Bab 5
Wajah Diana sudah pucat pasi memikirkan kata-kata yang diucapkan Ashlan barusan. Lagi, rasa takut itu kembali menghantuinya. Mendadak, ia seolah kehilangan tenaga. Lututnya gemetar hingga berdiri pun terasa begitu sulit.
"Terimakasih banyak!! Terimakasih!!" ucap Ibu bocah tadi sambil bersimpuh dihadapan Diana yang masih duduk termenung diatas tanah.
Pengawal yang tadi mengayunkan pedang sudah berlari menyusul Ashlan yang tiba-tiba memacu kudanya dengan cepat. Sementara, hanya tersisa Ksatria Bennett, kusir yang mengemudikan kereta kuda, serta dua Ksatria lain yang tak kalah gagah dengan Ksatria Bennett yang berjaga mendampingi Diana.
"Apa anak Anda baik-baik saja?" tanya Diana canggung sambil berusaha menarik tangannya yang dicium berulangkali oleh sang Ibu.
"Berkat Anda,putraku baik-baik saja. Sungguh! Terimakasih banyak!!" ucap Ibu itu tulus dengan airmata berderai.
"Jangan sembarangan memegang tubuh Yang Mulia Ratu seperti itu!" hardik Ksatria Bennett yang turun dari kudanya. Dua Ksatria lain juga melakukan hal yang sama, lalu berjalan bersamaan menghampiri Diana sebelum berlutut dihadapan Ratu mereka.
"Anda tidak apa-apa, Yang Mulia?" tanya Ksatria Bennett.
Ibu yang tadi beserta warga kota yang masih berkumpul tampak tercengang mendengar ucapan Ksatria tampan dengan netra biru itu. Mereka sama sekali tak menyangka bahwa penampakan Ratu mereka terlihat begitu sempurna. Belum lagi, kesan pertama yang mereka tangkap adalah sang Ratu merupakan orang yang baik hati.
"A-aku baik-baik saja," jawab Diana memaksakan senyum.
"Mari Yang Mulia!" Ksatria Bennett mengulurkan tangannya untuk membantu Diana berdiri. Sedikit ragu, mau tak mau gadis itu menerima bantuan dari orang kepercayaan si Kaisar kejam. Kakinya terasa sudah seperti jelly. Jika harus berdiri sendiri, Diana tahu bahwa hal itu rasanya akan sedikit merepotkan.
"Dia Ratu kita?"
"Lihat warna matanya. Sangat indah!"
"Bukankah dia hanya sekadar tawanan perang?"
"Kasihan! Setelah ini, dia pasti akan jadi bahan bully-an para bangsawan. Padahal, sepertinya Ratu orang yang baik."
Bisik-bisik mulai terdengar dibelakang Diana. Beberapa hal buruk yang ditangkap Indra pendengarannya semakin menambah daftar hitam cerita hidupnya selama akan menetap di Kerajaan Barat. Tentu hal ini sudah ia ketahui sebelumnya dari cerita novel. Namun, mengalaminya sendiri tentu adalah hal yang tetap memberi kesan sedikit takut dan ragu.
Di cerita novel, Diana Emerald tinggal di istana Kerajaan Barat tanpa dukungan siapapun. Ia hanya memiliki satu teman yang merangkap menjadi pelayan setia yang bernama Mulanie. Tak ada kaum bangsawan yang berniat mengajaknya bergaul. Sekalipun posisinya adalah Ratu, namun itu hanya sekadar simbol belaka. Pada akhirnya, dia tetap terasing dan malah jadi bahan ejekan oleh para bangsawan Kerajaan Timur.
"Apa kalian semua ingin dihukum karena tidak memberi penghormatan kepada Ratu kalian?" teriak Ksatria Bennett memecah riuh para warga kota yang sibuk membicarakan Diana.
Sontak, kerumunan tersebut langsung terdiam. Tak ada lagi yang berani bersuara ketika mulut Ksatria Bennett mulai mengeluarkan ancaman.
"Jangan pernah lancang berbicara hal yang tidak-tidak mengenai keluarga kerajaan. Karena jika kalian masih berani, aku tidak akan segan-segan untuk memenggal leher kalian satu per satu!"
Diana meneguk salivanya kasar. Mendengar kata 'memenggal' lagi-lagi membangkitkan ketakutan terdalam Diana. Ia nyaris ambruk kembali andai Ksatria Bennett tidak lekas menahan tubuhnya.
"Anda baik-baik saja?"
Diana berusaha tersenyum meski tangannya sudah tremor sedari tadi. Ksatria Bennett bukannya tak tahu bahwa kondisi Diana saat ini sedang sangat ketakutan. Namun, ia lebih memilih berpura-pura tidak tahu demi harga diri Diana.
"Kenapa kalian masih berdiri? Mana penghormatan kalian pada Ratu kalian?" teriak Ksatria Bennett lagi.
"Terimalah hormat kami Yang Mulia Ratu!" Seluruh warga kota kompak berlutut dan meletakkan tangan kanan mereka bersilang didepan dada.
