Satu bulan berlalu...
Hari ini adalah hari di mana Elya akan melakukan operasi. Karena pihak rumah sakit sudah mendapatkan pendonor yang cocok untuknya. Sebuah keberuntungan untuk gadis kecil itu.
Semua keluarga juga hadir untuk menunggu Elya menjalankan operasi. Saat ini Inna dan Samuel masih berada di dalam ruangan, untuk menyemangati putri kecilnya, sebelum operasi dijalankan.
"Elya Sayang, kamu harus kuat ya. Setelah Elya sembuh, Mama akan masak makanan yang enak buat Elya." Ujar Inna memberikan senyuman terbaik untuk putri kecilnya. Ah, sangat lucu saat mengatakan putri kecil. Tapi tidak ada salahnya kan? Inna memang sudah menganggap Elya seperti anaknya sendiri.
"Iya Ma, Elya mau makan masakan Mama yang enak." Jawab Elya dengan semangat. Membuat Samuel maupun Inna bahagia. Huh, mereka terlihat seperti keluarga bahagia.
"Elya anak yang kuat," ucap Inna mencium kening Elya.
"Papa, Elya seneng bisa punya Mama dan Papa lengkap seperti ini." ucap Elya menatap Samuel dengan wajah sumringah.
"Iya sayang, jika Elya bahagia Papa juga ikut bahagia." Samuel mengecup kening Elya penuh kasih sayang.
"Maaf Pak, Buk. Kami harus segera membawa Elya ke ruang operasi." Ujar salah seorang suster.
"Silakan, Sus." Sahut Samuel memeyetujui.
Elya pun segera di bawa ke ruang operasi. Dan semua orang menunggunya di depan ruang operasi dengan perasaan cemas. Inna terus melafalkan doa agar operasi Elya berjalan dengan lancar.
Tidak lama, lampu operasi pun hidup. Itu menandakan operasi sudah dimulai. Samuel bersandar di dinding, dengan perasaan cemas dan takut kehilangan yang terus berkecamuk di dadanya. Ia belum siap untuk kehilangan orang yang ia sayangi lagi. Dan mudah-mudahan itu tidak terjadi.
"Elya akan baik baik saja, El." Alex menepuk punggung Samuel. Sebagai seorang Ayah, ia mengerti perasaan putranya.
"Iya Pah, El yakin Elya kuat." Sahut Samuel.
Inna yang sedari tadi berdiri di depan pintu operasi bergerak menghampiri Diana yang duduk dikursi tunggu. Memeluk calon ibu mertuanya dengan penuh kasih sayang. Lalu menyandarkan kepalanya dibahu Diana. Meski sebenarnya ia juga menyimpan rasa cemas yang begitu besar.
"Terima kasih sayang, kamu sudah mau jadi penyemangat buat Elya. Bahkan kamu sudi mengorbankan kebahagian kamu buat Elya. Tante benar-benar bersyukur mendapatkan menantu sebaik dan setulus kamu." Ujar Diana untuk Inna.
"Inna bahagia jika Elya juga bahagia Tante, apa pun akan Inna lakukan agar Elya tetap bahagia. Inna pernah dalam poisis Elya, itu sangat menyakitkan."
"Tante bersyukur karena Allah mengirimkan malaikat cantik seperti kamu dalam kehidupan kami." Diana mengusap kepala Inna lembut dan memberikan kecupan tanda kasih sayang.
Inna tersenyum dan memejamkan matanya, ia sangat merindukan kehangatan seorang ibu dan hari ini Inna merasaka kehangatan itu kembali. Melalui Diana.
Selang beberapa jam, lampu operasi pun mati, itu menandakan operasi telah selesai. Dan tak lama seorang dokter keluar dari ruang.
Samuel langsung menghampiri dokter tersebut. Dan bertanya tentang keadaan putrinya.
"Alhamdulillah operasi berjalan dengan lancar. Anak bapak akan segera dipindahkan keruang transisi." Jawab sang dokter membuat semua orang merasa lega.
"Alhamdulillah, terima kasih dokter." ucap Samuel.
"Sama-sama, Pak. Kalau begitu saja izin pamit. Permisi." Dokter itu pun langsung bergegas pergi meninggalkan keluarga besar Elya. Dan tidak lama Elya dikeluarkan dari ruang operasi menuju PICU.
