"Elya...."
Samuel dan Diana teriak bersamaan. Dengan langkah cepat Samuel menghampiri putrinya yang sedang memegang pecahan gelas.
"Jangan dipegang, Elya." Samuel memberi instruksi dengan nada khawatir. Dan benar saja, ia melihat darah segar mengalir dijari putri kecilnya. Tetapi gadis itu sama sekali tidak menunjukkan rasa sakit sama sekali. Tentu saja Samuel dan Diana merasa heran. Samuel bergegas menghampiri putrinya dan menjauhkan benda berbahaya itu dan langsung menggendongnya.
"Elya haus, jadi Elya ambil gelas dan gak sengaja gelasnya jatuh, Pa." Jelas Elya terlihat takut-takut. Takut jika Samuel akan kembali memarahinya seperti tadi siang.
Melihat ketakutan di mata putrinya, Samuel mendekap dan membawanya pergi dari sana. Ia membawa Elya keruang keluarga dan mendudukkan putrinya disofa. Sedangkan dirinya berjongkok agar posisi mereka sejajar. Diraih tangan mungil anak gadisnya itu dengan hati-hati lalu meniupnya perlahan.
"Kenapa gak minta tolong Papa atau Oma? Lihat, jari kamu berdarah, Sayang."
"Cuma luka kecil, Papa. Kata tante cantik, Elya gak boleh cengeng. Nanti Elya tidak cantik lagi." Jawab Elya dengan senyuman mengembang, seakan luka dijari mungilnya itu tida arti, dan itu membuat Samuel terperangah. Ia tahu betul Elya sangat cengeng meski tubuhnya hanya terluka sedikit. Tapi kali ini sampai mengeluarkan darah tapi anak itu masih terlihat tenang.
"Tante cantik?" Samuel menatapnya bingung. Ia sama sekali tidak mengingat gadis ditaman tadi.
"Iya, Papa. Tante cantik yang ada di taman tadi." Sahut Elya sambil melihat darah di jarinya. Tidak ada rasa takut sedikit pun di matanya.
Samuel pun kembali mengingat gadis yang tadi bersama putrinya.
"Tante cantik siapa El?" tanya Diana yang baru saja muncul membawa kotak P3K di tangannya dan tidak sengaja mendengar percakapan mereka. Lalu wanita itu duduk tepat di sebelah Elya. Dan mulai membersihkan luka dijari sang cucu. Elya meringis kecil saat lukanya terkena alkohol. "Tahan sebentar ya?"
Elya mengangguk patuh lalu kembali berceloteh ria. "Tadi siang Elya ketemu tante cantik, Oma. Tante baik hati. Tante cantik juga bilang, kalau Elya gak boleh cengeng lagi." Jawab Elya dengan senyuman yang terus mengembang di bibirnya yang mungil.
"Tapi... Papa jahat, Oma. Papa gak bolehin Elya deket-deket sama Tante cantik. Papa juga marah-marah didepan tante cantik. Padahal Elya pengen punya Mama baru seperti tante cantik. Pasti nanti Tante cantik mau deh temenin Elya main tiap hari. Iya kan Oma?"
Diana terkekeh lucu mendengar ocehan memggemaskan cucu satu-satunya itu. Namun berbeda dengan Samuel, wajah lelaki itu terlihat tegang.
Melihat ekspresi putranya, tentu saja Diana langsung paham. Dirangkulnya Elya penuh sayang. "Dengerin Oma, Sayang. Papa bukannya jahat. Tapi Papa takut kalau Elya dijahati orang asing. Maka dari itu gak boleh sembarangan ngobrol sama orang asing lagi ya?" Ujar Diana sambil sesekali melirik kearah putranya.
Mendengar penuturan Diana, Elya langsung menggeleng kuat seolah tak terima. "Enggak, Oma. Tante cantik itu baik. Kalau nanti Oma ketemu, pasti Oma suka juga."
"Benarkah? Oma jadi penasaran seperti apa tante cantik itu." Sahut Diana kembali melirik Samuel.
