Hampir setiap hari Dona datang ke rumah Pak Adam untuk merengek pada Bu Tari. Ia sudah tidak sabar ingin segera menikah dengan Reyhan, laki – laki yang ia cintai sejak kecil. Ia sangat tidak rela Reyhan menikah dengan orang lain.
"Tante, bagaimana dengan rencana kita?" tanya Dona pada Bu Tari saat berkunjung ke rumah Bu Tari.
"Sabar sayang, tante juga maunya secepatnya, tapi sekarang istrinya Reyhan itu sedang hamil. Kita tunggu sampai dia melahirkan baru kita pisahkan mereka," jawab Bu Tari sambil membelai pipi Dona.
"Kelamaan Tante, Dona sudah enggak sabar ingin menikah sama Reyhan," ujar Dona dengan manjanya.
"Iya sayang, tante juga enggak sabar ingin punya menantu seperti kamu. Keluarga kita selevel dari pada gadis itu. Dia anak yatim piatu yang tidak jelas orang tuanya. Kuliahnya saja gratis karena mendapat beasiswa, sedangkan kamu lulusan luar negeri dan punya usaha sendiri. Tante bangga sama kamu sayang," ujar Bu Tari membanggakan Dona.
"Iya dong Tante, hanya Dona yang pantas mendampingi Reyhan," balas Dona sambil memeluk Bu Tari.
Lihat saja Reyhan, kamu akan segera menjadi milikku. Aku akan mencari cara untuk memisahkan kalian secepatnya! Batin Dona sambil tersenyum misterius.
***
Malam hari hujan turun sangat lebat. Udaranya terasa semakin dingin. Tia dan Reyhan sudah naik ke tempat tidur dan berbaring di bawah selimut.
Reyhan bersandar pada sandaran tempat tidur sambil memangku laptopnya untuk mengecek pekerjaan di perusahaannya.
"Pak Rey, apa Pak Rey mencintai Tia?" tanya Tia tiba - tiba sambil menatap langit - langit kamarnya.
"Sejujurnya belum, tapi aku akan berusaha. Sejauh ini aku menyayangimu, sekarang kamu istriku. Kamu mengandung anakku dan aku bahagia bersamamu. Kenapa?" jawab Reyhan dengan tersenyum menatap Tia.
"Apa Pak Rey yakin dengan pernikahan ini? Apa Pak Rey akan mempertahankannnya sampai kapanpun itu?" tanya Tia menatap mata Reyhan.
"Tentu saja, kenapa? Kamu ragu? Tia, dalam berumah tangga kita harus memiliki prinsip dan komitmen. Kalau hanya aku saja yang bertahan dan kamu tidak, rumah tangga kita tidak akan bertahan. Jadi kamu juga harus berusaha mempertahankannya. Aku tahu kamu juga tidak mencintaiku, tapi kamu harus ingat, kamu sudah mengandung anak kita. Pikirkan masa depan dia, bayangkan kalau orang tuanya bercerai. Bagaimana nasibnya?" ujar Reyhan menceramahi Tia seperti dosen pada mahasiswanya.
"Iya Pak saya tahu, saya akan berusaha mencintai Pak Rey demi anak kita. Oh iya bagaimana kabar papa Pak?" tanya Tia mengalihkan pembicaraan.
"Baik, semenjak mendengar kabar kehamilanmu, papa sangat bahagia. Kesehatannya mulai membaik dan Papa jadi lebih bersemangat. Apa kamu mau menjenguknya? Aku tidak akan memaksamu, aku tahu hubunganmu dengan mama tidak baik," balas Reyhan mengerti ketakutan Tia pada mamanya.
"Tentu saja Pak. Bagaimanapun orang tua Pak Rey orang tua saya juga sekarang. Saya akan berusaha membuat mereka menyukai saya," ujar Tia sambil tersenyum dan menatap Reyhan.
"Hmmm sepertinya kamu sudah berubah. Tidurlah sudah malam!" ucap Reyhan sambil membelai rambut Tia dan mencium keningngnya. Tia pun memejamkan matanya.
Aku janji akan mencoba mencintaimu Pak Rey. Menerima pernikahan ini dengan lapang dada dan berusaha melupakan kenangan lamaku. Aku akan menguburnya dalam - dalam mulai saat ini. Batin Tia.
***
Keesokan paginya seperti biasa Tia bangun pagi untuk memasak sarapan pagi di dapur. Reyhan yang baru bangun tidak menemukan Tia di sampingnya segera mencarinya ke dapur.
Sesampainya Reyhan di dapur, tampaklah punggung Tia yang sedang memasak dengan menggunakan celemek pink kesayangannya. Rambutnya di kuncir seadanya memperlihatkan lehernya yang putih bersih. Kopi dan susu sudah tersedia di atas meja makan. Tia yang menyadari kehadiran Reyhan segera menyapanya.
"Selamat pagi Mas," sapa Tia. Reyhan yang mendengarnya merasa terkejut. Ini pertama kalinya Tia memanggilnya "Mas". Reyhan pun mendekat dan menyentuh kening Tia dengan punggung tangannya.
"Kamu enggak apa - apa?" tanya Reyhan.
"Apaan sih Mas, Aku sehat. Aku enggak sakit, Kenapa?" tanya Tia sambil menepis tangan Reyhan. Tia juga merubah kata "saya" menjadi "aku".
"Tumben memanggilku 'Mas' hmmm?" tanya Reyhan balik.
"Aku kan sudah bilang, akan berusaha menjalani pernikahan ini dan mencoba mencintai Pak Rey. Enggak boleh ya kalau panggil 'Mas'?" tanya Tia tanpa menoleh pada Reyhan karena masih fokus memasak.
"Tentu saja boleh dong sayang, aku suka itu dari pada kamu memanggilku 'Pak Rey'," balas Reyhan sambil memeluk Tia dari belakang dan menciumi tengkuknya.
"Ih geli! Sana tunggu di meja makan! Atau kupukul pakai spatula panas nih!" ancam Tia sambil mengangkat spatula yang baru saja dipakai membalik ikan karena tidak tahan dengan cumbuan Reyhan.
"Iya – iya," balas Reyhan lalu berjalan menuju meja makan dan menyeruput kopinya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 178 Episodes
Comments
Achmad Ghibran
sangat deras kalau yang lebat itu bulu ...😅
2022-11-15
0
Siti Lestari
jadi Baper aku baca ini entah kenapa ya 😃😃
2022-11-09
0
R_3DHE 💪('ω'💪)
jahat.....
2022-11-06
0