Salah paham

Bab 14

Kepala rasanya sudah tak mampu menampung hawa panas yang dihasilkan oleh emosi yang bernama amarah. Telinga mulai berdengung. Darah berdesir jauh lebih cepat dari biasanya. Mata memanas. Bersiap menumpahkan kembali bening yang terlalu banyak dibuang percuma oleh Diana semenjak terdampar didunia yang asing ini.

Jujur, ia sendiri tak tahu kenapa ia bisa selemah ini. Apa karena raga yang dihuni bukan sepenuhnya miliknya?Argh!!! Diana benci. Dia benci terlalu lemah.

Otak tak mampu lagi memproses apapun untuk saat ini. Perkataan Ashlan benar-benar membuat Diana hilang akal hingga telapak tangannya mendarat telak di pipi sang Kaisar tanpa sadar.

"Yang Mulia!!" pekik Ksatria Bennett dan dua Ksatria lain yang sejak tadi berdiri menyaksikan drama mereka bersama Mulanie dan para pelayan. Ketiganya tampak terkejut. Tak menyangka bahwa Ratu akan menampar Kaisar mereka sedemikian keras.

Ksatria Bennett berinisiatif mendekat. Namun, samar Ashlan memberinya kode untuk tak melakukan apapun selain diam.

"Kau pikir, siapa dirimu, hah? Apa hakmu memberi penilaian seperti itu tentangku?" teriak Diana tepat dihadapan Ashlan yang hanya menatapnya dalam kebisuan.

"Kau pikir, aku menginginkan terlahir didunia dengan cara mengorbankan nyawa Ibuku?" Suara Diana tercekat. Hatinya luar biasa sakit saat ungkapan itu lolos dari mulutnya begitu saja. "Andai bisa memilih, lebih baik aku yang mati dibanding Ibuku. Lebih baik aku yang menghilang dari dunia sehingga tidak membuat Ayahku menjadi hidup dengan separuh jiwa seperti sekarang. Dan, kau tadi bilang apa? Aku tidak berguna?" Ia tertawa sumbang. "Kalau sudah tahu tidak berguna, buat apa kau nikahi, Bodoh?" teriaknya tepat dihadapan wajah Ashlan.

"Dasar bedebah gila!" umpat Diana sembari mendorong keras tubuh Ashlan sebelum berlalu pergi dengan langkah terburu-buru.

Ashlan masih bergeming. Lelaki itu menatap kepergian Diana tanpa ekspresi. Entah apa yang ada dalam pikirannya, tak seorang pun yang bisa menebak selain Ksatria Bennett.

"Haruskah Anda berkata sekasar itu pada Ratu, Yang Mulia?" tanya Ksatria Bennett usai hanya dia, Ashlan dan dua Ksatria lain yang tersisa.

"Memang lebih baik seperti ini," jawabnya sembari berlalu.

Ksatria Bennett menghela nafas. Dua Ksatria lain sudah bergerak menyusul Ashlan. Namun, dia justru masih berdiam sambil menatap prihatin ke arah sepupunya itu.

"Kau berhak untuk bahagia. Kenapa terlalu takut untuk memulainya, Ashlan?"

*

"Yang Mulia, Anda baik-baik saja?"

Mulanie mendekat perlahan ke arah Diana yang sedang menangis sesenggukan dibangku taman. Sayup-sayup terdengar gerutunya dan umpatan dari mulut perempuan yang ia layani itu. Seperti biasa, Mulanie tahu bahwa hal tersebut salah. Namun, untuk hari ini ia membiarkan telinganya tuli. Setidaknya, hari ini dia membebaskan Diana melepas beban yang memang terlalu menyiksa.

"Aku benci dia, Lanie! Di-dia pria yang ja-hat. Bah-kan ja-uh lebih jahat dari Gerald si tukang selingkuh!" ucap Diana terbata sambil mengusap air matanya.

"Apa haknya mengatakan semua itu padaku, Lanie? Memangnya, apa salahku sampai semua orang harus memandang aku serendah itu? Bahkan, suamiku sendiri juga melakukannya. Aku sakit hati, Lanie. Sangat!"

"Yang Mulia...," Mulanie menatap Diana dengan prihatin. Tak ada yang mampu gadis itu lakukan selain mendengar keluh kesah Diana semata.

"Dia menyelamatkan nama baikku didepan semua orang dipesta semalam. Lalu, beberapa saat kemudian dia nyaris membunuhku. Lalu... Dia kembali berubah manis dan meminta maaf atas sikapnya. Tapi... Kenapa sekarang dia kembali menjadi jahat?"