"Pokoknya tante cantik itu cantik banget, Oma. Papa juga ada lihat tadi. Iya kan, Pa? Cantik kan, Pa?"
Samuel yang tak menyangka putrinya akan melempar pertanyaan seperti itu pun merasa kaget. "Iya, dia cantik." Jawab Samuel dengan cepat.
Melihat reaksi lucu Samuel Diana tersenyum geli. Ia tahu, putranya masih belum siap untuk menikah lagi. Oleh karena itu tiada ada satu keluarga pun yang berani membahas masalah wanita didepan Samuel. Namun kali ini berbeda, putrinya sendirilah yang berbicara.
"Tuh kan, Oma. Papa aja suka sama Tante cantik." Katanya dengan senyuman yang tak lepas dari bibir mungilnya. Lalu gadia kecil itu pun mengangkat kedua tangannya untuk berdoa. "Ya Allah. Semoga Elya bisa ketemu lagi sama Tante cantik. Lebih bagus lagi Tante cantik jadi Mama Elya ya Allah. Please."
Mendengar doa penuh harap putrinya barusan hati Samuel pun terenyuh, ia tahu Elya membutuhkan sosok Ibu diusianya saat ini. Namun dirinya belum siap untuk menikah lagi, Elya masih kecil tentu saja belum tahu apa artinya pernikahan yang sesungguhnya.
Diana memeluk cucunya dari samping. "Emang Tante cantik mau jadi mama Elya yang nakal dan suka merajuk ini, hm?" Tanya Diana sambil menggelitik perut Elya. Dan berhasil membuat gadis kecil itu tertawa kerena geli.
"Geli, Oma. Elya janji, bakal jadi anak baik kalau Tante cantik mau jadi Mama Elya." Ujar Elya disela tawanya.
Samuel hanya menggelengkan kepalanya saat mendengar ocehan putrinya yang tak ada habisnya. Dan menganggap hal itu angin lalu karena yakin besok Elya sudah lupa.
***
"Inna, Sayang. Kamu sudah siap kan?" Tanya Randy yang saat ini sudah berdiri di depan pintu kamar putrinya. Lalu mengetuk pintu tiga kali.
"Sedikit lagi, Pa." Sahut Inna sedikit berteriak.
Buru-buru Inna merapikan rambutnya yang ia biarkan tergerai, agar menutupi bagian dadanya yang agak terbuka.
"Cepat sedikit, jangan buat Papa terlambat. Papa tunggu di mobil," perintah Randy yang langsung bergegas pergi dari sana.
Berbeda dengan Inna, ia masih seibuk dengan penampilannya.
"Ck, kenapa sih Papa suruh pake baju beginian? Kayak gak ada model lain aja. Kan terekspos dada mulus gw." Omelnya sambil memperhatikan penampilannya di cermin. Gadis itu benar-benar sangat menawan dengan balutan dress maroon sebatas lutut. Namun potongan dada yang lumayan rendah membuatnya sedikit risih.
Sebenarnya Inna tidak terlalu menyukai gaun yang saat ini ia kenakan. Karena ia terbiasa mengenakan kaos dan celana jeans untuk pergi ke kampus atau pun jalan-jalan. Hanya saja kali ini tidak bisa menolak pemberian Papanya. Lagian ini merupakan acara formal, tidak mungkin Inna berpenampilan seperti biasanya. Ia tidak mau membuat sang Papa malu.
Setelah merasa dirinya sudah sempurna, Inna langsung menyusul Randy yang menunggunya di mobil.
Benar saja, di sana Randy sudah berdiri dengan gagah menungu putrinya. Lelaki paruh baya itu memang masih sangat tampan jika dibandingkan dengan usianya yang sudah memasuki kepala lima. Randy semakin mempesona, karena mengenakan jas warna senada dengan gaun Inna. Bahkan mereka terlihat seperti pasangan kekasih.
