Baru pertama kali ini Yurika melihat secara langsung pohon anggur, bahkan ia berkesempatan memperoleh pengalaman untuk ikut panen di sana. Ia memotong secara hati-hati setiap tangkai anggur lalu memasukkannya ke dalam keranjang yang dibawanya. Pekerjaan itu masih sangat menyenangkan baginya sampai ia lupa kalau sedang menjadi seorang pelayan rendahan.
Ada banyak orang yang bekerja untuk bangsawan Jansen. Baik pria maupun wanita, tua atau muda, bahkan ada yang masih anak-anak, mereka bekerja dengan tekun memanen anggur di lahan yang luasnya berhektar-hektar. Yurika mencicipi secara diam-diam anggur yang dipetiknya. Rasanya manis dan segar, lebih enak dari anggur yang biasa ia nikmati di kehidupan sebelumnya.
"Heh! Jangan makan terus. Kalau ketahuan, kamu akan kena cambuk!" bisik Remi sembari memberi kode bahwa ada yang mengawasi mereka bekerja.
Yurika langsung mengakhiri perbuatannya. Ia kembali pura-pura fokus memanen anggur-anggur itu bersama Remi.
Yurika senyum-senyum sendiri. Betapa nasibnya sangat aneh, berniat bunuh diri malah hidup kembali sebagai seorang budak. Ia seperti harus berakting menjadi orang lain, namun bukan untuk keperluan syuting.
Dia memang tidak perlu lagi memikirkan bagaimana nasibnya di dunia nyata. Entah ada orang yang akan mencari mayatnya atau tidak, apakah masih ada yang peduli padanya? Jenny yang bertahun-tahun ikut bersamanya juga terpaksa memperlakukannya dengan baik karena ia adalah artisnya, sumber keuangannya.
Yurika masih kesal mengingat kejadian terakhir yang menimpanya. Ia hampir diperk0sa, namun tak ada yang membelanya. Ia harap mayatnya sekalipun tidak perlu mereka temukan, biarlah kisahnya hilang secara misterius dan dilupakan orang.
"Remi, aku lelah ... apa kita tidak boleh istirahat sebentar?" keluh Yurika mengingat mereka sudah bekerja selama tiga jam tanpa henti memanen anggur dari ladang yang sangat luas itu. Pekerja yang lain tampaknya tidak merasakan lelah, mereka terus bekerja bagaikan mesin yang telah diseting untuk tidak berhenti sebelum waktunya.
"Sabar, Yuri. Kalau kita sudah memanen sampai ke ujung sana, kita baru diizinkan untuk beristirahat." Remi menunjuk pada ujung yang dimaksud.
Yurika hanya terpaku melihat ujung yang masih jauh, sekitar 500 meter lagi. Ia pasti bisa pingsan sebelum mencapai ujung. Diam-diam ia kembali memakan anggur yang dipetiknya untuk mengisi tenaga. Bekerja selama itu tidak diberi makan dan minum, seperti sedang melakukan kerja rodi.
"Yang Mulia Pangeran tiba ...." terdengar seruan yang entah asalnya dari mana.
Yurika celingukan mencari asal suara. Semua pekerja tampak diam dan langsung berlutut. Ia tidak tahu apa yang sedang terjadi.
Remi segera menarik tangan Yuri agar ikut berlutut saat Pangeran tiba. Sudah menjadi kewajiban bagi rakyat biasa untuk berlutut saat ada keluarga kerajaan tiba.
"Kamu bisa dipancung kalau tidak mau berlutut!" lirih Remi.
Padahal Yurika begitu penasaran ingin mengetahui seperti apa sosok pangeran elf yang ada di dalam novelnya. Apakah dia lebih tampan dari pada lawan mainnya di film?
"Kenapa Pangeran datang ke sini?" tanya Yuri dengan nada setengah berbisik.
"Kerajaan paling suka dengan anggur yang dihasilkan dari kebun ini. Sudah menjadi kebiasaan mereka akan memesan anggur terbaik untuk dijadikan wine."
Yurika mangguk-mangguk. Setidaknya ia bisa beristirahat sejenak dengan berlutut. Sejak tadi kakinya terasa sangat pegal karena terus berdiri dan berjalan sembari memanen anggur.
"Kalian boleh beristirahat!" seru seseorang.
Yurika membulatkan mata terkejut. "Katanya kita tidak akan diizinkan beristirahat sebelum selesai panen?" tanyanya.
"Mungkin karena ada pangeran, makanya mereka berbaik hati supaya tidak dianggap memperbudak para pelayan."
Penjelasan Remi cukup masuk akal. Tujuan bangsawan Jansen melakukan pendekatan terhadap keluarga kerajaan, tentu saja karena mereka ingin ikut masuk dalam pemerintahan. Apalagi Tuan Jansen sangat mengunggulkan putrinya agar bisa menjadi kecintaan pangeran. Sayangnya, cinta Pangeran Adrian hanya untuk Hilda seorang.
