Yurika telah kembali dari sungai mengenakan pakaian wanita yang sebelumnya Ezra pinjamkan padanya. Ezra sedang membakar ikan tangkapannya di perapian. Ia jadi teringat hal yang sama tadi pagi.
"Ini bagaimana aku mengembalikannya? Katanya kamu akan kembali besok pagi," tanya Yurika tentang pakaian yang saat ini dikenakannya.
"Untukmu saja. Aku bisa membelinya lagi nanti di jalan pulang," ucap Ezra.
Pakaian yang Yurika kenakan sebenarnya akan Ezra berikan untuk adik angkatnya. Ia jadi tak enak hati sudah mengenakan baju bagus itu. "Bagaimana kalau aku mengganti dengan uang? Berapa yang kamu mau untuk satu lembar pakaian ini?"
Ezra tertawa. "Memangnya kamu punya uang?" tanyanya.
Yurika menggeleng. "Aku belum gajian. Tapi, nanti kalau sudah diberi uang gajian, aku akan membayar untuk pakaian ini."
"Kalau kamu sudah gajian, aku sudah kembali ke istana. Mungkin kita tidak akan bertemu lagi."
Yurika menggaruk rambutnya. "Ah, iya. Benar."
"Anggap saja sebagai hadiah karena telah menemaniku berbicara selama dua hari," ucap Ezra. Ia memberikan ikan yang baru matang kepada Yurika.
"Seharusnya aku yang memberikan hadiah untukmu. Kamu sudah menolongku, memberikanku pakaian bagus, juga makanan." Yurika begitu menikmati ikan yang dibakar oleh Ezra. Rasanya enak daripada ia setiap hari harus memakan roti isi daging terus.
"Kamu juga sudah memberiku kebahagiaan karena telah menjadi teman bercerita. Apalagi setelah tahu kalau kita sama-sama mixtus, aku jadi merasa tidak sendiri."
Rasa senasib membuat Ezra peduli kepada Yurika. Jumlah mixtus di negeri itu sangat sedikit. Menurut masyarakat, hanya elf bodoh dari kalangan bangsawan yang tergoda dengan elf kalangan bawah. Apalagi sampai menghasilkan keturunan mixtus yang tidak akan diakui sebagai kalangan atas sebelum aura elf dalam dirinya terpancar. Kebanyakan mixtus akan tinggal di daerah pinggiran untuk menghindari ejekan. Mungkin hanya Ezra, mixtus yang bisa tetap tinggal di dalam istana.
"Aku masih penasaran ... kenapa kamu tinggal terpisah dengan Pangeran? Bukankah kamu harus terus mengawalnya?" tanya Yurika. Seharusnya, jika ia seorang pengawal khusus, pastilah akan diberikan tempat di dalam kediaman Jansen bersama Pangeran Adrian.
"Itu permintaanku sendiri atas persetujuan Yang Mulia Pangeran."
Yurika hanya mangguk-mangguk saja mendengar jawaban dari Ezra. "Ezra ... kira-kira seperti apa bentuk istana elf tempatmu tinggal? Apakah di sana semua elf bercahaya? Apakah saat malam di sana juga terang?" Ia jadi berangan-angan ingin melihat istana elf.
Aura dari pangeran saja sudah membuatnya begitu terkagum, apalagi jika menyaksikan para elf yang agung berkumpul menjadi satu di dalam istana. Pastilah kondisi istana bisa seterang bulan, di mana-mana penuh dengan cahaya.
"Kira-kira seperti yang kamu bayangkan," jawab Ezra.
Yurika memang sudah mendapatkan gambarannya dari novel yang ia baca. Pasti akan lebih indah lagi jika dia bisa menyaksikannya secara langsung. Namun, kehidupannya di sana bukan pada posisi yang bisa seenaknya datang ke istana. Apalagi ia hanya elf pekerja.
"Tempatnya ada di tengah danau dengan air terjun yang tak pernah berhenti mengalir. Kuda-kuda yang memiliki tanduk, serta beberapa burung elang raksasa yang hanya bisa dinaiki oleh keturunan raja."
"Elf di sana tidak terlihat mencolok karena hampir semuanya mengeluarkan aura keagungan yang sama. Justru yang tidak memiliki aura seperti mereka yang akan jelas terlihat."
Apa yang dikatakan Ezra sangat masuk akal. Jika semua orang mengenakan pakaian berwarna putih, maka yang akan mencolok merupakan satu orang yang berpakaian hitam. Begitupula sebaliknya. Mungkin itu juga yang terjadi pada pangeran hingga bisa terlihat begitu bersinar. Karena pangeran berada di antara elf biasa.
