Membuat Kesepakatan

"Ayo mari semuanya kita keluar untuk menikmati hidangan yang sudah disiapkan. Berikan ruang untuk Yuda dan Hana, kasih kesempatan mereka untuk berbicara berdua diruangan ini, karena sampai saat ini mereka belum saling mengenal bukan !"

Nenek berucap panjang lebar kepada keluarga yang hadir disitu.

Sesak didada itulah yang Hana rasakan saat ini, dirinya tak mampu bersuara lagi, badannya sudah sangat kedinginan, tetapi hatinya hancur, entahlah apa yang dirasakan Hana saat ini sudah bercampur aduk.

"Inikah yang namanya perjodohan ?

Perasaan apa ini aku tak mengerti.

Siapa dia, siapa...!

Siapa sebenarnya om om ini. Sampai nenek begitu tega ingin menjodohkan aku dengannya apa mereka lupa dengan statusku ini.

Sekarang aku hanyalah anak sekolahan yang masih SMP masih duduk di bangku kelas 9, dan sebentar lagi akan menghadapi ujian semester akhir, buliran bening itu jatuh lagi di pipi Hana, tanpa ada keluarganya yang menyadari hal itu."

**

Hana seketika membisu melihat semua orang yang ada diruangan itu mulai pergi satu persatu meninggalkannya, begitupun kedua orang tua Hana berjalan ikut keluar mengikuti keluarga yang satu persatu meninggalkan ruangan itu.

Sebelum keluar ibu dan ayah datang berjalan mendekat ke Hana, dan langsung berkata sambil memegang tangan ayah.

"Pak kasihan Hana."

Saat itu juga ayah langsung berbicara kasar sambil membentak ibu.

"Kalau masih mau melihat hidup kita bahagia tanpa gangguan dari mereka, turuti saja apa kata nenek ini juga demi kebaikan Hana."

"Loh loh kok ayah marah, kan ibu hanya bertanya saja."

Bola mata Hana membulat melihat ayahnya yang dia kenal sangat baik jadi pemarah seperti itu hanya karena perjodohan ini.

Adegan di depannya ini tak mampu iya lihat, sambil gemetaran Hana menghampiri keduanya.

"Ayah, ibu sudah jangan seperti itu kan malu ada om Yuda disini. Hana tidak kenapa kok bu."

"Tuh dengarkan bu, anakmu sendiri saja jadi penurut begitu, masak kamu yang kayak tidak sudi seperti itu."

"Iya.. iya..."

Ibu ingin menjawab ayah lagi tetapi Hana langsung memegang tangan ibunya dan menepisnya.

"Ya sudah nak kami pergi keluar dulu, nanti kau dan Yuda menyusul kami di depan."

"Baik bu," ucap Hana sambil menundukkan kepalanya.

Didalam rungan hanya tersisa Yuda dan Hana.

"Uups kenapa begini, Hana semakin gemetaran nafasnya naik turun menjadi tidak karuan.

Deg. deg. deg. Perasaan apa ini...."

Yuda, semakin mendekat kepadanya.

"Hai kamu adik Hana duduklah disini, kakak mau bicara denganmu."

Sambil gemetaran Hana menurut duduk disamping Yuda.

#Yuda

Kamu kenapa Hana..?

Aku tidak sedang ingin memangsamu seakan aku adalah monster yang sangat kamu takuti, apa begini caramu menghadapi orang lain, ini yang di ajarkan sekolahmu, sopan santun terhadap tamu !

Aku sengaja sedikit bicara tegas ke Hana, agar dia tidak sedih seperti itu, dan bisa kuat menghadapi sesuatu yang terjadi di depan matanya.

Sebenarnya sedari tadi dia sudah tau kalau Hana sudah dua kali meneteskan air mata, aku sebenarnya sangat membenci karakter seperti Hana, yang menurutku terlalu manja.

Mungkin karena umur Hana yang masih belia.

Kalau di pandang dari sorot tatapan mataku, rasanya kasihan juga melihat anak ingusan di depannya ini.

Entah apa alasan orang tuanya menjodohkannya dengan anak kecil ini, seberapa istimewa anak ini sampai orang tuanya menjodohkan dirinya dengan Hana ucapnya dalam hati.

Sudah tradisi baginya mengikuti kedisiplinan ayahnya itu.

Sampai sekarang di usianya yang 35 tahun belum perna dekat dan serius dengan wanita manapun.

Hanya dulu perna cinta cinta monyet saja, ketika masih sekolahan, seperti zamannya Hana sekarang.

Sebuah senyuman terukir di sebelah kanannya bibirnya.

Namun teringat janji kepada ayah dan ibunya akan menerima wanita pilihan orang tuanya itu.

