Aku adalah Ratu!

Bab 10

Sudah seminggu semenjak insiden Diana melihat wajah Ashlan dengan sangat gamblang didalam kamar malam itu. Dan, sudah sejak saat itu pula, Ashlan seolah menghindari pertemuan dengan Diana. Lelaki itu tak lagi nampak dan seolah menghilang bak ditelan bumi dari hadapan Diana. Entah kemana perginya, namun Diana cukup sadar diri bahwa Ashlan hanya terkhusus tak ingin bertemu dengannya.

Tak apa. Diana tak terlalu mempermasalahkan hal itu sebenarnya. Justru, dengan begini, ia jadi lebih leluasa untuk mempelajari beberapa hal dan juga berusaha untuk membuat para bangsawan melihat dan mengakui keberadaan dirinya sebagai Ratu di kerajaan mereka.

"Apa Anda mulai betah tidur sekamar dengan saya, Yang Mulia?" tanya Ksatria Bennett saat Ashlan baru saja tiba dan menghempaskan bobotnya begitu saja diatas tempat tidur miliknya.

Ya, selama seminggu 'minggat' dari kamarnya sendiri, Ashlan jadi menginap ditempat Ksatria Bennett.

Ashlan berdecak sebal. Di lemparnya bantal ke arah sang Ksatria penjaga sekaligus saudara sepupunya itu.

"Ini masih wilayah istanaku. Aku berhak tidur dimanapun yang aku mau," gerutunya kesal.

Ksatria Bennet tertawa sambil memungut bantal yang tergeletak dilantai usai membentur lengannya tadi. Ia sebenarnya bisa menghindar, hanya saja ia merasa tak harus melakukan hal itu. Toh, dipukul dengan bantal sebanyak apapun, sakitnya juga pasti tak akan terasa.

"Apa Anda tidak berniat menemui Ratu dan bicara baik-baik dengan beliau mengenai masalah ini?" tanya Ksatria Bennett hati-hati.

"Tidak ada yang perlu dibicarakan," balas Ashlan dengan mata terpejam. Lengan kanannya ia jadikan bantalan kepala sementara tangan kirinya berada diatas perut sixpack-nya.

"Tapi, Ratu mungkin saja akan membicarakan mengenai kondisi wajah Anda kepada orang lain. Apa Anda tidak cemas?"

Mata Ashlan kembali terbuka lebar. Lelaki itu menghela nafas kasar lalu terbangun untuk menegakkan punggungnya.

"Akan ku bunuh wanita itu jika berani membuka mulut mengenai wajahku," geram Ashlan dengan tangan terkepal.

"Anda tega pada perempuan yang Anda sukai?"

Ashlan mendelik ke arah sepupunya. Sepasang mata itu seolah mempertanyakan ucapan Ksatria Bennett barusan.

"Saya tahu alasan sebenarnya Anda ingin menikahi Ratu pada saat itu." Mengambil jeda sebelum melanjutkan. " Mata itu," Ksatria Bennet menunjuk sepasang netra abu-abu milik sepupunya. "Mereka memberi tahu saya alasannya meski mulut Anda lantang mengucapkan hal yang sebaliknya."

"Memangnya, apa yang kau lihat dari sepasang mataku, Rick?"

Ksatria Bennett tersenyum penuh arti. "Cinta."

"Cih, jangan bodoh! Tidak ada cinta dalam kamus hidupku, Rick!" Ashlan membuang muka. Sebisa mungkin meyakinkan diri sendiri bahwa anggapan sepupunya itu salah besar.

"Apa yang salah dengan jatuh cinta, Yang Mulia? Hal itu sama sekali bukan dosa. Anda juga berhak melakukannya."

Nafas Ashlan kian tak teratur. Wajahnya semakin ia hadapkan ke arah lain demi menghindari tatapan milik Ksatria Bennet. Kedua tangannya saling meremas kuat. Bukti kegelisahan yang tak dapat terbantahkan.

"Kau tahu sendiri bahwa aku ditakdirkan untuk tak memiliki siapapun di sisiku, Rick!" lirih Ashlan.

"Tapi, Anda masih memiliki kesempatan untuk mengubah takdir itu," balas Ksatria Bennett.

Ashlan tertunduk. Bibir tipisnya menyunggingkan senyum yang sarat akan luka. Sepasang netranya mulai mengembun. Sesaat kemudian, ia memberanikan untuk mengangkat kepalanya menghadap Ksatria Bennett.