"Ayo kita ambil makan dan minum! Kita harus cukup istirahat sebelum disuruh kembali bekerja." Remi menarik tangan Yuri agar keluar dari ladang anggur bersamanya. Di area halaman luas khusus untuk pekerja, sudah terhidang banyak makanan yang memang diperuntukkan untuk mereka. Masing-masing orang mendapatkan segelas air dan sepotong roti yang lumayan besar.
Yurika memandangi makanan di tangannya. rotinya tidak jauh berbeda dengan apa yang biasa ia makan di dunianya. Akan tetapi, ia yang sudah terbiasa memakan nasi entah nanti akan akan bisa kenyang hanya dengan makan roti atau tidak.
"Ayo makan!" perintah Remi. Ia sepertinya heran sekali dengan satu temannya itu. Yuri bertingkah tak seperti biasanya. Yuri sangat aneh.
Yurika memberanikan diri menggigit jatah rotinya. Rasanya tidak terlalu buruk, ada perpaduan rasa manis dan gurih. Di dalamnya berisi cincangan daging dan sayuran serta krim yang seperti saus dari buah tomat. Kalau dirasa-rasa, mungkin hampir sama dengan hamburger.
Yurika tiba-tiba merenungi nasibnya. Ia yang biasanya hidup serba ada, bergelimang harta dan kemewahan, kini harus makan seadanya. Mungkin ini hukuman bagi dirinya yang sudah salah memilih jalan pintas untuk bunuh diri.
Niatnya ia ingin mati karena terbebani dengan kehidupannya sebagai seorang artis. Kini Tuhan mengabulkan kemauannya, diberi kesempatan hidup sekali lagi sebagai orang yang sangat bertolak belakang dengan hidupnya di dunia nyata. Berasal dari keluarga miskin, memiliki wajah yang jelek, dan harus bekerja menjadi pelayan.
"Akhir pekan ini kamu mau pulang atau tidak?"
"Hah, pulang? Memangnya kita boleh pulang?" tanya Yurika. Ia belum terlalu banyak tahu aturan pelayan yang bekerja di keluarga itu. Membaca novel itu saja baru sekali dan belum tuntas sampai bab akhir. Ia tidak tahu kisahnya akan seperti apa, yang Yurika tahu bahwa tokoh Yuri nantinya akan mati digantung.
"Sepertinya kamu sudah hilang ingatan, ya? Aku jadi khawatir padamu." Remi tercengang dengan jawaba Yuri.
"Ah, iya. Maafkan aku. Akibat peristiwa waktu itu, aku memang jadi lupa banyak hal," kilah Yuri.
Remi juga tidak mungkin percaya kalau ia bercerita bahwa dirinya berasal dari dunia nyata yang masuk ke dalam novel. Apalagi kalau ia ceritakan di dunia nyata ada gedung-gedung tinggi, lampu, mobil, kulkas, bahkan televisi. Sedangkan dunia yang ia tinggali sekarang merupakan dunia elf yang berada di belantara hutan.
"Setiap tiga bulan sekali kita diizinkan untuk pulang ke rumah dan berlibur selama seminggu. Aku khawatir nanti saat pulang jangan-jangan kamu akan lupa dengan rumahmu sendiri."
Yurika meringis. Ia memang tidak tahu rute pulang ke rumah Yuri. Seperti apa rumahnya, siapa ayahnya, ia juga tidak tahu karena tidak diceritakan secara mendetil dalam novel. Ia hanya tahu jika ayah Yuri bekerja sebagai seorang pembuat minuman untuk menghasilkan uang. Sementara ibunya sudah meninggal setelah melahirkannya.
"Menurutmu, apa sebaiknya aku pulang?" tanya Yuri.
"Ya, kamu sudah beberapa tahun ini tidak pernah pulang. Apa kamu tidak kasihan dengan ayahmu? Setidaknya kamu harus mengetahui kondisinya."
Yurika terdiam. Ada banyak misteri yang dimiliki seorang Yuri yang ia sendiri belum tahu. Apa alasannya tidak pulang padahal masih memiliki seorang ayah di desa. Haruskah ia melanjutkan hidupnya sebagai Yuri? Atau lebih baik ia bunuh diri saja lagi?
❤❤❤❤❤
Hai ... jangan bosan memberi dukungan untuk author, ya 😘
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 57 Episodes
Comments
Devi Ratna Sari
seru
2022-09-30
0
Arjuna Poernomo
lmyn..mampir sinilah...penasaran
2022-08-22
0
Hasan
dih blom apa2 mau bundir lg 🤣🤣🤣
2022-07-23
2