Seperti gosip yang tersebar

Bab 19

Mata Diana membelalak mendengar pengakuan Ashlan yang begitu aneh. Apa ia tak salah dengar? Untuk apa pula lelaki kejam itu ingin tahu segala urusannya di istana ini? Atau, Apa Ashlan mulai curiga bahwa Diana sedang berencana membuat para kaum bangsawan memihak padanya? Jika iya, maka celakalah Diana.

"U-untuk apa Anda ingin tahu semua itu?" Meski gugup, namun Diana berusaha mempertahankan sikap tenangnya.

"Hanya penasaran," jawab Ashlan.

"Saya tidak pernah berbuat hal yang aneh-aneh selama tinggal disini, Yang Mulia. Lagipula, dengan menjadikan beberapa pelayan sebagai mata-mata bukannya sudah cukup? Anda tidak harus repot-repot begini demi mengintai kegiatan saya."

Ashlan terdiam. Wajahnya tampak begitu serius mencerna tiap kata demi kata yang dilontarkan Diana. Niat hati hendak menjalin kedekatan dengan sang Ratu, tingkahnya malah semakin membuat jarak diantara mereka kian menjauh.

Tidak! Tak bisa begini. Ashlan harus melakukan sesuatu agar mereka bisa sedikit lebih dekat.

"Mulai malam ini, tidurlah kembali di kamar utama!" ucapnya.

"Hah? Tidak.Tidak mau,"geleng Diana tegas.

"Harus!" Ashlan tak kalah tegas. "Ini perintah, Ratu!"

Kembali hendak menyahuti ucapan Ashlan, namun niat itu urung tatkala seorang pria datang dan membisikkan sesuatu yang sontak membuat wajah Ashlan menjadi tegang dengan gurat kemarahan yang jelas terlihat. Pada akhirnya, Diana tak bisa membantah lagi. Apalagi, Ashlan kini telah berlalu pergi bersama Ksatria Bennett dengan langkah terburu-buru mengikuti pria tadi.

"Sepertinya ada masalah," gumam Diana.

*

Sementara itu, Ashlan dan Ksatria Bennett mengikuti Fionn menuju ke kuil di kota Sil, tempat dimana lelaki yang tempo hari mereka kejar dicurigai menimba ilmu. Jika melakukan perjalanan secara normal, mereka bisa tiba sekitar 3 hari lagi. Namun, karena melalui gerbang sihir yang memang tersebar hampir di seluruh pelosok negeri, perjalanan hanya butuh waktu beberapa jam.

Gerbang sihir merupakan gerbang yang biasa digunakan untuk para petinggi atau para prajurit dalam situasi genting atau sekadar mempersingkat waktu jalan. Namun, tak sembarang orang bisa masuk ke sana. Hanya orang-orang yang memiliki lencana khusus buatan penyihir agung yang bisa melalui gerbang itu. Dan, setiap nama pemilik lencana akan terdaftar di buku besar milik penyihir agung. Semua itu demi meminimalisir pelaku kejahatan yang bisa saja menyalahgunakan keberadaan gerbang sihir untuk kepentingan pribadi.

"Yang Mulia!" Tiga orang anggota Ksatria bayangan memberi hormat kepada Ashlan begitu melihat kedatangan sang Kaisar.

"Bagaimana? Apa ada yang selamat?" tanya Ashlan dengan wajah gusar.

Para Ksatria itu menghela nafas. Mereka menggeleng kompak.

Beberapa saat yang lalu, Fionn mengabarkan bahwa kuil yang diduga sebagai asal dari pria pelaku peledakan telah hangus terbakar begitu mereka sampai. Padahal, semalam saat mereka mengintai, kuil tampak baik-baik saja. Tak ada aktifitas yang mencurigakan hingga pagi ini tiba-tiba saja terbakar dengan sumber api dari berbagai arah.