"Tapi, bagaimana jika dalam proses mengubah takdir itu, aku malah merasakan kehilangan lagi, Rick?"

Ksatria Bennett terdiam. Ia paham akan trauma mendalam yang dirasakan oleh Ashlan. Tentang bagaimana buruknya masa lalu dan tentang bagaimana pahitnya cara dia harus kehilangan.

*

"Mulanie, tolong minta seseorang untuk mengirimkan undangan ini kepada beberapa petinggi kerajaan dan kaum bangsawan yang berpengaruh di negeri ini!" titah Diana kepada Mulanie.

Gadis yang diberi perintah masih mematung ditempatnya sambil memperhatikan nama-nama yang tertera disurat tersebut. Wajahnya seperti tidak percaya akan tindakan yang baru saja diminta oleh sang Ratu kepadanya.

"Kenapa masih diam?" tegur Diana yang tidak melihat pergerakan apapun dari Mulanie.

"Ma-maaf, Yang Mulia. Anda sungguh-sungguh akan mengundang mereka?" tanya Mulanie ragu.

Diana mengangguk. "Tentu saja. Memangnya, wajahku terlihat sedang bercanda, Lani?"

"Ta-tapi...,"

"Sudahlah!" Diana menaikkan telapak tangannya. "Lakukan saja apa yang aku perintahkan tanpa banyak bertanya!" tegasnya.

Mau tak mau, Mulanie mengangguk dan melaksanakan perintah sang Puan. Ini memang tugasnya meski sebenarnya ia sedikit ragu akan tindakan yang diambil oleh sang Ratu.

"Kalau boleh tahu, kenapa Anda mengundang mereka kemari, Yang Mulia?" tanya Mulanie yang tak mampu lagi memendam rasa penasarannya.

Pertanyaan itu mengudara selepas dirinya melaksanakan titah Diana dan kembali ke ruangan dimana gadis berambut kecoklatan tersebut tampak serius membaca dan mempelajari beberapa dokumen kerajaan yang sudah lama terbengkalai.

"Nanti kau juga akan tahu, Lani." Hanya itu jawaban Diana. Sang Ratu lebih memilih fokus pada lembaran kertas tua yang memenuhi mejanya. Banyak yang harus ia pelajari jika ingin tetap bertahan dan memperoleh pengakuan.

Keesokan harinya, beberapa orang yang diundang Diana akhirnya datang ke istana. Gadis itu merasakan jantungnya berdegup kencang karena rasa gugup yang mendadak menyerang. Hanya ada 3 orang yang datang dari 20 orang yang ia undang. Namun, meski begitu, Diana cukup bersyukur dan setidaknya merasa senang karena masih ada orang yang tidak benar-benar mengabaikannya.

Berbekal nekat dan senyum terpaksa, Diana menyambut ketiga tamunya dan meminta mereka untuk duduk di meja makan. Sengaja, hari ini ia kembali turun tangan ke dapur untuk memasak demi mengambil hati para petinggi kerajaan tersebut. Namun, tampaknya semua tak berjalan lancar karena sedari tadi ketiganya hanya menampakkan raut wajah datar dan tatapan tak suka ke arah Diana.

"Katakan, Yang Mulia! Apa tujuan Anda memanggil kami kemari?" Duke Verdi Stone membuka topik utama usai meletakkan sendok garpunya dengan rapi di sisi piring. Lelaki berkisar 46 tahunan tersebut menatap dingin ke arah Diana yang langsung tersedak begitu ditodong dengan pertanyaan yang tiba-tiba.

"Uhukk...," Diana terbatuk dan Mulanie antusias memberinya air minum.

Ketiga orang itu tak bereaksi. Mereka masih menantikan Diana memberi jawaban. Sambil menghela nafas dalam, Diana mulai menegakkan punggungnya. Meski kedua lututnya kini sudah terasa sangat lemas, namun sebisa mungkin ia menutupi rasa gugup itu dengan keberanian yang masih tersisa sedikit.

"Aku ingin kalian mengajariku, tentang apa saja tugas seorang Ratu dalam dunia politik kerajaan!" jawabnya dengan nada tenang.

Ketiga bangsawan tersebut saling beradu pandang. Saling menganggukkan kepala untuk meyakinkan bahwa yang mereka dengar tidaklah salah.