***
"Sayang sebaiknya kamu pulang dulu dan istirahat. Biar Tante yang jaga Elya." Perintah Diana saat melihat wajah Inna yang terlihat lelah. Bagaimana tidak, satu harian ini Inna sama sekali tidak pulang ke rumah. Setelah pulang dari kampus, Inna langsung ke rumah sakit untuk melihat kondisi Elya yang belum sadarkan diri sejak operasi, dua hari yang lalu. Dan kini mentari sudah berganti rembulan. Inna masih betah untuk menunggu Elya terbangun dari mimpi panjangnya.
"Tapi Tante, jika Elya bangun dan mencari Inna bagaimana?" Inna menatap Elya yang masih tertidur pulas di atas brankar. Karena sudah melewati masa kritis. Elya pun dipindahkan ke ruang rawat VVIP.
"Tante yang akan urus, sekarang kamu pulang ya. Tante gak mau kamu sakit." Ujar Diana membujuk Inna.
"Baiklah, Tante. Inna pulang dulu." Sahut
Inna pasrah. Lagian saat ini Inna juga butuh istirahat. Seluruh tubuhnya terasa pegal dan nyeri. Mungkin sesampainya di rumah, ia akan langsung berendam di air hangat.
"El, kamu antarkan Inna pulang." Perintah Diana pada Samuel yang tengah duduk di sofa. Bisa di lihat dari wajahnya jika lelaki itu pun kelelahan.
"Tidak perlu Tante, Inna bisa naik taksi kok." Inna berusaha menolak. Ia tak mau merepotkan orang lain.
"Ini sudah malam Inna, El akan mengantarkan kamu pulang." Perkataan Diana penuh pemaksaan.
"Tapi tante...."
"Ayo, aku akan antar kamu pulang." Potong Samuel dengan nada dingin.
Inna masih diam dalam poisisnya. Merasa canggung dengan sikap acuh Samuel.
Tak ingin menunggu lama, Samuel menarik tangan Inna dan membawanya ke luar dari ruangan. Inna sama sekali tidak menolak atau sekadar menarik tangannya dari genggaman Samuel. Mengikuti lelaki itu hingga tak sadar mereka pun sampai di parkiran.
Samuel membukakan pintu mobil dan meminta Inna untuk masuk. Setelah itu ia mengitari mobil dan ikut masuk ke dalam. Tanpa banyak berpikir, Samuel menghidupkan mobilnya. Dengan kecepatan penuh mobil Samuel melaju membelah jalanan ibu kota.
Inna meremas ujung bajunya karena merasa takut. Ingin sekali rasanya ia protes agar Samuel tidak terlalu kencang mengendarai mobil. Namun, ia mengurungkan niatnya saat melihat wajah Samuel yang begitu datar dan dingin. Sangat mengerikan.
"Apa kamu tidak berubah pikiran?" Tanya Samuel membuyarkan rasa takut dalam diri Inna.
"Tidak." Jawab Inna tanpa melihat lawan bicaranya. Arah pandangannya lurus ke depan.
"Kamu yang memutuskan semuanya, jadi sekali lagi aku katakan jangan menyesal suatu hari nanti. Karena aku tidak akan memberikan sesuatu yang lebih padamu." Ujar Samuel yang berhasil menarik perhatian calon istrinya.
Inna tidak habis pikir dengan lelaki yang ada di sebelahnya. Bagaimana kehidupannya kelak saat berdampingan dengannya? Mungkinkah ia sanggup? Bahkan tak ada kehangatan sama sekali dalam dirinya.
"Saya tahu. Saya juga tidak pernah mengharapkan apa pun dalam hubungan ini." Sahut Inna yang kembali memusatkan perhatian pada lalu lalang kendaraan.
"Besok aku akan melamarmu bersama keluarga, dan membahas tentang pernikahan kita." Pungkas Samuel.
Inna sempat kaget mendengarnya. Tetapi seketika ia menormalkan kembali ekspresinya.
"Baik, Saya akan bicarakan itu dengan Papa." Jawab Inna cukup canggung. Ia merasa dirinya tengah bicara dengan patung es. Dan tidak ada lagi pembicaraan di antara mereka. Hanya suara deru mobil yang menghiasi suasana canggung itu.
