chapter 8 --

Sebastian, boy dan mai menatap dengan tajam adegan yang ada di hadapannya, jika di beri popcorn atau semacamnya maka jika ada seseorang lewat maka mereka akan mengira kalau ada sebuah tontonan.

Elisabeth tak bergeming hingga ia berkata dengan nada dingin.

"Arcane Bernard Fortis.... "

'ini dia serangan pertama dari yang mulia ratu!! '

pikir Sebastian, mai, dan boy.

".... apakah kau bisa mempertanggung jawabkan apa yang kau sebutkan itu!? " kata Elisabeth dengan nada dingin dan tajam.

Arcane tetap berdiri tegap, menatap mata ibunya dan berkata dengan yakin. "mereka tidak salah, malah melakukan pekerjaannya dengan baik.

disini jika harus ada yang di salahkan maka akulah orangnya ibu!! "

mendengar hal itu Elisabeth menghela nafas dan membalas. "kalau begitu setelah makan malam kau tidak di perbolehkan keluar dari kamarmu selama 3 Hari ke depan... jika kau berani melanggar maka bersiap dengan hukuman yang lebih berat!!! "

"baik ibu!" Arcane membungkuk memberi hormat dan langsung berjalan menuju kamarnya.

setelah Arcane menghilang dari pandangan mereka Elisabeth melangkah pergi diikuti oleh Sebastian yang sebelumnya telah memberi instruksi kepada mai dan boy untuk kembali ke pekerjaannya.

ketika Elisabeth dan Sebastian sedang berjalan berdua, Sebastian tiba-tiba berkata kepada Elisabeth. "yang mulia pangeran benar-benar seperti anda ratu"

Elisabeth melirik sebentar dan menjawab. "aku harap juga seperti itu.... namun.... "

"ada apa ratu? " kata Sebastian penasaran.

"hah... aku hanya tidak berharap kalau ia tidak seperti kakeknya dan raja sebelumnya" Sebastian sedikit terkejut dan menjawab

"kakeknya?.... tuan Desmond dan yang mulia Julius?" Elisabeth mengangguk.

"ayah adalah seseorang yang terkenal akan keberaniannya dan sikapnya yang terlalu liar kepada siapapun bahkan di hadapan raja sekalipun.

sementara kakeknya yang nama raja sebelumnya memiliki sikap tenang dengan kebijaksanaan yang membuatnya sangat di hormati, ia juga tidak segan untuk melawan dan menghukum siapapun jika seseorang melakukan kejahatan atau kesalahan.

keduanya bagaikan api dan es yang membuat Sekutu dan musuhnya segan, suatu ketika keduanya bertemu di sebuah peperangan.

itu adalah pertemuan pertama keduanya, para prajurit dan bangsawan yang mengikuti perang berfikir kalau keduanya akan membuat pasukannya menjadi kacau dan membuat kekalahan.

namun tanpa di duga ketika mereka bertemu ketika di tengah peperangan yang cukup sengit mereka saling bertatapan sesaat, mereka seperti berkomunikasi dengan pikiran dan kemudian....

keduanya seperti monster lapar yang telah di kurung selama berabad-abad dan membawa kemenangan hingga melawan balik hingga menaklukkan sebuah kerajaan"

Sebastian mendengarkan cerita itu dengan seksama dan membalas. "lalu... apa hubungannya dengan pangeran yang mulia? "

Elisabeth berhenti dan menjawab. "meskipun aku hanya pernah bertemu sekali yaitu ayah raja namun... "

Elisabeth berhenti dan menatap Sebastian dengan sedikit keraguan. "dari mata Arcane tadi aku melihat sosok kedua orang itu sebas, itu itulah yang membuat ku tidak tenang"

Sebastian melebarkan matanya sejenak dan kemudian menggeleng. "masih terlalu cepat untuk menilai yang mulia, lagipula ia masihlah berumur 5 tahun"

Elisabeth berbalik dan kembali berjalan. "kau benar mungkin itu hanyalah khayalanku saja"

-- beberapa saat kemudian,di waktu makan malam--

Arcane saat ini sedang merenung karena hukumannya, bukan merenung karena rasa bersalah namun karena ia merasakan perasaan hangat di hatinya.

bukan karena ia masokis namun bagi Arcane yang tidak pernah merasakan amarah dan kebaikan orang tua yang sesungguhnya membuat gejolak di hati Arcane.

setelah selesai Arcane langsung makan malam sendiri tanpa di temani oleh ibunya, namun ketika ia akan keluar dari ruang makan di lorong Arcane baru berpapasan dengan Elisabeth yang di temani Sebastian.

