Brian terkejut dengan usul Arcane ia kemudian berfikir sebentar.
"hmm... sepertinya boleh juga, namun apa yang akan kita jual? "
Arcane tersenyum dan kemudian membisikkan beberapa hal yang membuat Brian terus menerus merubah wajahnya, ayahnya Brian melihat kedua anak itu hanya tersenyum dan menggeleng melihat tingkah kedua anak itu.
sesaat kemudian Brian langsung berdiri dan menepuk dadanya.
"hahaha.... bagus juga idemu, baik aku akan mengurusnya.
untuk personilnya aku memiliki kandidat yang tepat, lagipula mereka pastinya tidak akan menolak tawaran ini.... "
Arcane mengacungkan jempolnya dan kemudian langsung berbalik pergi.
"sip.... kalau begitu aku pulang dulu, besok setelah mengambil hasil buruan kita akan membahas lebih jauh"
"hahaha... tenang kau bisa menyusul ku di rumah datanglah kapanpun bahkan ketika matahari belum muncul"
Arcane pulang ke rumahnya namun sayangnya ia kali ini terlambat, apesnya ia juga di temukan oleh adik dan ibunya.
mungkin lebih tepat yang menemukannya adalah adiknya karena ketika ketahuan ketika memasuki pintu belakang adiknya tiba-tiba memeluk kakinya, namun sayangnya kali ini ia di ikuti oleh ibunya.
"oh... kau ternyata sekarang mulai belajar untuk terlambat dan tidak ijin ketika bermain di luar!? "
sebenarnya bukan kali pertama Arcane lolos dari pengawasan para pelayan karena bagaimanapun juga ada beberapa pelayan yang akan melapor kepada Sebastian dan Elisabeth kemana saja dia bermain.
meskipun ia menuju hutan belakang sesekali ada seorang pelayan yang akan memeriksa tanpa sepengetahuan Arcane, dan tentu saja Arcane tidak tau kalau ibunya mengetahui tentang bakat nya.
itulah mengapa ia membiarkan Arcane berbuat sesukanya dan semakin melonggarkan pengawasannya, namun yang tidak di ketahui oleh Elisabeth adalah Arcane yang sering keluar diam-diam yang ia anggap latihan seperti biasanya.
Arcane yang ketahuan pun hanya bisa menundukkan kepalanya.
"maaf ibu... "
"tidak tidak ada maaf.... kau tau kan terakhir kali kau terlambat hukumannya apa? "
"ku- kurungan 3 hari? "
Elisabeth mengangguk karena Arcane masih ingat.
"bagus....namun sekarang hukumanmu adalah tidak boleh keluar dari kediaman selama 7 hari kau paham!? "
Arcane terkejut dan kemudian menatap ibunya.
"ha? 7 Hari!? tapi bu!! "
sebelum Arcane selesai berbicara Elisabeth memotongnya.
"tidak ada tapi-tapi, daripada kau keluar untuk bermain sendiri bukankah lebih baik ku itu menjaga adikmu ini!! ,ingat kau itu telah menjadi seorang kakak!!!"
Arcane hanya bisa menghela nafas dan mengangguk.
"ia ibu"
kemudian ia pergi dengan lesu beserta Eliana yang mengikutinya dari belakang sembari menghibur Arcane yang sedang sedih.
-- keesokan harinya --
pada waktu subuh Arcane menyelinap keluar dari balkon jendelanya, tidak perlu khawatir tentang ketinggian bangunan meskipun sebenarnya kamar Arcane berada di lantai 2 karena ia memiliki sihir ia tinggal menggunakan sihir angin untuk melayang sejenak dan mendarat dengan aman.
ia menyelinap melewati para penjaga dan beberapa pelayan yang telah terbangun untuk bekerja.
setelah berhasil keluar ia langsung menuju rumah Brian, ia menemukan temannya itu sedang di luar membantu ibunya menyiapkan dagangan.
"Hai... kau sibuk Ya"
"astaga!!!.... Arcane kau Mengagetkanku... "
"hehehe.... maaf kau sedang apa? sini aku bantu"
Brian tinggal di wilayah pemukiman dekat pasar biasanya pemukiman ini sebagai besar di huni oleh pemilik toko maupun pedagang meskipun daya jualnya tidak seberapa namun cukup untuk kebutuhan sehari-hari.
untuk Brian sebenarnya mereka menjual makanan sejenis Soup daging siap saji, biasanya mereka hanya menjual Soup sayur dan soup ayam namun berkat Arcane yang menjual hewan buruannya keluarga itu bisa mengkreasikan rasa Soup yang lebih bervariasi dan mendapatkan lebih banyak pelanggan.
setelah melakukan persiapan kedua anak itu langsung pergi melihat perangkap yang telah mereka pasang sebelumnya.
