"Aku musti ngapain, Ndra? Bagaimana mungkin ada tulisan itu di cermin, siapa yang telah melakukannya?" tanya Citra sembari mengulum bibir bawahnya saking gelisah.
"Emm... kamu tenang dulu, Cit! kita hapus aja dulu tulisannya," usul Andra. "Ada pembersih kaca nggak?" tanyanya.
"Ada, bentar aku ambil di samping dapur," ujar Citra hendak pergi menuju dapur.
Andra dengan cepat memegang lengan Citra untuk mencegahnya. "Aku saja, kamu duduk aja!"
Andra kemudian pergi ke arah dapur untuk mengambil cairan pembersih kaca dan kanebo. Setelahnya dia kembali dan membersihkan tulisan yang ada pada cermin.
Dalam hati Andra berpikir mungkinkah ini adalah ulah dari sosok anak kecil bermata merah itu.
"Terima kasih, Ndra!" ujar Citra.
"Iya, sama-sama. Ayo kita ke depan aja," ajak Andra.
Citra mengangguk kemudian menyabet tas sekolahnya. Dia berjalan perlahan sembari menenteng tas ranselnya.
"Lhoh, bawa tas mau ke mana?" tanya Andra yang keheranan saat melihat ke belakang di mana Citra berada.
"Hehehe...aku belum ngerjain PR," ujar Citra sembari terkekeh.
"Oh, aku pikir mau pergi!" Andra kemudian berjalan lebih dulu menuju ke ruang tamu, sedangkan Citra mengikutinya dari belakang.
Sesampainya di ruang tamu Citra membuka tasnya dan mengeluarkan buku tugasnya untuk dikerjakan.
"Kamu juga kelas XII, Cit?" tanya Andra saat melihat pada buku Citra.
"Iya," jawabnya singkat.
"Coba aku lihat tugasmu," ujar Andra lalu mengecek pekerjaan rumah Citra.
Keduanya pun akhirnya asik belajar bersama. Citra akhirnya tahu jika Andra anak yang cukup pintar. Beberapa soal yang menurut Citra sangat sulit, yakni tentang rumus-rumus fisika, dikerjakan Andra dengan mudah. Dalam diam Citra mulai mengagumi Andra. Selain Andra tampan, dia juga pintar dan baik hati.
Saat asik mengobrol sembari mengerjakan tugas, tiba-tiba lampu di ruang tamu berkedip-kedip.
Kclap kclap pcash!
Citra seketika merinding dan tiba-tiba menjadi gelisah. Dia takut jika akan ada yang mengganggunya lagi. Citra segera berpindah tempat duduk dan reflek merapatkan diri di samping Andra. Dia mencengkeram lengan jaket Andra dengan erat.
"Ndra, gimana ini? aku takut!" ujar Citra dengan was-was.
"Tenang, Cit. Mungkin lampunya perlu di ganti!" ujar Andra.
Suasana larut malam yang suram itu membuat bulu kuduk keduanya meremang. Andra dengan cekatan merogoh gantungan senter dari dalam sakunya yang selalu dibawanya. Dia lantas menyoroti ruangan sekitar.
Saat lampu menyorot sekilas ke dalam ruang tengah, tanpa sengaja Andra seperti melihat sekelebat sosok yang melintas di dalam ruang tengah.
"Arghhh!" pekiknya kaget.
"Ada apa, Ndra?" ujar Citra lirih, seraya merapatkan diri di samping Andra.
Andra tidak menjawabnya karena dia tidak yakin dengan apa yang sempat dilihatnya barusan.
Andra kembali menyorot ke dalam ruang tengah. Namun tidak nampak ada kejanggalan. Padahal dia sangat yakin bahwa sempat melihatnya tadi.
Meskipun sedikit takut, namun Andra sangat penasaran dan ingin sekali memastikan ke dalam. Tapi, dia kasihan pada Citra jika meninggalkannya sendirian di ruang tamu.
Citra yang merasa ada sesuatu kejanggalan yang sedang dilakukan oleh Andra menjadi semakin cemas. Dia mencoba menguatkan diri untuk mengikuti arah sorot lampu senter yang Andra soroti.
"Ndra, apa kamu melihat sesuatu?" tanya Citra setengah berbisik di dekat telinga Andra.
"Iya, Cit. Aku sekilas melihat sesuatu yang melayang di dalam ruang tengah. Sepertinya ada sekelebatan yang melintas dari arah kiri menuju arah kamarmu!" ujar Andra lirih.
Saat itu lampu di dalam rumah Citra masih berkedip-kedip. Suhu ruang pun terasa semakin panas terasa. Sesekali juga terdengar suara-suara aneh dari kejauhan.
"Apa yang kamu lihat, Ndra?" tanya Citra sambil menarik lengan jaket yang dikenakan Andra.
"Sosok yang pendek...mengenakan kain lusuh... rambutnya panjang sebahu...!" bisik Andra sembari mengingat-ingat.
Oeeekk....oeeekkk...oeekkkk...!
Tiba-tiba terdengar suara bayi menangis dengan keras.
Seketika Citra menarik tangan Andra untuk berlari sekencang-kencangnya ke luar dari rumah.
"Aaaaarrggghh....!" teriak Citra dengan mulut terbuka lebar dan keringat bercucuran.