Arcane menghampiri ibunya dan berdiri di hadapannya, Elisabeth berhenti dan bertanya.

"ada apa? apakah kau ing-"

sebelum menyelesaikan perkataan Elisabeth Arcane memberikan sebuah kotak kecil dari kayu berwarna hitam, dengan ukiran bunga yang membuat kotak tersebut sangat indah.

"Arcane meminta maaf kepada ibu karena membuat perpustakaan ibu berantakan... dan maaf jika ada buku yang rusak"

Elisabeth dengan tenang mengambil kotak itu kemudian berkata. "baik, namun hukuman tetap hukuman"

"Arcane mengerti ibu" Arcane membungkuk sebagai tanda hormat dan berjalan pergi.

lalu ketika arcane telah memasuki kamarnya ia langsung mengambil pena dan kertas di meja belajarnya, ia kemudian menggambar sebuah denah jalan yang ia lalui siang ini.

kemudian ia juga mengambil peta yang menggambarkan seluruh tempat di ibu kota, ia kemudian langsung membandingkan jalan yang ia lalui.

sesuai dugaan kalau peta itu tidak terlalu rinci yang dimana beberapa gang tidak tercantum di peta itu, entah sengaja di hapus, tidak di perbarui, atau karena ada beberapa alasan.

namun menurutnya alasan ketiga adalah yang paling memungkinkan, kemudian di malam itu juga Arcane menggeser beberapa perabotan seperti meja, kursi, patung, dan vas bunga.

Arcane mengangguk dan seperti yang ia pikirkan kalau kamarnya cukup luas untuk di gunakan untuk melakukan beberapa pelatihan fisik apalagi dengan kondisi fisik Arcane yang kecil.

karena tidak ingin di ganggu Arcane menulis sebuah peringatan untuk tidak seorang pun untuk masuk kedalam kamarnya. "sedang dalam masa hukuman.... jangan di ganggu.

makanan taruh di depan pintu dan cukup mengetuk pintu untuk memberi tahu.

hmm... sepertinya sudah cukup"

ia langsung menempel di depan kamarnya dan ia memulai dengan melatih tehnik pernafasan dan meditasinya.

Arcane masih belum menyerah segampang itu untuk melatih kedua tehnik itu, karena saat ini ia tidak memiliki banyak opsi karena sedang dalam masa hukuman.

sementara itu di sisi lain ketika Elisabeth berada di ruang kerjanya ia teringat dengan kotak yang di berikan oleh Arcane, lalu ketika ia membukanya. "I... ini.. "

Elisabeth terkejut dan tersenyum ia mengambil benda yang ada di kotak itu dan memperhatikannya, lalu ada sebuah kertas terjatuh.

Elisabeth kira itu adalah sebuah permohonan maaf atau permintaan pengampunan namun ia salah, kertas itu berisi cara kerja dari benda yang Elisabeth pegang.

ketika Elisabeth sedang asik memperhatikan benda itu tiba-tiba Sebastian mengetuk dan memasuki ruangan sembari membawa beberapa kertas dokumen.

ketika memasuki ruangan Sebastian penasaran dengan benda yang di pegang Elisabeth.

"yang mulia apa itu? "

Elisabeth menoleh dan mengangkat lebih tinggi supaya benda itu bisa di lihat dengan jelas.

"ini ada sebuah pena... "

Sebastian Bingung dan segera menghampiri Elisabeth.

"bukankah pena itu cukup pendek dan dengan ukuran? apa istimewanya?"

Elisabeth hanya tersenyum mendengar hal itu.

"iya namun ini bukan pena biasa, ini adalah pena yang di dalamnya terdapat tinta, tidak seperti pena celup yang biasa di gunakan. dan lagi bentuk pena ini bisa di bawa kemanapun seperti aksesoris yang sebenarnya cukup indah"

Sebastian lebih memperhatikan pena itu dan matanya melebar.

"anda benar yang mulia... "

sebuah pena yang Elisabeth pegang adalah semacam pena isi ulang yang mengharuskan penggunanya mengisi dari bagian atasnya, selain itu apa yang membuat pena itu spesial ada di bagian atasnya terdapat ukiran halus yang hampir tidak bisa di rasakan.

tidak hanya itu pena itu bagian tutup pena berbentuk pada pena umunya yang ada penyakit yang bisa di selipkan pada pakaian juga pada bagian itu terdapat sebuah hiasan burung yang sedang terbang.

Sebastian tersenyum dan berkata.

