"Remi ...."
"Ya?" Remi menoleh ke arah Yuri sembari mengunyah makanannya.
"Apa para pelayan dilarang berdandan? Memakai semacam lipstik dan bedak?" tanya Yuri.
Ia lihat perbedaan yang sangat mencolok antara kaum bangsawan dan rakyat jelata. Wajah para bangsawan terlihat cerah bercahaya sementara yang hanya rakyat biasa, apalagi hanya pelayan, dari pakaian saja sudah terlihat kumal. Wajah mereka juga kusam seperti tidak pernah cuci muka bertahun-tahun.
Remi tampak mengerutkan dahinya. "Lipstik? Bedak? Apa itu?" Ia tidak mengerti. Baru kali ini ia mendengar istilah aneh semacam itu.
"Kamu tidak tahu lipstik?" Yuri bertanya sampai matanya membulat. Bisa-bisanya seorang wanita tidak mengenal lipstik. Itu merupakan salah satu barang yang wajib dimiliki.
"Kamu makin aneh, Yuri ... bahkan kata-katamu yang sekarang tidak bisa aku mengerti. Bahasa apa itu? Seumur hidup aku baru kali ini mendengarnya."
"Lipstik itu benda yang bisa membuat bibir kita menjadi berwarna merah ... bedak bisa membuat kulit wajah kita terlihat cerah. Kamu lihat Asteria ... ah, maksudku Nona Asteria tadi, kan? Wajahnya sangat cantik, bibirnya bisa berwarna merah, tidak seperti bibir kita."
Di dunianya, Yurika sudah terbiasa memoles wajah dengan make up. Meskipun wajahnya tetap sudah cantik tanpa make up, namun untuk keperluan syuting dan pemotretan pasti Yurika akan diberi make up. Selain bisa mempercantik wanita, make up juga bisa mempertegas karakter seseorang.
Remi menarik bibirnya berusaha melihat warna bibirnya sendiri yang pucat. "Mungkin karena kita miskin," ucap Remi. "Kaum bangsawan dan kerajaan memang selalu tampak bersinar bagaikan lentera yang menerangi jalan. Berbeda dengan kaum kita."
"Aku rasa apa yang kamu katakan tadi tidak pernah ada di sini. Lipstik? Bedak? Itu tidak ada ... mereka bersinar karena mereka bangsawan," ucap Remi.
Yurika menyadari satu hal. Ternyata di dunia elf juga ada perbedaan kasta. Seperti halnya di dunia nyata, antara si kaya dan si miskin pasti ada perbedaannya.
"Aku kira semua elf itu sama, cantik dan tampan serta bercahaya. Mereka semua spesial, memiliki kekuatan sihir dan bisa terbang."
Remi tertawa dengan khayalan Yuri. "Sebaiknya kita menerima takdir kita ini sebagai elf pekerja. Bisa makan dan terus bertahan hidup saja sudah suatu anugerah yang besar." Ia tipe orang yang tidak terlalu memikirkan hari esok. Jika hati ini bisa dilalui dengan baik, Remi sudah bersyukur.
"Aku kira elf akan hidup kekal selamanya," celetuk Yurika.
Remi kembali tercengang. "Aku rasa penyakitmu sangat parah, Yuri. Pikiranmu sudah rusak. Mana ada elf yang hidup selamanya?"
"Jadi, elf bisa mati?" Yurika membulatkan matanya.
"Tentu saja bisa. Terutama kita, elf pekerja yang memiliki rentang usia tidak bisa mencapai 100 tahun. Kebanyakan akan mati muda. Mungkin karena kebanyakan bekerja. Sementara, elf bangsawan akan memiliki umur yang lebih panjang, mencapai ratusan hingga ribuan tahun. Tapi tidak semua ... bisa saja mereka mati muda karena dibunuh atau mendapat serangan Bangsa Ogre."
"Bangsa Ogre? Siapa mereka?" tanya Yurika penasaran. Ada banyak hal yang tidak ia tahu. Sebagai salah satu tokoh dalam cerita itu, ia harus mengetahui tentang banyak hal.
"Mereka adalah musuh utama kaum elf yang tinggal di goa-goa daerah pegunungan. Makanya raja selalu mengingatkan agar rakyatnya menjauhi area pegunungan dan tetap berada di dalam hutan. Semua demi menjaga keselamatan."
Yurika mangguk-mangguk. Ia belum tahu sampai di sana. Seharusnya ia membaca novelnya hingga akhir supaya tahu ceritanya seperti apa. Yang ia tahu, kisah cinta itu berakhir happy ending dimana Pangeran Adrian menikah dengan Hilda.
"Apa kamu pernah bertemu dengan mereka?"
"Oh! Jangan sampai! Aku tak mau bertemu mereka dalam hidupku!" Remi menutup wajahnya dengan telapak tangan. "Ada orang yang bercerita, katanya ia pernah bertemu dengan salah satu Bangsa ogre. Tubuhnya berlumuran lumpur, di kepalanya ada dua tanduk serta gigi-giginya yang runcing. Mereka pemakan daging dan suka memburu elf demi umur panjang. Makanya kaum bangsawan sangat takut jika menjadi sasaran mereka." Remi bercerita dengan semangat.
Yurika sampai merinding mendengarnya. Ternyata, tempat ia hidup saat ini juga tidak kalah berbahaya dan menyeramkan dengan kehidupannya yang sebelumnya. "Ah, aku jadi ingin kembali ... mungkin akan lebih baik kalau aku menjadi artis lagi," gumamnya.
❤❤❤❤❤
Jangan lupa dukungannya, tinggalkan like favorit, komen, vote 😘
IG: Momoy Dayvis
FB: Momoy Dayvis
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 57 Episodes
Comments
Momoy Dandelion
makasih, kak ... bkin 2 karya baru genre beda rame sebelah. ini emg sepi 😁
mngkin krn pertama kali bkin genre fantasi, critanya blm trllu menarik 😅
2022-07-23
5
Hasan
titip jempol dah biar ga sepi koment
2022-07-23
0