"Anda ingin turun tangan dalam urusan kerajaan, Yang Mulia?" Kali ini, Duke Baron Lant, yang bertanya mewakili. Tatapannya tampak begitu meremehkan Diana.

"Memangnya, kenapa? Ada yang salah?"

Duke Lant tertawa. Lelaki yang menjabat sebagai menteri yang menangani jalur perdagangan tersebut semakin menampakkan tatapan merendahkannya.

"Pantaskah seorang bangsawan berpangkat tinggi, tertawa sedemikian keras dihadapan Ratunya, Duke Lant?" Diana menggebrak meja sambil berseru dengan lantang.

Seketika, tawa Baron Lant terhenti. Sementara, dua orang bangsawan lain juga tak kalah terkejutnya melihat ketegasan sang Ratu.

"Aku tidak tahu mengenai rumor apa saja yang tersebar mengenai diriku di luar sana. Tapi, tetap saja posisiku di Kerajaan ini adalah seorang Ratu yang sah secara hukum. Terlepas darimana asalku, aku tetaplah ibu negara yang wajib kalian hormati!"

Ketiga bangsawan tersebut saling bertukar pandang. Tentu mereka tak percaya akan apa yang mereka lihat hari ini. Ratu yang katanya begitu lemah, justru malah mampu membuat ketiganya seperti mangsa dihadapan predator betina.

"Maafkan atas kelancangan kami, Yang Mulia!" Von Habsburg, pemimpin keluarga Habsburg sekaligus menteri pertahanan negara mewakili teman-temannya untuk meminta maaf.

"Duke Habsburg, kenapa Anda harus meminta maaf? Bukankah kalian memang menganggap rendah kedudukanku selama ini?" tanya Diana dengan nada rendah. Sepasang matanya menatap nyalang Von Habsburg yang semakin menampakkan raut tak enak.

"Anda salah paham, Yang Mulia," sangkal Duke Habsburg.

Diana melipat kedua tangannya didepan dada. Netra kehijauan itu tampak bersinar sesaat kala sang empu semakin menampakkan keberanian.

"Kalau begitu, jelaskan padaku! Dimana letak kesalahpahamannya?"

Terpopuler

Comments

Rierudi Laras

Rierudi Laras

Good job ratu

2025-03-09

0

Nailott

Nailott

bgus ratu diana.

2024-07-22

0

remahan off

remahan off

Diana yang sangat tangguh dan berani tidak ada rasa takut sama sekali saya sangat suka dgn pratagonis di Novel ini.

2022-08-24

8

lihat semua
Episodes
1 Pengkhianatan
2 Nenek tua dan Novel Misterius
3 Pernikahan
4 Insiden di Ibukota
5 Harga
6 Dia tak datang
7 Diana di mata pelayan
8 Jaim
9 Wajahmu
10 Aku adalah Ratu!
11 Jangan remehkan aku!
12 Diana vs Verona
13 Berubah-ubah
14 Salah paham
15 Ledakan
16 Sihir yang mendadak muncul
17 Rey, siapa?
18 Setelah tragedi
19 Seperti gosip yang tersebar
20 Pertemuan
21 Keluarga?
22 Psikopat
23 Otak udang
24 Pengakuan
25 Buka Hatimu
26 Sisi lain
27 Pasti berhasil
28 Plot twist
29 Trap
30 Situasi tak menguntungkan
31 Stranger
32 Tak mungkin berkhianat
33 Gangguan sebelum pesta
34 Godaan
35 Di pergoki
36 Ayo lakukan 'itu'
37 Imbalan untuk Verona
38 Tentang perasaan orangtua
39 Jadikan aku rumah!
40 Ksatria Martinez
41 Ayah dan rasa bersalahnya
42 Pilihan
43 Khayalan Levrina, mimpi Sean
44 Hukuman untuk Ayah
45 Tempatmu disini, disisiku!
46 Cinta yang berbalas
47 First night
48 Momen haru yang berantakan
49 Kecurigaan Kaisar Sean
50 One by one
51 Memutuskan kembali
52 Kepulangan Grand Duke Windsor
53 Sihir gelap terlarang
54 Kegilaan Duke Hendrick
55 Kegilaan Duke Hendrick II
56 Guru baru
57 Pasca latihan
58 Syarat Tuan Vernand
59 Kejelasan Identitas
60 Tanda Kerajaan
61 Babak Baru
62 Kekasih rahasia Verona
63 The Day
64 Eksekusi Duke Hendrick
65 Perburuan
66 Kilas masa lalu
67 Hukuman
68 Fakta baru
69 Leon, Ashlan (Singa)
70 Sebelum perang
71 Alarick dan Damian
72 In the Dark
73 Kepergian Fionn
74 Hidup terus berlanjut
75 Kisah akhir Levrina
76 Mungkin kisah cinta yang lain
77 Kabar bahagia?
78 Malaikat kecil
79 Pesta perayaan kehamilan
80 Bencana di tengah pesta
81 Kegilaan Diana
82 Back to the future
83 Dia kembali
84 Masih mengganggu
85 Menolak jatuh di lubang yang sama
86 Gelandangan?
87 Ashlan Joan Arlen
88 Sekarang, berbahagialah!
89 Hai, apa kabar?
90 Jarak yang ku tempuh demi dirimu
91 Pengusiran ulat bulu
92 Bertemu calon mertua
93 Prank calon mertua
94 Aku dan mantanmu
95 Mengulang malam
96 Takdir yang sama?
97 Menengok calon bayi
98 Cincin lamaran
99 Mantan tunangan
100 Ending
101 Epilog
Episodes

