"Mama...."
Inna melihat seseorang yang sangat mirip dengan Mamanya. Ia berlari untuk mengejar orang itu. Berhasil, Inna hampir menyentuh pundak wanita itu. Namun sayang, seseorang terlebih dahulu menarik tangannya.
"Inna, apa yang kamu lakukan di sini?" tanya orang itu yang ternyata Papanya, Randy.
"Papa. Tadi aku lihat Mama, beneran itu Mama Pa. Itu jelas Mama, Inna melihatnya." Ujar Inna begitu antusias. Ia rasa matahya tak salah lihat. Wanita tadi benar-benar Mamanya.
"Lalu mana Mama kamu sekarang?" Tanya Randy sambil celingak-celinguk mencari keberadaan orang yang Inna maksud. Tetapi tidak ada satu orang pun di sana.
"Tadi ada disini sebelum Papa datang. Sedikit lagi Inna menyentuhnya, Papa harus percaya." Inna berdiri tepat dimana orang yang mirip Mamanya tadi berdiri. Randy menatap putrinya itu penuh iba, ia tau pasti saat ini Inna sangat merindukan ibunya sampai-sampai Inna berhalusinasi seperti ini.
Randy menghela napas gusar. "Inna, Papa tahu kamu merindukan Mama, tapi Papa mohon jangan seperti ini ya?" Randy mengelus pipi Inna.
"Tapi Pa, Inna beneran...." Inna mengantung ucapannya. "Sudahlah, mungkin Inna cuman salah lihat." Lanjut Inna terlihat pasrah karena ia juga tidak terlalu yakin yang tadi ia lihat itu adalah Risa, Mamanya.
"Kita pulang ya? Ini sudah larut malam." Ajak Randy.
"Iya Pa, tapi Inna pamit dulu sama mereka. Lagian Kak Jidan sama Didi masih di dalam Pa." Jawab Inna.
"Baiklah." Sahut Randy. Lalu mereka pun masuk ke dalam untuk pamit pulang.
Inna dan Randy menhampiri Diana, Jidan, Didi dan Samuel. Juga Rey dan Alex yang etah sejak kapan tiba di rumah sakit.
"Tante, Om. Inna pamit pulang dulu ya, jika ada kabar tentang Elya tolong hubungi Inna."
"Iya, Sayang. Hati-hati di jalan. Jika Elya membutuhkan kamu, Tante akan langsung hubungi kamu." Ujar Diana.
"Terima kasih, Tan." Ucap Inna mencium tangan Diana dan Alex bergantian.
"Kami pulang dulu, Lex. Bagaimana pun Inna butuh istirahat." Ujar Randy yang dijawab anggukan oleh Alex. Inna menatap Samuel yang sejak tadi terus memperhatikannya dengan ekspresi yang datar.
"Ayo sayang." Ajak Randy menarik tangan Inna. Lalu keduanya beranjak untuk pulang. Disusul oleh Didi dan Jidan.
***
Inna menatap keluar jendela mobil, saat ini pikirannya benar-benar kacau. Inna masih memikirkan ucapan Samuel. Ia bingung apakah keputusannya itu benar atau salah?
"Sayang, kamu gak apa-apa kan?" tanya Randy yang memperhatikan Inna terus termenung sepanjang jalan.
"Inna gak apa-apa kok, Pa. Cuma kecapean aja." Jawab Inna berbohong. Tidak ada maksudnya untuk membohongi Randy, hanya saja ini bukan waktu yang tepat untuk berkata secara jujur.
"Papa mengerti." Sahut Randy memberikan senyuman tulus. "Inna, apa kamu benar-benar menyayangi Elya? Papa lihat kamu begitu peduli padanya."
"Inna gak tau Pa, saat melihat Elya. Inna teringat diri Inna sendiri. Inna juga sakit saat melihat Elya sakit. Saat Elya senang, Inna juga ikut senang, Inna tidak mengerti dengan perasaan sendiri." Jawab Inna tanpa dibuat-buat dan bicara apa adanya.
"Papa tahu? Inna sangat takut saat melihat Elya bersimbah darah seperti tadi. Inna takut kehilangan Elya. Papa tahu sendiri usia Elya saat ini baru menginjak 6 tahun, tapi Elya sudah banyak menderita karena ditinggalkan Ibunya. Kejadian tadi membuat Inna hilang kendali." Sambung Inna yang kini sudah berderai air mata.
"Dan kamu menerima tawaran Samuel untuk menjadi suami kamu?" Pertanyaan Randy berhasil membuat Inna terkejut. Pasalnya Inna belum mengatakan apa pun pada Papanya. Tetapi Randy sudah tahu lebih dulu.
"Papa tidak sengaja mendengar pembicaraan kalian." Ujar Randy menatap Inna sekilas dan kembali pokus menyetir.
Inna tidak bisa berkata apa-apa untuk saat ini.
