Pabrik Tua

Hari sudah menjelang sore, Serina dan ibunya Yuda sedang khawatir, kenapa Hana dan Rosalin belum juga kembali.

Mereka semakin gelisah, sedari tadi mondar mandir diruang tamu, menunggu Hana dan Rosalin kembali.

"Apa sebaiknya kita menyusul cari mereka, aku sudah berulang ulang menghubungi nomor telepon Rosalin tetapi tidak ada jawaban." Serina coba angkat bicara.

"Aku akan menelpon suami dan anakku, sebentar lagi mereka akan pulang."

Serina tampak bingung apa yang terjadi sebenarnya, karena sebelumnya Rosalin tidak merencanakan ini semua.

"Halo Yuda, kau dimana nak ?

Hana belum pulang, tadi keluar bersama kakaknya disekitaran rumah, namun sampai saat ini belum juga kembali.

Cepatlah pulang nak, kabari ayahmu, ibu sangat khawatir saat ini. "

Dengan tergesa gesa ibu menelpon Yuda.

"Bagaimana ini sudah semakin sore belum juga ada kabar dari mereka." Ibunya Yuda semakin panik, dia takut terjadi sesuatu dengan Hana, sebab saat ini Hana adalah tanggung jawab keluarganya.

"Ronal siapkan mobilku dan beberapa pengawal, kita akan pulang sekarang, sampai saat ini Hana belum juga kembali, perintahkan orangmu menyelidiki area sekitar rumah utama, kalau ada hal yang mencurigakan segera kabari aku."

"Baik tuan, tapi sebenarnya ada apa, siapa yang mengetahui Hana tuan, baru juga beberapa hari anak kecil itu sampai dikota, apa mungkin Hana tersesat."

"Dia bersama kakaknya Rosalin, untuk itu aku juga belum mengetahuinya."

Sementara di bangunan tua itu Hana semakin ketakutan, sesaat Hana berfikir siapa orang orang ini, apa yang terjadi diluar sana, apa maksud mereka menculiknya dan kakaknya. Mengapa dikota terlalu banyak orang orang jahat. Hana semakin tenggelam dalam lamunannya.

Rosalin yang mengetahui diluar dan yang berlari masuk adalah anak buahnya, setidaknya dia sedikit lebih tenang. Namun dia tidak bisa melihat bagaimana ekspresi Hana saat ini, karena mereka berdua di ikat saling membelakangi, Rosalin menggoyang goyangkan sedikit tali pengikat mereka, tetapi Hana sudah tidak ada gerakan sama sekali.

"Hana... Hana...

"Kamu kenapa, kenapa kamu tidak bersuara, ada apa Hana ?

Apa yang terjadi padamu ?"

Rosalin coba memanggil dan menenangkan Hana tapi dari belakang tidak ada jawaban sama sekali.

Setelah lama memanggil tidak ada jawaban Rosalin terpaksa pasrah saja. Dari kejauhan terlihat anak buah Rosalin mendekat dan berusaha melepas tali penyekapan.

"Maafkan kami nyonya, kami terlambat sehingga membuat anda seperti ini." Orang itu bicara sambil melepaskan tali pengikat Rosalin dan Hana.

Saat Rosalin berdiri Hana langsung terbaring di atas lantai.

"Hana, kamu pingsan ?"

Rosalin berucap sambil menggoyangkan pipi Hana.

"Nyonya dia siapa ?

Saat ini, anak itu tidak sadarkan diri, mungkin dia ketakutan. "

Mendengar jawaban anak buahnya Rosalin kemudian tersenyum dan langsung berdiri.

"Siapa orang orang ini kenapa mereka menculik kami. "

"Entahlah nyonya siapa mereka, mungkin ada hubungan dengan kalian yang dari rumah besar itu. Dua orang penjaga berhasil lolos sementara yang duanya sedang kami ikat di bagian belakang gedung ini nyonya."

Apa ini ada kaitan dengan keluarga Yuda, aku belum mengetahui sepenuhnya siapa mereka, apa keluarga Yuda punya musuh ?" Ucapnya dalam hati.

Biarkan saja mereka, Dengar perintahku ini kesempatan emas bagi kita, orang lain yang melakukan maka kita yang akan menuai.

"Cepat tutupi wajah kalian, sebelum anak ini sadar jangan sampai dia mengetahui wajah kalian yang menculiknya.

Cepat bergerak, bawah dia ke mobil, biarkan tali pengikat itu tetap seperti itu,kalian cari tempat yang jauh dari keramaian, lalu lemparkan anak ini kesana.

Kalian ingat jangan sampai dia melihat wajah kalian, cukup kalian membuangnya, biarkan dia, aku yakin dia akan mati kelaparan disana, kota ini masih sangat asing baginya dia tidak akan bisa kembali.

Lakukan cepat, apa kalian membawa mobil cadangan kesini ? " Rosalin memerintahkan anak buahnya.

Sambil memberikan kunci mobil, anak buah Rosalin berucap " Pakailah mobil ini nyonya."

"Selesaikan pekerjaan itu ,aku tunggu kalian dirumah. Mana handponeku sebelum penculikan kurasa tadi terjatuh. Apa kalian menemukannya ?"

