosalin.

Saat semuanya tengah sibuk membantu Hana, sementara Rosalin hanya duduk diam disitu melihat lihat apa yang dia kerjakan.

"Uuuuuh.......Anu kak, perutku perutku sakit kakak. Toilet yah toilet ada dimana."

Seorang pelayan memberitahu letak toilet.

Sambil menahan sakit Hana berlari menuju toilet.

Menunggu Hana, Rosalin mendekati apa yang sedang di masak Hana, baunya begitu menggoda selera. Langsung saja Rosalin mengambil sendok mencicipi masakan itu.

Rosalin kemudian mengambil bubuk cabai yang ada di pinggir garam itu, saat tidak ada yang menatapnya, dia lalu menuangkannya bubuk cabai itu ke masakan yang sedang dimasak Hana.

"Rasakan kamu Hana, mereka pasti akan marah kepadamu karena telah memasak makanan pedas ini."

Setelah kembali dari toilet dengan cepat Hana mengangkat makanan yang sedari tadi dimasaknya karena sebelum di tinggal Hana tinggal menunggu masakannya matang.

Melihat Hana sedang memasak ibunya Yuda kaget bukan main,dia mendekati Hana, jam segini anak itu sudah berkutat di dapur membuat makanan untuk keluarganya.

"Nak kau tak perlu repot membuat makanan untuk kami disini sudah ada pelayan yang menyiapkan semuanya."

"Tidak apa tante, aku sudah terbiasa membuatnya waktu di desa, sekali kali aku bolehkan memasakkan untuk kalian." Ucap Hana pada ibunya Yuda

Semuanya sudah duduk di meja makan, Yudah juga ada disana, terlihat sangat Rapi dan bersih sepertinya dia akan berangkat ke kantornya.

"Sarapan dulu nak, ini buatan Hana ayo dicoba."

Yuda mengarahkan pandangannya ke Hana sambil mengangkat alisnya sebelah,dia kurang yakin anak ingusan sepertinya bisa masak.

Makanan telah siap dan sudah di sajikan di piring makan, semuanya berebut mencicipi makanan Hana. Hanya Rosalin saja yang pura pura melambat mencicipi makanan Hana.

Uhuuk... uhuuk...

"Air cepat tolong air, ambilkan aku air."

Melihat tingkah Yuda, Ayah ibunya juga segera mencicipi makanan itu...

Aaahk.... "Ambilkan aku minum." Sambil menahan amarah ayahnya Yuda membentak pelayan rumah.

"Cepaaat...!!!

Wajah Yuda memerah menahan amarahnya.

"Kau... kalau belum bisa masak jangan terlalu sok pintar, makanan apa yang kau buat ini !

Ingin membunuh keluargaku hah...

Pelayan kalian akan ku hukum nanti setelah aku pulang, berani berani kalian mengizinkan anak ingusan memasak.

Cukuuup kau tidak boleh memasak lagi Hana." Yuda marah dan membentak beberapa pelayan rumah.

Sementara ayah berhenti sarapan dan meninggalkan ruang makan.

Hana gemetaran dan ketakutan, tetapi Yuda tak menoleh atau memperhatikan dirinya sedikitpun.

Dia menangis sambil terisak, Ibu yang melihat itu mendekati Hana.

"Hana sudah sudahlah, tak apa kau jangan menangis lagi, lain kali jangan memasak lagi. Yuda sudahlah jangan membentak begitu, kau semakin membuat Hana ketakutan."

Rosalin yang melihat adegan itu pura pura merasa iba dan mendekati Hana.

"Adikku sudahlah, kau selalu tidak mendengarkan aku, tadi aku sudah melarangmu memasak tapi kau malah memaksa, bahkan menyuruh pelayan agar jangan membantumu, sekarang inilah akibatnya."

Mendengar itu hati Hana terasa perih apalagi kakaknya menyalahkan dirinya.

"Tadi sepertinya aku sudah mengukur semua bumbunya, bahkan aku tidak membuat makanan itu terlalu pedas. kenapa bisa seperti ini." Hana berfikir sejenak.

Pelayan yang berdiri disana, secepat mungkin membersikan makanan yang tersisa. Mereka mengganti hidangan di meja dengan makanan manisan penutup.

Yuda segera berdiri, "selera makanku pagi ini sudah hilang aku tidak ingin sarapan lagi.

Rosalin, bagaimana keadaanmu, apa sekarang lukamu sudah baikan ?

Biar asistenku mengantarmu pulang saat aku pergi nanti."

"Sudah agak mendingan. Sebentar aku akan segera membereskan pakaianku dulu, kebetulan aku rindu mama, aku belum mengabari mama soal kepulanganku." Jawab Rosalin.

Tanpa menghiraukan Hana lagi, Yuda menghampiri asistennya Ronal yang baru saja tiba.

