Saat adzan subuh berkumandang, Arsyila terjaga dari tidurnya. Ia bangkit dari sofa, tempat ia tidur dalam beberapa hari ini setelah menikah dan kemudian berjalan menuju kekamar mandi untuk berwudhu.
Setelah berwudhu, Arsyila berniat untuk membangunkan Raihan. Tapi, ketika Arsyila mendekati suaminya itu, Raihan tiba-tiba saja menggeliatkan badannya dan mengeluarkan suara yang tidak jelas dari mulutnya. Ia seperti mengigau.
"Pembunuh.. Dasar pembunuh.. pergi.. pergi..." Ucap Raihan masih dengan mata terpejam, tapi tangan dan tubuhnya bergerak ke segala arah seperti mengusir seseorang dihadapannya.
Melihat kejadian tersebut, Arsyila langsung menenangkan suaminya itu. Ia bermaksud menyadarkan suaminya itu dengan menyentuh badannya. Namun, naas bagi Arsyila.. Raihan yang masih dialam mimpi itu malah mendorong kuat tubuh Arsyila hingga wanita itu terjatuh kelantai.
Arsyila meringis kesakitan sembari memegang bagian dadanya yang ditolak kuat oleh suaminya tadi, sedangkan Raihan yang sudah berhenti merayau kini kembali tidur dengan lelapnya.
***
"Hhhmm... Bik Ani dapat resep masakan baru ya? Tidak seperti biasanya rasa nasi goreng buatan bibik pagi ini terasa beda. Enak luar biasa.." Puji Raihan kepada Bik Ani, pembantu dirumahnya.
Ketika itu mereka semua sedang menikmati sarapan pagi yang sudah dihidangkan oleh Bik Ani di meja makan.
"Iya ne.. Aku rencananya mau diet, tapi karena enak jadi nambah makannya, hehe" Raina menimpali sambil tertawa dan kemudian menambah satu sendokan nasi goreng lagi kedalam piringnya.
"Memang benar.. Seperti ada yang beda.." Kini Umi Zalika ikut berkomentar setelah mencicipi sedikit nasi goreng tersebut.
Bik Ani yang sedang mencuci piring didapur langsung bergegas keruang makan setelah mendengar pujian dari majikannya tersebut.
"Maaf Tuan, Nyonya dan Nona... Itu.. anu...sebenarnya bukan saya yang buat sarapan pagi ini.." Jawab Bik Ani agak terbata-bata.
"Lalu? Siapa yang buat? Kamu beli ya?" Selidik Raina yang masih mengunyah nasi gorengnya.
"Bukaann... Yang buat... Non Arsyila.." Ucap Bik Ani seraya menunjuk Arsyila yang sedari tadi hanya diam sambil menunduk.
"Aapaa..?" Raihan dan Raina berteriak nyaris bersamaan seakan tidak percaya atas penuturan Bik Ani barusan.
"Iya, Tuan dan Nona.. Pagi-pagi sekali Non Arsyila sudah bangun dan bantu saya didapur. Sebenarnya saya sudah melarang non Arsyila, cuman Non Arsyila bersikeras juga mau buatkan sarapan katanya, hee.." Ucap Bik Ani sambil nyengir.
Praanngg....
Raihan tiba-tiba saja membanting sendok makannya ke piringnya sendiri setelah mendengar penuturan dari Bik Ani. Dengan wajah dingin ia langsung berdiri.
"Buang aja makanannya ini Bik Ani, Aku sarapan di kantor saja!" Katanya setelah itu pergi meninggalkan mereka yang ada diruang makan.
"Hhhhmm.. Kayaknya aku juga udah kenyang. Buang juga punya aku ya Bik," Ucap Raina kemudian berlalu juga dari sana.
Zalika dan Bik Ani hanya terdiam menyaksikan kelakuan Raihan dan Raina tersebut. Sedangkan Arsyila tampak merasa sedih.
"Sabar ya Arsyila.." Kata Zalika sambil memegang tangan Arsyila. Arsyila hanya tersenyum tipis.
***
Hari itu Arsyila bermaksud keluar rumah untuk mengikuti kajian yang sudah lama ia geluti. Arsyila yang sebelumnya berada dilingkungan yang positif, yaitu lingkungan yang membuat ia selalu mengikuti kajian-kajian islam bersama saudari-saudari muslimah yang lainnya.
Sebelum pergi Arsyila sudah coba menghubungi Raihan untuk meminta izin, tapi suaminya itu tidak mengangkat telpon darinya. Pesan Lewat Whatsappun hanya di readnya saja. Sebenarnya Arsyila tidak akan pergi sebelum diberi izin oleh Raihan. Karena baginya setelah menikah izin dari suami itu sesuatu yang sangat penting. Namun, Setelah Umi Zalika menyakinkan Arsyila bahwa Raihan pasti mengizinkan dirinya untuk pergi maka akhirnya Arsyila pun pergi juga keluar rumah.