"Papa harap keputusan yang kamu ambil itu sudah benar, karena Papa tidak mau anak Papa menderita atas pilihannya sendiri." Timpal Randy membuat Inna semakin terisak.
"Apa... Papa setuju dengan keputusan Inna?" tanya Inna gugup.
"Jika itu pilihan terbaik untuk kamu, Papa akan setuju. Karena Papa tahu, saat ini anak Papa sudah dewasa dan tahu mana yang baik dan mana yang salah." ucap Randy mengusap kepala Inna lembut.
"Makasih Papa udah memahami posisi Inna." Ucap Inna dengan sedikit senyuman di dibirnya.
"Sama-sama, Sayang." ucap Randy tulus.
Tiga puluh menit berlalu, mereka pun tiba di rumah. "Istirahat, sayang. Jangan terlalu memikirkan hal tidak penting." Perintah Randy saat mereka masuk ke dalam rumah.
"Iya Pa, Papa juga harus istirahat. Inna pamit kekamar dulu. Assalamualaikum." ucap Inna yang langsung beranjak ke kamarnya.
"Wa'alaikumusalam. Papa akan selalu mendoakan suapaya anak Papa selalu bahagia." Randy menatap punggung anaknya yang mulai menghilang dari pandangan. Ia tahu saat ini putrinya sedang tidak baik-baik saja. Namun, Randy tidak bisa terlalu dalam memasuki kehidupan putrinya. Inna sudab cukup dewasa dalam mengambil keputusannya sendiri.
***
Rumah sakit
Samuel menatap wajah pucat putrinya. Berbagai alat penunjang kehidupan menempel ditubuh mungil Elya. Membuat hatinya terasa perih dan sesak. Rasa menyesal itu semakin memuncak, mengingat dirinya lah yang membuat Elya terbaring lemah di rumah sakit.
Andai aku tidak membentaknya dan membiarkan dia melakukan apa pun yang ia mau. Mungkin hal ini tak akan pernah terjadi. Pikir Samuel frustasi.
"Mulai sekarang papa berjanji akan selalu memenuhi keinginan kamu, Sayang." Samuel mengusap Pipi Elya lembut.
"Papa janji," sambungnya begitu pilu. Lalu Samuel mengecup pipi Elya dengan mesra.
Tidak berapa lama, Diana masuk ke dalam ruangan. Menghampiri Samuel yang masih berdiam diri ditempatnya.
"El, kamu harus istirahat. Biar Mama yang menjaga Elya."
"Tidak Ma, El akan tetap menjaga Elya." ucap Samuel.
"Kamu harus menjaga kesehatan, jika kamu sakit siapa yang akan menjaga Elya?" Diana mengusap kepala Samuel.
"El akan baik baik aja Ma." Samuel tersenyum tulus. Diana yang mendengar itu menghela napas berat.
"Dasar keras kepala."
Lalu keduanya terdiam untuk beberapa saat.
"Ma, El akan menikah dengan Inna." Ujar Samuel yang berhasil membuat Diana terkejut.
"Kamu gak bercanda kan El?" tanya Diana tak percaya.
"El gak pernah becanda, Ma." Jawab Samuel meyakinkan Diana.
"Lalu bagaimana dengan Inna?" tanya Diana lagi.
"Inna setuju." Jawab Samuel lagi.
Tentu saja jawaban putranya itu membuat hati Diana lega, karena selama ini memang itu yang Diana inginkan. Ia sangat yakin bahwa Inna bisa merubah kembali sifat Samuel seperti dulu lagi. Samuel yang ramah dan penuh kasih sayang.
"Jika seperti itu, hanya satu yang ingin Mama katakan. Jangan sakiti dan buat Inna kecewa. Mama orang pertama yang akan menghajar kamu jika itu terjadi." Ujar Diana penuh ancaman.
"El akan berusaha untuk bisa membahagiakan Inna dan juga Elya, Ma." Balas Samuel sambil menatap putrinya yang masih tertidur pulas.
"Kapan rencana kamu melamar Inna?"
"Secepatnya Ma."
"Kamu harus segera memberi tahu Papa, agar semuanya bisa langsung diatur. Agar tidak ada kesalahan di hari pernikahan." Nasihat Diana yang dijawab anggukan oleh Samuel. Lalu tidak ada lagi pembicaraan di antara mereka. Keduanya terhanyut dalam pikiran masing-masing.
Bersambung....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 60 Episodes
Comments
endah setyowati
memangnya itu papanya Samuel dimana,apakah tidak tinggal serumah dengan mamanya
2025-03-06
0
Eman Sulaeman
ya kenapa saman sam sih
2022-06-16
0
◉‿◉♡-Ƥυтrу Ƴαѕмιη-♡◉‿◉
Mudah sekali mereka nikah, lah gw jones terus hingga saat ini hmmz 🥴
2022-06-10
0