Arcane sangat fokus dengan pilihan tehnik mana yang harus di ambil, berbeda dengan menciptakan mesin atau menulis program.
tehnik pelatihan tubuh haruslah membuat tubuh mengingat bagaimana caranya bergerak, seperti berlatih silat yang mengharuskan seseorang mengulangi gerakan yaang sama agar tubuh terbiasa dengan posisi atau gerakan yang di latih.
setelah beberapa saat Arcane akhirnya memilih untuk menggunakan tehnik bernafas dan meditasi, ia memilih bukan tanpa alasan.
yang pertama adalah tehnik pernafasan yang dimana setiap mahluk hidup membutuhkan nafas dan jika Arcane bisa menguasai tehnik ini maka dalam pertarungan mananya akan terus terisi namun kelemahannya ia tidak akan bisa mengisi mana jika dalam kondisi menyelam karena ia tidak mempunyai insang, lalu dengan cara ini ia juga memiliki kelebihan untuk bertarung lebih lama dan tidak gampang kehabisan energi.
lalu untuk meditasi ia gunakan sebagai cadangan karena ia memilih tehnik ini supaya indranya menjadi semakin tajam apalagi semakin tajam indranya jika mencapai tingkat penguasaan tinggi ia bisa menyerap sebagian kecil mana dari seluruh indranya Terkhusus indra perabanya.
sebenernya Arcane mengakui kalau mustahil mempelajari 2 hal dalam 1 waktu yang bersamaan namun ia hanya ingin menguji sampai mana batasannya karena di dunia sebelumnya ia hanya mengandalkan otaknya.
-- keesokan harinya, pagi hari--
Seperti pagi biasanya ketika Arcane terbangun membersihkan diri dan sarapan, namun bedanya kali ini ia sedikit gemetar karena ibunya masih memasang tampang menyeramkan.
tidak ada obrolan di meja makan pagi itu dan setelah ibunya pergi ke perpustakaan Arcane langsung pergi ke gazebo yang berada di tengah taman kediaman untuk mengolah kembali apa yang ia pelajari semalam.
tidak ada yang spesial dengan hal ini dan Arcane juga meminta untuk tidak di temani, oh...untuk keamanan seluruh kediaman telah di jaga oleh kesatria pilihan ratu Elizabeth sendiri yang pastinya sangat setia dan siapa juga yang ingin membuat onar di kediaman ratu, dan untuk Arcane sendiri seluruh kediaman tau kalau Arcane bukanlah anak ceroboh yang bisa melukai dirinya sendiri.
entah berapa lama Arcane bermeditasi namun ia hanya bisa menguasai sebagian kecil dari kedua tehnik itu dan tidak bisa melakukannya lebih tinggi sekeras apapun.
namun konsentrasi nya buyar ketika mendengar sebuah besi yang saling beradu.
"suara ini... apakah para kesatria sedang berlatih?"
Arcane mencari asal suara itu, ketika sampai Arcane sedikit heran karena waktu sudah menjelang siang namun beberapa kesatria masih atau baru berlatih.
Arcane tanpa ragu mendekat dan mereka yang berada di tempat latihan langsung berhenti dan memberi hormat.
"selamat siang pangeran.... "
"hm... iya"
salah seorang kesatria yang sepertinya adalah kapten kelompok ini mendekat dan bertanya.
"pangeran kenapa anda berada di sini? apakah anda terganggu dengan pelatihan kami? "
Arcane menggeleng dan menjawab.
"ah, tidak paman... hanya penasaran bukankah kalian sudah berlatih di pagi hari? kenapa kalian berlatih kembali? "
kesatria yang di panggil dengan sebutan paman tersenyum dan tertawa kecil sebelum menjawab.
"pangeran mereka kesatria yang menjaga di pagi hingga petang, sedangkan kami menjaga di malam hingga subuh...
kebiasaan kami selalu berlatih sebelum bertugas dan ketika akan beristirahat, dan kami berlatih sekarang karena kami harus pergi keluar untuk mengambil persediaan dengan pelayan dan baru sampai"
Arcane mengangguk dan ia sebenarnya tau kalau para kesatria selalu berlatih di pagi dan sore hari, sebenarnya dari dulu Arcane selalu ingin bergabung namun tubuh fisiknya tidak mengijinkan karena ia selalu bangun ketika para kesatria telah selesai dan akan sangat mengantuk ketika para kesatria berlatih di waktu petang.
meskipun Arcane bisa menahannya para pelayan akan selalu membawanya ke tempat tidurnya di jam itu, dan ia tidak bisa protes akan hal itu.
"paman kesatria bolehkah aku melihat kalian berlatih? "
para kesatria hanya tersenyum sementara sang kapten menjawab.
"tentu saja yang mulia pangeran"
setelah di perbolehkan Arcane memperhatikan cara para kesatria berlatih bersama kapten kelompok itu, seperti yang ia duga mereka melakukan sparing menggunakan pedang, ada juga yang menggunakan belati dan tombak, beberapa juga menembakkan panah kepada target yang tersedia.
Ya mau bagaimana lagi di jaman kerajaan seperti ini mereka menggunakan pedang,tombak dan panah sebagai senjata utama, namun Arcane tidak melihat penyihir yang juga berlatih.
