Bab 7
Bulan sabit yang menggantung di langit malam menjadi satu-satunya pelipur lara bagi hati Diana yang masih utuh berbalut kecewa. Letih sudah menyiksa badan, namun ia masih berusaha untuk tetap tak pupus harapan. Tatapannya masih diliputi harap. Berusaha melambungkan asa untuk melihat sosok Ashlan akan muncul dari arah pintu besar yang ada di sana.
Mulanie yang sedari tadi berdiri tak jauh dari posisi Diana memberanikan diri untuk mendekat. Berusaha membujuk untuk ke sekian kali agar sang Ratu bisa masuk beristirahat dan tak lagi menunggu kehadiran seseorang yang tak pasti akan pulang malam ini atau malah tidak.
"Lebih baik Anda beristirahat sekarang, Yang Mulia! Anda pasti lelah," ucap Mulanie dengan lembut.
Diana masih bergeming. Sekali lagi, gadis dengan mata hijau itu menatap langit melalui jendela besar yang terbuka.
Ah!
Jika mendongak seperti ini, Diana seolah merasa masih sedang berada di balkon kamar miliknya. Namun, jika ia menunduk menatap pakaian yang ia kenakan, Diana tahu bahwa hidupnya sudah benar-benar berubah.
Adakah orang didunia sana yang tahu jika Diana menghilang? Adakah orang yang merasa kehilangan saat dia tak ada? Atau, mungkin saja adakah orang lain yang tengah menggantikan peran dirinya di dunia sana seperti yang saat ini dia lakoni ditempat ini?
Ia sudah kesepian karena menjadi yatim piatu di usia 17 tahun. Kedua orangtuanya meninggal dunia dalam sebuah tragedi kecelakaan kapal pesiar mewah tempat mereka bekerja sebagai juru masak. Hidup Diana berubah semenjak itu. Rasa kesepian bahkan takut sendiri sering menghantuinya setiap malam. Terlebih lagi, mimpi buruk saat dia melihat jasad kedua orangtuanya untuk terakhir kali masih menyisakan luka yang teramat sulit untuk diobati.
Beruntung, Gerald tiba-tiba datang dalam hidupnya bak penyelamat. Bak kisah didalam dongeng, Diana akhirnya menemukan pangeran yang mau menerima dia apa adanya. Namun, ternyata dia keliru. Sekali lagi, Diana harus merasakan sakit dan kesepian karena kepergian seseorang yang ia cintai akibat pengkhianatan. Dan, bahkan saat dia terjebak di dunia novel ini, nasibnya masih saja tak berubah. Dia tetap menjadi orang yang ditakdirkan untuk hidup kesepian.
"Yang Mulia, saya mohon... Dengarkan saran dari saya. Ini semua demi kesehatan Anda," bujuk Mulanie yang sebenarnya sudah mulai tak nyaman dengan gunjingan beberapa maid yang mau tak mau harus ikut menunggu hingga sang Ratu memutuskan meninggalkan tempat itu.
Bukan rahasia lagi jika Diana dinikahi dan dijadikan Ratu hanya sebatas formalitas saja oleh Ashlan. Itu semua hanya topeng belaka yang dirancang halus oleh sang Kaisar muda agar mampu menekan lawannya secara diam-diam tanpa merendahkan.
Alasan sebenarnya Diana dinikahi adalah demi menekan kekuatan Kerajaan Timur yang memang terhitung kuat agar tak berani melakukan pemberontakan di masa depan. Diana adalah sandera berharga karena merupakan kelemahan utama Kaisar Sean. Ia putri tunggal sang Kaisar meski harus hidup di istana pengasingan selama puluhan tahun karena tak memiliki sihir.
"Apa dia pikir, kita ini tidak lelah?"
"Dasar perempuan merepotkan..."
"Aku dengar, dia anak yang dibenci oleh Ayahnya sendiri. Wajar, jika sampai disini dia juga diperlakukan tak baik oleh Yang Mulia Kaisar."
"Kedudukannya Ratu, tapi semua orang tahu jika dia hanya seorang tawanan perang."
Gunjingan demi gunjingan mengenai diri Diana makin vokal terdengar. Lima orang maid yang berusaha menjaga jarak darinya tampak sengaja berbicara lancang tanpa peduli jika Diana bisa saja mendengarnya atau tidak. Mereka tampak begitu berani bersuara karena merasa bahwa tindakan mereka bukanlah sesuatu yang akan berbuntut menjadi masalah nantinya.
Ayolah! Lagipula, siapa yang tak mengenal sosok Diana Emerald? Seorang putri yang dibuang oleh Ayahnya sendiri karena dituding sebagai pembawa sial. Belum lagi, sifatnya juga sangat lemah.