"Mungkin Yang Mulia Kaisar hanya sedang ada masalah, Yang Mulia!"

"Dan, melampiaskan permasalahannya padaku adalah hal yang pantas? Begitu?" protes Diana dengan cepat. "Aku benci dia. Aku tidak mau lagi bertemu dengan Kaisar kejam itu, Lanie!"

Beberapa hari kemudian, Diana terus berusaha menghindari pertemuan dengan Ashlan. Dia bahkan tidak lagi tidur di kamar yang lama. Ia memutuskan pindah ke bagian istana yang lain demi tak berjumpa dengan Ashlan. Selain karena benci, ia juga semakin bertambah takut karena menyadari bahwa tindakannya menampar Ashlan sudah sedikit berlebihan. Bagaimana jika lelaki itu dendam dan malah menebas lehernya jika tak sengaja berpapasan? Hiiihhh... Membayangkannya saja sudah membuat bulu kuduk Diana berdiri.

"Ratu!" panggil seseorang dari arah belakang kala melihat Diana sedang berjalan mengendap-endap melewati perpustakaan kerajaan dimana Ashlan saat ini sedang berada. Karena Mulanie sedang sakit, maka tak ada lagi mata-mata yang mampu melaporkan mengenai keberadaan Ashlan padanya.

Jantung gadis itu nyaris melompat keluar dari tempatnya. Dia seperti pencuri yang baru saja tertangkap basah oleh tuan rumah. Dengan ketakutan, ia pun berbalik badan dan menemukan sosok Ksatria Bennett yang sedang berjalan menghampirinya.

"Sstt...," Diana menempelkan telunjuknya di bibir sebagai isyarat agar Ksatria Bennett diam.

Lelaki berambut ikal itu mengangkat sebelah alisnya. Heran dengan tingkah Diana yang sepertinya sedang berusaha menghindari sesuatu.

"Ada ap...," Belum selesai pertanyaan ia lontarkan, Diana sudah lebih dulu menyeretnya pergi dari tempat itu. Pegangan tangan mereka baru terlepas saat Diana menemukan tempat yang dirasanya aman untuk berbicara dengan Ksatria Bennett.

"Anda sedang menghindari pertemuan dengan Sang Kaisar?" tebak Ksatria Bennett.

Diana mengangguk. "Tolong jangan katakan pada Yang Mulia jika Anda bertemu dengan saya hari ini."

"Tapi, kenapa?"

Gadis bernetra kehijauan itu mendengkus kasar. "Karena saya masih ingin hidup."

"Saya tidak mengerti dengan perkataan Ratu barusan. Apa hubungannya Anda bertemu Kaisar dengan keinginan Anda untuk hidup?" tanya Ksatria Bennett seraya mengernyitkan alis.

"Aku hanya tidak ingin kepalaku dipenggal tiba-tiba oleh manusia kejam itu." Hilang sudah keformalan dalam bicara Diana.

Mendengar hal tersebut, Ksatria Bennett terdiam sejenak sebelum tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan Diana. Dan, Diana yang melihat itu langsung mendelik tak suka.

"Kenapa Anda tertawa?" protesnya tak terima. Apa ditempat ini, tak ada satu pun orang yang bisa menghargai nyawa orang lain?

"Kaisar tidak sekejam itu, Ratu!"

"Anda mengatakan itu karena Anda sepupunya."

Ksatria Bennett menghentikan tawanya. Ditatapnya lekat Diana yang masih menampakkan raut kesal. Lelaki itu kemudian tersenyum penuh arti ke arah Diana.

"Dia tidak sejahat yang Anda pikir, Ratu!" Ksatria Bennett memelankan suaranya. "Sungguh!" imbuhnya sebelum Diana sempat melayangkan protes.

"Andai dia tidak kejam, kenapa dia nyaris membunuhku malam itu?"

Ksatria Bennett menghela nafas. " Yang Mulia mungkin khilaf. Dan, beliau begitu menyesali perbuatannya setelah itu."

"Cih! Mana mungkin!" sangkal Diana sambil melipat kedua tangannya didepan dada.

"Andai beliau tidak merasa bersalah, untuk apa beliau tengah malam pergi ke menara penyihir untuk meminta obat agar leher Anda bisa sembuh dan tidak menyisakan bekas?"

"A-apa?" Mata Diana membelalak mendengar ucapan Ksatria Bennett.