"Kamu cantik sekali, Sayang." Puji Randy terpana melihat kecantikan putrinya. Inna yang mendengar itu tersipu malu.
"Papa juga tampan." Balas Inna dengan tulus.
"Kamu cantik dan Papa juga tampan. Sekarang kita berangkat." Ujar Randy yang langsung membukakan pintu mobil untuk putrinya. "Silakan masuk, Tuan Putri."
Mendengar itu Inna terkekeh lucu. "Terima kasih, Ayahanda." ucapnya yang langsung masuk ke dalam mobil mewah milik sang Papa.
"Sama sama, Tuan putri." Balas Randy dengan senyuman yang begitu manis. Tidak perlu di tanya lagi, dari mana asal senyuman manis Inna berasal. Tentu saja dari sang Papa.
Tidak perlu memakan waktu lama, mereka sudah sampai disalah satu restoran berbintang di Jakarta.
Randy menuntun putrinya memasuki restoran yang tampak sepi. Tentu saja hal itu membuat Inna merasa heran.
"Pa, kok restorannya sepi ya?" tanya Inna.
"Sudah diboking mungkin." Jawab Randy sambil menarik tangan Inna dan mengaitkan ditangannya.
"Diboking? Cuma buat dinner keluarga? Sekaya apa sih sahabat Papa itu?" tanya Inna sangat penasaran. Randy yang mendengar itu pun tertawa.
"Dia pemilik restoran ini, Sayang." Jawab Randy yang berhasil membuat Inna kaget dan tanpa sadar membuka mulutnya.
"Wah... hebat juga sahabat papa." Puji Inna karena merasa kagum.
"Itu mereka," ucap Randy menunjuk sebuah ruangan yang di tata dengan begitu indah.
Disana sudah duduk sepasang suami istri dan seorang pemuda yang sangat tampan. Ketiganya tersenyum saat melihat kedatangan Randy dan Inna.
"Randy... selamat datang my best friend." Seru seorang pria paruh baya yang langsung bangkit dari duduknya lalu memeluk Randy.
"Owh... Alex, kau semakin tampan saja." Balas Randy yang juga membalas pelukan Alex, sahabatnya.
"Kau juga semakin berkarisma sobat." Ujar Alex yang disambut tawa oleh keduanya. Lalu Randy beralih memandang wanita cantik yang sudah lama ia kenali.
"Hai... Diana, apa kabar?" sapa Randy mengulurkan tangan pada wanita cantik itu yang tersenyum padanya.
"Kabar baik, Ran." Diana membalas uluran tangan Randy.
"Ini putrimu?" tanya Diana sambil menatap takjub ke arah Inna.
"Ya, ini Putriku namanya Inna. Dan Inna, ini om Alex dan tante Diana, sahabat Papa." Kata Randy memperkenalkan putrinya.
"Saya Inna, Om, Tante." ucap Inna sambil bergantian mencium tangan keduanya.
"Kamu cantik sekali, Sayang. Persis seperti Ibumu." ucap Diana menarik Inna dalam pelukkan. Inna terdiam sesaat. Ia merasa sedih saat Diana menyebut kata Ibu.
"Makasih, Tan." Inna melerai pelukannya. Lalu pandangannya tertuju pada lelaki yang saat ini berdiri di hadapannya. Lalu lelaki itu bergerak menghampiri Randy.
"Oh iya, kenalkan ini putra keduaku namanya Reynaldi." Alex memperkenalkan putranya.
"Rey, Om." Rey mencium tangan Randy.
"Rey." ucap Rey mengulurkan tangan pada Inna.
"Inna." Inna membalas uluran tangan Rey sambil tersenyum ramah.
"Silakan duduk." Alex mempersilakan keduanya duduk tempat yang sudah disediakan. Tanpa sungkan Inna dan Randy pun duduk di sana. Namun ada yang membuat Inna merasa heran, mengapa ada dua kursi kosong didepannya?
Melihat eskpresi heran Inna, Diana pun langsung angkat suara. "Itu untuk putra sulung dan cucu kami."
