Setelah melewati perjalanan, dua hari dua malam, akhirnya Hana sampai dikota yang asing bagi dirinya, ini kali pertama Hana datang ke Jakarta, apalagi orang tua juga tidak ada disampingnya.
Jauh dari orang tua bagi Hana, ibaratnya seperti sayur tanpa garam, karena selama ini orang tualah tempat Hana berkeluh kesah tanpa mereka kemana Hana harus mengadu.
Apalagi Hana selalu mendengarkan cerita orang tuanya, kalau hidup dikota Jakarta ini, tidak seperti di desa tempatnya berasal. Siapa sangka Hana akan tinggal di sini.
Kalau di desa Hana selalu mendengarkan suara ayam berkokok setiap hari, setiap selesai sholat subuh tandanya pagi menjelang, kicauan burung burung saat matahari terbenam sibuk pulang ke kandang mereka masing masing.
Masyarakat di desa juga ketika sudah jam 10 malam, rumah mereka sudah hampir tertutup semua, tanda bersiap untuk istirahat, sementara kehidupan dikota kita takkan mendengarkan semua itu, jam 10 dijakarta masih sangat ramai bahkan makin bertambah ketika sampai jam 12 malam, banyaknya perbedaan itu membuat Hana melamun merindukan desanya yang kini di tinggalkannya.
Tiba tiba Hana teringat kepada kakaknya Danu, "Dimana dia, kenapa kak Danu melupakanku, tidak biasanya kak Danu pergi, tanpa berpamitan padaku."
Saat itu Danu sengaja pulang lebih awal, Danu sengaja tidak memberi tahu Hana atas kepulangannya, kalau tidak, Hana pasti akan bersedih dan tak mengizinkannya pulang, Danu takut seperti kejadian kemarin waktu di taman belakang rumah, Hana menangis sejadi jadinya sambil memeluk Danu, Hana bercerita panjang lebar bahkan tetang perjodohan yang dibuat nenek juga di katakannya.
Danu terpaksa harus meninggalkan desa, karena ayahnya tiba tiba menelpon kalau ibu sedang sakit dan ayah sedang menjaga ibu, sehingga tidak bisa menggantikannyanya di pabrik, sekarang banyak permintaan kertas yang harus di eksport keluar negri dan di kirim ke pelanggan Danu, untuk menghandle semua pekerjaan ayah tidak bisa, itu sebabnya Danu harus cepat pulang.
Persoalan Hana pergi ke kota metropolitan ini, Danu sampai sekarang belum mengetahui itu.
Suasana hening karena sepanjang perjalanan Hana hanya melamun memikirkan kehidupan dan masa depannya yang kini Hana tidak tahu lagi akan seperti apa. Tidak ada kata kata yang keluar dari mulutnya, hanya sesekali terdengar suara dengkuran dari mulut Hana tanda dia tertidur, sedang Rosalin tidak menghiraukannya, dirinya asik mendengarkan musik dari hanphone miliknya yang di pasangkan airphone ke telinganya.
"Haloo ibu, apa kau mendengarkanku !, ini aku Yuda bu, aku perkirakan 3 jam lagi kami akan sampai dirumah ibu." Yuda menelpon ibunya maafkan baru menelpon, kemarin Yuda menjenguk adiknya Hana.
"Baiklah Yuda, ibu akan menyiapkan hidangan makan malam untuk kalian, aku tidak mau calon mantu ibu kelaparan karenamu." Ibu menjawab sambil memutuskan sambungan telpon dari asisten Ronal.
Dirumah utama, ibu sedang sibuk mempersiapkan makanan di bantu oleh beberapa pelayan yang ada dirumah itu.
Beberapa makanan ala kota, sudah tersaji di meja makan, semua hidangan kesukaan Yuda juga sudah disiapkan, bahkan meja sudah dipenuhi dengan beberapa makanan favorit Yuda. Ibu Yuda juga tidak lupa membuat manisan karena anaknya suka memakan manisan, maklum Yuda adalah anak satu satu di keluarga itu.