Updated 101 Episodes

1
Pengkhianatan
2
Nenek tua dan Novel Misterius
3
Pernikahan
4
Insiden di Ibukota
5
Harga
6
Dia tak datang
7
Diana di mata pelayan
8
Jaim
9
Wajahmu
10
Aku adalah Ratu!
11
Jangan remehkan aku!
12
Diana vs Verona
13
Berubah-ubah
14
Salah paham
15
Ledakan
16
Sihir yang mendadak muncul
17
Rey, siapa?
18
Setelah tragedi
19
Seperti gosip yang tersebar
20
Pertemuan
21
Keluarga?
22
Psikopat
23
Otak udang
24
Pengakuan
25
Buka Hatimu
26
Sisi lain
27
Pasti berhasil
28
Plot twist
29
Trap
30
Situasi tak menguntungkan
31
Stranger
32
Tak mungkin berkhianat
33
Gangguan sebelum pesta
34
Godaan
35
Di pergoki
36
Ayo lakukan 'itu'
37
Imbalan untuk Verona
38
Tentang perasaan orangtua
39
Jadikan aku rumah!
40
Ksatria Martinez
41
Ayah dan rasa bersalahnya
42
Pilihan
43
Khayalan Levrina, mimpi Sean
44
Hukuman untuk Ayah
45
Tempatmu disini, disisiku!
46
Cinta yang berbalas
47
First night
48
Momen haru yang berantakan
49
Kecurigaan Kaisar Sean
50
One by one
51
Memutuskan kembali
52
Kepulangan Grand Duke Windsor
53
Sihir gelap terlarang
54
Kegilaan Duke Hendrick
55
Kegilaan Duke Hendrick II
56
Guru baru
57
Pasca latihan
58
Syarat Tuan Vernand
59
Kejelasan Identitas
60
Tanda Kerajaan
61
Babak Baru
62
Kekasih rahasia Verona
63
The Day
64
Eksekusi Duke Hendrick
65
Perburuan
66
Kilas masa lalu
67
Hukuman
68
Fakta baru
69
Leon, Ashlan (Singa)
70
Sebelum perang
71
Alarick dan Damian
72
In the Dark
73
Kepergian Fionn
74
Hidup terus berlanjut
75
Kisah akhir Levrina
76
Mungkin kisah cinta yang lain
77
Kabar bahagia?
78
Malaikat kecil
79
Pesta perayaan kehamilan
80
Bencana di tengah pesta
81
Kegilaan Diana
82
Back to the future
83
Dia kembali
84
Masih mengganggu
85
Menolak jatuh di lubang yang sama
86
Gelandangan?
87
Ashlan Joan Arlen
88
Sekarang, berbahagialah!
89
Hai, apa kabar?
90
Jarak yang ku tempuh demi dirimu
91
Pengusiran ulat bulu
92
Bertemu calon mertua
93
Prank calon mertua
94
Aku dan mantanmu
95
Mengulang malam
96
Takdir yang sama?
97
Menengok calon bayi
98
Cincin lamaran
99
Mantan tunangan
100
Ending
101
Epilog

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!