"Tuan apa kau sudah siap setelah seminggu kita berpetualang ?" Ucap Ronal

"Segeralah bersiap Ronal, apa kau sudah menyiapkan beberapa berkas file yang kukirim padamu semalam."

"Sudah tuan bahkan hari ini tepat jam 9.00 Pagi, aku sudah mengumumkan akan ada pertemuan rapat dengan beberapa orang penting perusahaan." sambil melangkah keluar asistennya kembali bicara.

"Tunggu Ronal, Rosalin akan ikut dengan kita, kau antar dia ke kediamannya lebih dulu karena waktu masih menunjukkan pukul 06.30 pagi, kita masih punya banyak waktu. setelah itu kita ke apartemen dulu.

"Baiklah tuan, kita akan pakai mobil yang mana ?"

"Pakailah mobil pajero sport yang kemarin kita gunakan, aku tak akan membuka showroom mobil bawah tanah dulu.

Mobil favoritku juga masih terparkir di apartemen milikku."

Rosalin keluar dengan memakai dres selutut di padukan dengan sendal higheels hitamnya, rambutnya sengaja dibiarkan terurai, sungguh rosalin terlihat sangat cantik.

Asisten Ronal berusaha menelan salivanya melihat Rosalin mendekat.

Sementara Yuda yang melihat itu biasa saja tanpa ekspresi apapun.

Atau karena Yuda hanya terbiasa kerja saja dan menjomblo sehingga dia bersifat dingin seperti itu.

Ayah dan ibu juga Hana ikut mengantar Rosalin sampai di halaman.

Hana menangis sesegukan sambil memeluk kakaknya.

"Kak Ros, akhirnya kau juga akan pergi, aku akan sangat merindukanmu setelah ini, sering seringlah mengunjungiku kak."

"Hmmmp....

Kamu jangan nakal adikku Hana, disini kan ada om dan tante." Jawab Rosalin sambil tersenyum dan membalas pelukan Hana. Kemudian bersalaman ke orang tuanya Yuda

"Om, tante, maafkan adikku Hana, tolong jaga dia, Rosalin pamit dulu."

"Sampaikan salam kami pada orang tuamu Rosalin, kalau ada waktu datanglah kerumah kami, pintu rumah ini akan selalu terbuka untuk kalian."

Sambil menganggukan kepalanya Rosalin berlalu pergi.

Setelah selesai menyimpan koper Rosalin di bagasi, Ronal mempersilahkan Rosalin masuk di mobil.

"Nona mari kita berangkat."

Mobil melaju dengan cepat hingga sampai di kediaman Rosalin, berdasarkan arahannya.

"Sudah sampai, disini rumahku apa kalian tidak akan mampir dulu ?"

Tanya Rosalin saat semua koper bawaannya sudah diturunkan.

"Maaf kami masih harus terburu buru, lain kali saja kami akan mampir kerumahmu." Kali ini Yuda yang menjawab Rosalin.

Terimakasih sudah mengantarku sampai depan pintu rumah. Maaf sudah merepotkan kalian.

Asisten Ronal berlalu dan segera pergi menuju apartemen bosnya Yuda, masih ada waktu satu jam. sebentar lagi akan ada rapat besar dengan orang penting perusahaannya.

"Haloo....

Apa kau mendengarku, segera ikuti dan selidiki mobil yang mengantarku sampai di depan rumah itu, aku butuh data datanya segera."

Sebelum masuk kerumah, Rosalin terlihat menelpon seseorang untuk mengikuti Yuda dan asistennya.

"Baik nyonya." Ucap penelpon dari seberang sana.

Cepatlah Ronal, sebelum keperusahaan aku akan mengganti pakaianku di apartemen dan mobil sport favoritku itu.

Saat menuju perusahaan, Yuda curiga pada mobil di belakang yang dari tadi mengikutinya...

"Ronal, coba melambat kau lihat di belakang sepertinya ada yang mengikuti kita.

Siapa itu ?

Apa kau mengetahuinya ?"

"Entahlah tuan,aku tak mengetahui siapa mereka, mobilnya saja terasa asing."

"Alihkan perhatian mereka. Kau lihat jalan diujung sana, ada belokan ke kiri kau melajulah ke jalan lurus itu setelah itu belokan mobil tiba tiba kekiri, kemudian masuk ke lorong kiri pertama."

"Baik tuan."

"Siapa mereka yang tiba tiba mengikuti mereka, apa ini menyangkut perusahaan...?"

Yuda berhasil mengelabui mereka, dia berfikir siapa yang berani berani berbuat seperti ini.

Bersambung....!

Terpopuler

Comments

Readers sejatinya Kak Makka

Readers sejatinya Kak Makka

next kak

2022-08-14

0

lihat semua
Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!