Kalau tidak akan berimbas ke perusahaan yang dipimpinnya sekarang, perusahaan Abadi Group yang mengeluarkan beberapa mobil mobil terkenal di Indonesia.

Ayahnya bahkan mengancam akan menarik seluruh aset aset keluarga yang dimilikinya saat ini.

Sambil membuang nafasnya kesamping, lalu berbicara ke Hana, kamu jangan takut aku tidak akan membuatmu bersedih, maafkan aku adik kecil, terpaksa menerima perjodohan ini, semuanya hanya karena mengikuti aturan ayahku dan nenekmu.

Aku kasihan padamu, dari tadi kuperhatikan kamu menangis, turutilah apa kata orang tua, tidak baik jadi anak yang membantah.

Adik kecil maukah kamu membuat kesepakatan denganku ?

Bagaimana...!

Aku tahu bagimu umurku tak lagi muda, seperti om om, baiklah tidak masalah jika kamu memanggilku seperti apa yang kamu mau.

Kita buat kesepakatan, jangan katakan ini kepada keluarga kita.

Aku akan membantumu dan membiarkan kamu tetap bersekolah seperti biasa, aku tak akan jatuh cinta padamu sebelum kamu menginginkanku.

Tapi satu hal, kamu harus ikut denganku ke kota, kamu boleh melanjutkan sekolahmu disana.

Mendengar apa yang Yuda katakan hati Hana sedikit tenang tetapi Hana sedih harus meninggalkan desanya.

Merasa tidak adil baginya, mereka akan mengambil kebahagiannya bersama orangtua yang membesarkannya selama ini.

Mengambil kebahagiaan Hana saat bermain dan tertawa lepas bersama teman temannya.

Hana menjadi menangis sejadi jadinya.

Sambil terbata bata Hana mengangkat kepalanya lalu menatap Yuda.

"A... ak.. a.. a aku.. ta, ta, taaakut om.... " Hanya itu yang keluar dari mulut Hana,

Kini Yuda semakin bingung di buatnya, apa yang harus Yuda lakukan, sambil menggaruk tengkurap kepalanya yang tidak gatal.

Kini Yuda harus membujuk anak kecil yang sedang menangis.

"Sial...," batin Yuda.

"Sudah, sudah, Hana... kalau kamu tidak mau juga tidak apa. Nanti aku yang akan berbicara kepada orang tuaku juga nenekmu kalau kamu tidak menginginkan hal itu, tapi aku yang akan sering mengunjungimu ke desa ini.

Disini aku juga hanya membantumu jadi tolong kamu mengerti Hana, aku juga hanya ingin mempertahankan yang menjadi hakku, kepada ayah dan ibuku.

Mau tidak mau kamu harus siap dan terima keputusanku itu untuk sering mengunjungimu, kalau tidak ayah dan ibuku juga nenekmu akan memaksamu untuk ikut denganku pergi ke kota," ucap Yuda dengan tegas.

Melihat hal itu Hana langsung meredakan suara tangisannya, tak berani menatap Yuda lagi.

Hana sempat merenung dan berfikir, tanpa ragu Hana menjawabnya.

"Hmmmpp....

Baiklah om kalau itu mau mereka, tetapi jangan paksa aku berhenti bersekolah masih ada impian yang aku kejar."

Setelah membuat kesepakatan dengan Hana, tanpa basa basi lagi Hana langsung berlari keluar ruangan itu, pengap yang dirasakan tadi, berganti dengan hembusan angin yang berhembus, dari halaman samping rumah sepupu Hana ini.

Sementara Yuda merasa cukup telah berbicara dengannya, aku tidak ingin merenggut masa remajanya di mana anak sebaya Hana ingin bermain, berlarian, dan tertawa bersamanya, hanya rasa iba yang di rasakan Yuda saat ini melihat Hana, seorang diri di dalam ruangan sebesar ini, terasa fikirannya melayang layang jauh entah kemana..

"Tok tok tok....

Hei siapa di dalam ?

Kenapa anda termenung sendirian disini tuan ?

Sepertinya aku baru melihatmu disini !"

Tiba tiba Rosalin datang menyapa Yuda.

"Maaf nona, aku datang kesini bersama ayah dan ibuku, karena undangan nenek pemilik rumah ini." Jawab Yuda.

"Oowh nenekku hebat yah, banyak orang sepertimu yang dikenalinya, maafkan aku telah mengganggu anda tuan.

Kenalkan, aku Rosalin, cucu dari nenek, aku juga baru datang kemarin kekota ini karena acara keluarga ini."

Bersambung.....

Terpopuler

Comments

Vhyna

Vhyna

siap kaka

2022-07-29

1

lihat semua
Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!