Andra yang kaget karena di tarik oleh Citra secara tiba-tiba hampir saja terhuyung karena kurang sigap. Mereka berdua terus berlari kencang hingga melewati gerbang dan Citra terjerembab ke jalan saking paniknya. Bahkan tanpa sengaja kakinya yang tadinya luka kembali menyandung batu.
"Aaaarrghhh... aww...!" pekiknya.
Andra mengulurkan tangannya untuk membantu Citra bangun. Perlahan-lahan Citra mencoba bangkit meski terasa perih pada lukanya.
Tiba-tiba saja dari arah kanan melaju sebuah mobil dengan kencang.
Piiim...piim....piiimmm.....!
Bunyi klakson mobil yang nyaring membuat Andra seketika terlonjak kaget dan menoleh ke sumber suara.
"Arrrggghhh...!" teriak Citra saat menyadari kedatangan mobil itu yang semakin mendekat.
Dengan sigap Andra langsung menarik tangan Citra hingga terpelanting menimpa tubuhnya hingga ke bahu jalan. Punggung Andra membentur batu di tanah.
Duukk!
Sedangkan Citra, pelipisnya membentur lantai hingga berdarah dan seketika pingsan.
.......................
Sayup-sayup terdengar kumandang adzan. Langit masih gelap gulita yang berpendar dari jendela kamarnya. Cahaya lampu yang temaram di kamarnya membuat suasana pagi itu semakin senyap.
Citra memegangi kepalanya yang terasa berat. Perlahan ia mengerjapkan mata melihat ke sekitar. Dia menyadari bahwa dirinya kini berada di dalam kamarnya. Dengan perlahan Citra beranjak duduk sembari mengingat-ingat kejadian yang dialaminya beberapa saat lalu.
"Bukankah kemarin aku dan Andra hampir tertabrak mobil? apakah saat aku pingsan Andra membawaku ke dalam rumah dan membaringkan ku di kamar?" gumam Citra sendiri sembari memegangi kepalanya yang berdenyut.
"Lalu di mana Andra?" gumannya lagi.
Perlahan Citra beranjak berdiri, namun kakinya terasa sangat perih. Dia seketika mengingat bahwa semalam dia tersandung dan kakinya terluka. Citra melihat pada cermin. Sudah tidak ada tulisan dan kacanya bersih. Citra kemudian beranjak berjalan dengan tertatih-tatih menuju ke luar kamar untuk mencari Andra.
Namun, setelah mencari ke setiap sudut ruangan di rumahnya, dia tidak menemukan siapa pun. Dia hanya sendirian di rumah ini. Bahkan pintu ruang tamu pun masih terkunci. Citra melihat ke luar jendela rumahnya. Namun, di luar masih nampak senyap.
Lantas ke mana perginya Andra? batinnya bertanya-tanya.
Citra melihat jam di dinding sudah menunjukkan pukul 04.30. Citra memutuskan untuk melaksanakan kewajibannya sebagai umat muslim terlebih dahulu.
Citra kemudian bergegas kembali ke kamarnya. Dia segera mengambil wudhu dan melaksanakan salat subuh. Setelahnya Citra mandi dan bersiap-siap untuk berangkat sekolah. Dia membuka tas sekolahnya yang bertengger di atas meja belajarnya, lalu membuka buku tugasnya.
Citra seketika membelalakkan mata tatkala melihat buku tugasnya masih kosong seolah belum dikerjakan sama sekali.
"Astaghfirullah! bukannya aku udah kerjain tugasnya sama Andra semalam, kenapa masih kosong begini?!" ujar Citra dengan gelisah sembari memegangi kepalanya yang terasa berdenyut.
Citra kemudian memasukkan buku tugasnya ke dalam tasnya kembali dan bergegas berangkat sekolah. Dia memutuskan untuk mengerjakan tugasnya nanti saja ketika sampai di sekolah agar dia tidak terlambat masuk ke sekolah.
...**********...
Di jalan dia sempatkan membeli kue dan air mineral untuk mengganjal perut. Sesampainya di sekolah Citra duduk di bangkunya untuk mengerjakan tugasnya sambil memakan kue yang tadi di belinya. Beruntungnya dia masih ingat jawabannya. Sebab Andra sudah mengajarinya jawaban yang dirasa benar.
Citra terus mengingat-ingat kejadian semalam. Dalam benaknya penuh dengan tanda tanya. Apakah yang semalam itu nyata atau hanya mimpinya saja. Jika semalam itu mimpi rasanya tidak mungkin. Sebab dia benar-benar terluka di bagian kaki maupun di kepalanya yang kemarin terbentur.
Sebenarnya siapa Andra yang selalu datang dan pergi begitu saja? gumam Citra di dalam hati.
Namun, dia merasa beruntung dengan hadirnya Andra. Jika bukan karena pertolongan Andra tadi malam dia pasti sudah tertabrak mobil yang melintas di depan rumahnya dengan kencang.
Braaaakk!
"Pindah dari rumah itu!" Citra seketika kaget dengan gebrakan meja oleh laki-laki di depannya itu.
..._______Ney-nna______...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 63 Episodes
Comments
Ara Aulia
semangat ney
2022-10-14
2
Wury Ayra
nah loh....!!! sapa lg tuh???? hantu ato manusia??
2022-07-03
0
Zil@
misteri apa lagi ini,
kau ku anggap kau manusia,,,,tapi ternyata kau ?????
😁😇
2022-06-29
4