Diana menghela nafas panjang saat bisikan-bisikan mengandung racun tersebut menembus gendang telinganya. Diana sudah mencoba untuk meredam amarah agar tak menimbulkan keributan lagi. Namun, tampaknya sekelompok maid itu memang sengaja ingin menguji seberapa banyak stok kesabaran yang Diana miliki.
BRAK!!!
Diana tiba-tiba berbalik dan menggebrak meja makan dengan keras. Senyum yang lebih mirip seperti seringai iblis terbit di bibir tipis yang hanya dipoles ringan lipstik berwarna pink nude tersebut.
"Kalian jika ingin beristirahat, pergi saja!" perintah Diana dengan dingin pada pelayan-pelayan itu. "Aku tidak butuh mendengar sindiran-sindiran kalian yang tidak bermanfaat itu!" imbuhnya sambil menatap lekat kelima maid yang tampak sangat syok melihat reaksinya.
"Ma-maaf, Yang Mulia!" Salah satu maid memberanikan diri memohon maaf.
"Pergi dari sini sekarang juga jika tak ingin lidah kalian aku cabut satu per satu!" ucap Diana sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
Dalam sekejap, para pelayan tersebut menjadi bungkam. Mereka tak menyangka bahwa Ratu yang katanya sangat pemurung dan penakut itu justru adalah orang yang mampu berucap setegas itu pada mereka. Detik berikutnya, mereka mulai membubarkan diri dari hadapan Diana.
"Hah!!" Diana mendengkus kasar sambil meletakkan kedua tangannya disisi pinggang. "Berani sekali mereka menggunjing seperti itu di
hadapanku!" ucapnya dengan tatapan yang jelas merasa sangat kesal.
"Anda bisa memerintahkan prajurit untuk menghukum mereka jika Anda mau, Yang Mulia!" saran Mulanie.
"Tidak perlu," tolak Diana sembari menyambar segelas air yang berada diatas meja. Dalam sekali teguk, satu gelas penuh tadi langsung kosong kembali.
"Y-Yang Mulia," cicit Mulanie yang kembali syok akan tingkah sang Ratu.
Diana kembali meletakkan gelasnya dengan kasar di atas meja hingga menimbulkan bunyi. Lagi, Mulanie semakin bertambah terkejut. Sang Ratu seperti sosok yang datang dari dunia lain, baginya. Kemana etika dasar Diana sebagai seorang putri mahkota Kerajaan Timur dan Ratu Kerajaan Barat? Kenapa tingkahnya bisa sebar-bar itu? Hah! Mulanie sungguh tak habis pikir.
"Jika pelayan saja seperti itu padaku, pasti kaum bangsawan jauh lebih berani lagi," gumam Diana bermonolog sendiri. "Lalu, apa yang harus aku lakukan, ya?" pikirnya sambil menatap ke langit-langit ruangan.
"Yang Mulia! Lebih baik Anda tidur dulu. Masalah lain, bisa Anda pikirkan esok hari."
"Kau benar, Mulanie. Aku sepertinya memang harus tidur agar fungsi otakku bisa kembali. Dan, tentu saja aku juga butuh tenaga ekstra untuk memulai perang dengan para bangsawan bermulut pedas di kerajaan ini."
Ya, Diana sudah bertekad untuk menaklukkan para bangsawan Kerajaan Barat. Ini semua demi mengurangi beban stres-nya di masa depan. Ia hanya harus fokus menghindari hukuman pancung dari Kaisar Ashlan suatu hari nanti. Dia tak ingin benar-benar seperti Diana Emerald yang bahkan pelayan dan para bangsawan pun tak ada yang menaruh hormat padanya sampai ajal menjemput.
"Antar aku kembali ke kamar, Mulanie!" titahnya penuh semangat kepada satu-satunya wanita bangsawan kerajaan Barat yang mau menjadi pelayan pribadinya itu.
"Mari, Yang Mulia!" angguk Mulanie sambil mempersilakan Diana untuk melangkah lebih dulu.
Makanan diatas meja yang sama sekali tak tersentuh sedikitpun ia biarkan begitu saja. Sedih memang, karena makanan itu harus berakhir mubazir. Tapi, apa boleh buat? Orang yang ingin ia beri makan sepertinya sungguh tidak akan pulang malam ini.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 101 Episodes
Comments
paty
diana lo hrs tegas n nikmati sbg ratu n abaikan sj suami lo yg ptg jgn masuk jebakan bibi lo ity
2024-11-16
0
Nailott
yg sabar, kau harus lawan mereka
2024-07-22
0
Ayu Dani
knpa ga d hajar aja itu pelayan ngeselin
2024-04-27
2