Sementara di tempat lain mereka terus saling menyerang.dan menyerang bahkan banyak suara senjata disana.
Namun melawan tapi jumlahnya tidak seimbang membuat Alan, Fera dan Leo merasa agak kesulitan sebab jumlah lawanya mencapai ribuan apalagi dengan mereka yang semakin bertambah.
"Le! apa kau sudah mengabari yang lain? " tanya Alan dengan suara baritonya sementara yang di tanya hanya mengangguk sebab dirinya harus terus menembak.
"Sial!" Fera menggerutu sebab panahnya hampir habis sedangkan mereka malah semakin bertambah.
"Kau pergilah!! " teriak Alan karena melihat panah Fera sudah hampir habis tinggal beberapa saja.
"Tidak, aku akan melawan mereka dengan caraku sendiri. " Fera menolak ucapan Alan baginya pantang pergi sebelum menang.
"Fera!! " Alan sekarang sudah mengeluarkan suara kerasnya seperti tidak bisa di bantah lagi.
"Tap.. " Fera hendak menolak kembali namun suara Leo memotongnya.
"Kau menurut lah, sekalian cari Aleski. " Leo berucap dengan nada kerasnya juga ingin sahabatnya itu menurut.
Merasa tak bisa apa-apa Fera hanya bisa menurut dengan mengambil panah yang tersisa setelah itu melompat keluar menghindari serangan mereka dengan kemampuannya.
Dirinya berlari di dalam hutan dengan mata yang menatap tajam ke sekitar ia harus tetap waspada karena bahaya tak memandang waktu.
"Anak itu kemana? " gumam Fera yang merasa sewot sebab bebanya seketika bertambah.
...✧༺♥༻✧...
Di tempat lain terlihat Marwin sedang tertawa terbahak-bahak pasalnya anaknya akan segera tertangkap berkat kepintaran istrinya itu.
"Bagus, kali ini jangan sampai anak haram itu lolos lagi. " ujar Marwin kepada anak buahnya yang ada di depan matanya itu.
"Siap Bos, " ucap mereka semua yang ada di sana sementara Marwin kembali duduk di kursi kebesaranya.
CKLEK!
Pintu terbuka dan ternyata itu Marie dengan senyum manisnya ia berjalan mendekat ke arah Marwin dan dengan tanpa pikir panjang Marie duduk di paha suaminya itu.
"Bagaimana Honey? " tanya Marie sembari mengelus pipi suaminya dengan lembut dan di balas senyuman oleh Marwin mendapatkan senyum Marie langsung mengecup bibir Marwin.
"Take it easy dear, anak itu pasti akan tertangkap kali ini. " balas Marwin dengan membelai rambut pirang wanita tercintanya.
"Thank you my dear husband, " ucap Marie dengan menyandarkan kepalanya di dada bidang Marwin.
"I'ii do anything for you, " ucap Marwin dan berhasil membuat Marie semakin tersenyum.
Bahkan mereka tidak menghiraukan orang di sana, yang hanya bisa menggigit bibir rasanya ingin tapi jauh.
...✧༺♥༻✧...
Aleski masih betah bersantai di atas pohon dengan memakan buah yang ada di pohon itu rasa-rasanya anak itu lupa dengan rasa takutnya tapi yang ia rasakan sekarang hanyalah santai bahkan lupa dengan orang-orang yang sedang berjuang.
Beruntungnya dirinya bisa menyeimbangkan tubuhnya sehingga tidak jatuh dan kalau sampai terjadi bisa encok.
"Ternyata begini rasanya bersantai, " gumam Aleski sembari memandangi langit dengan bulan yang bersinar bahkan nampak bintang-bintang di langit.
Namun ia kembali waspada karena mendengar suara keramaian dengan langkah kaki yang semakin mendekat.
"Non Al kau dimana!! "
"Cepatlah keluar!! "
"Ayolah Non, setidaknya kau menyelamatkan kami."
"Non Al ayolah berhenti bermain petak umpet!! "
"Non cepatlah keluar, kami tidak mau di habisi nyawanya oleh Nyonya Marie!! "
Mereka berteriak meminta Aleski untuk keluar dari tempat persembunyian sementara yang di cari sedang cengengesan sampai memperlihatkan gigi putihnya.
"Aku bukan perempuan bodoh yang bisa kalian suruh dengan mudahnya, kecuali orang tuaku yang seramnya minta ampun. " gumam Aleski dengan sangat lirih supaya tidak ketahuan.
Sementara mereka terus mencari Aleski dengan berpencar namun tetap di sekitaran Aleski bersembunyi mereka terus berteriak dan mencari namun percuma saja karena Aleski sudah bersembunyi di tempat yang aman apalagi malam yang gelap membuat penglihatan terhalang dan untungnya juga pohon tempat Aleski bersembunyi cukup lebat.
Mungkin sudah satu jam mereka terus mencari sampai-sampai Aleski merasakan kantuk yang mulai menyerang akhirnya dirinya memilih untuk tiduran sedangkan kumpulan pria itu sudah tidak terdengar lagi.
"Woy!! Kau dimana? " suara teriakan berhasil membuat Aleski membuka matanya kembali dan sontak ia kaget saat melihat Fera yang tengah berteriak.
Matanya berputar-putar memastikan keadaan sudah aman dan benar saja mereka sudah tidak ada lagi.
Prok!!
Prok!!
Prok!!
Aleski bertepuk tangan dimana berhasil membuat Fera menoleh ke sumber suara dengan alis yang saling bertauatan merasa heran sebab yang di lihatnya hanyalah pohon.
"Itu tadi setan kah?" gumam Fera bertanya-tanya namun pikiran anehnya segera di tepis "Mungkin hanya perasaanku, " lanjutnya.
BRUGK!!
Fera hendak melanjutkan langkahnya namun ia urungkan sebab dirinya mendengar suara seperti ada yang jatuh dengan perlahan ia memutar badanya untuk melihat apa yang jatuh.
Dan betapa kagetnya saat melihat Aleski yang berada di depan pohon tersebut sembari mengibaskan roknya yang kotor itu.
"Astaga anak itu!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 57 Episodes
Comments
atang maulana
🤦🤦🤦😄😄😄
2022-11-10
3