Setelah tragedi

Bab 18

"Kejar, jangan biarkan dia lolos!" instruksi pemimpin Ksatria bayangan kepada 6 anggota lain.

Para Ksatria tangguh yang bernaung dibawah perintah sang Kaisar langsung segera berpencar melaksanakan tugas. Berusaha memacu kuda mereka secepat mungkin untuk menangkap seorang pria berjubah hitam yang mereka tengarai sebagai dalang dibalik insiden berdarah di ibu kota.

"Berhenti!" Si pria berjubah hitam langsung menghentikan laju kudanya saat sebuah pedang sudah menempel di lehernya dari arah belakang.

Fionn, pemimpin Ksatria bayangan rupanya sudah berhasil melompat ke kuda si pria jubah hitam saat lelaki itu sedang sibuk menghindari anak buahnya hingga tak menyadari keberadaan Fionn yang sudah begitu dekat dari arah belakang.

"Paksa dia turun!" perintah Ksatria Bennett.

Fionn mengangguk. Pria jubah hitam ia paksa turun dengan keadaan leher yang masih di cekalnya dengan sebilah pedang.

"Siapa yang menyuruhmu?" Tanpa Tedeng aling-aling, Ksatria Bennett langsung bertanya pada inti masalah setelah sebelumnya ia berhasil menyibak jubah yang menutupi wajah si pelaku.

Lelaki berkepala botak itu diam. Matanya tak menyiratkan ketakutan sedikitpun akan intimidasi Ksatria Bennett maupun yang lain.

BUGH!!

Satu buah pukulan didaratkan Fionn di perut lelaki itu. Namun, tampaknya ia masih tetap saja enggan untuk buka suara.

"Jawab pertanyaan yang diajukan! Atau tidak, kau akan mati saat ini juga."

Bukannya takut, si pelaku malah tertawa mendengar ancaman Fionn. Tanpa diduga siapapun, ia tiba-tiba mengambil sesuatu berbentuk kendi kecil dari balik jubahnya dan meminum isi benda tersebut. Tak berselang lama, seluruh tubuhnya menjadi kejang dengan urat-urat yang nampak menyembul kehitaman. Ksatria Bennett dan yang lain tentu langsung panik melihat hal itu.

"Dia kenapa?" tanya Fionn seraya menyentuh tubuh yang sudah menggelepar itu.

Ksatria Bennett meraih botol berbentuk kendi kecil tadi. Diciumnya bau dari minuman itu lalu lekas menjauhkan hidungnya secara reflek.

"Ini racun sihir!" ucapnya.

Fionn dan yang lainnya terdiam. Dipandanginya pelaku peledakan yang kini sudah tak lagi bergerak. Tampaknya, ia sengaja bunuh diri demi melindungi identitas orang yang menyuruhnya.

"Sekarang bagaimana? Jejak pelaku utama benar-benar terputus." Fionn berucap putus asa.

"Periksa jasadnya! Siapa tahu ada petunjuk yang bisa kita temukan walau secuil."

"Baik!" angguk Fionn.

"Aku akan kembali ke istana untuk melapor pada Kaisar. Kalian, bereskan jasad lelaki ini," perintah Ksatria Bennett pada rekannya yang lain.

"Baik!" angguk semuanya serentak.

Di istana, Ashlan yang mendengar laporan dari Ksatria Bennett menjadi sangat geram. Rupa-rupanya, ada seseorang yang hendak menggelar permainan rumit dengan dirinya. Terlepas dari siapa dalang utama dibalik ledakan yang menelan begitu banyak korban, Ashlan bisa menyimpulkan bahwa sosok itu pasti merupakan sosok yang sama dibalik kehilangannya di masa lalu.

"Yang Mulia!" Fionn yang datang tergesa-gesa semakin menambah kerumitan pikiran Ashlan.

"Ada apa?" tanyanya tanpa basa-basi.

"Mengenai jasad orang itu, dia...," Fionn menjeda kalimatnya untuk meraup oksigen. "Dia tidak memiliki lidah."

Ksatria Bennett dan Ashlan saling berpandangan. Seperti saling mengerti pikiran masing-masing, mereka pun mengangguk kompak.

"Selidiki kuil di kota Sil. Dalam sepekan, kalian harus menemukan bukti tentang keterlibatan orang-orang mereka dalam insiden peledakan!"

"Baik, Yang Mulia!" angguk Fionn patuh.

