Ledakan

"Jangan cari tahu apapun, Yang Mulia! Cukup menjadi Ratu yang tidak tahu apa-apa maka Anda akan tetap aman."

Bab 15

Silau matahari yang menerpa wajah membuat Diana harus menutup wajahnya dengan telapak tangan. Hangat. Itu kesan pertama yang ia rasakan kala menikmati kesendiriannya di balkon kamar baru yang belakangan menjadi tempat istirahat ternyamannya selama terdampar di negeri antah berantah ini.

Kicau burung yang sedang bermain di dahan pohon terdengar menenangkan. Semilir angin yang sedikit terasa membuat airmata gadis itu menggenang lagi. Ya, dia rindu rumah. Diana hanya ingin pulang. Semewah apapun tempat yang sekarang ia huni, namun rumah sederhananya masih menjadi tujuan utama untuknya pulang. Setidaknya, dirumah kecilnya masih tersisa setumpuk kenangan tentang kedua orangtuanya di setiap sudut. Sementara disini? Ia tak punya apapun untuk didekap demi meluruhkan sedikit resah yang berkecamuk dalam diri.

"Aku rindu rumah...," lirihnya sambil tersenyum getir menatap burung-burung kecil yang asyik bercengkrama di dahan pohon. Alangkah irinya Diana melihat hewan-hewan kecil itu. Mereka bisa terbang bebas kemanapun tanpa beban. Tak seperti dirinya yang harus hidup dalam sangkar emas entah sampai kapan.

"Yang Mulia...,"

Mendengar sapaan Mulanie yang baru saja datang, Diana buru-buru menghapus airmatanya. Sementara, Mulanie hanya bisa menatap iba. Cukup lama sebenarnya dia sudah berada didalam kamar itu. Namun, mungkin karena Diana terlalu fokus melamun sehingga pemilik netra kehijauan itu tak menyadari kehadiran Mulanie.

"Lanie, kapan kau datang?" tanya Diana basa-basi. Ia tersenyum. Berusaha menegaskan bahwa dia baik-baik saja.

"Baru saja, Yang Mulia!" jawab Mulanie. "Kenapa mata Anda sembap lagi?"

Diana mengusap kedua matanya. "Tidak apa-apa." Ia tersenyum. Senjata pertahanan yang ia pasang untuk menyembunyikan luka.

"Anda rindu rumah?" tanya Mulanie lirih.

Diana mengigit bibir bawahnya. Haruskah dia menjawab jujur?

"Ya, sedikit."

"Anda tidak betah berada disini?"

Gadis berambut kecoklatan itu menggeleng. "Tidak," jawabnya parau.

Mulanie menarik nafas panjang. Tiba-tiba, gadis itu memeluk Diana sambil menepuk-nepuk punggung sang Ratu. "Bertahanlah, Yang Mulia! Saya tahu Anda wanita yang kuat."

Kembali, bening menetes dari sepasang mata indah milik Diana. Ia tak mampu menahan haru kala Mulanie menawarkan sandaran untuk dirinya yang memang tak lagi memilikinya. Baik didunia manapun ia berada, tetap saja dia selalu sendirian.

"Aku tidak betah disini, Lanie. Aku... hanya ingin pulang!" lirihnya dalam tangis yang tak menimbulkan suara.

*

Setelah merasa sedikit lebih tenang, Diana akhirnya bersiap untuk memulai hari. Mulanie dengan telaten membantunya berpakaian dan berhias diri. Sedikit demi sedikit, Diana sudah terbiasa dengan rutinitas barunya itu. Jika di kehidupan nyatanya, ia jarang sekali berdandan, maka di dunia ini ia nyaris 24 jam terbungkus make-up yang Diana sendiri merasa risih memakainya. Namun, apa mau dikata? Ia juga tak bisa menolak.

"Anda ingin jalan-jalan keluar, Yang Mulia?" tanya Mulanie yang bermaksud ingin menghibur Diana.

"Kemana?"

"Alun-alun kota. Sedang ada festival perayaan hari jadi Ibukota Bern hari ini."

"Benarkah?" Mata indah Diana seketika berbinar. Wanita cantik itu tersenyum lebar. Secepat kilat ia membuka laci meja riasnya. Mengambil beberapa permata lalu memasukkannya ke dalam kantong kain sebelum berdiri dan menarik lengan Mulanie setengah berlari.

"Yang Mulia, jangan tergesa-gesa," ucap Mulanie yang sedikit kesusahan mengimbangi langkah Diana.

"Cepat sedikit, Lanie! Aku tidak sabar untuk menyaksikan acara di kota kalian!" balasnya tanpa mempedulikan kondisi Mulanie yang sedikit kesusahan.

"Tapi, kita harus meminta izin terlebih dahulu kepada Yang Mulia Kaisar!"

