Pukul 12.30 keesokan harinya Tia sudah menunggu di lobby bandara, ia berpikir keras apa yang harus ia katakan pada Arka. Mereka sudah berpacaran selama lima tahun lamanya, tapi kini ketika Arka kembali, Tia sudah menikah dengan orang lain.
Setelah lulus SMA, Arka melanjutkan kuliahnya ke Amerika, sedangkan Tia tetap di Indonesia. Sebenarnya hubungan Tia dan Arka tidak disetujui oleh orang tua Arka, tapi apabila Arka mau melanjutkan kuliahnya ke Amerika, maka setelah lulus orang tua Arka akan merestui hubungan mereka.
Akhirnya Arka pun menyetujui persyaratan dari orang tuanya demi cintanya pada Tia. Arka pun berangkat ke Amerika dan berjanji pada Tia akan segera pulang setelah lulus dan menunjukkan cintanya dengan cara menikahi Tia, tapi tanpa Arka duga sekarang Tia sudah menikah dengan Reyhan.
Jam di ponsel Tia sudah menunjukkan pukul 13.10, Arka masih belum menunjukkan tanda - tanda kedatangannya. Tia pun pergi ke toilet karena sudah tidak tahan menahan keinginannya untuk buang air sejak tadi.
Setelah selesai buang air, Tia keluar dari dalam toilet dan tiba - tiba ada seseorang yang memeluknya dari belakang, Tia pun berbalik dan melihat wajah Arka.
"Sayang, aku sangat merindukanmu," seru Arka seraya memeluk Tia dengan sangat erat.
"Arka ... hiks," panggil Tia sambil menangis tidak bisa melanjutkan kata - katanya dan membalas pelukan Arka, ia sangat merindukan Arka.
"Maaf, sudah membuatmu menunggu lama, setelah ini kita akan hidup bersama. Aku tidak akan meninggalkanmu lagi," ucap Arka sambil tersenyum. Tia pun semakin tidak tega mengatakan yang sebenarnya pada Arka.
"Arka, aku ... " ucap Tia terputus karena Arka menyahutinya.
"Iya, aku tahu kamu merindukanku, mencintaiku, dan menungguku. Jangan menangis lagi, apa kamu terlalu bahagia hingga menyambutku dengan menangis seperti ini?" sahut Arka lalu mengusap air mata Tia dan mengecup keningnya. Tia pun menelan kembali semua kata - kata yang akan ia ucapkan pada Arka.
"Apa kamu sudah makan? Ayo kita cari restoran terdekat, kita makan bersama," ajak Arka. Tia pun mengangguk dan berjalan dalam dekapan Arka keluar dari bandara lalu naik taksi bersama.
Sesampainya di restoran, mereka memesan makanan dan minuman yang sama. Sambil menunggu makanan datang, Arka menceritakan kegiatannya selama di Amerika, sedangkan Tia mendengarkan semua cerita Arka.
Makanan pesanan mereka pun akhirnya datang, Tia dan Arka menikmati makanan mereka. Saat hampir selesai makan, ponsel Arka berbunyi. Arka pun menggeser tombol hijau pada layar ponselnya.
"Hallo Pa," sapa Arka pada seseorang di seberang telepon yang tidak lain adalah papanya.
"Kamu di mana? Cepatlah pulang!" perintah Pak Hendro papanya Arka.
"Baiklah Pa, aku akan segera pulang," jawab Arka.
Arka pun mengakhiri panggilan teleponnya dan bersiap – siap untuk pergi.
"Sayang, aku harus pulang ke rumah orang tuaku dulu, besok datanglah ke apartemenku!" pamit Arka.
"Arka, aku ingin bicara sesuatu padamu," ujar Tia menghentikan makannya dan berdiri.
"Besok saja, masih banyak waktu sayang," balas Arka lalu mengecup pipi Tia dan memeluknya.
Arka pun pergi setelah membayar makanan mereka ke kasir. Tia juga pergi setelah merasa tidak nafsu makan lagi. Ia menghentikan taksi di depan restoran dan pulang menuju apartemen Reyhan.
