Bab.2

Keesokan paginya ketika Citra terbangun dari tidurnya, dia sudah berada di kamarnya. Citra lantas beranjak duduk dan ke luar kamar dengan setengah berlari menuju ruang tamu, namun tidak ada siapa pun di sana selain dirinya sendiri.

Pemuda yang semalam, sudah tidak ada. Pintu rumahnya pun masih tertutup rapat meski tidak terkunci. Namun, setelah mengingat-ingat kembali Citra baru ingat jika semalam dia memang belum mengunci pintunya sedari sore.

Citra mencoba mengecek semua barang-barang di rumahnya. Dan semuanya terlihat sama. Tidak ada yang berubah sedikit pun. Citra merasa ragu apakah yang terjadi semalam hanya mimpinya saja.

Namun, setelah dia mengecek cangkir kopinya semalam yang diyakininya sudah diminum olehnya, ternyata benar-benar kosong dan telah tergeletak di dalam wastafel.

Citra semakin pusing dibuatnya. Ditolehnya jam di dinding menunjukkan pukul 05.00. Citra seketika terlonjak saking kagetnya. Dia belum salat subuh bahkan harus berangkat sekolah pagi-pagi sekali karena ada ulangan di jam pertama, dia tidak boleh terlambat kali ini.

Citra buru-buru masuk ke dalam kamarnya dan bergegas mengambil air wudhu. Seusai salat Citra bergegas mandi, lalu bersiap-siap untuk pergi ke sekolah. Dia menyisir rambutnya dengan terburu-buru hingga kepalanya terasa ditarik-tarik hingga kulit kepalanya terasa sakit. Lalu Citra mengikat dengan asal rambutnya ke atas hingga berbentuk cepolan yang sedikit berantakan.

Citra segera menyabet tas dan kunci motornya lantas ke luar dari rumahnya. Setelah mengunci pintu dan mengenakan helm dia segera menaiki sepeda motornya dan bergegas menyalakan mesin motornya dan melaju ke jalanan dengan kencang.

......................

Sesampainya di kelas dilihatnya, Amel sudah duduk manis ditempatnya. Amel merupakan teman sebangkunya. Meskipun baru seminggu mengenalnya Citra merasa cocok dengan Amel. Selain anak yang manis Amel juga lucu dan sangat ramah.

"Pagi, Mel," sapa Citra.

"Pagi ...," untung aja udah sampai kamu Cit, aku pikir nggak masuk kamu," jawab Amel.

Citra segera mendudukkan diri ditempat duduknya. Diliriknya jam dinding menunjukkan pukul enam lima puluh lima menit. Artinya masih ada waktu lima menit sebelum bel masuk.

"Mel, laper nih belum sarapan," ujar Citra seraya memegangi perutnya yang keroncongan.

"Tumben lo gak sarapan dulu, Cit? nih tadi mama bekalin gue roti, buruan makan gih keburu bel."

Tanpa basa-basi Citra langsung menyerobot roti di tangan Amel dan langsung mencomotnya dengan lahap.

"Bunda sama ayah udah berangkat ke Jogja, Mel. Gue bangun kesiangan, nggak sempet buat sarapan," ujar Citra dengan mulut penuhnya yang tidak henti-hentinya mengunyah.

"Hebat! Lo berani Cit, di rumah sendirian?" tanya Amel.

"Beranilah, Mel. Udah sejak dulu juga aku sering di rumah sendirian," ujar Citra. "Tapi, semalem di rumah aneh banget, Mel!"

Bulu kuduk Citra sampai merinding mengingat kejadian semalam. Kejadian aneh seperti tadi malam baru pertama kalinya dialami olehnya.

"Emang ada apa, Cit?" Amel menjadi penasaran.

Teeet...teeet...teeet!

Tepat di saat itu bel masuk berbunyi.

"Yahh ... keburu bel deh. Nanti pas istirahat dilanjut lagi deh, Cit!"

Citra mengacungkan jempolnya tanda setuju, kemudian meminum air mineral milik Amel sampai habis.

"Astaga, kaya yang nggak makan seminggu aja sih, Cit, semua-mua langsung dihabisin!"

Melihatnya Amel sampai geleng-geleng kepala. Namun, yang disindir hanya nyengir kuda saja.

Akhirnya dua jam pelajaran telah usai. Jam istirahat telah tiba, semua siswa berhamburan ke luar kelas untuk keperluannya masing-masing. Citra dan Amel memutuskan untuk membeli makan di kantin. Sembari menunggu makanan datang, Citra menceritakan kejadian semalam yang dialaminya kepada Amel dari awal sampai akhir, tidak terkecuali tentang kedatangan pemuda yang semalam mendatanginya.

"Iih serem amat sih Cit rumah baru, lo. Jangan-jangan cowok itu juga hantu jadi-jadian, Cit!" ujar Amel.

"Masa sih ada hantu sekeren itu sih, Mel. Kakinya napak kok!" keukeh Citra.

"Eh jangan salah ya Cit, Edward di film Twilight ganteng bingit!" ujar Amel asal.

"Itu kan dikehidupan nyata manusia juga Amel, filmnya cuman fiksi." Citra menoyor jidat Amel yang bikin gemas bin kesal.

"Iya yah? hehehe ...!" ujar Amel. "Mendingan kamu bilang sama ortu minta dicarikan pembantu deh, Cit. Aku nggak bisa bayangin kalau aku yang tinggal sendirian! Ih, sereeemm!" Amel bertingkah seolah sedang ketakutan seraya memeluk tubuhnya sendiri.

