Di malam ini terlihat Aleski tengah menangis di dalam kamar sepertinya hidupnya selalu ada air mata yang selalu membawa kesedihan.
Memang sudah terbiasa dalam hari-hari nya mendapat kekerasan dari orang tuanya tapi apakah dirinya tidak boleh merasakan kebahagiaan? ingin rasanya hidup bebas seperti anak pada umumnya di usianya yang masih dua puluh tahun tapi masih saja tidak di perbolehkan untuk keluar mereka terus saja menyiksa Aleski.
Ingin rasanya ia kabur dari siksaan ini tapi bingung akan kemana nanti dirinya,
keluarga pun dirinya tidak punya selain orang tuanya yang selalu menyiksanya apalagi Marie yang selalu main fisik tanpa ampun tidak pernah memikirkan Aleski sedikitpun.
Mungkin lelah menangis Aleski akhirnya tertidur dengan mata sembab yang sangat bengkak.
...✧༺♥༻✧...
Pagi telah menyapa menggantikan bulan yang tadi malam menyinari bumi dari kegelapan.
Di dapur sudah terlihat Aleski dan para pelayan lainya tengah berinteraksi dengan alat dapur menyiapkan sarapan.
Terlihat Aleski saat ini tampak tidak semangat biasanya anak perempuan tersebut sangat ceria walau duri selalu menancap ke arahnya.
"Non Al kenapa?" tanya Bi Sisri yang sedang mencuci piring.
"Al pengen pergi dari sini Bi, Al pengen bebas Al pengen melihat dunia Al juga pengen bahagia gak mau terus di siksa, " ucap Aleski dengan mata berkaca-kaca sepertinya gadis itu sudah benar-benar lelah dengan kehidupanya.
"Tapi.... Non gak boleh pergi kalo Non pergi kita juga kena imbasnya bukan berarti kami di sini senang melihat Non di siksa sama nyonya Marie tapi kami... " belum selesai Bi Sisri berbicara sudah di potong oleh Aleski.
"Al paham Bi, maaf Al udah bikin kalian semua repot, " ujar Aleski dengan senyumnya "Lebih baik kita cepat selesaikan takut nanti di marahi, " lanjutnya memutuskan untuk cepat cepat.
***
Setengah jam telah berlalu semua masakan untuk sarapan sudah selesai dan sudah mulai terlihat seorang wanita dengan pakaian minimnya dan riasan tebalnya di ikuti seorang pria dari belakang yang sudah siap dengan pakaian kantornya siapa lagi kalo bukan Marie dan Marwin.
Pasangan suami istri itu duduk lalu Aleski dengan cepat mengambilkan makanan untuk mereka setelah itu dirinya berbaris dengan para pelayan yang lain.
Baru saja satu suapan masuk ke dalam mulut Marie dirinya sudah memuntahkan kembali makanan tersebut.
"Bah! iuh" Marie dengan cepat melemparkan mangkok kaca yang berisikan sayuran yang masih panas ke arah Aleski.
Prang!!!…
Pecah sudah mangkok tersebut menjadi berkeping-keping bahkan Aleski hanya bisa pasrah menerima kepingan kaca yang melukai telapak kakiknya.
"Dasar!! " Marie menarik rambut Aleski dengan sangat kencang lalu mendorongnya sampai jatuh membiarkan kulit lainya terkena pecahan mangkok dan mengakibatkan banyak darah berceceran.
Lagi-lagi yang ada di sana hanya bisa diam melihat Aleski kesakitan merasakan bagaimana rasanya ada yang menancap sampai ke daging.
"Bisa masak gak sih!!! " bentak Marie dengan melemparkan makanan lain ke arah Aleski.
Aleski hanya bisa menangis dan menangis melawan pun percuma dirinya akan semakin di siksa akan semakin di maki-maki berharap pun percuma tidak akan ada yang berani maju bahkan hanya selangkah.
Terlihat Marie berjongkok di depan Aleski lalu mengangkat wajah Aleski, lagi dan lagi berhasil meninggalkan goresan di wajah Aleski.
Tangan Marie mencolek darah yang keluar dari luka Aleski lalu menempelkan di wajah Aleski bahkan dirinya seperti menganggap bahwa Aleski itu lukisan.
Setelah puas menghias wajah anaknya Marie lalu tertawa merasa puas sebelum akhirnya menatap para pelayan yang ada di situ.
"Ambilkan cuka!! " titah Marie dengan suara tegas dan para pelayan hanya bisa menuruti apa yang Marie katakan.
Setelah cuka ada di tangannya Marie segera menumpahkan cuka tersebut di bagian kulit yang mengeluarkan darah akibat serpihan kaca.
"Mama obati ya sayang, " uca Marie dengan tersenyum smirk sembari menggosok luka tersebut.
"Sa-sakit ma..! " ringis Aleski ketika merasa perih di bagian lukanya.
"Oh sakit yah? tapi sorry saya gak PERDULI!!! " tekanya seraya menggosok luka Aleski bahkan menancapkan kukunya.
Cukup lama Marie menyiksa Aleski membiarkan anaknya meringis kesakitan bahkan sampai menangis namun untungnya beberapa saat kemudia.
Ddrrtt.... Ddrrtt... Ddrrtt..
suara henpon berbunyi dengan cepat Marie menoleh ke arah henpon setelah itu bangkit seraya mengangkat telepon dan berjalan keluar dari ruang makan.
Marwin yang merasa di tinggalkan segera bangkit menyusul sang istri.
Seperti hari-hari biasanya ketika merasa aman barulah para pelayan membantu Aleski.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 57 Episodes
Comments
min yoongi
😭😭😭
2022-09-02
2
yang sabar ya Aleski kalo lelah peluk kakak aja ☺😊
2022-08-04
2