"Loh, terus kenapa belum hadir?" tanya Randy yang juga ikut heran.
"Cucu kami ingin membeli sesuatu, jadi Putraku mengantarnya." Jawab Alex. Randy pun mengangguk tanda mengerti.
"Nah itu mereka." Tunjuk Alex.
Spontan Randy dan Inna pun menoleh kebelakang.
Deg!
Seketika jantung Inna berdetak kencang, ia mengedipkan matanya beberapa kali dan berharap yang ia lihat itu tidak benar. Namun, semua itu bukanlah hayalannya, karena semuanya nyata. Itu benar-benar dosen killer dan putrinya.
Omg! Mati gue! Pekik Inna dalam hati. Buru-buru ia memalingkan wajah.
Elya berlari kecil menghampiri Diana, belum menyadari keberadaan Inna tentunya. "Oma, lihat Elya beli banyak jajan." Serunya sambil menunjuk papper bag yang ada digenggamannya.
"Wah... banyak sekali. Memangnya habis?" Diana mencubit gemas pipi cucunya itu. Sedangkan Samuel terus memandangi Inna, merasa tak asing dengan wajah itu. Karena terus ditatap, Inna pun berusaha menghindari tatapannya.
"Oh iya hampir aja Oma lupa, yuk kenalan dulu sama Opa Randy dan Kak Inna." Mendengar itu Elya pun menoleh ke arah Inna. Gadis itu terdiam untuk beberapa saat sampai beberapa detik kemudian matanya langsung berbinar.
"Tante cantik!" Elya berteriak cukup kencang karena baru menyadari jika Inna adalah Tante cantik yang selalu ia sebut-sebut. Refleks semua orang pun menatap Inna.
Dengan semangat Elya langsung berlari memutari meja makan dan berhambur kepelukan Inna. Tentu saja Inna kaget dan belum siap mendapat pelukan dadakan seperti itu.
"Terima kasih ya Allah karena udah kabulin doa Elya. Tante cantik, Elya seneng banget bisa ketemu tante cantik lagi."
Elya menarik diri lalu menghadap sang Oma.
"Oma, ini tante cantik yang Elya bilang. Elya benar kan Oma, kalau tante cantik itu cantik?" Celoteh Elya dengan penuh semangat. Lalu kembali menatap Inna penuh cinta. Dipeluknya lagi Inna dengan erat. Sedangkan yang lain hanya mengerutkan keningnya karena bingung.
Samuel yang baru sadar jika Inna adalah gadis yang sering putrinya sebut pun berdeham kecil. "Elya, duduk ditempat kamu." Ia yang sedari tadi masih berdiri pun beranjak duduk tepat berhadapan dengan Inna.
"Gak mau, Elya mau sama Tante cantik." Kekeh Elya masih bergelayut manja pada Inna."
"Elya!"
"Gak papa, biar Elya disini dengan saya." Sanggah Inna karena tak ingin mendengar Samuel memarahi Elya lagi seperti tadi siang.
Rey berinisiatif bangun dan memindahkan kursi Elya disebelah Inna. "Duduk di sini Elya." Tentu saja Elya menurut dengan patuh.
"Sebentar, ini ada apa ya?" Tanya Randy yang sejak tadi terlihat lebih bingung.
Inna menoleh ke arah Papanya. "Kami bertemu di taman kampus tadi siang, Pa." Jawab Inna saat menyadari tatapan bingung dari semua orang. Kecuali Samuel yang bersikap seakan tidak tahu apa-apa.
"Wah... kebetulan yang langka ya?" Sahut Alex tertawa renyah. Tentu saja yang lain pun ikut tertawa. Berbeda dengan Samuel, ia masih mempertahankan wajah datarnya.
"Ya sudah, mari kita cicipi hidangannya. Kasian dianggurin." Ajak Diana dengan semangat.
"Ok, mari." Timpal Alex. Lalu mereka pun mulai menyantap hidangan.
