Jangan remehkan aku!

Bab 11

"Kami pamit, Yang Mulia!" Von Habsburg mewakili ketiga rekannya mengucapkan salam.

Diana mengangguk. Menerima salam pamit ketiga bangsawan besar tersebut dengan gaya yang anggun. Tidak menunjukkan kesombongan namun tetap mampu menunjukkan kedudukannya secara tersirat.

"Fyuh!" Diana mengembuskan nafas lega setelah ketiga bangsawan tersebut benar-benar sudah berlalu dari hadapannya. Wanita berambut kecoklatan dengan netra hijau yang indah tersebut kembali menghenyakkan bokongnya ke kursi setelah rasa tremor yang sedari tadi berusaha disembunyikan semakin sulit dikendalikan. Beruntung, ia berhasil meyakinkan ketiga bangsawan tadi untuk setuju mendampingi dia dalam berbagai urusan yang seharusnya memang menjadi ranah seorang Ratu. Meski belum menyatakan berpihak pada Diana, namun setidaknya ia berhasil mendekati beberapa orang yang berpengaruh di kerajaan tersebut.

"Yang Mulia....,"

"Jangan sekarang, Lani!" Diana menaikkan telapak tangannya sebelum sang pelayan pribadi menyelesaikan ucapannya. "Kau tahu? Lututku rasanya hampir saja copot tadi," imbuhnya sembari menaikkan gaun yang ia kenakan lalu mengusap-usap kedua lututnya.

Mulanie yang melihat hal tersebut tentu saja langsung melotot. Secepat kilat, gadis itu sudah menghampiri Diana dan menurunkan kembali gaun yang tadi disingkap Diana.

"Anda tidak boleh memperlihatkan kaki Anda kepada lelaki manapun, Yang Mulia!" kata Mulanie panik. Ia melirik ke arah pintu, memastikan bahwa dua penjaga yang berjaga disana tidak melihat hal yang dilakukan sang Ratu barusan.

"Tidak ada lelaki disini, Lani! Hanya ada kau!" protes Diana sembari hendak menyingkap gaunnya kembali.

"Tidak boleh!" pekik Mulanie sambil menepuk kedua tangan Diana. "Anda tidak boleh melakukannya!" ucapnya sembari melotot horor ke arah Diana.

Diana meneguk salivanya dengan kasar. Jujur, dia sedikit syok mendengar suara Mulanie yang naik satu oktaf tak seperti biasanya. Belum lagi, wajah gadis itu seperti tampak benar-benar marah.

"Mu-Mulanie! Jangan galak-galak. Kau membuatku takut," ucap Diana meringis.

"Maaf, Yang Mulia!" Mulanie segera menundukkan kepala dan meminta maaf saat menyadari telah berbuat kesalahan. Dia, baru saja telah membentak sang Ratu.

"Hahahaha...," Diana tergelak. Wajah Mulanie yang terlihat begitu polos benar-benar memberinya penghiburan.

"Santai, Lani! Aku tidak keberatan sama sekali. Sebaliknya, terima kasih karena telah mengingatkan dan mengajarkanku berbagai hal selama disini!"

Blush!

Wajah Mulanie mendadak memerah mendengar ungkapan Diana. Gadis itu menarik senyum tipis. Berbangga diri karena merasa begitu di hargai meski kedudukannya hanya sekadar bawahan.

*

Keesokan harinya, kesibukan Diana pun dimulai. Ketiga bangsawan yang menemuinya kemarin benar-benar kembali ke istana untuk memberinya beberapa pelajaran sekaligus pengarahan mengenai tugas-tugas pokok Diana sebagai Ratu.

Ia yang terbiasa mengingat banyak hal dalam waktu singkat tentu tidak terlalu sulit untuk menghafal beberapa nama dari bangsawan-bangsawan penting beserta tugasnya di negara tersebut. Tujuannya, agar ketika bertemu dengan nama-nama itu, Diana mampu meyakinkan bahwa ia menghargai setiap keberadaan dan kedudukan para bangsawan.

