Keesokannya seusai salat subuh Asih bergegas untuk mengerjakan pekerjaan rumah. Membuka pintu depan, memandang langit yang masih terlihat gelap membuatnya mengurungkan diri untuk menyapu halaman. Entah mengapa udara pagi itu terasa dingin sekali dan membuat bulu kuduknya bergidik.
Padahal kalau di desa pagi-pagi sudah ramai suara ayam berkokok dan aktivitas warga yang hendak ke sawah. Meski halaman di desa kebanyakan luas, namun tidak seperti di kompleks perumahan mewah seperti ini, yang di kanan kiri ada tembok yang menjulang tinggi hingga tidak nampak rumah tetangga. Di tambah dengan setiap rumah yang pasti dipasang pagar, membuat enggan bagi orang untuk bertamu jika memang tidak benar-benar ada perlu. Maka tidak heran jika berada di kota, meski bertetangga namun tidak saling mengenal.
Akhirnya pintu ditutupnya kembali, tanpa menguncinya. Asih memutuskan untuk memasak di dapur. Karena bahan sayur yang di belinya kemaren hanya kebagian sedikit dan sudah di masak kemarin sore, sehingga ia berniat untuk memasak nasi goreng bersama telur ceplok untuk menu sarapan. Nanti jika matahari sudah muncul baru ke warung untuk membeli sayuran.
Saat menyiapkan bahan-bahan memasak, lamat-lamat dia mendengar ada suara-suara seperti orang yang sedang bercanda tawa. Asih menduga itu adalah suara majikannya yang sudah bangun.
"Mbak Citra sama mbak Amel ternyata sudah bangun, ternyata anak-anak itu rajin juga, selepas subuh sudah pada bangun. Beruntung sekali aku dapat majikan baik seperti mbak Citra itu!" gumamnya sembari mengulek bumbu. Asih kemudian mengabaikannya dan fokus dengan masakannya.
Tak berapa lama Citra masuk ke dalam dapur. Diambilnya gelas kosong, kemudian menuang air putih ke dalam gelasnya, dan meminumnya sampai habis tak bersisa.
"Pagi, Mbak Citra?" sapa Asih kepada Citra.
"Pagi, Mbak Asih. Masak apa mbak?" tanya Citra.
"Ini Mbak, sayurannya nggak cukup untuk di masak. Saya hanya membuatkan nasi goreng untuk menu sarapan," jawab Asih.
"Saya bantuin ya, Mbak?" ujar Citra.
"Ndak usah, Mbak. Saya saja yang kerjakan. Ini kan hari minggu, mendingan Mbak Citra sama Mbak Amel lari pagi, Mbak!" usul Asih.
"Boleh juga sih, Mbak. Aku bangunin Amel dulu deh. Aku ke kamar dulu ya, Mbak!" ujar Citra kemudian meninggalkan dapur.
"Lhoh, kok mbak Citra baru mau bangunin mbak Amel? bukannya tadi aku denger suara mereka yang bercanda-tawa?" ujar Asih setelah kepergian Citra. "Ah, suara tetangga sebelah mungkin, mendingan masak lagi aja lah!" Asih mencoba berpikir positif, lalu !kembali melanjutkan acara memasaknya.
......................
Amel merasa tidurnya mulai terganggu, seperti ada yang menarik-narik sebagian kecil rambutnya hingga terasa sakit.
"Ahh...sakit tauk, Cit! Iseng banget sih!" ujar Amel kesal.
Citra yang baru kembali dari dapur tersenyum, ia menduga Amel sedang bermimpi.
"Woyy...bangun mel, sholat subuh dulu sana!" teriak Citra dari depan pintu.
Amel mulai menggeliat, saat membuka mata dilihatnya Citra yang sedang berjalan masuk dan duduk di bangku meja belajarnya.
"Bangunin sih bangunin, tapi nggak usah narik-narik rambut dong, Cit! Jadi pusing nih kepala!" ujar Amel sembari duduk di pinggir tempat tidur.
"Hah, narik-narik rambut? siapa yang narik rambut? Lo ngimpi kali, Mel! dah sana sholat subuh dulu, udah jam 05.00 tuh. Abis lo sholat kita joging!" tutur Citra
Amel hendak menanggapi kata-kata Citra yang mengelak telah menarik rambutnya, iya yakin sekali barusan itu bukan mimpi, "Tapi --," Baru akan berbicara sudah dipotong lagi oleh Citra.
"Udah, buruan salat dulu sana, keburu matahari terbit tau, Mel!" Citra mendorong Amel agar segera masuk ke kamar mandi untuk mengambil wudhu.
Akhirnya Amel menurut saja, ia memang harus bergegas salat agar tidak kesiangan meski sedikit terlambat. Tapi, dalam hati Amel terus bertanya-tanya siapa yang telah menarik-narik rambutnya. Sepertinya memang ada sosok lain yang terus menggangunya di rumah ini.
Citra sudah berganti baju dan bersiap untuk joging. Rambutnya yang panjang ia ikat kuncir kuda seperti biasa. Dipakainya celana sport panjang di atas mata kaki, tank top di bagian dalam kemudian ia pakai jaket di bagian luarnya. Dia tidak terlalu suka untuk berpakaian terbuka sehingga terekspose bagian tubuhnya.
