Bab.16

Sesampainya di sekolah beruntung Citra belum terlambat setelah memacu motornya dengan kecepatan tinggi. Yang biasanya tiga puluh menit baru sampai, pagi ini cukup dua puluh lima menit Citra sudah sampai di parkiran. Citra berjalan mengitari parkiran mobil. Citra mencoba menengok ke sana ke mari namun tak ia temukan mobil Andra berada. Akhirnya Citra menyerah bergegas lari menuju ruang kelasnya. Sebab, bel masuk telah berbunyi.

Tet tet tet.

Sampailah Citra di ruang kelasnya. Bahunya naik turun mengatur napasnya yang ngos-ngosan. Beruntung gurunya belum masuk kelas.

"Cit, tumben banget sih lo datengnya mepet banget!" ujar Amel begitu Citra mendatangi mejanya.

"Iya, Mel. Tadi ada urusan sebentar!" jawab Citra sembari menggeser kursi kemudian mendudukkan diri di sana.

"Ehh Cit--Cit... gimana tadi malem si cowok misterius itu datang lagi gak?" tanya Amel heboh.

"Selamat pagi murid-murid!" ujar Bu Virda, guru kimia yang terkenal killer namun ramah menyapa. Jangan harap bisa selamat dari omelannya jika sampai mendapat nilai jelek.

"Ehh ... diem, tuh Bu Virda sudah datang!" ujar Citra kepada sahabatnya.

Akhirnya mereka diam dan mulai bersiap untuk menerima pelajaran pertama mereka bersama Bu Virda.

Citra sesekali teringat akan kejadian semalam.

Semalam itu sungguhan atau hanya mimpiku sih? gumam Citra di dalam hati.

Citra mulai ragu, sebab kejadian semalam seolah nyata. Namun, anehnya sikap Andra berubah drastis dan sulit dipercaya. Sebentar-sebentar sangat baik dan kadang kala bersikap acuh dan mengabaikannya.

Pada saat jam istirahat Citra mencari ke kelas yang lain dan tempat-tempat di mana dia pernah bertemu dengan Andra. Namun ia tak menemukan di manapun Andra berada. Akhirnya dia menuju kantin saat perutnya terasa lapar karena tadi pagi dia belum sempat sarapan.

"Cit, sinii!" panggil Amel yang sudah duduk di sebuah bangku kantin dan sedang menyantap semangkuk bakso.

"Ntar, gue pesen makan dulu, Mel!" ujar Citra.

Seusai memesan semangkuk bakso dan es jeruk Citra berjalan menuju bangku Amel dan mendudukkan diri di depan Amel. Sembari makan Citra menceritakan kejadian semalam.

"Cit, lo mimpi deh kayanya. Kalo Andra beneran suka sama lo, mana dia? seharusnya dia mendatangi lo saat berada di sekolah. Bukanya pura-pura gak kenal! alesan aja deh sepertinya--- jangan-jangan dia juga punya pacar di sekolah, Cit!" Amel mengompori membuat Citra semakin kesal pada sahabatnya itu.

"Huwaaaaa ...! Amel jahat banget lo, Mel!" Citra mencomot bakso yang ada di mangkuknya Amel dengan sangat rakus untuk meluapkan kekesalannya.

"Eh-- ehh ... kenapa diembat juga bakso gue, Cit!" Amel memandang sedih pada baksonya yang kandas oleh ulah Citra.

"Biarin! salah sendiri bilang kaya gitu soal Andra! gue jadi pengen makan lo aja deh, Mel!" ujar Citra emosi sembari menggigit bakso terakhir yang bertengger pada garpu di tangannya.

"Iya deh maaf, Cit. Gue kan cuma gak mau lo terluka dan tertipu sama cowok. Pokoknya lo musti waspada, Cit! Jangan mudah percaya dengan mulut manisnya!" ujar Amel menasehati sahabatnya tersebut.

Citra terdiam mencerna kata-kata Amel. Memang benar juga apa yang di bilang Amel. Citra harus mencari tahu kejelasan dari Andra dan jangan sampai dia termakan dengan mulut manis laki-laki yang misterius itu.

****

Sepulang sekolah Citra menyempatkan waktu untuk mendatangi rumah Andra. Namun rumah Andra nampak sepi, bahkan satpam yang biasanya berjaga di pos depan pun tak ada di tempat. Citra semakin frustasi karena tidak bisa menemukan petunjuk apa pun tentang kekasihnya itu.

Andra kamu di mana dan kamu itu sebenarnya siapa? kamu datang secara tiba-tiba dan menghilang begitu saja! jangan membuatku kecewa padamu, Andra! gumam Citra di dalam hati.

Dengan langkah gontai Citra kembali menuju motornya. Kemudian, dia menaiki motornya dan melaju meninggalkan rumah Andra.