Tugas lainnya diterangkan dengan mendalam secara bergantian oleh ketiga bangsawan tersebut. Hingga, beberapa waktu kemudian, 6 dari 10 bangsawan yang memangku tugas penting Negara telah berpihak kepadanya. Sisanya, akan ia dekati secara perlahan meski Diana tahu hal tersebut tak akan berjalan mulus.

"Kapan pesta untuk menyambut duta negara lain akan dilaksanakan?" tanya Diana kepada Duke Lant.

"Sekitar satu bulan lagi, Yang Mulia!"

Diana mengangguk. Wanita itu tampak memikirkan beberapa hal untuk pesta tersebut. "Siapa yang bertanggung jawab mengurus persiapannya?"

"Count Hardy, Yang Mulia!"

"Kalau begitu, antar aku bertemu dengannya. Aku ingin menanyakan sudah sampai mana tahap persiapan yang dia lakukan."

"Tentu, Yang Mulia!"

Diana berjalan lebih dulu lalu diikuti oleh Mulanie, Duke Lant dan beberapa pengawal menuju ke aula utama kerajaan. Di sanalah pusat pesta untuk penyambutan duta negara lain dalam rangka mempererat hubungan perdagangan antar negara akan dilaksanakan.

Beberapa orang yang sedang bekerja mendadak menghentikan aktifitas mereka begitu melihat kedatangan sang Ratu bersama menteri perdagangan negara mereka. Bahkan, Count Hardy saja sampai melongo karena melihat hal yang sama sekali tak pernah ia bayangkan. Ratu yang katanya hanya mampu berpangku tangan malah datang dan tampak memeriksa beberapa hal meski hanya sekadar dari tatapan mata.

"Kenapa kalian diam? Beri hormat kepada sang Ratu!" perintah Duke Lant dengan suara bariton yang menggema di aula utama.

Para pekerja yang ada disana termasuk Count Hardy langsung memberi salam yang dijawab Diana dengan sebatas anggukan. Bukan ia congkak, namun ia harus menekankan kepada orang-orang disana bahwa dia bukan pribadi yang diam saja jika di remehkan.

"Count Hardy?" panggil Diana. Ia sengaja menyapukan pandangannya karena tidak tahu yang mana sosok Count Hardy diantara banyaknya pria yang bekerja didalam aula.

"Saya, Yang Mulia?" Seorang pria dengan rambut ikal seperti Ksatria Bennett melangkah maju mendekati Diana.

"Sudah sampai mana persiapan pestanya?"

"Hampir 50 persen, Yang Mulia!"

"Kamar yang akan dipakai untuk tamu bagaimana?"

"Kita menggunakan kamar seperti biasanya, Yang Mulia. Tak ada yang istimewa karena kamar tidak butuh dekorasi semacam ini," ucap Count Hardy sambil menunjuk dekorasi aula yang megah.

Diana menatap tajam Count Hardy. "Apa kau bilang?"

"Kenapa, Yang Mulia?"

"Kau bilang, kamar tidak perlu istimewa? Apa kau ingin para tamu kita tidur dikamar yang sumpek dengan suasana yang selalu sama setiap tahunnya?"

"Apa salahnya, Yang Mulia?" tanya Count Hardy yang merasa tidak ada masalah.

"Pantas, jalur perdagangan kalian tidak terlalu menonjol. Ternyata, kalian tidak tahu caranya memuliakan tamu!" gerutu Diana.

"Yang Mulia...,"

"Cukup, Count Hardy! Jangan berusaha memberi pembelaan lagi. Mulai hari ini, proyek ini aku ambil alih. Kau, hanya perlu melakukan perintahku saja."

"Tapi...,"

"Kau ingin membangkang, Count Hardy?" tanya Diana mengintimidasi.