Langkah Diana mendadak terhenti. Wanita bergaun biru muda dengan aksen pita di bagian leher tersebut mendengkus kasar dengan bola mata yang memutar jengah. Malas sekali dia berurusan dengan satu nama itu. Bahkan, andai bisa, ia ingin mengalami lupa ingatan agar tak lagi tahu apa-apa soal Ashlan.

"Apa harus?" tanyanya.

Mulanie mengangguk dan Diana menghela pasrah. Dengan langkah yang menyentak kesal, ia pun berjalan menuju ke sisi istana dimana Ashlan sedang berada. Mulanie yang mengikuti dari belakang tampak menggeleng pasrah. Nampaknya, sifat dan sikap Diana akan sangat sulit untuk dirubah.

"Ratu!" sapa Ksatria Bennett yang kebetulan berpapasan dengan Diana tepat didepan pintu kamar Ashlan.

"Ashlan ada didalam?"

Ksatria Bennett membulatkan matanya sementara Mulanie tersedak ludahnya sendiri saat mendengar Diana memanggil Ashlan tanpa embel-embel 'Yang Mulia Kaisar'. Sementara, yang melakukan tampak bingung melihat ekspresi dua orang itu. Namun, sepersekian detik berikutnya ia paham apa yang membuat Ksatria Bennett dan Mulanie berekspresi begitu. Seketika,ia pun meralat ucapan tersebut.

"Maaf, maksudku, apa Yang Mulia didalam?"

Ksatria Bennett tersadar dari lamunannya dan langsung menjawab, "Ada. Silahkan Ratu masuk saja!" ucapnya mempersilahkan.

Diana menggeleng. "Aku disini saja. Tapi, bisakah aku meminta tolong?" tanyanya penuh harap.

"Meminta tolong apa, Yang Mulia?"

"Beritahu Yang Mulia Kaisar bahwa aku ingin jalan-jalan bersama Mulanie ke alun-alun kota."

"Hanya berdua saja?" tanya Ksatria Bennett ragu.

Diana mengangguk.

"Lebih baik Anda sampaikan sendiri, Yang Mulia!" saran Ksatria Bennett.

Lagi, Diana menggeleng. "Aku sedang tidak ingin bertemu dengannya."

"Tapi...,"

"Alarick...," tanpa diduga Ksatria Bennett, Diana langsung meraih tangan lelaki itu dan menggenggamnya erat. "Tolong bantu aku. Sekali ini saja," mohonnya penuh harap.

Ada rasa yang lain dihati Ksatria Bennett kala tangan lembut sang Ratu menggenggam erat jemarinya. Ada debaran aneh yang perlahan merasuk ke dalam dada. Matanya tak lepas memandang jemari lentik yang sedang menyentuh jarinya tersebut.

"Ba-baiklah! Saya akan bantu," ucapnya gugup seraya menarik paksa tangannya sebelum rasa terlarang itu benar-benar tumbuh.

Diana tersenyum senang. Tak terlalu peka pada kondisi Ksatria Bennett meski wajah lelaki itu sudah sedikit memerah. Yang ia pikirkan hanyalah ingin segera ke alun-alun dan bersenang-senang disana. Tak memerlukan waktu lama, Ksatria Bennett kembali muncul dari balik pintu kamar. Dan, tanpa pikir panjang, Diana lekas mendekat dengan tatapan penuh binar harap.

"Yang Mulia mengizinkan asal Anda dan Mulanie dikawal oleh beberapa Ksatria," ucap Ksatria Bennett.

"Ck, kenapa harus seperti itu, sih?" Diana berdecak dengan bibir mengerucut.

Tanpa sadar, Ksatria Bennett tersenyum melihat tingkah sang Ratu yang sedang kesal. "Peraturannya memang seperti itu, Ratu! Terserah, Anda mau atau tidak," jawabnya sembari mengendikkan bahu.

Tak ada pilihan lain, Diana mengikuti perintah dari Ashlan. Jadilah ia berangkat bersama Mulanie dengan mengenakan jubah dan didampingi oleh 4 orang Ksatria bawahan Ksatria Bennett.

"Diantara Ratu dan pelayannya, yang mana yang berhasil membuatmu tersenyum sepanjang pagi, Rick?" tanya Ashlan kepada Ksatria Bennett sembari memperhatikan suasana perayaan dari atas sebuah gedung bertingkat tiga. Ya, lelaki itu memang turut serta menyaksikan perayaan hari ini demi mengawasi jalannya acara. Jangan sampai ada hal yang buruk yang terjadi apalagi sang Ratu juga sedang ada dibawah sana bersama rakyatnya yang lain.

Beberapa Ksatria bayangan sudah berpencar di setiap sudut kota. Melapor secara berkala kepada Ashlan tentang kondisi lapangan sekaligus menjadi mata-mata kegiatan sang Ratu.