Kuil di kota Sil yang terletak di sisi paling dekat perbatasan dengan benua Tran merupakan kuil penampungan para penjahat yang sudah bertaubat. Sebagai penebusan dosa, setiap orang yang ingin memperdalam ilmu spiritual di kuil tersebut wajib memotong lidahnya sebagai lambang keseriusan. Biasanya, mereka memang diminta melakukan misi kemanusiaan yang membahayakan nyawa. Namun, Ashlan tak pernah menduga bahwa keberadaan mereka akan di manfaatkan seperti ini oleh oknum tertentu. Entah siapa pelakunya, Ashlan yakin bahwa yang mencuci otak mereka untuk melakukan peledakan pastilah bukan orang sembarangan.

*

Berbeda hal dengan Ashlan yang harus di suguhi polemik yang rumit, Diana justru harus beradaptasi dengan para Bangsawan yang mendadak berubah baik kepadanya. Sejak ledakan itu, desas-desus mengenai kekuatan sihirnya sudah tersebar ke seluruh pelosok negeri. Banyak dari mereka yang mulai menerima dan mengakui Diana sebagai Ratu mereka. Bahkan, beberapa gadis bangsawan berebut ingin menjadi pelayan pribadi sang Ratu.

"Apa segitu hebatnya sihir yang aku miliki, Lanie?" tanya Diana pada Mulanie.

"Tentu, Yang Mulia! Semua orang tahu bahwa pemilik sihir penyembuh adalah manusia dengan kasta tertinggi di kalangan penyihir."

"Apa kastaku lebih tinggi dari Kaisar dan penyihir agung?"

Mulanie mengangguk ragu. "Ya, bisa dibilang begitu."

Diana tertawa senang mendengar ucapan Mulanie. Membayangkan bahwa dia memerintah Ashlan dan menindas lelaki kejam itu sesuka hati benar-benar meningkatkan mood-nya. Hah... Baru membayangkan saja sudah senang. Apalagi jika benar-benar terjadi, pikir Diana.

"Tapi, bagaimana caranya aku bisa mengunakan sihir itu lagi? Apa begini?" Diana meniru gaya Spiderman mengeluarkan jaring. "Atau begini?" Berganti gaya menjadi Dokter strange yang mengeluarkan perisai sihir.

"Yang Mulia?" Mulanie menjadi canggung melihat tingkah Diana. Pasalnya, beberapa pelayan yang lewat terlihat menahan tawa melihat tingkah Diana yang konyol.

"Aku sedang latihan, Lanie. Jangan ganggu!" sungutnya sambil terus berkonsentrasi mengeluarkan sihir dengan berbagai gaya yang ia tahu lewat film yang sering di tontonnya.

"Bukannya Anda sekarang ada janji dengan Lady Gritte?" Fyuh! Akhirnya Mulanie teringat akan hal itu. Tentu hal tersebut bisa menghentikan tingkah konyol Ratu yang menjadi pusat perhatian tanpa harus menyinggungnya.

"Ah, untung kau ingatkan, Lanie. Ayo kita bergegas!" kata Diana yang kembali ke mode anggun. Ia melangkah bersama Mulanie menuju ke taman untuk menemui Lady Gritte. Putri tunggal dari seorang bangsawan kaya raya dari keluarga Count Wolfegg.

Tiba disana, Diana menyambut Lady Gritte dengan ramah. Sama seperti perlakuannya kepada putri bangsawan lain. Tak ada reaksi berlebihan dalam menanggapi pujian atau ucapan manis dari Lady Gritte. Bagi Diana yang terlanjur tahu sifat asli para gadis-gadis itu, ia hanya menyambut sebatas formalitas. Tak ada benar-benar keinginan untuk mengabulkan permintaan mereka yang ingin mendaftar menjadi pelayan atau asisten pribadinya.

"Jika Lady ingin mendaftar menjadi asisten pribadiku, maka silahkan berhubungan langsung dengan Mulanie. Dia yang akan menyeleksi siapa-siapa saja yang pantas masuk dan yang tidak."

Lady Gritte memandang sinis pada Mulanie yang hanya bergeming dengan ekspresi datar. Sedari awal, semua keputusan memang dilimpahkan Diana pada Mulanie. Alasannya? Karena Mulanie adalah satu-satunya orang yang bersedia melayani dan menjadi temannya tanpa memandang statusnya yang dulu. Berbeda jauh dengan para gadis-gadis bangsawan yang sekarang berebut menginginkan posisi yang sama dengan Mulanie. Jika gadis itu ingin berbagi tugas dengan gadis bangsawan lain, tentu Diana tak ada masalah. Namun, jika tidak, Diana juga tetap tak masalah.