Beberapa orang berhasil di selamatkan para Ksatria. Namun, begitu para Ksatria lengah dan berniat menolong lebih banyak orang lagi, para orang-orang itu telah dibunuh tanpa terkecuali. Tak ada jejak yang ditinggalkan sang pembunuh selain sebuah sapu tangan sutra berwarna merah dengan lambang keluarga yang begitu mencengangkan semua orang.

"Kami hanya menemukan sapu tangan ini saja, Yang Mulia!" Salah satu Ksatria memberikan sapu tangan itu pada Ashlan.

"I-ini?" Ashlan tampak begitu syok. Ksatria Bennett disebelahnya juga berdiri mematung dengan wajah pucat pasi.

"Kenapa sapu tangan dengan lambang keluarga Bennett bisa disini, Rick?" tanya Ashlan kepada sepupunya. Wajah pria itu tampak merah padam menahan amarah. Sementara, Alarick Bennett masih bungkam. Ia pun sama syoknya dengan Ashlan.

*

"Jangan tersenyum terus, Lanie!" bentak Diana kesal kepada pelayan pribadinya.

Bukannya takut dan menurut, Mulanie justru semakin tak malu untuk menunjukkan deretan giginya yang rapi didepan sang Ratu. Perasaannya sedang sangat bahagia melihat kedekatan antara Raja dan Ratunya belakangan ini.

"Lanie!" Diana melotot saat mendapati sang pelayan pribadi masih cengengesan.

"Maaf, Yang Mulia! Saya hanya tidak bisa menahan rasa bahagia saya melihat kedekatan Anda bersama sang Kaisar."

"Siapa yang dekat?" Diana mendelik sebal. "Andai bisa, Aku justru ingin menjauh sejauh-jauhnya dari dia, Lanie," imbuhnya.

Mulanie mengangguk-anggukkan kepalanya. Air muka gadis itu tampak tak percaya dengan ucapan Diana.

"Kau tidak percaya?" tanya Diana.

Mulanie menggeleng. "Tidak."

"Ish! Terserah kau saja!" ucap Diana pasrah.

Tak ingin berlama-lama berdebat tentang Ashlan bersama Mulanie, Diana memilih untuk masuk ke dalam kamar. Ia butuh sedikit istirahat setelah kesibukan yang akhir-akhir ini sungguh menguras tenaga. Selain harus memenuhi beberapa undangan putri bangsawan, gadis itu juga disibukkan dengan kegiatan belajar mengenai tugas-tugasnya sebagai Ratu hampir setiap saat. Tak ada kata libur. Ia di perintah untuk menguasai semuanya hanya dalam kurun waktu dua bulan saja. Dan, tentu itu beban yang luar biasa berat bagi Diana. Belum lagi, pesta untuk menyambut para duta negara lain sebentar lagi akan diadakan.

"Aku hanya ingin pulang!" desah Diana sembari menatap langit-langit kamar diatas sana.

"Pulang kemana?"

Diana tersentak. Buru-buru gadis itu bangun dari tempat tidur dan langsung melotot saat melihat siapa yang sedang duduk dibingkai jendela kamarnya yang terbuka.

"Ya-Yang Mulia? Sedang apa disitu?" tanya Diana terkejut.

"Duduk," jawab Ashlan singkat, padat dan jelas.

"Sejak kapan Anda datang?" Diana mengganti pertanyaannya.

"Sejak lima menit yang lalu?" Ashlan berucap tak yakin.

"Anda masuk lewat mana?"

"Dari sini," jawab Ashlan sambil menepuk-nepuk bingkai jendela yang didudukinya.

"Astaga! Anda memanjat dinding?" Bola mata Diana nyaris keluar.

"Tidak." Ashlan menggeleng. "Aku memanfaatkan pepohonan yang ada disana untuk sampai kemari!" tunjuk Ashlan pada pohon-pohon tinggi yang berjejer rapi disepanjang depan balkon hingga jendela yang sekarang ditempati Ashlan.

