Yurika keluar dari dalam sebuah pondokan mengenakan pakaian kering yang diberikan padanya. Ternyata, pengawal setia sang pangeran menginap di tempat tersebut. Sementara, Pangeran Adrian sendiri menginap di kediaman Bangsawan Jansen.
Di luar pondokan, lelaki itu sedang menghidupkan perapian. Ia telah mengenakan pakaiannya yang berwarna hitam. Rambut hitam panjang yang semula tergerai sudah terikat kembali. Ia begitu gagah dengan penampilannya yang sekarang.
"Sudah selesai?" tanyanya ketika menyadari keberadaan yurika yang sedari tadi berdiri di depan pintu pondokan.
Yurika berjalan mendekat ke arah perapian. Ia duduk di samping lelaki itu.
"Minumlah!" Ezra memberikan segelas minuman kepadanya.
Yurika menerima minuman tersebut. Segelas minuman hangat yang memiliki aroma sangat wangi seperti aroma bunga mawar. Segera ia meneguk minuman itu.
"Huek!" Yurika langsung memuntahkan minuman yang masuk ke dalam mulutnya. Ia kira rasanya akan seenak aromanya. Ternyata, aroma yang dihasilkan benar-benar menipu. Seolah ia baru saja meminum jus buah pare mentah. Rasanya benar-benar pahit.
"Kamu tidak suka?" tanya Ezra keheranan. "Padahal minuman ini sangat bagus untuk pemulihan tenaga kaum kita. Apalagi untuk elf pekerja, ini bisa mengembalikan stamina."
"Memang rasanya agak aneh. Tapi, kalau sudah terbiasa meminum ini, rasanya tidak seburuk itu." Ezra meneguk minuman di gelasnya.
Yurika memandangi minuman miliknya. Baru kali ini ia merasakan sesuatu yang rasanya pahit, namun aromanya sangat wangi. Badannya memang masih terasa sangat pegal setelah bekerja seharian. Ia masih ragu apakah minuman itu benar-benar bisa menyembuhkan pegal-pegal di badannya.
"Minuman ini terbuat dari bunga Orcis yang banyak terdapat di pinggiran sungai. Bentuknya kecil-kecil bergerombol dan berwarna ungu. Selain untuk dijadikan minuman, bungan Orcis juga bisa ditumbuk untuk menyembuhkan luka di tubuh. Cobalah minum!"
Yurika kembali memandangi gelasnya. Tidak mungkin juga Ezra berkata bohong atau ingin menipunya. Ia menjepit hidungnya dengan jari lalu meminum sedikit demi sedikit minunan di gelasnya. Rasanya sungguh pahit seperti sedang meminum segelas jus pare.
"Hah! Hah!" Akhirnya satu gelas minuman pahit itu berhasil dia habiskan.
Ezra tertawa kecil melihat tingkah Yurika. "Besok pagi, pasti badanmu akan terasa lebih baik," ucapnya.
Saat awal-awal menjadi artis, Yurika sempat berkuliah di jurusan farmasi. Sedikit banyak ia mengerti tentang obat-obatan dan bahan kimia beserta manfaatnya. Di dunianya yang sekarang, teknologi pengolahan obat-obatan belum ada. Orang membuat obat-obatan masih dengan bahan tradisional yang tersedia di alam. Ia jadi penasaran seperti apa bentuk bunga orcis yang Ezra maksud.
"Jadi, kenapa kamu ingin bunuh diri?"
Yurika menoleh ke arah Ezra. Ia juga bingung ingin menjelaskannya bagaimana. Kalau dia bilang berasal dari masa depan, mungkin ia akan dianggap gila atau sudah kesurupan ogre.
"Aku ... sebenarnya ... Sebenarnya aku sudah tidak kuat menjadi seorang elf pekerja!"
Ezra kembali tertawa kecil mendengar jawaban itu. "Bukankah masing-masing kita telah diciptakan sesuai dengan kemampuan dan takdir kita masing-masing?"
"Aku rasa ini namanya bukan kemampuan, melainkan keterpaksaan." Yurika menatap serius mata Ezra. "Kami terpaksa bekerja keras hanya agar bisa makan untuk bertahan hidup."
Apa yang Yurika ucapkan benar-benar dari hati. Seharian bekerja dengan para pekerja, ia melihat tatapan kosong mereka. Seolah hidupnya tak berarti, mereka bekerja tanpa mengenal lelah bagaikan sebuah mesin yang memang telah diseting untuk diperah tenaganya.
"Bukankah kamu sendiri yang bilang jika seorang elf bunuh diri akan berubah menjadi ogre? Elf pekerja sepertiku tidak punya pilihan selain terus bekerja keras sembari menunggu kematian secara alami jika tidak ingin terlahir kembali sebagai makhluk terkutuk itu."
❤❤❤❤❤
Jangan lupa tinggalkan jejaknya 😘
IG: Momoy Dayvis
FB: Momoy Dayvis
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 57 Episodes
Comments
Hasan
hadir
2022-07-23
0