chapter 5--

Arcane sangat fokus dengan pilihan tehnik mana yang harus di ambil, berbeda dengan menciptakan mesin atau menulis program.

tehnik pelatihan tubuh haruslah membuat tubuh mengingat bagaimana caranya bergerak, seperti berlatih silat yang mengharuskan seseorang mengulangi gerakan yaang sama agar tubuh terbiasa dengan posisi atau gerakan yang di latih.

setelah beberapa saat Arcane akhirnya memilih untuk menggunakan tehnik bernafas dan meditasi, ia memilih bukan tanpa alasan.

yang pertama adalah tehnik pernafasan yang dimana setiap mahluk hidup membutuhkan nafas dan jika Arcane bisa menguasai tehnik ini maka dalam pertarungan mananya akan terus terisi namun kelemahannya ia tidak akan bisa mengisi mana jika dalam kondisi menyelam karena ia tidak mempunyai insang, lalu dengan cara ini ia juga memiliki kelebihan untuk bertarung lebih lama dan tidak gampang kehabisan energi.

lalu untuk meditasi ia gunakan sebagai cadangan karena ia memilih tehnik ini supaya indranya menjadi semakin tajam apalagi semakin tajam indranya jika mencapai tingkat penguasaan tinggi ia bisa menyerap sebagian kecil mana dari seluruh indranya Terkhusus indra perabanya.

sebenernya Arcane mengakui kalau mustahil mempelajari 2 hal dalam 1 waktu yang bersamaan namun ia hanya ingin menguji sampai mana batasannya karena di dunia sebelumnya ia hanya mengandalkan otaknya.

-- keesokan harinya, pagi hari--

Seperti pagi biasanya ketika Arcane terbangun membersihkan diri dan sarapan, namun bedanya kali ini ia sedikit gemetar karena ibunya masih memasang tampang menyeramkan.

tidak ada obrolan di meja makan pagi itu dan setelah ibunya pergi ke perpustakaan Arcane langsung pergi ke gazebo yang berada di tengah taman kediaman untuk mengolah kembali apa yang ia pelajari semalam.

tidak ada yang spesial dengan hal ini dan Arcane juga meminta untuk tidak di temani, oh...untuk keamanan seluruh kediaman telah di jaga oleh kesatria pilihan ratu Elizabeth sendiri yang pastinya sangat setia dan siapa juga yang ingin membuat onar di kediaman ratu, dan untuk Arcane sendiri seluruh kediaman tau kalau Arcane bukanlah anak ceroboh yang bisa melukai dirinya sendiri.

entah berapa lama Arcane bermeditasi namun ia hanya bisa menguasai sebagian kecil dari kedua tehnik itu dan tidak bisa melakukannya lebih tinggi sekeras apapun.

namun konsentrasi nya buyar ketika mendengar sebuah besi yang saling beradu.

"suara ini... apakah para kesatria sedang berlatih?"

Arcane mencari asal suara itu, ketika sampai Arcane sedikit heran karena waktu sudah menjelang siang namun beberapa kesatria masih atau baru berlatih.

Arcane tanpa ragu mendekat dan mereka yang berada di tempat latihan langsung berhenti dan memberi hormat.

"selamat siang pangeran.... "

"hm... iya"

salah seorang kesatria yang sepertinya adalah kapten kelompok ini mendekat dan bertanya.

"pangeran kenapa anda berada di sini? apakah anda terganggu dengan pelatihan kami? "

Arcane menggeleng dan menjawab.

"ah, tidak paman... hanya penasaran bukankah kalian sudah berlatih di pagi hari? kenapa kalian berlatih kembali? "

kesatria yang di panggil dengan sebutan paman tersenyum dan tertawa kecil sebelum menjawab.

"pangeran mereka kesatria yang menjaga di pagi hingga petang, sedangkan kami menjaga di malam hingga subuh...

kebiasaan kami selalu berlatih sebelum bertugas dan ketika akan beristirahat, dan kami berlatih sekarang karena kami harus pergi keluar untuk mengambil persediaan dengan pelayan dan baru sampai"

Arcane mengangguk dan ia sebenarnya tau kalau para kesatria selalu berlatih di pagi dan sore hari, sebenarnya dari dulu Arcane selalu ingin bergabung namun tubuh fisiknya tidak mengijinkan karena ia selalu bangun ketika para kesatria telah selesai dan akan sangat mengantuk ketika para kesatria berlatih di waktu petang.

meskipun Arcane bisa menahannya para pelayan akan selalu membawanya ke tempat tidurnya di jam itu, dan ia tidak bisa protes akan hal itu.