"Astaga! Turun, Yang Mulia! Kenapa Anda malah lewat situ, sih? Kenapa tidak lewat balkon saja?" Diana bergegas menghampiri Ashlan. Menarik tangan lelaki itu agar menjauhi jendela. Ia jadi ngeri sendiri membayangkan andai Ashlan terjatuh kebawah.

Melihat tangan Diana yang menarik lengannya, Ashlan tersenyum tipis. Sedikit bahagia menyelinap ke relung hati karena perhatian kecil dari Diana. Kini, hatinya kembali bimbang. Haruskah ia membiarkan perasaan itu tumbuh atau justru membunuhnya sebelum semakin membesar dan mengakar didalam hatinya?

"Besok-besok, jika ingin kemari, jangan lewat jendela lagi, Yang Mulia! Anda mengerti?"

"Besok-besok aku tidak akan kemari lagi."

Diana memandang Ashlan dengan tatapan heran.

"Bukankah sudah ku bilang untuk tidur di kamar utama? Kenapa masih kembali kemari?" terang Ashlan.

Diana terdiam cukup lama. Ia memandang wajah tertutup topeng milik lelaki itu. Terlihat sedikit muram, entah karena hal apa.

"Anda baik-baik saja?" lirih Diana pelan.

Netra abu-abu milik lelaki berambut perak itu tampak begitu sendu. Terlihat begitu butuh sandaran karena kesepian.

"Tidak," geleng Ashlan yang mencoba jujur dengan perasaannya. Bagaimana bisa ia baik-baik saja saat pedang kecurigaan kini mengarah kuat kepada sepupunya sendiri? Meski tahu bahwa Ksatria Bennett tidak mungkin mengkhianatinya, namun bukankah ayah lelaki itu pernah melakukannya? Tidak menutup kemungkinan Ksatria Bennett ikut terlibat dengan kejahatan sang Ayah mengingat sepupunya itu hanya memiliki Ayahnya saja didunia ini.

Meskipun, Ayahnya merupakan seorang penjahat yang diasingkan ke pulau tak berpenghuni, Ksatria Bennett tetap seorang anak yang sangat berbakti. Terbukti, dari beberapa kali Ksatria Bennett mengirim persediaan makanan tanpa sepengetahuan Ashlan kepada Ayahnya. Namun, sang Kaisar tak begitu peduli. Ia mengerti perasaan rindu seorang Alarick kepada orangtuanya. Sejahat apapun sang Ayah, Alarick Bennett tetap mencintainya.

Tak bertanya lebih jauh lagi karena merasa canggung, Diana akhirnya mengikuti sang Kaisar untuk kembali ke kamar lamanya. Tak ada perbincangan yang begitu berarti. Keduanya masing-masing larut dalam pikiran mereka sendiri-sendiri. Hingga, tiba di momen saat Ashlan melepaskan topengnya didepan Diana, mulailah wanita itu tampak begitu terkejut.

"A-Anda melepaskan itu?" tanya Diana tak percaya sambil menunjuk topeng Ashlan yang teronggok diatas meja.

"Kenapa?" Ashlan balik bertanya. Terlihat begitu santai sembari melipat kedua lengan baju berwarna putih yang ia kenakan lalu duduk disisi ranjang satunya.

"Bukannya dulu Anda sangat marah saat saya melihat wajah Anda?"

Ashlan tersenyum kecil. Kali ini, senyumnya benar-benar terlihat jelas dimata Diana. Bahkan, baru kali ini Diana menyadari bahwa lelaki itu memiliki lesung di pipi kanannya. Tampak manis dengan perpaduan alis hitam tebal, netra keabu-abuan, kulit putih bersih serta bibir kemerahan yang tebal. Dan, jangan lupakan tentang surai peraknya yang indah. Sungguh! Diana seolah sedang melihat tokoh manga yang sering hadir di komik-komik online.

