Mimpi Buruk (2)

Lelaki itu terus melakukan apa yang diinginkannya. Yurika pasrah, melawan juga tidak ada hasilnya. Kekuatan lelaki itu jauh lebih besar dibandingkan dengan dirinya.

Saat lelaki itu hendak melepaskan celananya, Yurika merasa memiliki kesempatan. Ia menendang pusakanya sampai lelaki itu berguling kesakitan di lantai. Yurika langsung berlari pergi meninggalkan ruangan itu dengan pakaian yang sudah acak-acakan.

"Kak ... Kak ... tolong aku ...," rengek Yurika saat bertemu dengan produsernya.

Lelaki itu tampak terkejut melihat keberadaan Yurika di sana. "Yurika, kenapa kamu ada di sini?" tanyanya.

"Pak Jayadi mau memperk0sa aku, Kak!" Yurika berkata dengan nada bergetar dan air mata mengalir di pipi.

"Kamu sudah gila, apa? Cepat kembali ke ruangan Pak Manajer dan minta maaf! Dia akan murka jika tahu kamu sedang berkeliaran di sini."

Bukannya membela, produsernya justru mencekal lengannya dan menariknya agar kembali ke ruangan yang tadi.

"Kak!" teriaknya. "Aku tidak mau!"

"Apa sih masalahnya? Kamu tidak akan kehilangan apapun hanya karena menemani Beliau! Bahkan kamu akan mendapatkan yang lebih banyak dari apa yang kamu miliki saat ini."

"Aku ini artis, Kak! Bukan pelacvr!" Yurika menghempas keras tangan sang produser hingga cekalannya terlepas.

Merasa produsernya itu juga sama-sama kurang ajarnya dengan Jayadi, Yurika memilih kabur. Ia langsung keluar dari gedung itu tanpa memikirkan ada orang yang akan melihat kondisi pakaiannya yang berantakan. Untung saja malam itu Yurika membawa mobilnya sendiri. Ia tidak perlu mencari Jenny untuk diantar pulang.

Sesampainya di apartemen, Yurika langsung masuk ke dalam kamar mandi, mengguyur tubuhnya dengan air. Ia mencoba membersihkan bekas-bekas di mana lelaki paruh baya itu menyentuhnya. Tangisannya mengalir menyatu dengan air yang mengalir. Rasanya ia ingin mati mendapat pelecehan yang tidak dapat ia ceritakan kepada siapapun.

Hidupnya terasa sangat berat. Ia kira cobaan terberat adalah pengkianatan. Tapi, merasa dijual oleh produser dan manajernya sendiri, menurutnya itu jauh sangat menyakitkan. Tubuhnya masih terasa kotor meskipun sudah ia basuh berulang-ulang.

Yurika meringkuk di atas tempat tidurnya mengenakan selimut yang tebal. Ia merasa sendirian, tak ada lagi orang yang bisa ia percayai.

Tiba-tiba ponselnya berbunyi. Ada panggilan masuk dari manajernya, Jenny.

"Halo, Yurika! Kamu sudah pulang ke apartemen?" tanyanya Jenny dari seberang telepon.

Yurika masih membisu. Ia tidak menjawab pertanyaan dari Jenny.

"Sejak tadi aku berdiri di depan pintu apartemenmu, bukalah ... kita perlu bicara."

"Produser memarahiku. Seharusnya kamu tidak berbuat kasar kepada Pak Manajer."

Yurika sudah menduga jika Jenny juga tidak akan membelanya.

"Besok kamu harus datang ke perusahaan itu lagi dan meminta maaf secara personal."

"Bukankah aku seharusnya datang ke kantor polisi? Orang itu mau memperk0saku." Yurika berkata dengan nada kesal.

"Apa yang kamu bicarakan? Mungkin kamu hanya salah paham. Sudahlah, mengalah saja dan minta maaf kepada Beliau. Jangan sampai karirmu hancur, mereka bisa saja menuntutmu untuk mengganti rugi miliyaran rupiah kalau kamu tetap keras kepala. Memangnya kamu punya uang sebanyak itu?"

Yurika menutup secara sepihak telepon dari Jenny. Padahal ia masih trauma, bukannya didukung malah semakin disudutkan. Yurika hanya bisa menangis meratapi nasibnya.

Ia tak bisa tidur memikirkan hari esok. Ia tak selamanya bisa bersembunyi dalam kamar apartemennya. Jenny pasti akan kembali memaksanya untuk meminta maaf. Semua orang akan menjauhinya dan ia akan kehilangan karirnya.

Tengah malam, Yurika bangkit dari ranjangnya. Ia menyambar sweater untuk menutupi gaun tidurnya. Yurika keluar dari pintu apartemennya. Di depan sudah tidak ada lagi Jenny yang katanya akan tetap menunggu di sana sampai ia mau membukakan pintu. Nyatanya, hanya omong kosong belaka. Jenny pasti sudah tidur nyenyak di kasurnya.

Yurika menyusuri kota area yang dekat dengan apartemennya. Suasana malam itu terbilang lengang, hampir tidak ada orang yang ditemuinya. Mungkin karena sudah larut malam.

Di atas jembatan, ia memandang sungai besar yang mengalir di bawahnya. Perasaanya begitu tenang mendengarkan suara aliran air yang terdengar jelas. Baru kali ini rasanya ia merasa bebas. Kemewahan yang ia peroleh selama menjadi artis tak ada artinya jika dibandingkan dengan kebebasan malam ini.

Yurika ingin mengakhiri semua. Penderitaan yang harus ia pendam, senyum palsu yang harus senantiasa ia pasang hanya untuk menyenangkan hati orang lain. Ia ingin bahagia untuk dirinya sendiri.

Ia menaiki pagar pembatas jembatan. Merentangkan tangannya, menikmati hembusan angin yang begitu lembut membelai tubuhnya. Matanya dipejamkan, perlahan tubuhnya dijatuhkan ke arah sungai. Beberapa detik saat ia melayang di udara, ia tersenyum menyambut kebebasannya.

❤❤❤❤❤

Jangan lupa komen, vote, like 😘

FB: Momoy Dayvis

IG: Momoy Dayvis

Terpopuler

Comments

Devi Ratna Sari

Devi Ratna Sari

Semangat Yurika❤❤❤❤

2022-09-30

0

Hasan

Hasan

hadirrr

2022-07-23

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!