Count Hardy kelabakan. Ia berusaha meminta pembelaan pada Duke Lant tapi justru lelaki itu menggelengkan kepala sebagai isyarat untuk mengalah saja.

"Maaf, Yang Mulia! Saya bersalah!" akunya sambil tertunduk.

"Kali ini aku memaafkan sikapmu yang menganggap remeh aku, Count Hardy. Tapi, besok-besok jika kau masih melakukannya lagi, maka akan ada hukuman yang pasti kau terima."

Count Hardy terkesiap mendengar ucapan Diana. Lelaki itu semakin menundukkan kepala dengan tangan yang terlihat gemetaran. Diana yang menyadari itu hanya tersenyum miring. Ditatapnya beberapa pekerja yang saling berbisik sambil menatapnya penuh penilaian.

"Hal ini juga berlaku pada kalian. Jika masih ada yang berani meremehkanku, maka aku pastikan kalian akan merasakan akibatnya!" teriak Diana dengan lantang agar para pekerja mampu mendengar suaranya.

Suasana mendadak hening. Ucapan Diana berhasil membungkam mulut-mulut yang beberapa saat lalu masih menggunjing tentangnya. Ia pun lekas berbalik. Melangkah meninggalkan aula dengan diikuti oleh Duke Lant, Mulanie dan para pengawal kembali.

"Lani, cari tahu siapa dalang dibalik rumor buruk mengenai aku!" titahnya kepada sang pelayan pribadi.

"Baik, Yang Mulia!"

Tak butuh waktu lama, informasi yang diminta oleh Diana akhirnya berhasil Mulanie dapatkan.

"Siapa orangnya, Lanie?" tanya Diana tak sabaran.

"Semua gosip tentang ketidakbecusan Anda berasal dari suami Bibi Anda sendiri, Yang Mulia. Duke Hendrick. Beliaulah yang menyebarkan semua rumor itu."

Darah Diana seolah mendidih saat kebenaran itu akhirnya terungkap. Seluruh tubuhnya bahkan gemetar menahan kemarahan. Jadi, semua ini karena ulah keluarga Bibinya sendiri? Sudah berhasil membuat dia diasingkan oleh Ayahnya sendiri, sekarang juga menjadi dalang dibalik tak dihargainya ia di negara ini? Wah, wah, wah! Diana benar-benar tak habis pikir. Punya dendam kesumat apa keluarga itu pada dirinya?

"Jadi, kalian ingin bermain denganku, hah?" gumam Diana dengan tatapan tajam menghunus ke arah jendela. Tawa sinisnya menggelegar didalam ruang baca tempatnya sekarang. Mulanie yang menyaksikan itu tak berani menegur. Diana sedang dalam mode devil.

Seminggu berlalu, pesta penyambutan dirinya yang memang wajib dilakukan pun berlangsung. Diana awalnya sempat menolak, namun Mulanie meyakinkan bahwa Diana harus tetap hadir. Ia pun akhirnya menurut setelah tahu siapa pengusul paling vokal dibalik pesta yang sebenarnya tak perlu di lakukan itu. Adalah Duke Hendrick yang menjadi pelaku utama.

"Baiklah! Jika ingin memulai perang denganku, maka akan ku ladeni!" ucap Diana dengan senyum miring.

"Anda baik-baik saja, Yang Mulia?" Mulanie bertanya dengan cemas. Akhir-akhir ini, sang Ratu sering bicara sendiri.

"Tak pernah sebaik ini, Lanie!"

Saat memasuki aula pesta, semua tatapan kembali tertuju kepada Diana. Beberapa tampak kagum melihat sosoknya dan beberapa lagi tampak begitu meremehkan.

"Yang Mulia Kaisar tidak hadir?" bisik Diana saat menyadari bahwa kursi disebelahnya sedari tadi kosong.

"Tidak, Yang Mulia!" balas Mulanie.

