Arcane menjelaskan secara singkat apa itu pupuk, bagaimana cara membuatnya, dan bagaimana menggunakannya.
meskipun ini adalah ibukota kerajaan asgar namun tidak ada alasan untuk para petani tidak mengunjungi ibu kota untuk menjual hasil panen dan membeli kebutuhan lainnya, di sekitar ibu kota juga ada persawahan untuk menunjang kebutuhan pangan di kota.
mendengar rencana Arcane mereka semua akhirnya setuju apalagi menurut mereka apa yang akan di lakukan Arcane tidak hanya membuat mereka menambah penghasilan namun juga membuat mereka merawat bangunan yang mereka tinggali.
setelah setuju mereka semua langsung bahu membahu membersihkan halaman yang akan di gunakan sebagai kandang.
namun melihat mereka semua melakukan pekerjaan secara manual Arcane sedikit bingung.
"tunggu kalian tidak menggunakan sihir saja supaya bisa lebih cepat selesai? "
pertanyaan Arcane sontak menjadi perhatian sesaat dan mereka semua mulai tertawa, setelah puas tertawa Brian menghampiri Arcane dan membalas.
"hahahahahaha.... hei Arcane kami rakyat biasa saja sulit untuk mempelajari sihir apalagi mereka yang sedari kecil harus bekerja untuk sepotong roti"
"heh?... lalu kenapa beberapa pedagang di pasar bisa menggunakan sihir? "
"mereka berbeda, pasti ada yang mengajari mereka dari orang tua atau majikan baik yang mereka layani...
aku sendiri saja hanya bisa mengeluarkan api sebesar jempol saja"
jelas Brian sambil mempraktikkan apa yang ia katakan, Arcane hanya mengangguk dan menoleh kepada Samuel
Samuel yang sadar ia kemudian menjawab.
"jangan menoleh kepadaku, aku juga hanya bisa melakukan sihir sederhana seperti mengukir dan membentuk benda...
yah sihir dasar dari almarhum guruku yang sekaligus pengurus panti ini sebelumnya"
Arcane paham akan kondisi yang mereka alami, dan intinya sihir juga setiap orang harus terus di latih karena keterbatasan dan pelitnya pemerataan edukasi.
Arcane kemudian berjongkok di depan tanah yang telah di bersihkan lalu beberapa saat kemudian tangan Arcane bercahaya dan keajaiban terjadi.
"crack.... srrrt... brak"
suara tanah retak dan membentuk pondasi, tidak hanya tanah biasa namun pondasi itu telah di perkuat dan mengeras menjadi batu.
Arcane melakukannya beberapa kali di tempat yang telah di persiapkan, setelah selesai dengan pondasinya ia berdiri dan merentangkan tangannya.
setelah itu tubuhnya bercahaya dan tanah kembali bergerak, kali ini tanah itu mencuat keluar dan membentuk sebuah pagar yang cukup tinggi dan kokoh.
Arcane memeriksa kondisi kandang itu dan mengangguk.
"ok sepertinya berhasil"
begitu ia berbalik Arcane mendapati Brian yang berlari dan mencengkram pundaknya.
"ARCANE!!! APA ITU!! BAGAIMANA CARA MELAKUKAN ITU!!
KENAPA KAU TIDAK BILANG KAU BISA MENGGUNAKAN SIHIR SEGAMPANG ITU!!!"
Brian mencengkram Arcane sambil menggoyang tubuhnya dengan kuat.
"eeeeweeee.... ttuuunghhuuu... aaakuuu puuussiiiing"
sadar dengan kelakuannya Brian pun berhenti.
"ehem jelaskan ini!!"
"brrrm.... ehem aduh.... "
belum sempat menjelaskan beberapa anak kecil datang mengelilingi Arcane dan menatap dirinya dengan mata yang bersinar.
"eh... kalian kenapa? "
"kakak kereen"
"benar kau keren Arcane, bisakah kau mengajariku!? "
"benar ajari aku juga!! "
....
mulai dari anak-anak kecil dan beberapa pemuda berharap untuk di ajari oleh Arcane, sementara ia sediri hanya bisa tersenyum menanggapi permintaan mereka.
singkat cerita Arcane menceritakan bagaimana ia belajar sihir (tentu sana ia berbohong) dan Setuju untuk mengajar sihir kepada mereka besok dan untuk sekarang mereka masih harus menyelesaikan sisa pekerjaan mereka.
"ngomong-ngomong bagaimana kau bisa kenal dengan mereka? "
Brian menoleh dan berfikir sejenak.
"yah mungkin itu hanyalah kebetulan semata?
soalnya ketika kecil ketika aku tersesat aku bertemu mereka, yah selanjutnya aku mulai akrab dengan mereka"
Arcane hanya mengangguk paham.
"tunggu bukannya kau sekarang juga masih kecil?
berarti sekecil apa kau dulu? "
-- menjelang sore--
setelah mereka semua selesai melakukan pekerjaan Arcane dan Brian pun berpamitan dan kemudian pulang.
seperti biasa Arcane selalu di temukan oleh Eliana, namun hari ini ketika ia selesai membersihkan diri tiba-tiba ketika akan membuka pintu Elisabeth berada tepat di depan pintunya.