"paman kesatria bolehkah aku melihat kalian berlatih? "

para kesatria hanya tersenyum sementara sang kapten menjawab.

"tentu saja yang mulia pangeran"

setelah di perbolehkan Arcane memperhatikan cara para kesatria berlatih bersama kapten kelompok itu, seperti yang ia duga mereka melakukan sparing menggunakan pedang, ada juga yang menggunakan belati dan tombak, beberapa juga menembakkan panah kepada target yang tersedia.

Ya mau bagaimana lagi di jaman kerajaan seperti ini mereka menggunakan pedang,tombak dan panah sebagai senjata utama, namun Arcane tidak melihat penyihir yang juga berlatih.

"paman dimana para penyihir? kenapa mereka tidak berlatih juga? "

kesatria itu menoleh dan mengelus kepala Arcane dan menjawab ramah.

"hahaha... meskipun mereka termasuk kekuatan militer mereka hanya keluar ketika ada misi tertentu, jikalau mereka menjaga sebuah tempat ia tidak dapat keluar dengan mudah karena akan di incar musuh, sementara jika untuk menjaga kediaman ini kami sudah lebih dari cukup"

Arcane mengangguk dan jika ada yang bertanya kenapa ia berkata seperti anak kecil polos itu bukan disengaja, itu karena mental seorang anak kecil yang ikut melebur kedalam kepribadian nya.

setelah pembicaraan singkat itu Arcane dengan tenang melihat mereka berlatih, dan Arcane sadar kalau mereka hanya menggunakan seni bertarung menggunakan senjata.

itu terbukti karena selama sesi latihan itu tidak ada yang bertarung menggunakan tangan kosong, Arcane juga baru menyadari bahwa semua kisah yang ia baca di dunia ini tidak ada dari mereka yang bertarung dengan tangan kosong atau lebih tepatnya ilmu bela diri.

kecuali ketika orang itu merusak atau kehilangan senjata dan perisainya ia tidak akan bertarung dengan tangan kosong, bahkan buku usang itu hanya menyebutkan pelatihan tubuh untuk kepentingan sihir atau mana tidak mencakup dalam ilmu bela diri.

mengesampingkan hal itu Arcane kini muka tertarik untuk belajar berpedang.

"anu, paman kesatria... apakah aku juga bisa ikut berlatih? "

mendengar hal itu si kesatria langsung tertawa.

"hahaha.... yang mulia, bukan bermaksud menghina namun sebelum berlatih pedang atau senjata lain Anda harus melatih otot tubuh terlebih dahulu.

itu sebagai pondasi jika tidak, anda bisa melukai diri sendiri dan tidak akan mendapatkan kemajuan apapun, sesungguhnya anda bisa melakukan keduanya asal dalam proporsi yang tepat... "

seketika Arcane langsung sadar, dan menyimpulkan kalau alasan kenapa tehnik pernafasan dan meditasinya berjalan lambat bukan hanya ia belajar keduanya secara bersamaan.

namun juga karena keduanya tidak di selaraskan dan tidak memiliki pondasi yang tepat, seperti itu seperti sebuah robot tempur yang hanya memiliki kecerdasan hebat namun rangka penopang lemah, pelindung luar tipis dan baterai yang buruk.

Arcane bersyukur untuk memutuskan melihat para kesatria berlatih dan menyadari melakukan tindakan yang sis-sia, dan kini ia tinggal membuktikan apakah yang ia pikiran itu benar.

beberapa saat kemudian sesi latihan berakhir tepat ketika siang hari namun ketika beranjak pergi Arcane menghampiri kapten prajurit untuk bertanya 1 hal lagi.

"paman, apa bedanya penyihir dan kesatria? bukankah setiap orang bisa menggunakan sihir? "

kini kapten kesatria itu berlutut dan menjawab.