Tak banyak hal yang dilakukan oleh Diana sebenarnya. Wanita itu hanya membeli beberapa potong roti dan beberapa botol susu untuk dibagikan kepada anak-anak miskin yang masih bertebaran di gang-gang kecil kota. Ia juga sengaja menukarkan beberapa permata yang ia bawa dengan beberapa karung gandum untuk dibagikannya kepada keluarga miskin agar turut merasakan bahagianya suasana perayaan. Mulanie yang melihat itu tentu berdecak kagum. Ia mengira, Diana membawa beberapa permata berharga untuk ditukarkan gaun. Namun,nyatanya tidak. Permata-permata itu malah bertukar dengan beberapa kebutuhan pokok yang justru diberikan kepada rakyat-rakyat kurang mampu.

"Apa maksud Anda, Yang Mulia?" tanya Ksatria Bennett seraya menatap sang sepupu dengan perasaan bersalah. Beruntung, ia berdiri dibelakang Ashlan sehingga lelaki itu tak melihat ekspresi wajahnya.

"Aku tahu apa yang kau pikirkan, Rick! Tapi, haruskah wanita 'itu'? tanya Ashlan dengan senyum miring.

"Bukankah Anda bilang tidak ingin mencintainya? Jadi, apa salahnya jika justru saya yang melakukan hal itu?"

"Rick," geram Ashlan.

"Maaf, Yang Mulia! Tapi, Anda jangan terlalu egois. Jika tak ingin mencintainya, sebaiknya lepaskan. Saya siap menerima dengan tangan terbuka."

BUGH!!

Pukulan tiba-tiba mendarat di rahang Ksatria Bennett hingga lelaki itu tersungkur ke lantai. Sudut bibirnya berdarah namun ia hanya tertawa seraya menatap santai ke arah Ashlan yang justru kini malah melihatnya dengan amarah yang berkobar.

"Jangan jadi pengecut, Ash! Akui saja kalau kau mencintainya, atau tidak...,"

BOOM!!

Belum selesai ucapan Ksatria Bennett, tiba-tiba terdengar ledakan yang cukup keras. Saking kerasnya, gedung yang ditempati oleh Ashlan dan Ksatria Bennett pun ikut bergetar sesaat. Tak lama kemudian, seorang Ksatria datang dan langsung melapor dengan wajah yang panik.

"Tembok pertahanan kota terkena ledakan, Yang Mulia. Dan banyak korban yang terluka," lapornya dengan wajah penuh rasa bersalah.

Benak Ashlan seketika kosong. Lalu, ia tiba-tiba teringat akan seseorang yang menurut laporan terakhir sedang bermain bersama anak-anak tepat didepan gerbang pertahanan kota.

"Diana…," lirih Kaisar Ashlan yang langsung bergerak cepat menuju ke tempat Diana berada bersama Ksatria Bennett.