***
Apartemen Reyhan
Jam dinding sudah menunjukkan pukul tujuh malam, tapi Tia masih belum pulang juga. Reyhan merasa sangat khawatir karena ketika pergi tadi, Tia tidak mengatakan mau pergi ke mana.
Tidak berapa lama Tia pulang dan masuk ke dalam apartemen. Reyhan melihat mata Tia sembab seperti habis menangis. Tia pun menatap Reyhan tanpa berkata apa - apa dan segera masuk ke dalam kamarnya.
Tidak berapa lama Reyhan pun menyusul Tia ke dalam kamar. Reyhan tidak menemukan Tia di dalam kamar, tapi ia mendengar suara air mengalir di dalam kamar mandi. Reyhan pun menunggu Tia dengan sabar sambil berbaring di tempat tidur. Setelah setengah jam berendam, akhirnya Tia keluar dari dalam kamar mandi hanya menggunakan handuk yang melilit di tubuhnya .
"Pak Rey ... " ujar Tia lalu memeluk Reyhan dan menangis.
"Ada apa, kenapa kamu menangis?" tanya Reyhan dan menatap Tia lalu membalas pelukan Tia.
Tia hanya diam di pelukan Reyhan. Saat ini Tia hanya menggunakan selembar handuk tanpa pakaian dalam di tubuhnya dan Reyhan tahu itu. Sebagai laki - laki normal Reyhan merasakan hawa panas di dalam tubuhnya, juniornya pun mulai menegang.
Reyhan memandangi wajah Tia lalu memberanikan diri mencium bibirnya. Tia tidak melawan dan juga tidak membalasnya, ia memejamkan matanya dan air mata pun lolos dari pelupuk matanya.
Karena Tia tidak menolak, Reyhan pun membaringkan tubuh Tia ke tempat tidur dan me-nindihnya serta terus mencium bibirnya. Bau harum tubuh Tia membuat Reyhan semakin bergairah. Tanpa menunggu lama Reyhan melepaskan lilitan handuk di dada Tia.
"Tia, apa aku boleh melakukannya?" tanya Reyhan sambil menatap wajah Tia. Tia menganggukkan kepalanya tanda setuju.
Tia sadar bahwa sekarang Reyhan adalah suaminya. Reyhan berhak atas setiap inci tubuhnya. Cepat atau lambat, Reyhan pasti akan meminta haknya sebagai suami. Reyhan pun mencium bibir Tia serta menyentuh payudaranya.
"Bagaimana perasaanmu, apa sudah lebih baik?" tanya Reyhan. Tia pun menganggukkan kepalanya.
"Apa ini pengalaman pertamamu? " tanya Reyhan di samping telinga Tia.
"Iya Pak," jawab Tia malu - malu.
"Untuk pertama kalinya mungkin akan terasa sakit, tapi setelah itu kamu akan menikmatinya," ujar Reyhan sambil melepas kemejanya lalu melepas celananya dan tiba - tiba listrik padam.
"Sial!" umpat Reyhan.
Di saat nafsu sudah memuncak dan junior sedang tegang – tegangnya, tiba - tiba listrik padam. Reyhan pun memakai kembali pakaiannya dan meraih ponsel di meja nakas. Ia mengaktifkan mode center untuk penerangan lalu ia mengambil baju tidur Tia di dalam almari.
"Tidurlah aku akan mengecek meteran dan sikring listrik dulu," ujar Reyhan sambil menyerahkan baju tidur Tia. Setelah itu ia keluar kamar meninggalkan Tia sendirian.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 178 Episodes
Comments
Roshalyndhaa Ajj Daahh
pak Rey, tidak suka gelap-gelapan yah🤭
2024-10-17
0
Putri Dhamayanti
lah emang ngapa klo listrik mati bro? kan malahan gak usah repot2 matiin lampu
2024-02-02
2
Lia Rochmatuz
padahal mah enggkkk papa gelap gelapan
2024-01-11
0