Sebastian, boy dan mai menatap dengan tajam adegan yang ada di hadapannya, jika di beri popcorn atau semacamnya maka jika ada seseorang lewat maka mereka akan mengira kalau ada sebuah tontonan.
Elisabeth tak bergeming hingga ia berkata dengan nada dingin.
"Arcane Bernard Fortis.... "
'ini dia serangan pertama dari yang mulia ratu!! '
pikir Sebastian, mai, dan boy.
".... apakah kau bisa mempertanggung jawabkan apa yang kau sebutkan itu!? " kata Elisabeth dengan nada dingin dan tajam.
Arcane tetap berdiri tegap, menatap mata ibunya dan berkata dengan yakin. "mereka tidak salah, malah melakukan pekerjaannya dengan baik.
disini jika harus ada yang di salahkan maka akulah orangnya ibu!! "
mendengar hal itu Elisabeth menghela nafas dan membalas. "kalau begitu setelah makan malam kau tidak di perbolehkan keluar dari kamarmu selama 3 Hari ke depan... jika kau berani melanggar maka bersiap dengan hukuman yang lebih berat!!! "
"baik ibu!" Arcane membungkuk memberi hormat dan langsung berjalan menuju kamarnya.
setelah Arcane menghilang dari pandangan mereka Elisabeth melangkah pergi diikuti oleh Sebastian yang sebelumnya telah memberi instruksi kepada mai dan boy untuk kembali ke pekerjaannya.
ketika Elisabeth dan Sebastian sedang berjalan berdua, Sebastian tiba-tiba berkata kepada Elisabeth. "yang mulia pangeran benar-benar seperti anda ratu"
Elisabeth melirik sebentar dan menjawab. "aku harap juga seperti itu.... namun.... "
"ada apa ratu? " kata Sebastian penasaran.
"hah... aku hanya tidak berharap kalau ia tidak seperti kakeknya dan raja sebelumnya" Sebastian sedikit terkejut dan menjawab
"kakeknya?.... tuan Desmond dan yang mulia Julius?" Elisabeth mengangguk.
"ayah adalah seseorang yang terkenal akan keberaniannya dan sikapnya yang terlalu liar kepada siapapun bahkan di hadapan raja sekalipun.
sementara kakeknya yang nama raja sebelumnya memiliki sikap tenang dengan kebijaksanaan yang membuatnya sangat di hormati, ia juga tidak segan untuk melawan dan menghukum siapapun jika seseorang melakukan kejahatan atau kesalahan.
keduanya bagaikan api dan es yang membuat Sekutu dan musuhnya segan, suatu ketika keduanya bertemu di sebuah peperangan.
itu adalah pertemuan pertama keduanya, para prajurit dan bangsawan yang mengikuti perang berfikir kalau keduanya akan membuat pasukannya menjadi kacau dan membuat kekalahan.
namun tanpa di duga ketika mereka bertemu ketika di tengah peperangan yang cukup sengit mereka saling bertatapan sesaat, mereka seperti berkomunikasi dengan pikiran dan kemudian....
keduanya seperti monster lapar yang telah di kurung selama berabad-abad dan membawa kemenangan hingga melawan balik hingga menaklukkan sebuah kerajaan"
Sebastian mendengarkan cerita itu dengan seksama dan membalas. "lalu... apa hubungannya dengan pangeran yang mulia? "
Elisabeth berhenti dan menjawab. "meskipun aku hanya pernah bertemu sekali yaitu ayah raja namun... "
Elisabeth berhenti dan menatap Sebastian dengan sedikit keraguan. "dari mata Arcane tadi aku melihat sosok kedua orang itu sebas, itu itulah yang membuat ku tidak tenang"
Sebastian melebarkan matanya sejenak dan kemudian menggeleng. "masih terlalu cepat untuk menilai yang mulia, lagipula ia masihlah berumur 5 tahun"
Elisabeth berbalik dan kembali berjalan. "kau benar mungkin itu hanyalah khayalanku saja"
-- beberapa saat kemudian,di waktu makan malam--
Arcane saat ini sedang merenung karena hukumannya, bukan merenung karena rasa bersalah namun karena ia merasakan perasaan hangat di hatinya.
bukan karena ia masokis namun bagi Arcane yang tidak pernah merasakan amarah dan kebaikan orang tua yang sesungguhnya membuat gejolak di hati Arcane.
setelah selesai Arcane langsung makan malam sendiri tanpa di temani oleh ibunya, namun ketika ia akan keluar dari ruang makan di lorong Arcane baru berpapasan dengan Elisabeth yang di temani Sebastian.
Arcane menghampiri ibunya dan berdiri di hadapannya, Elisabeth berhenti dan bertanya.
"ada apa? apakah kau ing-"
sebelum menyelesaikan perkataan Elisabeth Arcane memberikan sebuah kotak kecil dari kayu berwarna hitam, dengan ukiran bunga yang membuat kotak tersebut sangat indah.
"Arcane meminta maaf kepada ibu karena membuat perpustakaan ibu berantakan... dan maaf jika ada buku yang rusak"
Elisabeth dengan tenang mengambil kotak itu kemudian berkata. "baik, namun hukuman tetap hukuman"
"Arcane mengerti ibu" Arcane membungkuk sebagai tanda hormat dan berjalan pergi.
lalu ketika arcane telah memasuki kamarnya ia langsung mengambil pena dan kertas di meja belajarnya, ia kemudian menggambar sebuah denah jalan yang ia lalui siang ini.
kemudian ia juga mengambil peta yang menggambarkan seluruh tempat di ibu kota, ia kemudian langsung membandingkan jalan yang ia lalui.
sesuai dugaan kalau peta itu tidak terlalu rinci yang dimana beberapa gang tidak tercantum di peta itu, entah sengaja di hapus, tidak di perbarui, atau karena ada beberapa alasan.
namun menurutnya alasan ketiga adalah yang paling memungkinkan, kemudian di malam itu juga Arcane menggeser beberapa perabotan seperti meja, kursi, patung, dan vas bunga.