Saat dia hampir sampai di rumahnya, Citra menghentikan motornya di bahu jalan. Dia melihat ada sebuah mobil terparkir di depan rumahnya dan juga nampak seorang laki-laki paruh baya sedang berdiri di halaman rumahnya, menghadap ke arah depan rumah Citra.

"Siapa orang itu!" gumam Citra lirih nyaris tak terdengar.

Citra ragu antara iya atau tidak untuk masuk ke pekarangan rumahnya. Dia takut jika orang itu mempunyai niatan tidak baik terhadap dirinya. Tiba-tiba saja bahu laki-laki itu bergetar naik turun dan terdengar isakkan lirih dari laki-laki tersebut. Citra semakin bingung dengan apa yang dilihatnya. Citra memutuskan untuk turun dari motornya dan menunggu di teras rumah tetangganya.

Citra duduk sembari menopang dagunya dengan salah satu tangannya. Dipandangnya bekas kecelakaan tadi malam yang telah diberi police line di depannya. Hatinya kembali resah mengingat keberadaan Andra.

Apa kamu baik-baik saja Andra, aku merindukanmu! ujar Citra di dalam hati.

"Ehm ... ehm ...! Maaf permisi!"

Citra tersentak dari lamunannya saat mendengar suara bariton dari seorang laki-laki.

Citra mendongak ke atas dan nampaklah laki-laki paruh baya yang tadi dilihatnya kini berada di hadapannya.

"Eh ... iya, Om. Kenapa?" tanya Citra dengan kikuk.

"Apa kamu menunggu saya?" tanya pria paruh baya itu.

"Benar Om, itu rumah saya. Apa Om dulu pernah tinggal di situ?" tanya Citra yang ingin tahu.

"Ya ... rumah itu dulunya adalah rumah orang tua saya. Setelah orang tua saya meninggal rumah ini di jual karena tidak ada yang menempati," tutur pria paruh baya.

Citra mengangguk paham.

"Kalau begitu saya permisi dulu, saya harus segera ke rumah sakit!" ujar pria paruh baya itu.

"Silahkan, Om!" ujar Citra ramah.

Laki-laki paruh baya itu pun berlalu menuju mobilnya dan pergi.

Citra menyaksikan mobil itu pergi hingga tak terlihat lagi.

****

Ketika malamnya seusai adzan maghrib berkumandang Citra keluar rumah untuk mencari makan dengan mengendarai sepeda motornya. Saat ia kembali dari membeli makan ia melihat Andra tengah menunggunya duduk di teras rumahnya. Citra tersenyum senang melihat kekasihnya datang. Hal itu menepiskan prasangka buruknya tentang Andra.

"Hai, Cit. Habis dari mana?" tanya Andra.

"Nih, cari makan!" ujar Citra usai turun dari motornya kemudian menghampiri Andra.

Tiba-tiba saja Andra menarik tubuh Citra dan memeluknya. "Cit, aku merindukanmu!"

Citra terkejut, seketika ia membulatkan mata dan membuka mulutnya. Sejenak Citra mendadak kaku dan tak mampu bergerak. Tapi lama-lama ia merasa hawa di sekitarnya terasa panas sehingga gerah berada di pelukan sang kekasih.

"Andra ... lepaskan!" ujar Citra sembari mendorong pelan tubuh Andra agar menjauh.

"Kenapa Cit? kamu gak rindu sama aku?" tanya Andra.

"E-- emm, aku merindukanmu juga Andra, tapi aku rasa lebih baik kita masuk dulu. Makananku akan dingin jika tidak segera di makan!" Citra beralasan.

"Baiklah ayo kita masuk, aku akan menemanimu makan!" ujar Andra sembari menggenggam tangan Citra yang kosong sebab tangan yang satunya membawa makanan.

Setelah masuk ke dalam Citra memakan makanannya sembari ditemani Andra. Andra tidak ikut makan, sebab ia mengaku jika masih kenyang. Seusai makan Citra dan Andra kembali duduk berdua di sofa depan televisi sembari mengobrol. Namun, Citra merasa tidak terlalu menikmatinya. Sebab, entah mengapa suasana rumah terasa panas bagi Citra.

Tiba-tiba saja Andra mencondongkan badan ke depan semakin dekat ke arah Citra.

Braakkk!

..._______Ney-nna_______...

Terpopuler

Comments

lina

lina

nah loooo pnas ngapa tuh 🙈🙈🙈

2022-09-25

1

Wury Ayra

Wury Ayra

apa yg terjadi??? tmbh penasaran kan??

2022-07-03

2

Zil@

Zil@

ada apa ia.....ini
hufffffff,kepala ku menerka- nerka
😅😅😅😅💕💕

2022-06-30

4

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!