Arcane terkejut dengan hal itu namun kelihatannya Elisabeth memiliki urusan lain terlihat dari sebuah kertas yang langsung di berikan kepada Arcane.
"Arcane persiapkan dirimu 7 hari lagi kau akan bertemu dengan saudara mu yang lain"
Arcane menerima surat itu dan bingung.
"apa ini? undangan apa? "
Elisabeth menghela nafas dan menjawab.
"itu adalah undangan untuk pemberkatan, kita memiliki tradisi dimana pangeran atau putri di umur 15 tahun harus di berikan berkat oleh Raja sebelumnya atau raja saat ini sendiri.
singkatnya acara pengenalan anggota kerajaan kepada rakyat"
Arcane mengangguk dan membalas.
"apakah aku harus menghadirinya? "
"sebenarnya tidak karena umurmu masih 7 tahun namun kau harus datang karena beberapa orang memaksa dirimu untuk datang dan peraturannya juga di rubah sedikit"
"ok kalau gitu aku tidak usah ikut, dadah... "
mendengar jawaban itu Elisabeth langsung menjewer Arcane untuk menahannya.
"heeeh.... apa kau bilang!? "
"adededeh sakiiiit..!!!! "
"kau harus datang... "
"kenapa? "
Elisabeth melepaskan Jewerannya dan kemudian menjelaskan.
"sebenarnya meskipun itu di bilang pemberkatan namun sebenarnya acaranya sendiri tidak seperti memberkati di istana atau apapun.
namun acara itu adalah kau harus berburu sebuah binatang entah apapun itu, dan kau harus membawanya kehadapan seluruh keluarga raja dan setelah itu kau akan diberikan benda apapun itu"
Arcane bingung dan membalas.
"itu saja? "
Elisabeth mengangguk.
"benar... itu saja"
"ohh.... lalu sebelumnya apa saja yang di buru Ya khususnya ayah"
Elisabeth berfikir sejenak sebelum menjawab.
"tidak terlalu spesial, hanya seekor serigala"
"ohhh...... "
"apanya yang oh? kau juga harus mulai berlatih untuk mempersiapkan perburuan!! "
Arcane hanya menatap bisa Elisabeth dan menjawab dengan berlari.
"tidak.... aku malas, lagian kan aku tinggal menangkap hewan apapun yang aku lihat dan selesai.... tak perlu terlalu rumit laah... "
"Arcaaaane.....!!! "
keesokan paginya Elisabeth berkeliling mencari Arcane di sekitar kediaman bahkan beberapa pelayanan dan penjaga juga dimintai bantuan namun tidak di temukan.
Elisabeth bahkan memeriksa di tempat Arcane biasanya berlatih namun sepertinya tempat itu seperti tidak di gunakan selama beberapa saat terlihat dari bentuk tempat itu yang tak terawat meskipun bentuknya tidak karuan.
setelah menyerah tidak menemukan Arcane Elisabeth melakukan cara terakhir dan paling aneh yang ia pikirkan.
iya, benar.... ia bertanya kepada adik perempuan Arcane, Eliana yang masih belia untuk menemukannya.
konyol memang namun sesungguhnya Elisabeth sudah menyerah untuk mencarinya kemanapun, sebenarnya ia sedikit curiga karena Arcane belakangan ini menghilang setiap siang dan akan muncul ketika matahari akan terbenam namun ia mencoba untuk menepis hal itu.
"jadi Eliana sayang apakah kau mau membantu ibu? "
Eliana menatap Elisabeth dengan polos sebelum menjawab.
"kakak Arcane? kenapa ibu? "
"kakak ada sesuatu yang harus di urus, maka dari itu ibu mencarinya... "
"oh seperti itu"
setelah menjawab hal itu Eliana bermain dengan bonekanya sebentar dan keluar ruangan bermainnya.
namun ketika ia baru membuka pintu ia berbalik menuju ibunya.
"ibu.... sepertinya kakak menghilang"
Elisabeth bingung dan bertanya.
"menghilang? maksudnya? "
Eliana berfikir sejenak dan kemudian menjawab.
"entah lah ibu sepertinya kakak memang tidak ada di rumah"
"PELAYAN!!!.... PELAYAN!! ... "
Elisabeth kemudian baru tersadar dan kemudian memanggil pelayan dan menyuruh mereka beserta tukang kebun untuk menyusuri kediaman.
tentu saja tak lama setelah itu mereka menemukan sebuah lubang yang tertutup semak, dan karena lubang itu terdapat pula sebuah jejak kaki kecil anak 7 tahunan.
"AAARCAAAANEEEE!!!!!....... "
"JDAAR!!!!!...... "
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 151 Episodes
Comments
Evenflow
Naiss
2022-08-18
0
Iam a A
crazy up thor
2022-08-18
1
Iam a A
mantap
2022-08-18
0