Sesampainya di tempat kajian, teman-teman Akhirat Arsyila menyambut kedatangannya dengan suka cita. Mereka secara bergantian menyalami dan memeluk Arsyila seraya mengucapkan selamat atas pernikahannya.
Arsyila menyambut ucapan selamat dari teman-temannya dengan wajah yang sumringah dan berbinar-binar, seolah-olah ia sangat bahagia dengan pernikahannya tersebut.
"Barakallahu lakuma Wa Jama'a baina kuma fii Khair... Selamat ya Arsyila, semoga jadi keluarga yang sakinah, mawaddah wa rahmah.." Ucap Aisyah penuh doa kepada Arsyila.
"Aamiin...Syukron, Aisyah.." Jawab Arsyila sambil tersenyum lebar.
"Nah, Kak Aisyah kapan nyusul kak Arsyila neh?" Tanya Zahra sambil memberikan senyuman menggodanya ke arah Aisyah.
"Iya kak, Jangan lama-lama.. sudah ada didepan mata yang melamar tapi masih dianggurin" Timpal Nazwa sambil terkekeh.
"Bukan di anggurin dek Nazwa, tapi lagi proses istikhorah aja. Karena nikah itu proses yang panjang, bukan berlangsung setahun dua tahun. Jadi, harus benar-benar mencari lelaki yang tepat untuk dijadikan calon imam. Jangan sampai menyesal pulak jadinya karena salah memilih lelaki yang tidak tepat. Gitu.." Ujar Aisyah dengan antusias.
Arsyila yang mendengar penuturan Aisyah barusan pun menjadi sedikit tersentak. Kalimat dari Aisyah seakan menyindir dirinya yang sudah salah dalam memilih suami. Dihadapan teman-temannya ia bisa berpura-pura bahagia dan membanggakan suaminya yang seolah-olah bisa menjadi imam yang baik, tapi.. dihadapan Allah? Tidak bisa dipungkiri bahwa Allah Maha Tahu Segalanya Apa yang ia rasakan saat ini.
"Arsyila, Kamu bahagia?" Tanya Maida, sahabat Arsyila sejak kecil. Mereka bertetangga, teman masa kecil Arsyila hingga sampai dewasa mereka memilih jalan Hijrah bersama-sama juga.
"Maksud kamu?" Tanya Arsyila seraya mengerutkan keningnya. Saat itu Arsyila dan Maida tengah duduk berdua saja disudut ruangan tersebut, yang lainnya sibuk dengan aktifitas mereka masing-masing.
"Aku bisa lihat dari mata mu kalau kamu ngak bahagia atas pernikahan mu ini" Kata Maida dengan serius.
Mendengar kalimat Maida itu membuat Arsyila langsung memalingkan wajahnya kedepan.
"Mungkin,.. kamu bisa menyembunyikan kesedihan kamu dan berpura-pura bahagia didepan teman-teman yang lain. Tapi.. itu tidak berlaku bagi aku Arsy.." Lanjut Maida lagi. Arsyila masih diam.
"Aku sudah kenal kamu sejak lama, sejak kita masih kecil-kecil malahan. Jadi, kamu ngak bisa menyembunyikan sesuatu dari aku. Ayo cerita. Ada apa? Apa yang terjadi sebenarnya?" Desak Maida terhadap Arsyila yang masih menutup rapat mulutnya.
"Apakah... Suamimu itu menyakiti mu??" Tebak Maida dengan suara yang pelan tepat ditelinga Arsyila. Arsyila hanya menundukkan kepalanya, raut wajahnyapun sudah berubah menjadi sedih.
Maida lantas menggeleng-gelengkan kepalanya sambil merangkul sahabatnya itu.
"Sudah kuduga... Padahal aku sudah peringatin kamu jauh-jauh hari sebelum menikah dengan lelaki yang belum kamu ketahui bagaimana lingkungannya, kesehariannya.. kamu terlalu yakin dengan kata-kata ayahmu bahwa dia lelaki yang sholeh tanpa kamu cek dulu bagaimana aslinya dia.." Kata Maida yang kini mulai terdengar agak kesal dari nada bicaranya.
"Ngak Ada yang perlu disesali lagi Maida. Semua sudah terjadi. Ini adalah pilihan ku dan aku akan bertahan dengan pilihanku.." Jawab Arsyila sambil tersenyum tipis.
Bersambung..
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 99 Episodes
Comments
rasmin rasmin
Up lagi thor selalu ditinggu ♥️🌹💪🙏
2022-07-24
2