"Bener juga ya, Mel. Coba deh nanti aku bilang ke bunda. Yuk ah balik ke kelas!" ujar Citra kemudian bergegas bangkit.

Saat dia usai membayar makanannya sekilas dia melihat seperti anak laki-laki yang tadi malam datang ke rumahnya. Namun, Citra kehilangan jejaknya saat banyak siswa yang berlalu lalang. Citra berdiri sambil celingukan ke segala arah mencari keberadaan anak laki-laki itu, tapi tidak juga terlihat lagi olehnya.

"Mel, gue tadi kaya lihat cowok yang semalem datang ke rumah gue, deh!"

"Mana ..., mana...?" tanya Amel seraya ikut celingukan mencari.

Saking banyaknya siswa yang berhamburan meninggalkan kantin untuk kembali ke kelas. Akhirnya pemuda yang dicari tidak diketemukan, menghilang tanpa jejak. Meski sangat penasaran akhirnya Citra memutuskan kembali ke kelasnya bersama Amel.

......................

Sepulang sekolah Citra segera mengganti baju, salat kemudian tidur siang. Badannya cukup letih dan ingin beristirahat. Ketika dia bangun jam sudah menunjukkan pukul 15.00.

Citra bergegas mandi, kemudian melaksanakan salat Ashar. Dia merasakan perutnya sudah sangat lapar dan ingin diisi.

"Duh, laper banget, sih! Sore ini gak boleh makan mie lagi. Kata bunda ususnya bisa melintir kalau kebanyakan makan mie instan!" gumam Citra sendiri sembari mengusap perutnya yang terasa lapar.

Bunda sangat tegas dengan jadwal makan mie Citra. Seminggu hanya diijinkan satu kali dihari jum'at. Itu salah satu peraturan tidak tertulis yang dibuat bunda dan harus ditepati.

Akhirnya Citra memutuskan untuk keluar rumah mencari penjual bakso keliling yang sering lewat di depan rumah, beruntungnya Citra melihat ada tukang bakso di ujung gang depan yang sedang mangkal.

"Abang tukang bakso...sini!" teriak Citra memanggil si abang penjual bakso.

"Iya, Neng. Berangkat ...!" jawab si abang.

"Baksonya satu bungkus ya, Bang, komplit!"

ucap Citra setelah si abang mulai mendekat.

"Siap, Neng. Pasti di bikinin! Eneng baru ya tinggal di kompleks ini?" tanya si penjual bakso

"Iya, Bang. Baru semingguan di sini."

"Pantes Abang baru lihat. Neng hati-hati yah, jangan tinggal sendirian kalau di rumah!" ujar si penjual bakso menasehati.

"Memangnya kenapa, Bang?" Citra menyelidik.

"Gak apa-apa kok, Neng. Cuma sering gonta-ganti aja yang nempatin, kayak yang pada nggak betah aja," ungkap si penjual bakso nampak berhati-hati dengan bicaranya.

"Ihh si Abang gaje gitu, bikin penasaran aja!" ujar Citra mulai terpengaruh dengan perkataan penjual bakso.

Setelah membeli bakso Citra segera masuk ke dalam rumah dan menyantapnya. Dalam lima menit bakso dan kuahnya tandas tak bersisa.

"Pantas saja banyak yang pada ngantri di ujung gang, rupanya bakso bikinan si Abang rasanya emang endes, bikin keringetan gegara nggak sabaran pengen dimakan panas-panas!" gumam Citra sembari mengibas-kibaskan tangannya ke samping lehernya.

Seusai salat maghrib Citra mengerjakan tugas di kamarnya. Di putarnya lagu-lagu yang lagi hits dikalangan anak muda untuk menghilangkan ke sunyian malam itu.

Tikk!

Tiba-tiba terdengar suara benda jatuh. Kedengarannya di bagian atap rumahnya. Citra nampak sedikit terkejut, namun tak dihiraukannya suara tersebut.

"Palingan cuma tikus!" gumamnya untuk membuatnya lebih tenang.

Dia kembali fokus menyelesaikan pekerjaan rumahnya. Setelah usai dia menutup buku dan memasukkannya ke dalam tas. Jam menunjukkan pukul 20.00. Kemudian, dia mengambil wudhu untuk melaksanakan salat.

Setelah itu Citra keluar dari kamar hendak mengunci pintu depan agar tidak terjadi lagi hal serupa dengan yang kemarin.

Comprangg!

Tiba-tiba terdengar lagi suara benda jatuh namun agak keras. Yang awalnya niat mau mengunci pintu, dia malah kembali masuk ke dalam kamar dan bersembunyi di balik selimutnya, hingga lama kelamaan Citra tertidur.

......................

Tiba-tiba Citra seolah berlari sekencang-kencangnya menuju ke luar rumah.

"Aaaaarrggghh!!" teriaknya.

"Bruuukkk!" Sampai di jalan Citra seperti menabrak sesuatu.

..._________Ney-nna________...

Terpopuler

Comments

TK

TK

🧋✍️✍️🤭

2022-08-29

0

anggita

anggita

citra..

2022-08-09

0

Rokinah Mamasurya

Rokinah Mamasurya

ini bukan misteri kan kak..soale aku gak seberapa suka misteri...tapi lihat dulu..kali karya kak Ney beda Ama yg lain...lanjuutt....

2022-07-06

6

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!