Dilihatnya Amel tengah melipat mukena. Tandanya Amel telah selesai menunaikan kewajibannya.
"Mel, lo mau ganti baju dulu nggak? pilih aja sendiri yang lo suka di almari. Gue tunggu di luar ya?" ujar Citra hendak pergi.
"Ehh...tunggu, Cit! ambilin jaket lo aja, gue pinjem jaket. Gini aja udah cakep kok, cuma buat lari doang kan?" ujarnya sambil menyisir rambutnya yang sedikit berantakan. Kemudian di ikatnya beberapa kali hingga menyisakan gundukan kecil di bagian belakang kepalanya.
"Nih, jaketnya! Yuk, let's go!" Dilemparnya jaket ke arah Amel, lalu berjalan ke luar kamar. Amel mengikuti di belakang sembari memakai jaketnya.
"Mbak Asih, kita joging dulu yah!" teriak Citra.
"Iya, Mbak. Hati-hati ya di jalan!" jawab Mbak Asih dari dapur.
Yang harusnya hati-hati itu kamu, mbak Asih. Semoga saat kita pulang kamu nggak kenapa-napa, Mbak! gumam Amel di dalam hati.
"Ayo, Mel. Buruan!" ujar Citra dari halaman saat menyadari Amel masih berdiam di depan pintu sambil menengok ke dalam rumah.
"Iya...iyaa...!" Amel segera berlari menyusul Citra.
Matahari mulai muncul, semburat cahaya terang membuat jalanan kompleks mulai terlihat. Udara pagi yang segar seolah menjernihkan isi kepala dan memberi semangat untuk menyongsong hari yang cerah.
Citra dan Amel berlari kecil memutari jalanan kompleks. Citra sempat berpapasan dengan beberapa orang yang juga sedang berjalan santai bersama keluarga. Ada seorang nenek dan kakek-kakek yang berjalan sambil memegang tongkat. Kemudian ada sepasang suami istri yang sedang berjalan-jalan sambil mendorong baby stroller.
Citra tersenyum ramah kepada setiap orang yang ditemuinya. Dia memang belum hapal dengan tetangga kompleks di sekitar rumahnya, untuk itu dia mencoba untuk bersikap ramah kepada siapa saja.
"Ternyata lari pagi itu menyenangkan ya, Mel!" ujarnya.
"Cit, tadi jam 01.00 ada yang gedor-gedor pintu kamar, lo. Denger nggak?" tanya Amel saat sudah agak jauh dari rumah.
Pikir Amel sekarang sudah aman untuk bercerita tentang kejadian yang di alaminya di rumah Citra, karena jika bercerita di dekat rumah, takutnya hantunya akan ikut mendengar.
"Gedor-gedor pintu? gue nggak dengar apa-apa tuh, Mel. Mbak Asih mungkin yang ketok-ketok puntu," sanggah Citra.
"Nggak mungkin kalau mbak Asih, soalnya cuma ketok-ketok tanpa berkata apa-apa, Cit. Untung gue nggak buka pintunya, bayangkan kalau gue buka pintunya terus muncul hantunya di balik pintu. Hiiiihh... serem!" Amel terlihat meringis dan memeluk erat bahunya dengan kedua tangan seolah sedang ketakutan.
"Coba deh, nanti aku tanya sama mbak Asih," Citra mencoba berpikir positif.
"Ada lagi Cit, yang tadi pagi itu bukan mimpi ya saat gue bilang rambut gue ada yang narik-narik. Sakit beneran tau, Cit. Kalau mimpi nggak bakalan kerasa dong, tapi pas gue lihat lo ada di depan pintu, berarti yang narik rambut gue bukan lo, tapi sosok lain penunggu rumah lo, Cit!" ujar Amel terlihat ketakutan mengingatnya.
"Mel, rambut lo ketindihan tangan lo kali, Mel. Udah ah, uda mulai siang jadi laper nih, yuk pulang!" ajak Citra sambil menarik Amel untuk pulang.
"Hiiihhh, ntar kalau lo mengalami sendiri baru deh lo bakal percaya sama gue!" ujar Amel berjalan di depan mendahului langkah Citra.
Citra hanya geleng-geleng kepala melihat temannya yang satu itu.
Sesampainya di rumah Citra mengucapkan salam saat membuka pintu, "Assalamu'alaikum!"
Namun tidak ada jawaban, "Dimana mbak Asih ya Mel!"
Citra lalu beranjak berjalan menuju dapur, namun tidak terlihat siapa pun. Di seluruh ruangan juga nihil tak nampak pembantu barunya itu, baju-baju mbak Asih pun tidak ada di kamarnya.
...________Ney-nna_______...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 63 Episodes
Comments
Cah Dangsambuh
jangan jangan mba asih hanya samaran hiiiiiiiii kabuuuuuuuuur
2022-07-02
1
Irma Kirana
semangat kak Ney 😍
2022-07-01
0
🍭ͪ ͩ🍀⃟ᏽꮲ𐑈•ꪀׁꪱ꯱ׁׅ֒꯱ɑׁ🐅⃫⃟⃤
astaghfirullah lnjt bsk kan ney🙈lgsng ada angin wussss nih 🙊
2022-06-29
1