"pena yang indah yang mulia, selain bisa untuk menulis lebih lama pena ini bisa di jadikan aksesoris di pakaian...... bahkan sangat cocok dengan anda yang di juluki burung kecil pencuri rahasia"

Elisabeth tertawa dengan perkataan Sebastian.

"sudahlah, jangan mengungkit masa lalu"

pena yang di berikan oleh Elizabeth untuk sekelas jaman di dunia ini termasuk temuan baru karena semua orang memakai pena yang harus di celupkan ke dalam tinta jika akan menggunakannya.

berbeda dengan pena moderen yang tinta sudah ada di dalam.

Elisabeth masih memandang pena itu sedemikian rupa, melihat hal itu Sebastian bertanya.

"yang mulia apakah itu adalah hadiah permintaan maaf dari Arcane? "

Elisabeth melirik sebentar dan menjawab

"bagaimana kau tahu? "

"hohoho... hamba sudah bersama anda ketika masih belajar berjalan, tentu hamba tau bagaimana sifat anda yang tidak terlalu suka dengan kemewahan terkhusus aksesoris mahal.

namun anda masih memperhatikan penampilan dan kesopanan hingga meskipun anda tidak memakai perhiasan pun aura anda sebelum menjadi ratu masih tetap tidak bisa di abaikan.

namun apa yang anda pegang ini selain melihat dari orang yang memberikan nya kepada anda, bisa termasuk benda yang indah sebagai aksesoris, kegunaannya dalam pekerjaan menulis dan desain yang tidak terlalu berlebihan sehingga menampilkan kesan elegannya tersendiri.

sudah pasti membuat anda menjadi terpaku untuk memandanginya"

Elisabeth masih memandangi pena barunya itu dan menjawab.

"hahaha.... anda memang sangat mengenalku sebas, dan sepertinya Arcane memiliki mata yang bagus.

dan aku sebenarnya juga bertanya-tanya, siapa yang memiliki ide seperti ini dan siapa yang membuatnya?"

Terpopuler

Comments

Afdhal Fauzi

Afdhal Fauzi

kok beda ceritanya sama chapter sebelumnya dari anak tunggal yang jenius dan berhati hati kok jadi anak bermasalah sih jadi aneh ceritanya/Panic/

2024-01-06

2

Jimmy Avolution

Jimmy Avolution

Asyiek....

2023-01-27

0

polisi kata

polisi kata

sikat tuan apa sikap tuan thor?

2022-12-05

0

lihat semua
Episodes
1 chapter 1--
2 chapter 2--
3 chapter 3--
4 chapter 4--
5 chapter 5--
6 chapter 6 ---
7 chapter 7 ---
8 chapter 8 --
9 chapter 9--
10 chapter 10 ---
11 chapter 11 ---
12 chapter 12 ---
13 chapter 13---
14 chapter 14 ---
15 chapter 15 ---
16 chapter 16 ---
17 chapter 17 ---
18 chapter 18 ---
19 chapter 19 ---
20 chapter 20 --
21 chapter 21 ---
22 chapter 22 ---
23 chapter 23 ---
24 chapter 24 ---
25 chapter 25 ---
26 chapter 26 ---
27 chapter 27 ---
28 chapter 28 ---
29 chapter 29 ---
30 chapter 30 ---
31 chapter 31
32 chapter 32
33 chapter 33
34 chapter 34
35 chapter 35
36 chapter 36
37 chapter 37
38 chapter 38
39 chapter 39
40 chapter 40
41 chapter 41
42 chapter 42
43 chapter 43
44 chapter 44
45 chapter 45
46 chapter 46
47 chapter 47
48 chapter 48
49 chapter 49
50 chapter 50
51 chapter 51
52 chapter 52
53 chapter 53
54 chapter 54
55 chapter 55
56 chapter 56
57 chapter 57
58 chapter 58
59 chapter 59
60 chapter 60
61 chapter 61
62 chapter 62
63 chapter 63
64 chapter 64
65 chapter 65
66 chapter 66
67 chapter 67
68 chapter 68
69 chapter 69
70 chapter 70
71 chapter 71
72 chapter 72
73 chapter 73
74 chapter 74
75 chapter 75
76 chapter 76
77 chapter 77
78 chapter 78
79 chapter 79
80 chapter 80
81 chapter 81
82 chapter 82
83 chapter 83
84 chapter 84
85 chapter 85
86 chapter 86
87 chapter 87
88 chapter 88
89 chapter 89
90 chapter 90
91 chapter 91
92 chapter 92
93 chapter 93
94 chapter 94
95 chapter 95
96 chapter 96
97 chapter 97
98 chapter 98
99 chapter 99
100 chapter 100
101 chapter 101
102 chapter 102
103 chapter 103
104 chapter 104
105 chapter 105
106 chapter 106
107 chapter 107
108 chapter 108
109 chapter 109
110 chapter 110
111 chapter 111
112 chapter 112
113 chapter 113
114 chapter 144
115 chapter 115
116 chapter 116
117 chapter 117
118 chapter 118
119 chapter 119
120 chapter 120
121 chapter 121
122 chapter 122
123 chapter 123
124 chapter 124
125 chapter 125
126 chapter 126
127 chapter 127
128 chapter 128
129 chapter 129
130 chapter 130
131 chapter 131
132 chapter 132
133 chapter 133
134 chapter 134
135 chapter 135
136 chapter 136
137 chapter 137
138 chapter 138
139 chapter 139
140 chapter 140
141 chapter 141
142 chapter 142
143 chapter 143
144 chapter 144
145 chapter 145
146 chapter 146
147 chapter 147
148 chapter 148
149 pengumuman
150 chapter 21 jangan di baca
151 chapter 23 jangan di bacaa
Episodes