"meskipun semua orang bisa menggunakan sihir namun tidak semua orang memiliki bakat yang sama.

kami para kesatria lebih pandai bertarung dan melindungi, sementara penyihir lebih pandai dalam belajar.

maka dari itu sihir yang kesatria gunakan sedikit berbeda dari para penyihir, apakah anda paham? "

Arcane berfikir sejenak lalu mengangguk paham, lalu dengan senyuman lebar ia membalas.

"em... aku paham terima kasih pelajarannya paman, kalau begitu aku pergi dulu"

Arcane pun langsung pergi namun dari kejauhan ia berhenti sejenak lalu berbalik dan memberi hormat lalu melambaikan tangannya, para kesatria yang melihat itu tersenyum dan membalas hormat Arcane.

setelah Arcane pergi salah seorang prajurit berkata kepada kapten nya.

"kapten kau seperti menikmatinya, apakah kau rindu dengan kampung halaman? "

kapten prajurit itu menoleh dan tertawa.

"HAHAHAHAHA... semenjak aku mengabdi kepada baginda ratu Elizabeth aku sudah menganggap beliau seperti adikku.

dan kini baginda pangeran memanggilku dengan sebutan paman... hahahaha rasanya aku selalu berada di rumah"

para prajurit lainnya hanya mengangguk paham karena sebagian orang yang bekerja dikediaman ini adalah bawahan langsung ratu Elizabeth ketika ia masih kecil dan anak yatim piatu, terlebih ratu Elizabeth memperlakukan dan merawat mereka dengan baik sehingga kesetiaan mereka sama sekali tidak bisa di ragukan.

Terpopuler

Comments

anhar005

anhar005

pakek berpikir sejenak segala lagi tolol bet lu ajg/Sob/

2024-01-17

0

anhar005

anhar005

kek gini jadi ilmuan terhebat sepanjang masa? bocah tolol gitu mana bisa jadi jenius bgst

2024-01-17

0

Jimmy Avolution

Jimmy Avolution

Terus...

2023-01-27

0

lihat semua
Episodes
1 chapter 1--
2 chapter 2--
3 chapter 3--
4 chapter 4--
5 chapter 5--
6 chapter 6 ---
7 chapter 7 ---
8 chapter 8 --
9 chapter 9--
10 chapter 10 ---
11 chapter 11 ---
12 chapter 12 ---
13 chapter 13---
14 chapter 14 ---
15 chapter 15 ---
16 chapter 16 ---
17 chapter 17 ---
18 chapter 18 ---
19 chapter 19 ---
20 chapter 20 --
21 chapter 21 ---
22 chapter 22 ---
23 chapter 23 ---
24 chapter 24 ---
25 chapter 25 ---
26 chapter 26 ---
27 chapter 27 ---
28 chapter 28 ---
29 chapter 29 ---
30 chapter 30 ---
31 chapter 31
32 chapter 32
33 chapter 33
34 chapter 34
35 chapter 35
36 chapter 36
37 chapter 37
38 chapter 38
39 chapter 39
40 chapter 40
41 chapter 41
42 chapter 42
43 chapter 43
44 chapter 44
45 chapter 45
46 chapter 46
47 chapter 47
48 chapter 48
49 chapter 49
50 chapter 50
51 chapter 51
52 chapter 52
53 chapter 53
54 chapter 54
55 chapter 55
56 chapter 56
57 chapter 57
58 chapter 58
59 chapter 59
60 chapter 60
61 chapter 61
62 chapter 62
63 chapter 63
64 chapter 64
65 chapter 65
66 chapter 66
67 chapter 67
68 chapter 68
69 chapter 69
70 chapter 70
71 chapter 71
72 chapter 72
73 chapter 73
74 chapter 74
75 chapter 75
76 chapter 76
77 chapter 77
78 chapter 78
79 chapter 79
80 chapter 80
81 chapter 81
82 chapter 82
83 chapter 83
84 chapter 84
85 chapter 85
86 chapter 86
87 chapter 87
88 chapter 88
89 chapter 89
90 chapter 90
91 chapter 91
92 chapter 92
93 chapter 93
94 chapter 94
95 chapter 95
96 chapter 96
97 chapter 97
98 chapter 98
99 chapter 99
100 chapter 100
101 chapter 101
102 chapter 102
103 chapter 103
104 chapter 104
105 chapter 105
106 chapter 106
107 chapter 107
108 chapter 108
109 chapter 109
110 chapter 110
111 chapter 111
112 chapter 112
113 chapter 113
114 chapter 144
115 chapter 115
116 chapter 116
117 chapter 117
118 chapter 118
119 chapter 119
120 chapter 120
121 chapter 121
122 chapter 122
123 chapter 123
124 chapter 124
125 chapter 125
126 chapter 126
127 chapter 127
128 chapter 128
129 chapter 129
130 chapter 130
131 chapter 131
132 chapter 132
133 chapter 133
134 chapter 134
135 chapter 135
136 chapter 136
137 chapter 137
138 chapter 138
139 chapter 139
140 chapter 140
141 chapter 141
142 chapter 142
143 chapter 143
144 chapter 144
145 chapter 145
146 chapter 146
147 chapter 147
148 chapter 148
149 pengumuman
150 chapter 21 jangan di baca
151 chapter 23 jangan di bacaa
Episodes