"Sekarang kita sudah berada di kota, aku akan membawa Hana ke rumah orang tuaku lebih dulu, disana mereka sudah menunggu, kau Ronal nanti setelahnya kau antarkan Rosalin pulang kerumahnya." Ucap Yuda.
"Siap bos," jawab asiten Ronal.
"Apa aku boleh mengajak kakakku ros, aku tidak punya siapa pun disini aku hanya punya dirinya." Hana sedikit memohon dan bicara pada Yuda.
Dengan tegas dan sedikit agak kasar Yuda menjawab, "tidak bisa, disini sudah ada aku yang akan menjagamu, nenek dan orang tuamu menitipkan kamu adik kecil kepadaku, jadi kuharap kau mendengar apa kataku karena kakakmu hanya ikut menumpang di mobil ini.Oke...!"
Hana yang mendengar jawaban tegas Yuda, seketika terdiam wajahnya sudah menjadi pucat pasih, badannya bergetar, suhu tubuhnya menjadi dingin.
"Ayah,ibu,kakek, nenek, kalian begitu kejam padaku, telah menitipkan orang ini untuk menjagaku, aku takuut... " Hana berbicara dalam hatinya.
Rosalin yang mendengarkan percakapan Yuda dan Hana, lalu membuka airphone yang terpasang di telinganya.
"Hana... Kau dengarlah apa kata Yuda, jangan membantah, aku berjanji akan sering mengunjungimu kerumah orang tua Yuda." Rosalin menyuruh Hana agar jangan membantah, ikuti saja.
Disisi lain Rosalin berfikir inilah kesempatannya, berpura pura menggunakan Hana sebagai alasan untuk mendekati Yuda, bahkan Rosalin berniat akan mencelakai Hana.
Tidak berlangsung lama, mata Hana semakin terbelalak di sungguhkan pemandangan yang begitu indah, saat memasuki kawasan kota metropolitan ini disana berjejeran gedung gedung pencakar langit yang begitu indah, ditambah lampu lampu kota yang menghiasi seluruh jagat maya kota metropolitan ini, orang berlalu lalang menambah keramaiannya, sungguh ini pertama kalinya bagi Hana datang kesini, menambah kesan tersendiri baginya.
"Ya Tuhan, alangkah indahnya ciptaanmu ini, aku sungguh takjub melihatnya." Sambil berucap dalam hatinya, sejenak Hana melupakan dimana dia berada saat ini.
"Hana kamu melamun ?" Rosalin menyenggol bahu Hana sambil berkata.
"Eh iya kak Ros, aku... aku...sedang mengagumi kota ini, kakak pasti bahagia tinggal dikota sebesar ini." Jawab Hana.
"Inilah Jakarta dek, nanti sewaktu waktu aku akan mengajakmu bekeliling kota." Ucap Rosalin lagi.
"Ehemm ehem...
Kurasa akulah yang akan sewaktu waktu mengajak Hana, atau kalian akan membawa aku dalam acara itu, Hana dititipkan padaku bukan pada kakaknya. Bahkan jika aku mau, tak akan mengizinkan Hana keluar tanpa diriku." Dengan memperlihatkan keangkuhannya Yuda berbicara lagi.
"Tapi om ini kan kakakku, kenapa aku tidak bisa keluar dengan kakakku, ada hak apa om mengatur aku, mewajibkan harus keluar bersamamu !" Sambil menahan amarah Hana menjawab Yuda.
Kali ini dia tak mampu diam lagi melihat tingkah Yuda yang seakan sudah mengaturnya kini hatinya menjadi benci.
"Oh sial, punya nyali juga nih anak, awas kau sampai dirumah, aku akan mengerjaimu habis habisan, ha. ha. ha." sambil melihat Hana di kaca mobilnya, Yuda senyum senyum sambil bicara dalam hati.