"Apa hanya kamu elf biasa di sana?" tanya Yurika.
"Tidak, para penjaga dan pelayan juga berasal dari elf biasa sama sepertiku." Ezra mengembangkan senyum.
Yurika menatap dalam-dalam mata Ezra. Di balik senyumannya, seperti tersimpan luka yang sangat dalam. "Apa kamu bahagia tinggal di dalam istana?" tanyanya.
Senyuman di wajah Ezra perlahan memudar. Ia memilih untuk mengalihkan arah pandandangannya seakan sangat menghindari pertanyaan tersebut.
"Yuri ... Yuri ...."
Terdengar suara seseorang memanggilnya. Yurika sempat menoleh ke segala arah mencari sumber suara. Ternyata Remi yang memanggilnya. Ia pasti sudah terlalu lama pergi sampai membuat temannya itu khawatir.
"Ada temanku. Aku akan pergi sekarang. Terima kasih untuk ikannya," ucap Yuri sebelum pergi. Sekilas ia hanya melihat senyuman Ezra.
Yurika berlari menghampiri Remi. Temannya itu pasti sangat khawatir karena terakhir kali mendapat panggilan dari Nona Asteria. Remi juga pasti tahu kalau kadang-kadang Asteria bisa bertindak semena-mena kepada pelayannya.
"Kenapa kamu bisa bersama pengawal pangeran?" tanya Remi penasaran. "Bajumu bagus sekali." Ia terkagum-kagum melihat baju yang Yuri kenakan. Pakaian itu terlalu bagus untuk dikenakan oleh seorang pelayan. Kalau saja tidak terpaksa, Yuri juga akan menyembunyikannya daripada menjadi pusat perhatian orang.
"Pinjam jubahmu!" pinta Yuri.
"Kenapa?" Remi heran dengan permintaan Yuri.
"Sudah, lepaskan saja dulu. Aku ingin meminjamnya." Yuri membantu Remi melepaskan baju luarannya, lalu ia memakainya untuk menutupi pakaiannya yang bagus.
"Kenapa harus ditutup?" tanya Remi lagi.
"Aku tidak mau ada yang curiga. Aku meminjamnya dari dia ... tolong kamu jangan cerita apa-apa kepada orang-orang!"
Remi hanya mengangguk. Keduanya kembali berjalan menujut tempat menginap mereka.
"Aku dengar Nona Asteria menyiram kamu dengan air. Ia juga melemparkan kotoran kepadamu. Aku sangat khawatir apalagi kamu tidak pulang-pulang," ucap Remi.
"Itu benar. Aku pergi ke sungai lebih dulu untuk membersihkan pakaianku. Lelaki itu meminjamkan baju adiknya ini kepadaku."
"Benarkah? Tidak aku sangka pengawal kerajaan memiliki hati yang mulia." Remi sangat kagum kepada pengawal yang telah membantu temannya.
"Kenapa Nona Asteria selalu berbuat buruk kepadamu? Aku sungguh merasa bersalah tidak pernah bisa membelamu." Remi menunjukkan raut wajah bersalahnya.
"Sudah, jangan dipermasalahkan. Nona Asteria memang hanya memiliki urusan denganku. Sejak dulu ia sudah membenciku. Jadi, kamu tidak perlu khawatir. Aku masih bisa bertahan."
"Berjanjilah kalau kamu akan terus bertahan, Yuri. Aku tahu kamu wanita yang kuat."
Yuri mengangguk.
"Untunglah minggu depan kita sudah bisa pulang. Kali ini kamu akan pulang, kan?" tanya Remi memastikan.
Yuri belum bisa memastikan akan pulang atau tidak. Mendengar cerita dari Asteria sendiri bahwa ia berada di sana karena ulah ayahnya, ia jadi tahu alasan Yuri hampir tidak pernah pulang. Mungkin ia sangat benci dengan ayahnya.
Kalau dipikir kembali, sampai Yuri mati akibat difitnah, ia belum sempat bertemu dengan ayahya. Setidaknya, Yuri yang sekarang harus pulang dan bertemu ayahnya. Jika dia harus marah, maka dia harus mengungkapkannya secara langsung, bukan hanya dipendam sampai mati.
*****
Sambil menunggu update, bisa mampir ke karya teman author ya 😘
Judul: Triple 'K'
Author: Unopp
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 57 Episodes
Comments
Hasan
nitip jejak🤗
2022-07-23
0
olfa nahidh
lanjut thor
2022-07-04
2