Diana menghela nafas panjang. Sedikit kecewa bergelayut dihati karena tahu Ashlan bahkan enggan hadir malam ini. Padahal, kehadirannya begitu Diana nantikan. Selain untuk meminta maaf mengenai masalah tempo hari, ia juga membutuhkan lelaki itu untuk mematahkan argumen orang-orang mengenai ketidakharmonisan mereka. Setidaknya, dengan begitu ia tak akan terlalu di remehkan.

"Wah! Wah! Wah! Lihatlah sang Ratu yang cantik. Kenapa Anda hanya duduk sendirian, Yang Mulia? Dimana sang Kaisar?" Lady Verona, sepupu Diana , putri dari Duke Hendrick dan Duchess Levrina datang menyapanya.

"Bukan urusanmu, Verona!" dengkus Diana tak berselera meladeni wanita itu.

Lady Verona tampak tak suka akan jawaban Diana. Wanita itu pun mendekatkan wajahnya pada telinga Diana kemudian berbisik,"Kau itu hanya sandera dinegara ini, Diana! Jadi, jangan terlalu berharap dan bermimpi ketinggian bahwa Ashlan akan memperlakukanmu sebagai layaknya Ratu!"

Terpopuler

Comments

Nailott

Nailott

wah,gak sabsr jugq ingin menghajar veronica

2024-07-22

0

Lhea Sherry

Lhea Sherry

berasa nonton film Mr. Queen. drama korea yang terjebak di masa lalu dan membuat makanan modern. mirip banget. tapi ini versi novel😘

2022-09-08

6

Septi Verawati

Septi Verawati

wah sepupu sableng buang aje kelaut

2022-08-10

4

lihat semua
Episodes
1 Pengkhianatan
2 Nenek tua dan Novel Misterius
3 Pernikahan
4 Insiden di Ibukota
5 Harga
6 Dia tak datang
7 Diana di mata pelayan
8 Jaim
9 Wajahmu
10 Aku adalah Ratu!
11 Jangan remehkan aku!
12 Diana vs Verona
13 Berubah-ubah
14 Salah paham
15 Ledakan
16 Sihir yang mendadak muncul
17 Rey, siapa?
18 Setelah tragedi
19 Seperti gosip yang tersebar
20 Pertemuan
21 Keluarga?
22 Psikopat
23 Otak udang
24 Pengakuan
25 Buka Hatimu
26 Sisi lain
27 Pasti berhasil
28 Plot twist
29 Trap
30 Situasi tak menguntungkan
31 Stranger
32 Tak mungkin berkhianat
33 Gangguan sebelum pesta
34 Godaan
35 Di pergoki
36 Ayo lakukan 'itu'
37 Imbalan untuk Verona
38 Tentang perasaan orangtua
39 Jadikan aku rumah!
40 Ksatria Martinez
41 Ayah dan rasa bersalahnya
42 Pilihan
43 Khayalan Levrina, mimpi Sean
44 Hukuman untuk Ayah
45 Tempatmu disini, disisiku!
46 Cinta yang berbalas
47 First night
48 Momen haru yang berantakan
49 Kecurigaan Kaisar Sean
50 One by one
51 Memutuskan kembali
52 Kepulangan Grand Duke Windsor
53 Sihir gelap terlarang
54 Kegilaan Duke Hendrick
55 Kegilaan Duke Hendrick II
56 Guru baru
57 Pasca latihan
58 Syarat Tuan Vernand
59 Kejelasan Identitas
60 Tanda Kerajaan
61 Babak Baru
62 Kekasih rahasia Verona
63 The Day
64 Eksekusi Duke Hendrick
65 Perburuan
66 Kilas masa lalu
67 Hukuman
68 Fakta baru
69 Leon, Ashlan (Singa)
70 Sebelum perang
71 Alarick dan Damian
72 In the Dark
73 Kepergian Fionn
74 Hidup terus berlanjut
75 Kisah akhir Levrina
76 Mungkin kisah cinta yang lain
77 Kabar bahagia?
78 Malaikat kecil
79 Pesta perayaan kehamilan
80 Bencana di tengah pesta
81 Kegilaan Diana
82 Back to the future
83 Dia kembali
84 Masih mengganggu
85 Menolak jatuh di lubang yang sama
86 Gelandangan?
87 Ashlan Joan Arlen
88 Sekarang, berbahagialah!
89 Hai, apa kabar?
90 Jarak yang ku tempuh demi dirimu
91 Pengusiran ulat bulu
92 Bertemu calon mertua
93 Prank calon mertua
94 Aku dan mantanmu
95 Mengulang malam
96 Takdir yang sama?
97 Menengok calon bayi
98 Cincin lamaran
99 Mantan tunangan
100 Ending
101 Epilog
Episodes