keduanya langsung menuju tembok kota dan memasuki saluran irigasi seperti biasanya, karena masih pagi buta penglihatan tidak terlalu baik alhasil keduanya harus berhati-hati.
seperti biasanya mereka mencari tanaman herbal dan kemudian melihat buruan mereka yang kini semakin bervariasi.
selain kelinci, ayam, landak, beberapa jebakan ternyata mendapatkan ular yang cukup besar, Arcane melihat kalau ular itu sejenis piton dan Arcane tidak ragu untuk membunuh dan mengambilnya.
selain itu mereka juga mendapatkan hasil yang cukup besar yaitu seekor babi hutan, dan tak menunggu lama keduanya langsung membunuh babi itu dan membawanya ke rumah Brian.
namun ada kejanggalan di mana salah satu jebakan telah rusak, mereka hanya mengira kalau jebakan itu tidak bisa menahan hewan yang terjebak di sana dan berhasil lolos.
"bagaimana? "
"yah sepertinya memang hewan yang cukup besar Brian, soalnya jika dimangsa tidak ada jejak darah atau perlawanan di sini"
"yah benar juga, kalau gitu kita sebaiknya memasang lagi jebakannya.
kurasa kita sudah mendapatkan cukup banyak buruan Arcane, juga aku sepertinya mulai lapar"
"kau benar Brian ayo kalau begitu"
keduanya langsung kembali dan mereka tidak menyadari kalau ada sebuah jejak kaki hewan predator di sana dan tak jauh dari sana ada seekor babi hutan yang telah tercabik-cabik.
keduanya kembali, dan karena waktu masih cukup pagi dan toko obat belum buka mereka langsung ke rumah Brian dengan menggotong hewan buruan meskipun dengan susah payah.
ibu Brian yang berada di rumah tentu saja terkejut dengan hasil buruan kedua anak kecil itu.
"astaga!!! ... kalian benar mendapatkan ini!? "
Brian tersenyum lebar dan dengan membusungkan dada ia berkata.
"hehehe..... tentu saja, dengan ini kita bahkan bisa pesta daging selama 3 hari penuh.
benar kan Arcane!? "
Arcane sedikit Bingung.
"he? aku!? "
"benar... siapa lagi? "
"tapi aku kan.... "
"sudahlah... jangan malu-malu seperti itu... anggap saja rumah sendiri... benar kan bu? "
ibu Brian tersenyum dan menjawab.
"benar Arcane, mulai sekarang kau bisa makan di sini jika kau mau.
berkatmu juga pemasukan kami telah naik"
Arcane dengan malu mengangguk.
"hehehe, baik tante terimakasih... "
setelah membereskan dan menyimpan hasil buruan mereka makan dengan lahap meskipun hanya sebuah Soup dan roti, namun bagi Arcane asalkan kenyang ia tidak masalah sama sekali.
setelah selesai makan keduanya langsung keluar dan menuju ke sebuah tempat.
"Brian kita mau kemana? "
Brian yang memimpin jalan menjawab tanpa berbalik.
"katamu kau memiliki ide bisnis kan?
lebih baik ke tempat itu saja karena di sana juga ada lebih dari cukup orang yang kau butuhkan untuk menjalankan rencana bisnis itu.
lagipula kemungkinan kita juga akan mendapatkan tempat untuk memproduksinya"
Arcane bingung dan dan kemudian mengikuti Brian tanpa bertanya kembali, meskipun ia sebenarnya sedikit penasaran dengan tempat yang di bicarakan.
setelah beberapa saat kemudian keduanya sampai di sebuah gedung yang cukup besar, namun sayangnya kondisi gedung itu cukup memprihatinkan.
"aaa.... Brian, apakah kau tidak salah tempat? "
Brian tersenyum dan menjawab dengan yakin.
"aku tau kau meragukan penampilan bangunan reot ini namun meskipun begitu bangunan ini sangat berarti untuk sebagian orang khususnya untuk mereka yang tidak beruntung"
bangunan yang di hadapan mereka adalah bangunan 3 lantai dengan tumbuhan yang menutupi setiap jengkal bangunan, halaman dan bahkan pagar besi yang berkarat.
Arcane tidak tau dengan apa yang di pikiran Brian namun ia bisa menebak bangunan apa yang ada di hadapannya dari papan nama reot di hadapannya.
"panti asuhan..... "
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 151 Episodes
Comments
Kang ngudud
ini mending pake nama bibi bukan tante ngak sih👍
2024-06-21
0
R AN L
jadi tambah yakin aku kalo novel ini pernah revisi tapi blm selesai,soalnya cerita dari Chap 1 sampai 12 aja di revisi 13 dan selanjutnya blm di revisi, soalnya ceritanya kek beda gitu
2024-01-11
0
Jimmy Avolution
Josss...
2023-01-27
0