Diana mengangguk sambil tersenyum. Namun, ditunggu beberapa saat, tak ada tanda-tanda bahwa para warga kota akan bangkit dari posisi mereka. Gadis bernetra hijau itu mulai tampak kebingungan. Sementara, Ksatria Bennett sudah melemparkan kode melalui anggukan kepala namun Diana sepertinya tidak mengerti.
"Hah? Apa?" bisik Diana yang benar-benar bingung pada kode yang dilemparkan Ksatria Bennett.
"Anda tidak ingin menerima hormat mereka?" balas Ksatria Bennett ikut berbisik.
"E-eh?" Diana kebingungan. Digaruknya tengkuk yang sejujurnya tidak gatal sambil nyengir tak enak ke arah Ksatria Bennett. "Apa yang harus kulakukan?"
Andai Ksatria Bennett tak terlatih dalam menyembunyikan keterkejutannya, mungkin sekarang mulutnya sudah menganga lebar mendengar pertanyaan Diana. Mana mungkin, ada seorang Ratu yang berasal dari keluarga kerajaan terhormat tak tahu caranya menerima penghormatan?
"Ksatria Bennett?" panggil Diana.
Lelaki bernetra biru itu berdehem sesaat. Ia pun membisikkan sesuatu di telinga Diana yang tampak didengar sungguh-sungguh oleh wanita itu.
"Ehemmm," Diana berdehem sembari memperbaiki posisi berdirinya. Dagu sedikit diangkat, kedua tangan saling bertaut anggun di atas perut dan ekspresi wajah yang dibuat seberkelas mungkin. "Aku terima hormat kalian!" ucapnya lantang yang langsung direspon para warga kota dengan kembali berdiri.
"Bagus!" ujar Ksatria Bennett kepada seluruh warga.
Setelah para warga kota dipersilakan membubarkan diri, Ksatria Bennett kembali meminta Diana untuk masuk ke dalam kereta kuda. Namun, gadis itu tampaknya merasa enggan. Lebih tepatnya,berusaha mengulur waktu agar tak cepat sampai di istana.
"Apa kita tak bisa jalan-jalan dulu untuk melihat-lihat suasana pasar?" tanya Diana yang senatural mungkin menyembunyikan kegelisahannya.
"Nanti saja, Yang Mulia. Anda sebaiknya beristirahat lebih dulu saja di istana," tolak Ksatria Bennett.
"Tapi, aku ingin sekali melihat-lihat kota. Apa tidak boleh?" tanyanya lagi dengan ekspresi berpura-pura sedih.
Ksatria Bennett menghela nafas panjang. Pintu kereta ia buka lalu berkata, "Jangan membuat alasan untuk menunda perjalanan, Yang Mulia! Yang Mulia Kaisar pasti akan sangat marah jika tahu Anda terlambat."
Diana berdecak kesal. Ditatapnya Ksatria Bennett dengan tatapan benci. Sambil menghentakkan kaki, dia pun terpaksa kembali masuk ke dalam kereta kuda.
"Apa di Kerajaan ini tidak ada satu orang pun yang bisa berbuat baik? Kenapa isinya hanya ada orang-orang kejam dan semena-mena seperti mereka?" cebik Diana kesal yang tentu saja bisa didengar oleh Ksatria Bennett yang akan menutup kembali pintu kereta kuda.
Lelaki berusia 30 tahun dengan rambut pirang bergelombang itu hanya menggelengkan kepala melihat tingkah Ratu di Kerajaannya. Terus terang, ada perasaan takjub sekaligus kagum yang Ksatria Bennett rasakan saat melihat sosok Diana. Baginya, Diana yang diceritakan oleh mata-mata yang telah mereka kirim dengan Diana yang sekarang ada dihadapannya tampak seperti orang yang berbeda. Atau, bisa saja mata-matanya yang telah keliru memberi laporan. Mungkin? Yang jelas, memang ada yang berbeda dengan pribadi Diana.
Sementara itu, Kaisar Ashlan yang sudah lebih dulu sampai di tempat latihan para Ksatria, gegas turun dari kudanya. Sebuah bola sihir sebesar bola tenis ia ciptakan diatas telapak tangannya dan langsung diarahkan pada pengawal yang tadi nyaris mencelakai Diana.
BUGH!!!
Pengawal itu terlempar ke belakang dan menabrak tempat penyimpanan tombak hingga semuanya berhamburan. Para pengawal dan Ksatria lain tak ada yang berani menolong. Mereka tahu, bahwa saat ini pemimpin mereka sedang dalam keadaan marah besar.
"Ampun, Yang Mulia!" mohon pengawal itu kepada Ashlan saat lelaki berambut perak itu berjalan mendekatinya.
"Ingat! Jangan pernah lancang mengarahkan pedangmu ke arah Ratu lagi! Kau mengerti?" peringat Ashlan dengan nada dingin.
"Me-mengerti, Yang Mulia!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 101 Episodes
Comments
Nailott
gak .terbayang seperti apa kehidupan diana ,dibawah tindasan kaisat sean
2024-07-22
0
Ayu Dani
kayaknya raja nya udah mulai suka tuh sama Diana
2024-04-26
4
Ririn Santi
sepertinya bagus novel ini
2024-04-12
0