"Kalau begitu, saya permisi lebih dulu, Lady! Masih banyak hal yang harus saya urus siang ini!" kata Diana seraya berdiri dari kursinya.

Lady Gritte juga berdiri dengan cepat. Ia membungkuk, memberi hormat kepada wanita bernetra kehijauan yang membuatnya salah tingkah itu. Ya, salah tingkah karena kharisma Diana ternyata sangat kuat jika dilihat dari dekat.

"Hati-hati, Yang Mulia."

Diana menggangguk. Ia melangkah dengan anggun meninggalkan mejanya dan berbelok memasuki taman bunga yang dipenuhi hamparan mawar putih yang tak jauh dari tempatnya tadi. Wajahnya terlihat merah padam kala ia berhenti dibarisan bunga-bunga yang tampak bergoyang meski tak tertiup angin.

Sekali tarikan nafas, ia berteriak, "Apa Anda tidak memiliki tugas lain selain menguntit keberadaan saya??"geram Diana kesal.

Dua orang pria yang bersembunyi disana tersentak dan langsung menampakkan diri dengan ekspresi pura-pura tak tahu apa-apa.

"Siapa yang Ratu maksud? Apa Ksatria Bennett?" tanya Ashlan sambil menunjuk pria disampingnya.

Ksatria Bennett menatap keberatan. Enak saja! Setelah dia menderita karena beberapa kali tertusuk duri mawar dan digigit semut, kini dia malah dijadikan kambing hitam oleh sepupunya sendiri.

"Ya. Kalian berdua!" jawab Diana sambil melipat kedua tangannya didepan dada.

Tampak, Mulanie tersenyum kecil melihat kondisi kedua pria hebat itu. Beberapa bintik kemerahan terlihat di lengan dan pipi mereka. Entah di gigit serangga atau apa, namun Mulanie merasa lucu saja dengan tingkah konyol mereka.

"Saya tidak menguntit Ratu. Yang Mulia Kaisar pelakunya. Saya hanya bawahan yang pasrah dan tunduk pada perintahnya," ujar Ksatria Bennett membela diri.

Ashlan gelagapan menghadapi pengakuan Ksatria Bennett. Ingin rasanya dia memukul mulut ember sang sepupu namun tentu tidak dihadapan sang Ratu. Alhasil, akhirnya ia mengakui sesuatu. "Aku hanya ingin tahu apa saja yang dilakukan Ratuku selama di sini."

Terpopuler

Comments

Nailott

Nailott

ha ha .,kepentuk kamu yg mulia!

2024-07-25

0

Qpas Agustiyan

Qpas Agustiyan

aq ko keinget Niah n Saga y, awl2 nikah... gagal move on aq nya... wkwkwkwk

2024-06-24

3

Ridha nh

Ridha nh

hahahaha. pengen nindas ashlan lgsung ya bu 😅

2023-07-07

1

lihat semua
Episodes
1 Pengkhianatan
2 Nenek tua dan Novel Misterius
3 Pernikahan
4 Insiden di Ibukota
5 Harga
6 Dia tak datang
7 Diana di mata pelayan
8 Jaim
9 Wajahmu
10 Aku adalah Ratu!
11 Jangan remehkan aku!
12 Diana vs Verona
13 Berubah-ubah
14 Salah paham
15 Ledakan
16 Sihir yang mendadak muncul
17 Rey, siapa?
18 Setelah tragedi
19 Seperti gosip yang tersebar
20 Pertemuan
21 Keluarga?
22 Psikopat
23 Otak udang
24 Pengakuan
25 Buka Hatimu
26 Sisi lain
27 Pasti berhasil
28 Plot twist
29 Trap
30 Situasi tak menguntungkan
31 Stranger
32 Tak mungkin berkhianat
33 Gangguan sebelum pesta
34 Godaan
35 Di pergoki
36 Ayo lakukan 'itu'
37 Imbalan untuk Verona
38 Tentang perasaan orangtua
39 Jadikan aku rumah!
40 Ksatria Martinez
41 Ayah dan rasa bersalahnya
42 Pilihan
43 Khayalan Levrina, mimpi Sean
44 Hukuman untuk Ayah
45 Tempatmu disini, disisiku!
46 Cinta yang berbalas
47 First night
48 Momen haru yang berantakan
49 Kecurigaan Kaisar Sean
50 One by one
51 Memutuskan kembali
52 Kepulangan Grand Duke Windsor
53 Sihir gelap terlarang
54 Kegilaan Duke Hendrick
55 Kegilaan Duke Hendrick II
56 Guru baru
57 Pasca latihan
58 Syarat Tuan Vernand
59 Kejelasan Identitas
60 Tanda Kerajaan
61 Babak Baru
62 Kekasih rahasia Verona
63 The Day
64 Eksekusi Duke Hendrick
65 Perburuan
66 Kilas masa lalu
67 Hukuman
68 Fakta baru
69 Leon, Ashlan (Singa)
70 Sebelum perang
71 Alarick dan Damian
72 In the Dark
73 Kepergian Fionn
74 Hidup terus berlanjut
75 Kisah akhir Levrina
76 Mungkin kisah cinta yang lain
77 Kabar bahagia?
78 Malaikat kecil
79 Pesta perayaan kehamilan
80 Bencana di tengah pesta
81 Kegilaan Diana
82 Back to the future
83 Dia kembali
84 Masih mengganggu
85 Menolak jatuh di lubang yang sama
86 Gelandangan?
87 Ashlan Joan Arlen
88 Sekarang, berbahagialah!
89 Hai, apa kabar?
90 Jarak yang ku tempuh demi dirimu
91 Pengusiran ulat bulu
92 Bertemu calon mertua
93 Prank calon mertua
94 Aku dan mantanmu
95 Mengulang malam
96 Takdir yang sama?
97 Menengok calon bayi
98 Cincin lamaran
99 Mantan tunangan
100 Ending
101 Epilog
Episodes

