disini Arcane sedikit lama karena ia mencari seseorang yang mampu untuk membuatkan barang yang ia inginkan namun sepertinya tidak ada yang bisa karena beralasan terlalu rumit namun sebenarnya sebagai besar lebih tepat meremehkan Arcane.
lalu tiba-tiba Arcane menemukan sebuah toko yang cukup bobrok dan tidak menarik perhatian, namun di atasnya tertulis.
"TOKO KERAJINAN SAMUEL"
Bisa Membuat Apapun Sesuai Pesanan"
Arcane berjalan kearah toko itu namun di tahan oleh Mai.
"tunggu...tuan apakah anda akan kesana? "
Arcane menoleh dan mengangguk.
"ia... kenapa?"
"hmm... sepertinya toko itu sedikit mencurigakan"
"bagaimana menurutmu kak boy?... "
boy yang memperhatikan sekitar langsung menoleh dan membungkuk.
"sebenarnya hamba juga Setuju tuan, karena toko ini terlihat mencurigakan"
Arcane mengangguk sebentar seperti setuju namun ia tetap menuju dan memasuki toko itu.
"KRING.... "
Sebuah bel berbunyi ketika Arcane memasukinya diikuti oleh Mai dan boy.
"selamat datang... "
suara lemas dan pasrah terdengar menyambut mereka bertiga, dan menampakkan di meja resepsionis seorang pria muda kurus kering dan pucat seperti hantu.
setengah tubuhnya bahkan menempel pada meja tanpa ada pergerakan, laku ketika Arcane akan menghampirinya dan melakukan bisnis Mai langsung menahannya dan membisikan sesuatu.
"pangeran sepertinya ia bukan manusia, mari kita mundur secara perlahan dan pergi seperti tidak terjadi apa-apa"
Arcane hanya tersenyum dan langsung menghampiri meja resepsionis itu dan menunjukkan gambarnya.
orang itu dengan lemas berusaha bangkit dan melihat gambar Arcane.
"ini cetak biru dari sebuah pena? "
Arcane mengangguk.
"benar, apakah anda bisa mengerjakannya dengan cepat?
aku sangat membutuhkannya"
pria itu tersenyum dan menjawab dengan yakin
"jika hanya seperti ini hanya membutuhkan waktu hingga petang, jika anda mempunyai bahannya bisa lebih cepat"
Arcane tersenyum dan langsung memberikan beberapa benda sebagai bahan dan aksesoris.
"semuanya ada di sini"
"hahahaha.... baik tuan yang terhormat, Samuel akan mengerjakannya sebaik mungkin"
"baiklah aku akan kembali lagi nanti untuk benda ini"
"tenang saja, anda bisa mempercayakannya kepadaku karena hidupku tergantung dengan kepuasan anda"
tanpa menunggu Samuel langsung Mengerjakannya sementara Arcane pergi keluar di ikuti oleh Mai dan boy.
"tuan... kenapa anda menyerahkan pengerjaan hadiah kepada orang itu? ia sangat mencurigakan"
Arcane menoleh kemudian memandang toko Samuel.
"hehehe... yah kita tidak bisa menilai buku dari sampulnya kan? "
Arcane kemudian melanjutkan jalan-jalannya dengan menyisakan Mai dan boy yang masih kebingungan.
kini tujuan Arcane adalah pasar, berbeda dengan sebelumnya dimana toko-toko berbentuk sebuah gedung kokoh.
pasar yang kini Arcane tuju berupa tenda atau lapak semi permanen yang di kumpulkan di sebuah tempat lapang besar, seperti pasar pada umumnya yang dimana meskipun berada di ibukota jalanan pasar masihlah sangat kotor.
meskipun ada petugas kebersihan yang membersihkan sampah hingga sisa dagangan pangan busuk tetap saja banyak lumpur di sana sini padahal jalanan dan tempat pasar sendiri sudah di pasang batu paving atau semacamnya.
di pasar ini selain arcane membeli berbagai jajanan ia tidak lupa juga menghafal gang-gang yang berada di Sekitarnya, setelah puas berkeliling dan waktu sudah menjelang sore Arcane kemudian kembali.
namun sembari kembali ke toko Samuel ia membeli banyak makanan, selain untuk oleh-oleh beberapa penjaga dan pelayan istana makanan itu ia bagikan kepada orang-orang yang tidak mampu.
"hah ternyata kerajaan ini tidak Semakmur yang ada di buku ya, dan dimanapun dunianya orang yang kurang beruntung selalu ada Ya.... "
"hm? tuan Apakah anda mengatakan sesuatu? "
"ah... tidak Mai, sebaiknya kita cepat mengambil hadiah ibu dan kembali pulang"
beberapa saat kemudian rombongan itu telah sampai ke toko Samuel dan barang yang di inginkan telah jadi, terlebih Samuel ternyata telah menyiapkan barang itu beserta wadah yang sangat elegan.