Updated 101 Episodes

1
Pengkhianatan
2
Nenek tua dan Novel Misterius
3
Pernikahan
4
Insiden di Ibukota
5
Harga
6
Dia tak datang
7
Diana di mata pelayan
8
Jaim
9
Wajahmu
10
Aku adalah Ratu!
11
Jangan remehkan aku!
12
Diana vs Verona
13
Berubah-ubah
14
Salah paham
15
Ledakan
16
Sihir yang mendadak muncul
17
Rey, siapa?
18
Setelah tragedi
19
Seperti gosip yang tersebar
20
Pertemuan
21
Keluarga?
22
Psikopat
23
Otak udang
24
Pengakuan
25
Buka Hatimu
26
Sisi lain
27
Pasti berhasil
28
Plot twist
29
Trap
30
Situasi tak menguntungkan
31
Stranger
32
Tak mungkin berkhianat
33
Gangguan sebelum pesta
34
Godaan
35
Di pergoki
36
Ayo lakukan 'itu'
37
Imbalan untuk Verona
38
Tentang perasaan orangtua
39
Jadikan aku rumah!
40
Ksatria Martinez
41
Ayah dan rasa bersalahnya
42
Pilihan
43
Khayalan Levrina, mimpi Sean
44
Hukuman untuk Ayah
45
Tempatmu disini, disisiku!
46
Cinta yang berbalas
47
First night
48
Momen haru yang berantakan
49
Kecurigaan Kaisar Sean
50
One by one
51
Memutuskan kembali
52
Kepulangan Grand Duke Windsor
53
Sihir gelap terlarang
54
Kegilaan Duke Hendrick
55
Kegilaan Duke Hendrick II
56
Guru baru
57
Pasca latihan
58
Syarat Tuan Vernand
59
Kejelasan Identitas
60
Tanda Kerajaan
61
Babak Baru
62
Kekasih rahasia Verona
63
The Day
64
Eksekusi Duke Hendrick
65
Perburuan
66
Kilas masa lalu
67
Hukuman
68
Fakta baru
69
Leon, Ashlan (Singa)
70
Sebelum perang
71
Alarick dan Damian
72
In the Dark
73
Kepergian Fionn
74
Hidup terus berlanjut
75
Kisah akhir Levrina
76
Mungkin kisah cinta yang lain
77
Kabar bahagia?
78
Malaikat kecil
79
Pesta perayaan kehamilan
80
Bencana di tengah pesta
81
Kegilaan Diana
82
Back to the future
83
Dia kembali
84
Masih mengganggu
85
Menolak jatuh di lubang yang sama
86
Gelandangan?
87
Ashlan Joan Arlen
88
Sekarang, berbahagialah!
89
Hai, apa kabar?
90
Jarak yang ku tempuh demi dirimu
91
Pengusiran ulat bulu
92
Bertemu calon mertua
93
Prank calon mertua
94
Aku dan mantanmu
95
Mengulang malam
96
Takdir yang sama?
97
Menengok calon bayi
98
Cincin lamaran
99
Mantan tunangan
100
Ending
101
Epilog

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!