Updated 151 Episodes

1
chapter 1--
2
chapter 2--
3
chapter 3--
4
chapter 4--
5
chapter 5--
6
chapter 6 ---
7
chapter 7 ---
8
chapter 8 --
9
chapter 9--
10
chapter 10 ---
11
chapter 11 ---
12
chapter 12 ---
13
chapter 13---
14
chapter 14 ---
15
chapter 15 ---
16
chapter 16 ---
17
chapter 17 ---
18
chapter 18 ---
19
chapter 19 ---
20
chapter 20 --
21
chapter 21 ---
22
chapter 22 ---
23
chapter 23 ---
24
chapter 24 ---
25
chapter 25 ---
26
chapter 26 ---
27
chapter 27 ---
28
chapter 28 ---
29
chapter 29 ---
30
chapter 30 ---
31
chapter 31
32
chapter 32
33
chapter 33
34
chapter 34
35
chapter 35
36
chapter 36
37
chapter 37
38
chapter 38
39
chapter 39
40
chapter 40
41
chapter 41
42
chapter 42
43
chapter 43
44
chapter 44
45
chapter 45
46
chapter 46
47
chapter 47
48
chapter 48
49
chapter 49
50
chapter 50
51
chapter 51
52
chapter 52
53
chapter 53
54
chapter 54
55
chapter 55
56
chapter 56
57
chapter 57
58
chapter 58
59
chapter 59
60
chapter 60
61
chapter 61
62
chapter 62
63
chapter 63
64
chapter 64
65
chapter 65
66
chapter 66
67
chapter 67
68
chapter 68
69
chapter 69
70
chapter 70
71
chapter 71
72
chapter 72
73
chapter 73
74
chapter 74
75
chapter 75
76
chapter 76
77
chapter 77
78
chapter 78
79
chapter 79
80
chapter 80
81
chapter 81
82
chapter 82
83
chapter 83
84
chapter 84
85
chapter 85
86
chapter 86
87
chapter 87
88
chapter 88
89
chapter 89
90
chapter 90
91
chapter 91
92
chapter 92
93
chapter 93
94
chapter 94
95
chapter 95
96
chapter 96
97
chapter 97
98
chapter 98
99
chapter 99
100
chapter 100
101
chapter 101
102
chapter 102
103
chapter 103
104
chapter 104
105
chapter 105
106
chapter 106
107
chapter 107
108
chapter 108
109
chapter 109
110
chapter 110
111
chapter 111
112
chapter 112
113
chapter 113
114
chapter 144
115
chapter 115
116
chapter 116
117
chapter 117
118
chapter 118
119
chapter 119
120
chapter 120
121
chapter 121
122
chapter 122
123
chapter 123
124
chapter 124
125
chapter 125
126
chapter 126
127
chapter 127
128
chapter 128
129
chapter 129
130
chapter 130
131
chapter 131
132
chapter 132
133
chapter 133
134
chapter 134
135
chapter 135
136
chapter 136
137
chapter 137
138
chapter 138
139
chapter 139
140
chapter 140
141
chapter 141
142
chapter 142
143
chapter 143
144
chapter 144
145
chapter 145
146
chapter 146
147
chapter 147
148
chapter 148
149
pengumuman
150
chapter 21 jangan di baca
151
chapter 23 jangan di bacaa

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!