Arcane sangat puas dengan pekerjaan Samuel dan memberikan 5 koin emas sebagai bayaran, dan tentu saja Samuel seperti mayat yang kembali hidup dari kuburannya.
tidak hanya itu Arcane juga mengakui kwalitas kerajinan yang di buat Samuel hingga ia meminta Mai dan boy untuk merekomendasikan toko Samuel jika ada benda yang ingin di buat dan mereka berdua pun Setuju karena melihat hasil yang jelas di depan mata mereka.
Samuel yang mendengar itu semakin bahagia dan membungkuk 90° kearah Arcane sebagai ucapan terimakasih.
diperjalanan pulang Arcane sempat berfikir berapa banyak uang yang di berikan oleh Sebastian kepada Mai karena sejujurnya ia membeli cukup banyak makanan, dan karena jaman ini seluruh kerajaan menggunakan koin emas, perak dan perunggu Arcane masih belum bisa mengira-ngira seberapa nilai mata uang.
namun yang pasti 1 koin emas setara dengan 100 perak, dan 1 perak setara 100 perunggu.
disepanjang perjalanan Arcane juga menyadari kalau fisiknya tidak mudah lelah terbukti ketika ia berjalan setengah hari penuh, ia juga menebak kalau ini juga merupakan efek dari tehnik pernafasan yang ia coba dan membuatnya tidak mudah lelah.
meskipun tidak ada kemajuan yang efektif namun ini masihlah perkembangan yang baik, dan juga yang paling penting ia tidak mengantuk.
setelah beberapa saat Arcane telah sampai di kediamannya namun sangking senangnya Arcane tidak menyadari kalau ia sudah telat, pasalnya ia datang ketika matahari sudah tenggelam sepenuhnya.
ketika rombongan Arcane memasuki pintu utama bukan pelayanan yang menyambutnya, melainkan tatapan marah Elisabeth dan di sampingnya ada Sebastian yang berdiri tegap.
Arcane baru sadar kalau ia telah melanggar syarat dari Sebastian, dan dengan nada rendah ia berkata sambil menunduk.
"itu... ibu... "
"cukup, pergi bersihkan badan dan keruang makan"
kata Elisabeth dengan marah di susul oleh Sebastian yang tidak ada bedanya dengan nada Elisabeth.
"mai, pergi ke dapur.
dan boy kapten menunggumu di lapangan latihan"
mendengar itu Arcane langsung mendongak dan langsung membela.
"tunggu paman Sebastian apakah mereka akan mendapatkan hukuman!? "
Sebastian melirik tanpa ekspresi dan menjawab.
"yang mulia anda seharusnya mematuhi menuruti baginda ratu untuk pergi sekarang"
Arcane menggeleng dan menatap Sebastian tanpa ragu.
"tidak!! aku ingin tahu apakah mereka akan terkena hukuman atau tidak terlebih dahulu! "
Elisabeth kini menjawab.
"kenapa Arcane apakah kau akan mulai melawan ibumu ini!? "
Arcane menatap Elisabeth tanpa rasa takut seperti sebelumnya.
"bukan seperti itu Ibu, jika mereka mendapatkan hukuman maka biar aku yang menanggung karena ini adalah kesalahan ku.
mereka tidak salah dan malah melakukan pekerjaan dengan sangat baik dan mengikuti apa permintaan ku, jadi jika mereka salah maka itu kesalahan ku karena tugas mereka hanyalah mengikuti ku"
mendengar jawaban Arcane membuat Sebastian terkejut namun masih mempertahankan sikap datarnya, sementara itu mai dan boy yang siap menerima hukuman kini menatap Arcane dengan tatapan kagum dan terharu.
namun Elisabeth masih memasang tatapan marah kepada Arcane dan tidak goyah sedikitpun.
"Arcane ku tau apa yang kau katakan itu? "
Elisabeth semakin berkata dengan penuh penekanan, namun Arcane malah maju satu langkah dan berdiri tegap.
"iya! aku sadar sepenuhnya ibu"
Sebastian, mai, dan boy semakin di buat terkejut dengan sikap Arcane. pandangan mereka bertiga terpaku pada fenomena di depan matanya dan tidak sedikitpun berpaling seperti melihat adegan menegangkan dari sebuah film.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 151 Episodes
Comments
Sri endang Rahayu
komen yg tdk membagun ga usah di tampilkan thor.
2024-01-31
1
anhar005
udh gitu aja? lu maafin orang yg udh ambil paksa duit lu? naif bat nih MC ajg jiji gw baca novel MC naif
2024-01-17
1
GRAVITY 000
keajaiban dunia
2023-03-30
0