"Ya," angguk lelaki itu. "Kaisar rela tengah malam naik ke gunung untuk bertemu penyihir agung demi meminta obat agar leher Anda bisa sembuh dan tak berbekas. Lalu, keesokan harinya, pagi-pagi sekali beliau juga harus menuju ke kediaman Duke Hendrick demi meredam kemarahan lelaki itu karena Yang Mulia sudah menghukum cambuk putrinya."

"Kaisar menemui Paman Robert?" tanya Diana setengah tak percaya.

"Harusnya Anda sudah tahu seperti apa kedudukan Duke Hendrick dinegara ini. Beliau adalah pengendali nyaris 60 persen keluarga bangsawan di negara ini. Yang artinya, beliau bisa saja melakukan kudeta dan memaksa Yang Mulia untuk turun takhta."

Deg!!

Diana tertampar oleh kenyataan yang baru dia sadari. Dia baru ingat sepenggal kisah mengenai siapa Duke Hendrick dalam cerita ini. Beliau adalah orang kepercayaan Raja terdahulu. Beliau pulalah yang selama ini mendampingi dan mengajarkan berbagai hal mengenai kepemimpinan negara pada Ashlan. Satu yang tak Diana pahami hingga kisah ini selesai ia baca.

Kenapa Ashlan seolah tak berkutik dihadapan Duke Hendrick? Bahkan, bisa dikatakan bahwa dia digerakkan bak Boneka?

"Apa gara-gara Paman Robert hingga Yang Mulia sampai berbuat kasar padaku?" tebak Diana.

Ksatria Bennett mengangguk. "Anda ternyata cukup cerdas dalam memahami situasi, Yang Mulia! Kalau begitu, saya permisi! Saya rasa, penjelasan saya sudah cukup untuk mengurai sedikit kebencian Anda terhadap Kaisar."

"Apa Paman Robert memegang rahasia tentang wajah Yang Mulia?"

Langkah Ksatria Bennett terhenti. Lelaki yang sudah melangkah tidak jauh dari Diana itu kembali berbalik dengan tatapan yang mendadak mengandung kecemasan.

"Jangan cari tahu apapun, Yang Mulia! Cukup menjadi Ratu yang tidak tahu apa-apa maka Anda akan tetap aman."

"Justru aku tidak akan aman jika diam saja, Alarick!" gumam Diana dalam hati sambil memperhatikan sosok Ksatria Bennett yang kian menjauh.

Terpopuler

Comments

Rierudi Laras

Rierudi Laras

Wah ratu yg bar² aq suka biar tau tu raja mu

2025-03-09

0

Nailott

Nailott

mungkin ada satu rahasia ashlan yg ditutupi hendrick

2024-07-22

0

Nailott

Nailott

buat apa wajah ashlan ditutupi topeng biarlah orang tahu, bagai msnapun wajahnya ,orang 2 kalangan atas ,atau kasta bawah pasti ingin dipersuntingnya

2024-07-22

0

lihat semua
Episodes
1 Pengkhianatan
2 Nenek tua dan Novel Misterius
3 Pernikahan
4 Insiden di Ibukota
5 Harga
6 Dia tak datang
7 Diana di mata pelayan
8 Jaim
9 Wajahmu
10 Aku adalah Ratu!
11 Jangan remehkan aku!
12 Diana vs Verona
13 Berubah-ubah
14 Salah paham
15 Ledakan
16 Sihir yang mendadak muncul
17 Rey, siapa?
18 Setelah tragedi
19 Seperti gosip yang tersebar
20 Pertemuan
21 Keluarga?
22 Psikopat
23 Otak udang
24 Pengakuan
25 Buka Hatimu
26 Sisi lain
27 Pasti berhasil
28 Plot twist
29 Trap
30 Situasi tak menguntungkan
31 Stranger
32 Tak mungkin berkhianat
33 Gangguan sebelum pesta
34 Godaan
35 Di pergoki
36 Ayo lakukan 'itu'
37 Imbalan untuk Verona
38 Tentang perasaan orangtua
39 Jadikan aku rumah!
40 Ksatria Martinez
41 Ayah dan rasa bersalahnya
42 Pilihan
43 Khayalan Levrina, mimpi Sean
44 Hukuman untuk Ayah
45 Tempatmu disini, disisiku!
46 Cinta yang berbalas
47 First night
48 Momen haru yang berantakan
49 Kecurigaan Kaisar Sean
50 One by one
51 Memutuskan kembali
52 Kepulangan Grand Duke Windsor
53 Sihir gelap terlarang
54 Kegilaan Duke Hendrick
55 Kegilaan Duke Hendrick II
56 Guru baru
57 Pasca latihan
58 Syarat Tuan Vernand
59 Kejelasan Identitas
60 Tanda Kerajaan
61 Babak Baru
62 Kekasih rahasia Verona
63 The Day
64 Eksekusi Duke Hendrick
65 Perburuan
66 Kilas masa lalu
67 Hukuman
68 Fakta baru
69 Leon, Ashlan (Singa)
70 Sebelum perang
71 Alarick dan Damian
72 In the Dark
73 Kepergian Fionn
74 Hidup terus berlanjut
75 Kisah akhir Levrina
76 Mungkin kisah cinta yang lain
77 Kabar bahagia?
78 Malaikat kecil
79 Pesta perayaan kehamilan
80 Bencana di tengah pesta
81 Kegilaan Diana
82 Back to the future
83 Dia kembali
84 Masih mengganggu
85 Menolak jatuh di lubang yang sama
86 Gelandangan?
87 Ashlan Joan Arlen
88 Sekarang, berbahagialah!
89 Hai, apa kabar?
90 Jarak yang ku tempuh demi dirimu
91 Pengusiran ulat bulu
92 Bertemu calon mertua
93 Prank calon mertua
94 Aku dan mantanmu
95 Mengulang malam
96 Takdir yang sama?
97 Menengok calon bayi
98 Cincin lamaran
99 Mantan tunangan
100 Ending
101 Epilog
Episodes