"Ratu adalah istriku. Bukankah seharusnya menjadi hak Ratu untuk melihat wajah suaminya sendiri?" Lagi, lelaki itu tersenyum. Namun, kali ini sambil menatap Diana.

BLUSH!!

Mendadak pipi Diana menjadi panas. Ditatap sedalam itu, membuat degup jantungnya menjadi tak beraturan. Ia bahkan tak bisa menerka dengan jelas tentang perasaan yang saat ini ia alami. Rasanya, seperti saat pertama kali ia menyadari jatuh cinta kepada Gerald, si mantan kekasih tak tahu dirinya.

"Padahal, wajah Anda sangat tampan. Kenapa harus disembunyikan didepan umum?" tanya Diana dengan polosnya.

Ashlan beringsut mendekati Diana. Lelaki itu mendekatkan wajahnya ke wajah Diana. "Jika ku perlihatkan di depan umum, gadis-gadis di kerajaan ini akan mengantre untuk melamar menjadi selir, Ratu. Apa Anda suka berbagi suami dengan perempuan lain?"

"Tidak," jawab Diana reflek.

Ashlan mengangkat kedua alisnya. Kali ini, lelaki itu terdengar tertawa kecil. "Wow, sepertinya istriku memang agak galak seperti gosip-gosip yang beredar."

Terpopuler

Comments

Nailott

Nailott

cepatlah akur ratu, biar cepat punya momongan, dn punya kekuatan dlm pernikahan kalian

2024-07-25

0

Siti Julaeha Julai

Siti Julaeha Julai

seru

2024-05-30

0

Tyas Djuliarko

Tyas Djuliarko

kocak keren Thor...sukaaa/Rose/

2024-05-21

0

lihat semua
Episodes
1 Pengkhianatan
2 Nenek tua dan Novel Misterius
3 Pernikahan
4 Insiden di Ibukota
5 Harga
6 Dia tak datang
7 Diana di mata pelayan
8 Jaim
9 Wajahmu
10 Aku adalah Ratu!
11 Jangan remehkan aku!
12 Diana vs Verona
13 Berubah-ubah
14 Salah paham
15 Ledakan
16 Sihir yang mendadak muncul
17 Rey, siapa?
18 Setelah tragedi
19 Seperti gosip yang tersebar
20 Pertemuan
21 Keluarga?
22 Psikopat
23 Otak udang
24 Pengakuan
25 Buka Hatimu
26 Sisi lain
27 Pasti berhasil
28 Plot twist
29 Trap
30 Situasi tak menguntungkan
31 Stranger
32 Tak mungkin berkhianat
33 Gangguan sebelum pesta
34 Godaan
35 Di pergoki
36 Ayo lakukan 'itu'
37 Imbalan untuk Verona
38 Tentang perasaan orangtua
39 Jadikan aku rumah!
40 Ksatria Martinez
41 Ayah dan rasa bersalahnya
42 Pilihan
43 Khayalan Levrina, mimpi Sean
44 Hukuman untuk Ayah
45 Tempatmu disini, disisiku!
46 Cinta yang berbalas
47 First night
48 Momen haru yang berantakan
49 Kecurigaan Kaisar Sean
50 One by one
51 Memutuskan kembali
52 Kepulangan Grand Duke Windsor
53 Sihir gelap terlarang
54 Kegilaan Duke Hendrick
55 Kegilaan Duke Hendrick II
56 Guru baru
57 Pasca latihan
58 Syarat Tuan Vernand
59 Kejelasan Identitas
60 Tanda Kerajaan
61 Babak Baru
62 Kekasih rahasia Verona
63 The Day
64 Eksekusi Duke Hendrick
65 Perburuan
66 Kilas masa lalu
67 Hukuman
68 Fakta baru
69 Leon, Ashlan (Singa)
70 Sebelum perang
71 Alarick dan Damian
72 In the Dark
73 Kepergian Fionn
74 Hidup terus berlanjut
75 Kisah akhir Levrina
76 Mungkin kisah cinta yang lain
77 Kabar bahagia?
78 Malaikat kecil
79 Pesta perayaan kehamilan
80 Bencana di tengah pesta
81 Kegilaan Diana
82 Back to the future
83 Dia kembali
84 Masih mengganggu
85 Menolak jatuh di lubang yang sama
86 Gelandangan?
87 Ashlan Joan Arlen
88 Sekarang, berbahagialah!
89 Hai, apa kabar?
90 Jarak yang ku tempuh demi dirimu
91 Pengusiran ulat bulu
92 Bertemu calon mertua
93 Prank calon mertua
94 Aku dan mantanmu
95 Mengulang malam
96 Takdir yang sama?
97 Menengok calon bayi
98 Cincin lamaran
99 Mantan tunangan
100 Ending
101 Epilog
Episodes