Tiga puluh menit berlalu, kini mobil milik Samuel sudah memasuki pekarangan rumah Inna. Samuel menoleh kearah Inna dan ternyata gadis itu sudah tertidur. Samuel berdeham, berharap gadis itu terbangun. Tetapi Inna tak kunjung bangun. Sepertinya ia benar-benar kelelahan.
Karena Inna tak kujung bangun, Samuel hendak melepaskan sabuk pengaman yang Inna kenakan. Namun, tiba-tiba Gadis itu bergerak dan kini wajah itu begitu dekat dengannya. Bahkan Samuel bisa merasakan hembusan napas Inna yang menerpa wajahnya. Aroma manis menyeruak masuk dalam hidungnya. Dan berhasil membuat Samuel mematung. Lalu pandangan Samuel tertuju pada bibir pink Inna yang begitu menggoda. Pikiran nakal Samuel mulai muncul, ia membayangkan betapa manisnya bibir itu jika berada dibibirnya. Samuel pria normal, tentu saja ia memiliki hasrat untuk menyentuh gadis itu.
"Sial!" Umpatnya yang mulai tersadar dengan apa yang ia pikirkan. Ia langsung turun dari mobil. Membanting pintu dengan kasar hingga membangunkan gadis itu. Samuel mengusap wajahnya kasar, ia bingung kenapa dirinya bisa tergoda hanya dengan melihat bibir Inna. Padahal selama ini Rayya juga selalu menggodanya, namun tak pernah membuat hasratnya muncul seperti yang ia rasakan saat ini. Benar-benar sial.
Inna terkejut dan baru menyadari jika mobil Samuel sudah berhenti di depan rumahnya. Ia turun dari mobil dan melihat Samuel yang tengah berdiri membelakanginya. Samuel sendiri tidak menyadari jika Inna sudah terbangun. Lelaki itu terlihat gelisah dalam posisinya. Membuat Inna merasa heran dan ingin sekali bertanya.
"Anda sedang apa?" tanya Inna yang berhasil membuat Samuel terkejut. Samuel langsung berbalik dan menatap Inna dengan tatapan kelam. Dan pandangan Samuel kembali tertuju pada bibir ranum gadis itu.
"Kamu sudah bangun?" Tanya Samuel dengan suara seraknya.
Inna pun mengangguk pelan. "Terima kasih, sudah mau mengantar saya." Ucap Inna gugup seraya menggigit ujung bibirnya.
Ck, dia benar-benar menggoda.
Samuel mengangguk sebagai jawaban. Ia semakin gusar dan ingin segera pergi dari sana.
"Kalau begitu saya masuk dulu." Imbuh Inna yang lagi-lagi hanya dijawab anggukan oleh Samuel.
Tanpa banyak berpikir, Inna langsung bergegas memasuki rumah. Begitu juga dengan Samuel yang langsung masuk ke mobil dan beranjak pergi meninggalkan pekarangan rumah Inna. Dan bayangan bibir itu terus menghantuinya. Sepertinya Samuel harus mengguyur diri dibawah air dingin. Untuk meredamkan gelora dalam dirinya.
"Assalamualaikum." Ucap Inna saat masuki rumahnya. Namun, tak ada jawaban sama sekali dari dalam.
Inna mengernyit bingung, karena tidak biasanya jam segini Randy belum pulang.
"Papa," panggil Inna masuk ke kamar Randy, tetapi kamar itu kosong.
"Ya ampun Papa kemana sih? Ini kan udah malam banget." Inna mulai khawatir, pasalnya Randy sama sekali tidak memberi kabar padanya. Selepas pulang dari rumah sakit tadi siang. Setahu Inna, Randy langsung kembali kekantor untuk menghadiri meeting penting.
Inna mengambil ponselnya dan mencoba untuk menghubungi Randy. Namun nomor itu sedang tidak aktif. Hal itu semakin membuat Inna gusar.
Lalu tak lama terdengar suara mobil. Inna langsung berlari keluar.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 60 Episodes
Comments
Tian
prof..tenang aja cinta datang krn terbiasa....
2022-07-14
0
Eman Sulaeman
semangat
2022-06-16
0
Marlida Yusuf
Thor gak salah yang jutek kok El dia yg minta tolong kok dia yg sombong dan Inna apa ada manusia yg korbankan perasaaan dan diri untuk anak orang aneh
2022-06-15
1