Updated 151 Episodes

1
chapter 1--
2
chapter 2--
3
chapter 3--
4
chapter 4--
5
chapter 5--
6
chapter 6 ---
7
chapter 7 ---
8
chapter 8 --
9
chapter 9--
10
chapter 10 ---
11
chapter 11 ---
12
chapter 12 ---
13
chapter 13---
14
chapter 14 ---
15
chapter 15 ---
16
chapter 16 ---
17
chapter 17 ---
18
chapter 18 ---
19
chapter 19 ---
20
chapter 20 --
21
chapter 21 ---
22
chapter 22 ---
23
chapter 23 ---
24
chapter 24 ---
25
chapter 25 ---
26
chapter 26 ---
27
chapter 27 ---
28
chapter 28 ---
29
chapter 29 ---
30
chapter 30 ---
31
chapter 31
32
chapter 32
33
chapter 33
34
chapter 34
35
chapter 35
36
chapter 36
37
chapter 37
38
chapter 38
39
chapter 39
40
chapter 40
41
chapter 41
42
chapter 42
43
chapter 43
44
chapter 44
45
chapter 45
46
chapter 46
47
chapter 47
48
chapter 48
49
chapter 49
50
chapter 50
51
chapter 51
52
chapter 52
53
chapter 53
54
chapter 54
55
chapter 55
56
chapter 56
57
chapter 57
58
chapter 58
59
chapter 59
60
chapter 60
61
chapter 61
62
chapter 62
63
chapter 63
64
chapter 64
65
chapter 65
66
chapter 66
67
chapter 67
68
chapter 68
69
chapter 69
70
chapter 70
71
chapter 71
72
chapter 72
73
chapter 73
74
chapter 74
75
chapter 75
76
chapter 76
77
chapter 77
78
chapter 78
79
chapter 79
80
chapter 80
81
chapter 81
82
chapter 82
83
chapter 83
84
chapter 84
85
chapter 85
86
chapter 86
87
chapter 87
88
chapter 88
89
chapter 89
90
chapter 90
91
chapter 91
92
chapter 92
93
chapter 93
94
chapter 94
95
chapter 95
96
chapter 96
97
chapter 97
98
chapter 98
99
chapter 99
100
chapter 100
101
chapter 101
102
chapter 102
103
chapter 103
104
chapter 104
105
chapter 105
106
chapter 106
107
chapter 107
108
chapter 108
109
chapter 109
110
chapter 110
111
chapter 111
112
chapter 112
113
chapter 113
114
chapter 144
115
chapter 115
116
chapter 116
117
chapter 117
118
chapter 118
119
chapter 119
120
chapter 120
121
chapter 121
122
chapter 122
123
chapter 123
124
chapter 124
125
chapter 125
126
chapter 126
127
chapter 127
128
chapter 128
129
chapter 129
130
chapter 130
131
chapter 131
132
chapter 132
133
chapter 133
134
chapter 134
135
chapter 135
136
chapter 136
137
chapter 137
138
chapter 138
139
chapter 139
140
chapter 140
141
chapter 141
142
chapter 142
143
chapter 143
144
chapter 144
145
chapter 145
146
chapter 146
147
chapter 147
148
chapter 148
149
pengumuman
150
chapter 21 jangan di baca
151
chapter 23 jangan di bacaa

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!