Updated 101 Episodes

1
Pengkhianatan
2
Nenek tua dan Novel Misterius
3
Pernikahan
4
Insiden di Ibukota
5
Harga
6
Dia tak datang
7
Diana di mata pelayan
8
Jaim
9
Wajahmu
10
Aku adalah Ratu!
11
Jangan remehkan aku!
12
Diana vs Verona
13
Berubah-ubah
14
Salah paham
15
Ledakan
16
Sihir yang mendadak muncul
17
Rey, siapa?
18
Setelah tragedi
19
Seperti gosip yang tersebar
20
Pertemuan
21
Keluarga?
22
Psikopat
23
Otak udang
24
Pengakuan
25
Buka Hatimu
26
Sisi lain
27
Pasti berhasil
28
Plot twist
29
Trap
30
Situasi tak menguntungkan
31
Stranger
32
Tak mungkin berkhianat
33
Gangguan sebelum pesta
34
Godaan
35
Di pergoki
36
Ayo lakukan 'itu'
37
Imbalan untuk Verona
38
Tentang perasaan orangtua
39
Jadikan aku rumah!
40
Ksatria Martinez
41
Ayah dan rasa bersalahnya
42
Pilihan
43
Khayalan Levrina, mimpi Sean
44
Hukuman untuk Ayah
45
Tempatmu disini, disisiku!
46
Cinta yang berbalas
47
First night
48
Momen haru yang berantakan
49
Kecurigaan Kaisar Sean
50
One by one
51
Memutuskan kembali
52
Kepulangan Grand Duke Windsor
53
Sihir gelap terlarang
54
Kegilaan Duke Hendrick
55
Kegilaan Duke Hendrick II
56
Guru baru
57
Pasca latihan
58
Syarat Tuan Vernand
59
Kejelasan Identitas
60
Tanda Kerajaan
61
Babak Baru
62
Kekasih rahasia Verona
63
The Day
64
Eksekusi Duke Hendrick
65
Perburuan
66
Kilas masa lalu
67
Hukuman
68
Fakta baru
69
Leon, Ashlan (Singa)
70
Sebelum perang
71
Alarick dan Damian
72
In the Dark
73
Kepergian Fionn
74
Hidup terus berlanjut
75
Kisah akhir Levrina
76
Mungkin kisah cinta yang lain
77
Kabar bahagia?
78
Malaikat kecil
79
Pesta perayaan kehamilan
80
Bencana di tengah pesta
81
Kegilaan Diana
82
Back to the future
83
Dia kembali
84
Masih mengganggu
85
Menolak jatuh di lubang yang sama
86
Gelandangan?
87
Ashlan Joan Arlen
88
Sekarang, berbahagialah!
89
Hai, apa kabar?
90
Jarak yang ku tempuh demi dirimu
91
Pengusiran ulat bulu
92
Bertemu calon mertua
93
Prank calon mertua
94
Aku dan mantanmu
95
Mengulang malam
96
Takdir yang sama?
97
Menengok calon bayi
98
Cincin lamaran
99
Mantan tunangan
100
Ending
101
Epilog

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!