Keesokan harinya, ketika Reyhan membuka mata, ia melihat ke sisi tempat tidurnya, tapi Tia sudah tidak ada di sana. Ia pun bangun dan berjalan keluar kamar. Ia melihat Tia sedang memasak di dapur, ia pun berjalan ke dapur menghampiri Tia.
"Kamu masak apa?" tanya Reyhan.
"Hanya nasi goreng dan telur ceplok, apa Pak Rey mau kopi?" tanya Tia sambil mengaduk nasi goreng di atas kompor.
"Boleh, kalau begitu aku mandi dulu," jawab Reyhan lalu kembali masuk ke dalam kamarnya. Tia pun mengiyakan lalu merebus air untuk membuat kopi.
Setelah mandi dan berganti pakaian, Reyhan kembali ke dapur dan duduk di meja makan di mana Tia sudah menunggunya untuk sarapan bersama.
"Pak Rey enggak kerja?" tanya Tia di sela makannya karena ia melihat Reyhan memakai kaos santai rumahan.
"Enggak, aku sudah mengambil cuti satu minggu, lagipula hari ini mama mau ke sini," jawab Reyhan santai.
"Apa?! Mama Pak Rey mau ke sini?" tanya Tia terkejut.
"Iya, kenapa kamu terkejut?" tanya Reyhan heran.
"Saya takut Pak," jawab Tia sambil cemberut.
Tia masih ingat sikap Bu Tari terhadapnya beberapa hari yang lalu saat Reyhan mengajaknya ke rumah orang tuanya. Bu Tari sangat tidak ramah dan terlihat sekali kalau tidak menyukai Tia.
Setelah selesai sarapan pagi bersama, Tia mencuci piring dan membersihkan rumah serta dapur. Sedangkan Reyhan seperti biasa bersantai di sofa ruang tengah sambil membaca koran dan menyalakan televisi. Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Tia kembali ke dalam kamar.
Setengah jam kemudian
Ting tong ting tong suara bel pintu apartemen Reyhan berbunyi. Reyhan pun bangkit dari duduknya untuk membuka pintu. Tampaklah Bu Tari di depan pintu setelah Reyhan membuka pintunya. Reyhan pun mencium punggung tangan Bu Tari dan mempersilakannya masuk.
"Di mana istrimu?" tanya Bu Tari sambil mengedarkan pandangan matanya ke sekeliling apartemen Reyhan.
"Di kamar Ma, sebentar Rey panggilkan. Mama duduk dulu ya," jawab Reyhan sambil berjalan masuk ke dalam kamar di mana Tia berada.
Tidak berapa lama Reyhan dan Tia keluar dari dalam kamar lalu berjalan menuju ruang tamu di mana Bu Tari berada. Tia pun menghampiri Bu Tari dan mencium punggung tangannya.
"Ada apa Mama ke mari?" tanya Reyhan setelah duduk di sofa seberang Bu Tari, sedangkan Tia pergi ke dapur membuat minum untuk Bu Tari.
"Kamu harus segera punya anak Rey, kamu sudah tidak muda lagi begitu juga dengan Mama. Mama beri jangka waktu enam bulan istrimu harus sudah hamil!" jawab Bu Tari.
"Tapi Ma, Tia kan masih kuliah," balas Reyhan tidak setuju dengan mamanya.
"Hanya tinggal menunggu wisuda saja kan? Itu tidak masalah, kalau istrimu tidak bisa hamil, kamu harus menikah dengan wanita lain yang bisa memberikan Mama cucu," ujar Bu Tari.
Tia datang membawa minuman dan menaruhnya di atas meja depan Bu Tari. Ia terkejut mendengar semua percakapan antara Bu Tari dan Reyhan. Ia merasa masih sangat muda untuk hamil dan punya anak. Apalagi di antara Tia dan Reyhan tidak ada rasa cinta.
"Mama jangan bicara seperti itu, Mama tunggu saja kabar baiknya, kami akan berusaha secepatnya," balas Reyhan sambil tersenyum ke arah mamanya dan memeluk bahu Tia.
Setelah berbincang - bincang kurang lebih satu jam, akhirnya Bu Tari pamit pulang. Tia dan Reyhan mengantar sampai depan pintu, setelah menutup pintu Tia menatap Reyhan.
"Apa maksud Pak Rey bicara seperti itu pada mama?" tanya Tia pada Reyhan.
"Bicara seperti itu yang mana?" tanya Reyhan tidak mengerti.
"Akan berusaha secepatnya, Pak Rey bercanda kan?" tanya Tia tidak percaya.
"Tia, apalagi yang diharapkan dari pernikahan kalau bukan anak, bukankah tadi malam kita sudah membicarakannya? Kita tidak akan bercerai, jadi jalani saja semuanya seperti pasangan suami istri pada umumnya," balas Reyhan sambil duduk di sofa ruang tamu.
"Tapi Pak, saya benar - benar belum siap," ucap Tia pada Reyhan.
"Sudahlah, kita jalani pelan – pelan, masih ada waktu enam bulan," balas Reyhan sambil membelai puncak kepala Tia.
"Iya Pak," balas Tia sambil tersenyum.
Hari pun berganti malam, tiba - tiba ponsel Tia bergetar di atas nakas. Ia mengambilnya dan melihat ada pesan whatsapp masuk, ia pun membuka pesan itu.
Arka : Sayang, besok aku pulang, jemput aku di bandara jam 1 siang ya. I love you. 😊
Tia : Oke!
Arka kembali, apa yang harus kukatakan padanya? Ya Tuhan, aku belum siap mengatakannya pada Arka bahwa aku sudah menikah. Batin Tia.
***
CAST PEMERAN FIGURAN
ARKA (Arka Sanjaya)
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 178 Episodes
Comments
Riza Anggelina
ciri ciri mertua egois
2023-05-24
1
EndRu
pak Rey kayak udah berumur yak
2023-03-27
0
Wiwin Wiwin
lbh suka arka...visual arka gnti rhorr
wkwkk
2022-11-22
0