Acara dinner keluarga itu pun begitu khidmat. Sesekali Samuel melirik Elya yang sedang disuapi oleh Inna. Dengan tangan gemulainya Inna menyuapi anaknya layak seorang Ibu. Ada sedikit perasaan hangat dihati Samuel saat melihat Inna melayani Elya dengan begitu lembut dan sepenuh hati. Tanpa sadar ia juga memuji kecantikan Inna apa lagi saat gadis itu tersenyum lebar.
"Elya sudah kenyang." Elya mengusap perutnya yang terasa penuh.
Semua orang yang juga sudah selesai makan. Kini tatapan mereka tertuju pada Inna yang tengah membersihkan bibir Elya. Jika diperhatikan, mereka lebih mirip seperti ibu dan anak. Inna tidak menyadari jika semua orang tengah memperhatikannya.
Elya memutar tubuhnya menghadap Inna. Menatap wajah cantik itu begitu dalam.
"Ada apa?" Tanya Inna seraya meletakkan tisue di atas piring, lalu mengambil gelas berisi air minum. Karena ia belum sempat minum air putih. Lalu meneguknya perlahan.
"Tante cantik, mau kan jadi mama Elya?"
"Uhuk Uhuk.... " Inna tersedak air minum karena mendengar lontaran pertanyaan Elya. Randy mengusap punggung putrinya dengan lembut. Sebenarnya ia juga terkejut mendengar pertanyaan Elya untuk putrinya barusan.
Elya memberikan tatapan rasa bersalah pada Inna. Lalu mengusap ujung bibir Inna dengan lembut.
"Elya minta maaf, gara-gara Elya tante tersedak. Elya cuma mau punya Mama. Elya gak mau terus-terusan diejek sama teman-teman, kalau Elya gak punya Mama. Mama Elya jahat, Mama Elya pergi ninggalin Elya sama Papa. Padahal Elya gak bandel, tapi Mama tetap ninggalin Elya. Elya berharap Tante cantik mau jadi Mama Elya." Elya memeluk Inna dengan sangat erat. Membuat Inna terdiam seribu bahasa. Pengungkapan Elya membuat semua orang ikut terdiam.
Tanpa sadar, air maat Inna mengalir begitu saja dipipi mulusnya. Ingatannya sepuluh tahun yang lalu kembali berputar dikepalanya. Di mana sang Mama benar-benar pergi meninggalkannya tanpa sepatah kata pun. Hingga saat ini, sosok Mamanya tak pernah kembali. Bahkan Inna tidak tahu di mana wanita itu berada.
Randy yang memahami situasi, langsung menggenggam tangan putrinya. Mencoba untuk memberikan kekuatan. Sejak lama, ia tidak pernah mengungkit hal itu. Karena ia tahu, putrinya akan terpukul. Tetapi kali ini ia tidak dapat berbicara, gadis kecil itu telah membuka luka lamanya.
Semua orang yang melihat itu merasa canggung. Terutama Alex dan Diana yang tahu apa yang terjadi. Berbeda dengan Samuel dan Rey, mereka terlihat bingung.
Suara isakkan Inna berhasil menarik perhatian Elya. Gadis kecil itu mengangkat kepalanya untuk menatap Inna.
"Tante kenapa nangis? Tante bilang, kita gak boleh cengeng nanti cantiknya hilang." Elya menghapus air mata Inna.
Mendengar itu Inna tersenyum geli, bagaimana bisa ia lupa dengan kata-katanya sendiri. Inna juga merasa spesial karena diperlakukan manis oleh anak kecil yang baru ia kenal tadi siang.
"Tante, mau kan jadi mama Elya?" Tanya Elya yang lagi-lagi membuat suasaan menjadi canggung dan mencekam.
"Tidak...."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 60 Episodes
Comments
Inyhhlstryyy
Mama Inna dmna thor?
2022-07-31
1
Ilyloveme
Yang jawab Sam
2022-07-19
0
Ilyloveme
Apakah akan terjadi cinta segiempat?
2022-07-19
1