Rosalin kemudian bicara, "Sudah sudah kalian jangan berdebat cukup, kalau tidak di izinkan aku juga tidak masalah, kenapa harus ribut !"
Tidak lama Yuda segera mengambil handphonenya, disana sudah ada notifikasi pesan masuk dari ibunya.
"Yuda, 3 Jam telah berlalu kalian dimana, ibu dan ayahmu sedang menunggu kalian."
"Ini bu, kami masih terjebak macet, mungkin setengah jam lagi akan sampai." Yuda membalas pesan dari ibunya.
Seketika suasana menjadi hening kembali, tak ada percakapan lagi yang keluar dari mulut mereka, sementara Ronal menambah sedikit kecepatannya.
Hingga tibalah mereka dikawasan atau area perumahan elit.
Hana sekali lagi semakin takjub melihatnya, bangunan itu tertata dengan rapi, gedung dan rumah itu semuanya indah, tidak ada satupun disini yang terlihat jelek, bahkan dipintu utama saat masuk tadi ada satpam yang menjaga di gerbang besar itu, dari cara satpam tadi memberi Hormat dan tunduk ketika melihat Yuda aku merasa Yuda bukanlah orang biasa, itulah yang di fikirkan Hana saat ini begitu juga kakaknya Rosalin, bahkan kakaknya semakin bertekad mengejar Yuda.
Saat melintasi rumah elit itu, tibalah mereka dirumah nan megah, bak bagai istana.
Satpam kemudian berlari keluar mendorong pintu gerbangnya.
Kemudian memberi kode kerumah utama bahwa tuan Yuda telah memasuki pekarangan rumah.
Area satpam berjarak sekitar 1 hektar dari rumah utama, sebelumnya kita masih menyaksikan patung ikan hiu sedang molompat, yang berdiri disana, dibawahnya ada kolam ikan hias dan pancuran air yang mengalir dari mulut ikan, sedang disampingnya ditumbuhi rumput rumput gajah, disudut halaman banyak bunga bunga yang tertata rapi disana, batu batu penghalang beserta lampu lampu pion menambah keindahannya.
"Woow kereeend..."
Rosalin tidak bisa menahan diri atas kekagumannya.
Apalagi saat masuk di teras rumah utama mereka disambut dengan semua pelayan yang telah berjejer rapi sekitar 20 orang, ada ayah dan ibunya Yuda juga berdiri di pintu utama.
"Adik Hana mari kita turun dan masuk, disana sudah ada ayah dan ibuku menunggumu..." Yuda mengajak Hana menghampiri mereka.
Hana hanya diam, entah apa difikirannya sekarang.
Rosalin kemudian menjawab, "Apa aku boleh mengantar adikku masuk kedalam, sepertinya Hana masih ragu, biar akulah yang membawanya."
Yuda segera turun, langsung membukakan pintu untuk Hana.
"Turunlah Hana, apa kau akan tetap diam disitu." Ucap Yuda lagi.
Hana turun sambil menarik tangan kakaknya Rosalin turun disebelah bersamanya, rasa dingin mulai menjalar di tubuh Hana.
"Nak, selamat datang di kediaman kami mari...ayo, silahkan kita masuk kedalam."
"Baik tante, om, terimakasih." Rosalinlah yang menjawab, sambil membungkukkan sedikit badan, Hana juga ikut Rosalin melangkah masuk...
"Bagaimana nak, apa kau menyukai suasana kota ?"
Ayah Yuda mencoba bertanya pada Hana, namun Hana belum berbicara satu katapun sedari turun.
Ekspresi wajah Hana saat ini sulit di artikan, sedih, bingung, ataukah bahagia, entalah....
Bersambung....!!!
Bagaimana kelanjutannya ayo simak terus episode berikutnya dinovel terbaru aku jangan lupa vote dan like terus kaka.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 56 Episodes
Comments
Sandra Lee
up
2022-10-12
1