Arcane mengangguk dan seperti yang ia pikirkan kalau kamarnya cukup luas untuk di gunakan untuk melakukan beberapa pelatihan fisik apalagi dengan kondisi fisik Arcane yang kecil.
karena tidak ingin di ganggu Arcane menulis sebuah peringatan untuk tidak seorang pun untuk masuk kedalam kamarnya. "sedang dalam masa hukuman.... jangan di ganggu.
makanan taruh di depan pintu dan cukup mengetuk pintu untuk memberi tahu.
hmm... sepertinya sudah cukup"
ia langsung menempel di depan kamarnya dan ia memulai dengan melatih tehnik pernafasan dan meditasinya.
Arcane masih belum menyerah segampang itu untuk melatih kedua tehnik itu, karena saat ini ia tidak memiliki banyak opsi karena sedang dalam masa hukuman.
sementara itu di sisi lain ketika Elisabeth berada di ruang kerjanya ia teringat dengan kotak yang di berikan oleh Arcane, lalu ketika ia membukanya. "I... ini.. "
Elisabeth terkejut dan tersenyum ia mengambil benda yang ada di kotak itu dan memperhatikannya, lalu ada sebuah kertas terjatuh.
Elisabeth kira itu adalah sebuah permohonan maaf atau permintaan pengampunan namun ia salah, kertas itu berisi cara kerja dari benda yang Elisabeth pegang.
ketika Elisabeth sedang asik memperhatikan benda itu tiba-tiba Sebastian mengetuk dan memasuki ruangan sembari membawa beberapa kertas dokumen.
ketika memasuki ruangan Sebastian penasaran dengan benda yang di pegang Elisabeth.
"yang mulia apa itu? "
Elisabeth menoleh dan mengangkat lebih tinggi supaya benda itu bisa di lihat dengan jelas.
"ini ada sebuah pena... "
Sebastian Bingung dan segera menghampiri Elisabeth.
"bukankah pena itu cukup pendek dan dengan ukuran? apa istimewanya?"
Elisabeth hanya tersenyum mendengar hal itu.
"iya namun ini bukan pena biasa, ini adalah pena yang di dalamnya terdapat tinta, tidak seperti pena celup yang biasa di gunakan. dan lagi bentuk pena ini bisa di bawa kemanapun seperti aksesoris yang sebenarnya cukup indah"
Sebastian lebih memperhatikan pena itu dan matanya melebar.
"anda benar yang mulia... "
sebuah pena yang Elisabeth pegang adalah semacam pena isi ulang yang mengharuskan penggunanya mengisi dari bagian atasnya, selain itu apa yang membuat pena itu spesial ada di bagian atasnya terdapat ukiran halus yang hampir tidak bisa di rasakan.
tidak hanya itu pena itu bagian tutup pena berbentuk pada pena umunya yang ada penyakit yang bisa di selipkan pada pakaian juga pada bagian itu terdapat sebuah hiasan burung yang sedang terbang.
Sebastian tersenyum dan berkata.
"pena yang indah yang mulia, selain bisa untuk menulis lebih lama pena ini bisa di jadikan aksesoris di pakaian...... bahkan sangat cocok dengan anda yang di juluki burung kecil pencuri rahasia"
Elisabeth tertawa dengan perkataan Sebastian.
"sudahlah, jangan mengungkit masa lalu"
pena yang di berikan oleh Elizabeth untuk sekelas jaman di dunia ini termasuk temuan baru karena semua orang memakai pena yang harus di celupkan ke dalam tinta jika akan menggunakannya.
berbeda dengan pena moderen yang tinta sudah ada di dalam.
Elisabeth masih memandang pena itu sedemikian rupa, melihat hal itu Sebastian bertanya.
"yang mulia apakah itu adalah hadiah permintaan maaf dari Arcane? "
Elisabeth melirik sebentar dan menjawab
"bagaimana kau tahu? "
"hohoho... hamba sudah bersama anda ketika masih belajar berjalan, tentu hamba tau bagaimana sifat anda yang tidak terlalu suka dengan kemewahan terkhusus aksesoris mahal.
namun anda masih memperhatikan penampilan dan kesopanan hingga meskipun anda tidak memakai perhiasan pun aura anda sebelum menjadi ratu masih tetap tidak bisa di abaikan.
namun apa yang anda pegang ini selain melihat dari orang yang memberikan nya kepada anda, bisa termasuk benda yang indah sebagai aksesoris, kegunaannya dalam pekerjaan menulis dan desain yang tidak terlalu berlebihan sehingga menampilkan kesan elegannya tersendiri.
sudah pasti membuat anda menjadi terpaku untuk memandanginya"
Elisabeth masih memandangi pena barunya itu dan menjawab.
"hahaha.... anda memang sangat mengenalku sebas, dan sepertinya Arcane memiliki mata yang bagus.
dan aku sebenarnya juga bertanya-tanya, siapa yang memiliki ide seperti ini dan siapa yang membuatnya?"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 151 Episodes
Comments
Afdhal Fauzi
kok beda ceritanya sama chapter sebelumnya dari anak tunggal yang jenius dan berhati hati kok jadi anak bermasalah sih jadi aneh ceritanya/Panic/
2024-01-06
2
Jimmy Avolution
Asyiek....
2023-01-27
0
polisi kata
sikat tuan apa sikap tuan thor?
2022-12-05
0