"paman dimana para penyihir? kenapa mereka tidak berlatih juga? "
kesatria itu menoleh dan mengelus kepala Arcane dan menjawab ramah.
"hahaha... meskipun mereka termasuk kekuatan militer mereka hanya keluar ketika ada misi tertentu, jikalau mereka menjaga sebuah tempat ia tidak dapat keluar dengan mudah karena akan di incar musuh, sementara jika untuk menjaga kediaman ini kami sudah lebih dari cukup"
Arcane mengangguk dan jika ada yang bertanya kenapa ia berkata seperti anak kecil polos itu bukan disengaja, itu karena mental seorang anak kecil yang ikut melebur kedalam kepribadian nya.
setelah pembicaraan singkat itu Arcane dengan tenang melihat mereka berlatih, dan Arcane sadar kalau mereka hanya menggunakan seni bertarung menggunakan senjata.
itu terbukti karena selama sesi latihan itu tidak ada yang bertarung menggunakan tangan kosong, Arcane juga baru menyadari bahwa semua kisah yang ia baca di dunia ini tidak ada dari mereka yang bertarung dengan tangan kosong atau lebih tepatnya ilmu bela diri.
kecuali ketika orang itu merusak atau kehilangan senjata dan perisainya ia tidak akan bertarung dengan tangan kosong, bahkan buku usang itu hanya menyebutkan pelatihan tubuh untuk kepentingan sihir atau mana tidak mencakup dalam ilmu bela diri.
mengesampingkan hal itu Arcane kini muka tertarik untuk belajar berpedang.
"anu, paman kesatria... apakah aku juga bisa ikut berlatih? "
mendengar hal itu si kesatria langsung tertawa.
"hahaha.... yang mulia, bukan bermaksud menghina namun sebelum berlatih pedang atau senjata lain Anda harus melatih otot tubuh terlebih dahulu.
itu sebagai pondasi jika tidak, anda bisa melukai diri sendiri dan tidak akan mendapatkan kemajuan apapun, sesungguhnya anda bisa melakukan keduanya asal dalam proporsi yang tepat... "
seketika Arcane langsung sadar, dan menyimpulkan kalau alasan kenapa tehnik pernafasan dan meditasinya berjalan lambat bukan hanya ia belajar keduanya secara bersamaan.
namun juga karena keduanya tidak di selaraskan dan tidak memiliki pondasi yang tepat, seperti itu seperti sebuah robot tempur yang hanya memiliki kecerdasan hebat namun rangka penopang lemah, pelindung luar tipis dan baterai yang buruk.
Arcane bersyukur untuk memutuskan melihat para kesatria berlatih dan menyadari melakukan tindakan yang sis-sia, dan kini ia tinggal membuktikan apakah yang ia pikiran itu benar.
beberapa saat kemudian sesi latihan berakhir tepat ketika siang hari namun ketika beranjak pergi Arcane menghampiri kapten prajurit untuk bertanya 1 hal lagi.
"paman, apa bedanya penyihir dan kesatria? bukankah setiap orang bisa menggunakan sihir? "
kini kapten kesatria itu berlutut dan menjawab.
"meskipun semua orang bisa menggunakan sihir namun tidak semua orang memiliki bakat yang sama.
kami para kesatria lebih pandai bertarung dan melindungi, sementara penyihir lebih pandai dalam belajar.
maka dari itu sihir yang kesatria gunakan sedikit berbeda dari para penyihir, apakah anda paham? "
Arcane berfikir sejenak lalu mengangguk paham, lalu dengan senyuman lebar ia membalas.
"em... aku paham terima kasih pelajarannya paman, kalau begitu aku pergi dulu"
Arcane pun langsung pergi namun dari kejauhan ia berhenti sejenak lalu berbalik dan memberi hormat lalu melambaikan tangannya, para kesatria yang melihat itu tersenyum dan membalas hormat Arcane.
setelah Arcane pergi salah seorang prajurit berkata kepada kapten nya.
"kapten kau seperti menikmatinya, apakah kau rindu dengan kampung halaman? "
kapten prajurit itu menoleh dan tertawa.
"HAHAHAHAHA... semenjak aku mengabdi kepada baginda ratu Elizabeth aku sudah menganggap beliau seperti adikku.
dan kini baginda pangeran memanggilku dengan sebutan paman... hahahaha rasanya aku selalu berada di rumah"
para prajurit lainnya hanya mengangguk paham karena sebagian orang yang bekerja dikediaman ini adalah bawahan langsung ratu Elizabeth ketika ia masih kecil dan anak yatim piatu, terlebih ratu Elizabeth memperlakukan dan merawat mereka dengan baik sehingga kesetiaan mereka sama sekali tidak bisa di ragukan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 151 Episodes
Comments
anhar005
pakek berpikir sejenak segala lagi tolol bet lu ajg/Sob/
2024-01-17
0
anhar005
kek gini jadi ilmuan terhebat sepanjang masa? bocah tolol gitu mana bisa jadi jenius bgst
2024-01-17
0
Jimmy Avolution
Terus...
2023-01-27
0