Updated 101 Episodes

1
Pengkhianatan
2
Nenek tua dan Novel Misterius
3
Pernikahan
4
Insiden di Ibukota
5
Harga
6
Dia tak datang
7
Diana di mata pelayan
8
Jaim
9
Wajahmu
10
Aku adalah Ratu!
11
Jangan remehkan aku!
12
Diana vs Verona
13
Berubah-ubah
14
Salah paham
15
Ledakan
16
Sihir yang mendadak muncul
17
Rey, siapa?
18
Setelah tragedi
19
Seperti gosip yang tersebar
20
Pertemuan
21
Keluarga?
22
Psikopat
23
Otak udang
24
Pengakuan
25
Buka Hatimu
26
Sisi lain
27
Pasti berhasil
28
Plot twist
29
Trap
30
Situasi tak menguntungkan
31
Stranger
32
Tak mungkin berkhianat
33
Gangguan sebelum pesta
34
Godaan
35
Di pergoki
36
Ayo lakukan 'itu'
37
Imbalan untuk Verona
38
Tentang perasaan orangtua
39
Jadikan aku rumah!
40
Ksatria Martinez
41
Ayah dan rasa bersalahnya
42
Pilihan
43
Khayalan Levrina, mimpi Sean
44
Hukuman untuk Ayah
45
Tempatmu disini, disisiku!
46
Cinta yang berbalas
47
First night
48
Momen haru yang berantakan
49
Kecurigaan Kaisar Sean
50
One by one
51
Memutuskan kembali
52
Kepulangan Grand Duke Windsor
53
Sihir gelap terlarang
54
Kegilaan Duke Hendrick
55
Kegilaan Duke Hendrick II
56
Guru baru
57
Pasca latihan
58
Syarat Tuan Vernand
59
Kejelasan Identitas
60
Tanda Kerajaan
61
Babak Baru
62
Kekasih rahasia Verona
63
The Day
64
Eksekusi Duke Hendrick
65
Perburuan
66
Kilas masa lalu
67
Hukuman
68
Fakta baru
69
Leon, Ashlan (Singa)
70
Sebelum perang
71
Alarick dan Damian
72
In the Dark
73
Kepergian Fionn
74
Hidup terus berlanjut
75
Kisah akhir Levrina
76
Mungkin kisah cinta yang lain
77
Kabar bahagia?
78
Malaikat kecil
79
Pesta perayaan kehamilan
80
Bencana di tengah pesta
81
Kegilaan Diana
82
Back to the future
83
Dia kembali
84
Masih mengganggu
85
Menolak jatuh di lubang yang sama
86
Gelandangan?
87
Ashlan Joan Arlen
88
Sekarang, berbahagialah!
89
Hai, apa kabar?
90
Jarak yang ku tempuh demi dirimu
91
Pengusiran ulat bulu
92
Bertemu calon mertua
93
Prank calon mertua
94
Aku dan mantanmu
95
Mengulang malam
96
Takdir yang sama?
97
Menengok calon bayi
98
Cincin lamaran
99
Mantan tunangan
100
Ending
101
Epilog

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!