Terpopuler

Comments

Rierudi Laras

Rierudi Laras

😝 Si Raja mulai rada² cemburu nie

2025-03-09

0

Nailott

Nailott

tuh
kan, ashlan , ingat ratu hatinya, , tekut kenapa napa

2024-07-22

0

C a l l i s t o ®

C a l l i s t o ®

Gue kasih judul : Ipar Adalah Maut 🤧

2024-07-19

1

lihat semua
Episodes
1 Pengkhianatan
2 Nenek tua dan Novel Misterius
3 Pernikahan
4 Insiden di Ibukota
5 Harga
6 Dia tak datang
7 Diana di mata pelayan
8 Jaim
9 Wajahmu
10 Aku adalah Ratu!
11 Jangan remehkan aku!
12 Diana vs Verona
13 Berubah-ubah
14 Salah paham
15 Ledakan
16 Sihir yang mendadak muncul
17 Rey, siapa?
18 Setelah tragedi
19 Seperti gosip yang tersebar
20 Pertemuan
21 Keluarga?
22 Psikopat
23 Otak udang
24 Pengakuan
25 Buka Hatimu
26 Sisi lain
27 Pasti berhasil
28 Plot twist
29 Trap
30 Situasi tak menguntungkan
31 Stranger
32 Tak mungkin berkhianat
33 Gangguan sebelum pesta
34 Godaan
35 Di pergoki
36 Ayo lakukan 'itu'
37 Imbalan untuk Verona
38 Tentang perasaan orangtua
39 Jadikan aku rumah!
40 Ksatria Martinez
41 Ayah dan rasa bersalahnya
42 Pilihan
43 Khayalan Levrina, mimpi Sean
44 Hukuman untuk Ayah
45 Tempatmu disini, disisiku!
46 Cinta yang berbalas
47 First night
48 Momen haru yang berantakan
49 Kecurigaan Kaisar Sean
50 One by one
51 Memutuskan kembali
52 Kepulangan Grand Duke Windsor
53 Sihir gelap terlarang
54 Kegilaan Duke Hendrick
55 Kegilaan Duke Hendrick II
56 Guru baru
57 Pasca latihan
58 Syarat Tuan Vernand
59 Kejelasan Identitas
60 Tanda Kerajaan
61 Babak Baru
62 Kekasih rahasia Verona
63 The Day
64 Eksekusi Duke Hendrick
65 Perburuan
66 Kilas masa lalu
67 Hukuman
68 Fakta baru
69 Leon, Ashlan (Singa)
70 Sebelum perang
71 Alarick dan Damian
72 In the Dark
73 Kepergian Fionn
74 Hidup terus berlanjut
75 Kisah akhir Levrina
76 Mungkin kisah cinta yang lain
77 Kabar bahagia?
78 Malaikat kecil
79 Pesta perayaan kehamilan
80 Bencana di tengah pesta
81 Kegilaan Diana
82 Back to the future
83 Dia kembali
84 Masih mengganggu
85 Menolak jatuh di lubang yang sama
86 Gelandangan?
87 Ashlan Joan Arlen
88 Sekarang, berbahagialah!
89 Hai, apa kabar?
90 Jarak yang ku tempuh demi dirimu
91 Pengusiran ulat bulu
92 Bertemu calon mertua
93 Prank calon mertua
94 Aku dan mantanmu
95 Mengulang malam
96 Takdir yang sama?
97 Menengok calon bayi
98 Cincin lamaran
99 Mantan tunangan
100 Ending
101 Epilog
Episodes

Updated 101 Episodes

1
Pengkhianatan
2
Nenek tua dan Novel Misterius
3
Pernikahan
4
Insiden di Ibukota
5
Harga
6
Dia tak datang
7
Diana di mata pelayan
8
Jaim
9
Wajahmu
10
Aku adalah Ratu!
11
Jangan remehkan aku!
12
Diana vs Verona
13
Berubah-ubah
14
Salah paham
15
Ledakan
16
Sihir yang mendadak muncul
17
Rey, siapa?
18
Setelah tragedi
19
Seperti gosip yang tersebar
20
Pertemuan
21
Keluarga?
22
Psikopat
23
Otak udang
24
Pengakuan
25
Buka Hatimu
26
Sisi lain
27
Pasti berhasil
28
Plot twist
29
Trap
30
Situasi tak menguntungkan
31
Stranger
32
Tak mungkin berkhianat
33
Gangguan sebelum pesta
34
Godaan
35
Di pergoki
36
Ayo lakukan 'itu'
37
Imbalan untuk Verona
38
Tentang perasaan orangtua
39
Jadikan aku rumah!
40
Ksatria Martinez
41
Ayah dan rasa bersalahnya
42
Pilihan
43
Khayalan Levrina, mimpi Sean
44
Hukuman untuk Ayah
45
Tempatmu disini, disisiku!
46
Cinta yang berbalas
47
First night
48
Momen haru yang berantakan
49
Kecurigaan Kaisar Sean
50
One by one
51
Memutuskan kembali
52
Kepulangan Grand Duke Windsor
53
Sihir gelap terlarang
54
Kegilaan Duke Hendrick
55
Kegilaan Duke Hendrick II
56
Guru baru
57
Pasca latihan
58
Syarat Tuan Vernand
59
Kejelasan Identitas
60
Tanda Kerajaan
61
Babak Baru
62
Kekasih rahasia Verona
63
The Day
64
Eksekusi Duke Hendrick
65
Perburuan
66
Kilas masa lalu
67
Hukuman
68
Fakta baru
69
Leon, Ashlan (Singa)
70
Sebelum perang
71
Alarick dan Damian
72
In the Dark
73
Kepergian Fionn
74
Hidup terus berlanjut
75
Kisah akhir Levrina
76
Mungkin kisah cinta yang lain
77
Kabar bahagia?
78
Malaikat kecil
79
Pesta perayaan kehamilan
80
Bencana di tengah pesta
81
Kegilaan Diana
82
Back to the future
83
Dia kembali
84
Masih mengganggu
85
Menolak jatuh di lubang yang sama
86
Gelandangan?
87
Ashlan Joan Arlen
88
Sekarang, berbahagialah!
89
Hai, apa kabar?
90
Jarak yang ku tempuh demi dirimu
91
Pengusiran ulat bulu
92
Bertemu calon mertua
93
Prank calon mertua
94
Aku dan mantanmu
95
Mengulang malam
96
Takdir yang sama?
97
Menengok calon bayi
98
Cincin lamaran
99
Mantan tunangan
100
Ending
101
Epilog

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!