Updated 101 Episodes

1
Pengkhianatan
2
Nenek tua dan Novel Misterius
3
Pernikahan
4
Insiden di Ibukota
5
Harga
6
Dia tak datang
7
Diana di mata pelayan
8
Jaim
9
Wajahmu
10
Aku adalah Ratu!
11
Jangan remehkan aku!
12
Diana vs Verona
13
Berubah-ubah
14
Salah paham
15
Ledakan
16
Sihir yang mendadak muncul
17
Rey, siapa?
18
Setelah tragedi
19
Seperti gosip yang tersebar
20
Pertemuan
21
Keluarga?
22
Psikopat
23
Otak udang
24
Pengakuan
25
Buka Hatimu
26
Sisi lain
27
Pasti berhasil
28
Plot twist
29
Trap
30
Situasi tak menguntungkan
31
Stranger
32
Tak mungkin berkhianat
33
Gangguan sebelum pesta
34
Godaan
35
Di pergoki
36
Ayo lakukan 'itu'
37
Imbalan untuk Verona
38
Tentang perasaan orangtua
39
Jadikan aku rumah!
40
Ksatria Martinez
41
Ayah dan rasa bersalahnya
42
Pilihan
43
Khayalan Levrina, mimpi Sean
44
Hukuman untuk Ayah
45
Tempatmu disini, disisiku!
46
Cinta yang berbalas
47
First night
48
Momen haru yang berantakan
49
Kecurigaan Kaisar Sean
50
One by one
51
Memutuskan kembali
52
Kepulangan Grand Duke Windsor
53
Sihir gelap terlarang
54
Kegilaan Duke Hendrick
55
Kegilaan Duke Hendrick II
56
Guru baru
57
Pasca latihan
58
Syarat Tuan Vernand
59
Kejelasan Identitas
60
Tanda Kerajaan
61
Babak Baru
62
Kekasih rahasia Verona
63
The Day
64
Eksekusi Duke Hendrick
65
Perburuan
66
Kilas masa lalu
67
Hukuman
68
Fakta baru
69
Leon, Ashlan (Singa)
70
Sebelum perang
71
Alarick dan Damian
72
In the Dark
73
Kepergian Fionn
74
Hidup terus berlanjut
75
Kisah akhir Levrina
76
Mungkin kisah cinta yang lain
77
Kabar bahagia?
78
Malaikat kecil
79
Pesta perayaan kehamilan
80
Bencana di tengah pesta
81
Kegilaan Diana
82
Back to the future
83
Dia kembali
84
Masih mengganggu
85
Menolak jatuh di lubang yang sama
86
Gelandangan?
87
Ashlan Joan Arlen
88
Sekarang, berbahagialah!
89
Hai, apa kabar?
90
Jarak yang ku tempuh demi dirimu
91
Pengusiran ulat bulu
92
Bertemu calon mertua
93
Prank calon mertua
94
Aku dan mantanmu
95
Mengulang malam
96
Takdir yang sama?
97
Menengok calon bayi
98
Cincin lamaran
99
Mantan tunangan
100
Ending
101
Epilog

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!