Brams yang merupakan ketua geng dari orang suruhan Rosalin kembali bicara, "Semuanya ada dimobil, kami tidak berani melihatnya nyonya. "

Rosalin kemudin berlalu dan segera melajukan mobil pulang kerumah. Saat sampai dia melihat layar hanponenya.

Sudah ratusan kali mamanya menelpon, disitu juga banyak panggilan nomor asing.

"Mama, aku baru saja sampai dirumah, pulanglah, jangan beritahu siapapun. "

Rosalin sengaja hanya mengirim pesan whatsapp pada mamanya agar tidak ada yang curiga.

Sementara mengetahui anaknya yang mengirim pesan whatsapp itu, segera Serina mencari alasan yang pas.

Melihat sudah jam 10 malam, Serina izin untuk pulang badannya sangat letih seharian dirumah Yuda, belum membersihkan badannya.

"Apa aku boleh pulang dulu, disini sudah banyak pengawal dan orang orang yang mencari mereka."

Tolong kabari aku jika kalian menemukan mereka, kalau sampai besok anak anak belum juga di temukan aku akan menelpon ke kampung. Aku takut terjadi sesuatu pada mereka." Ucap Serina sambil melangkahkan kakinya keluar rumah.

Ibunya Yuda yang mendengar ucapan Serina lansung saja menghampirinya.

"Kami akan berusaha semampu kami, Yuda dan ayahnya juga para pegawal mereka sedang bekerja keras saat ini. Tolong berikan dan simpan nomor handponeku, kami akan memberi kabar padamu jika sudah menemukan mereka.

Sesampainya dirumah,Rosalin menceritakan semua kejadian pada mamanya.

Di tempat lain Hana yang tangannya masih di ikat dan matanya di tutup, tiba tiba tersadar. Samar samar dia mendengar suara klakson mobil.

Dia tidak menggerakkan badannya sedikitpun agar orang tidak mengetahui dia sudah sadar.

Hana menerka nerka dalam hatinya, kalau saat ini dirinya sedang berada di sebuah mobil, entah mereka akan membawahnya kemana, dia lalu teringat kakaknya Rosalin sedang ada dimana saat ini, waktu itu mereka masih sama sama di ikat diruangan besar, entahlah.

Tiba tiba mobil terhenti." Bos sudah sampai, kita akan membuangnya kemana ?

"Kesana di pabrik tua itu, disana pembuangan kertas sampah yang dilakukan seminggu sekali, saat nanti mereka akan datang membuang sampah lagi, akan menemukan sesosok mayat gadis." Ucap salah seorang dari mereka yang di panggil Bos.

Mendengar ucapan bos mereka, bulu kuduk Hana semakin merinding. Belum perna dia merasakan saat saat seperti ini, namun apa daya dia tetap diam mengikuti mereka.

Braaaak...

Mobil di tutup dengan keras setelah mereka mengeluarkan Hana dari dalam. Salah satu dari mereka menyeret Hana dan menendang bokongnya sampai Hana jatuh terguling berada ditempat sampah dan tumpukan kertas itu menutupi tubuhnya.

Hana merasa kesakitan, namun dia tetap diam saja, takut mereka mengetahui Hana sedang sadar, bisa bisa mereka akan langsung membunuhnya.

"Ayo cepat pergi sebelum ada yang melihat kita memasuki pabrik tua ini" Ucap salah satu dari mereka.

Setelah kepergian mereka Hana merasa saat ini sudah aman, dia berusaha melepaskan ikatan tangannya dengan bantuan berapa alat yang didapatnya dari sampah.

"Aaaaah..."

Tangan Hana berdarah, alat yang di pegangnya bekas pecahan minuman, sehinggah membuat tangannya tergores.

Hana tetap berusaha semampunya memotong tali pengikat tangannya dia tidak peduli lagi saat ini,dia tidak bisa berbuat apa apa, difikirannya sekarang bagaimana menyelamatkan hidupnya.

Hingga waktu berlalu begitu cepat dan akhirnya dia berhasil, dan membuka penutup matanya walaupun sudah berapa kali tangannya terkena irisan kaca.

Hana tiba tiba menggigil ketakutan, nafasnya naik turun tidak karuan, bahkan dia bisa mendengar nafasnya sendiri seolah olah ada yang mengejarnya.

Melihat suasana dibangunan tua ini begitu gelap, sunyi mencekam. Hanya ada satu buah lampu penerangan di sudut bangunan.

Saat Hana sedang berusaha mencari bantuan dia terus saja berlari melewati beberapa bangunan yang masih kokoh dan beberapa perkebunan dengan bantuan penerangan sangat minim. Akhirnya dia menemukan sebuah tanaman yang bisa mengobati lukanyanya sesaat,agar tidak lagi mengeluarkan banyak darah.

Setelah merasa cukup Hana kembali berlari lagi menyebrangi sebuah jalan.

Bruuuuuuk...

Hana tersungkur jatuh kejalan hingga tidak sadarkan diri.

Tiba tiba sebuah mobil melintas, Hana yang terus saja berlari tidak memperhatikan jalan sekitar.

Pengemudi mobil juga sangat kaget, tengah malam begini ada orang melintas apa lagi itu area pabrik tua dan perkebunan.

"Cepat kita bawah dia ke rumah sakit anak ini sudah mengeluarkan banyak darah."

Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!