Toke (boss) kedai obat hari ini tidak berniaga. Sedang merayakan kegembiraan di rumah kawan karibnya di Batu Berendam.
Dan sekarang tengah merebah cantik bersama sang karib di kamar dengan tenang. Ponselnya baru mendapat pesan berupa laporan dari bank telah ada transfer masuk. Dan itu dari rekening Shin sendiri. Membaca itu, seperti tak percaya saja rasanya!
Gadis itu akui, andai pun harga yang Shin beri hanyalah dua ribu, itu sudah sangatlah tinggi. Sebab jika di Indonesia, sebagus mana karya.., tapi jika pemula, tentu akan dihargai hanya beberapa ratus ribu rupiah, atau sama dengan ratusan ringgit saja. Dan tentang ini, pasti Shin pun juga tahu. Ah, baiknya encik Shin!
Apa alasannya... Apa diam-diam Shin telah iba dan kasihan sebab merasa bersalah atas kelakuan Hazrul..? Atau Shin telah tahu, jika dirinyalah pembuat dan pemilik desain baju itu?
🍒
Yuaneta baring miring menghadap kawan karib di sampingnya.
"Ra...., om tirimu Raaaa....Mirip GPU oles, sriwing-sriwing kayak angin, dingin semilir tapi anget....!" mata Yuaneta melebar sambil gerak terlentang, menatap langit-langit kamarnya. Saat itu lepas ashar.
Dhiarra terheran "Dia sudah tua.. Masak kau selera juga?" gadis gelung rambut, yang gelungannya telah ambyar di bantal itu bergumam.
"Mau deh jadi simpanan om-om tampan, kaya raya seperti dia..," Yuaneta menepuk-nepuk dahinya.
" Ingat bang Denis,,Nett...Nanti kamu dosa."
"Lagian orang kayak uncle Shin tuh maunya juga yang sekelas Luna Maya..,Raline Shah.., Hannah Rasyid.., atau Velove Lexia.. Kita mah ngintip aja di pojokan...," Dhiarra menimpali sambil terus tidur-tiduran gaya meoww.
"Yelah..yelah..betul jugaaaa.. Aku dah ada bang Denis, yang bagiku jauh lebih cakep dari om tirimu..! Kasihan jika sampai kuduakan.. So..,kau sajalah yang pepet dia, Ra.." Yuaneta mencolek pipi Dhiarra yang masih juga memejam.
"Adrian masih kekasihku..." Dhiarra bicara mendesah melawan rasa kantuk.
"Bukalah matamu, kau itu sudah bukan kekasihnya. Dia belum juga menjengukmu.." Yuaneta mengeluh dan heran.
"Tapi kan masih sebulan.. Bisa jadi minggu depan dia datang..," mata itu telah membuka tiba-tiba.
"Tapi, Nett... Adrian memang seperti membuangku. Tidak membalas pesanku..,juga tidak berusaha meneleponku. Apa kami ini sudah putus..?"
"Jelas kalian ini sudah tak ada hubungan.. El-de-er an aja enggak... Kau udah ngerasa nggak kangen..,nggak sedih..,dan nggak mimpi-mimpi kan..?" wajah Yuaneta menoleh ke samping.
" Enggak...Memang enggak lagi.. Cuma pas awal nyampek sini aja sedihnya. Tapi kadang kan kangen, Nett..."
Dhiarra membalik badan, menyamping menghadap Yuaneta.
"Ah, sebentar lagi kalian itu pasti saling melupakan. Tapi.., kalian belum berbuat hal yang terlarang kan?" Yuaneta senyum-senyum penuh arti.
"Saling genggam tangan..," Dhiarra merubah posisi jadi terlentang, serupa sang karib. Lalu senyum-senyum mengingat Adrian. Tapi berubah masam kemudian.
"Kenapa senyum masam?" Yuaneta heran.
"Iya...Sebab, saat di bandara penerbanganku ke sini.. Dia ingin memeluk menciumku. Tapi kan tempat umum.." Dhiarra seperti mengeluh.
"Nyesel...?" sedikit iba dirasakan Yuaneta.
"Kangen...," jawaban ragu-ragu Dhiarra.
"Ash sudahlah, Ra...Dia tak merindumu pun..! Campak saja sudah! Fokus, fokus pada pamanmu.. Tajiiirr melintirr, Raa.. Sayang dilepasss... Kesempatan di depan matamu! Sambar..!" Yuaneta sangat berapi menyemangati sang karib.
"Ah, Nett..Dibandingku, dia itu sangat tua..,aku tak selera.. Lagipula, aku hanya ingin berjodoh dengan lelaki Indonesia. Aku tak nak jadi orang Malaysia. Aku tak nak macam kau, jauh dari kerabat.." Dhiarra tidak lagi mengantuk sama sekali.
Yuaneta mencolek pipinya sekali lagi.
"Tuan Shin itu tidak tua... Masih tiga tiga.. Luar biasa mempesona dan muda. Bahkan masih serasi jalan sama anak es-em-aaa... Ayolah, Ra.. Siapa tau jodoh.. Kita bisa tetanggaan selamanya.. Nggak usah kembali ke Indonesia... Lagipula ibundamu di sini kan?" Yuaneta menendang- nendangkan kakinya pada betis indah mulus sang karib dengan pelan.
" Kau ini, Nett.. Gampang banget ngomong.. Memang encik Shin itu barang. Mau nempel jika diinginkan. Dia itu tinggi menjulang. Ibarat gunung Merapi... Suka menyembur-nyembur lahar panas. Semua orang segan padanya.." Dhiarra kembali baring menyamping. Menghadap Yuaneta.
"Eits..Raa...Kau lupa, kalian itu sepadan. Kau pun pernah sukses dan kaya. Siapa yang membuatmu seperti ini? Kurasa tuan Shin pun diam-diam merasa tidak enak padamu. Kau harus duduk sama rendah berdiri sama tinggi jika bersikap di depannya..!" protes Yuaneta cukup panjang.
"Masalahnya uncle Shin itu jauh berumur di atasku. Aku harus bersopan dan menjaga sikapku.. Memangnya gampang, memepet lelaki sepertinya...." Dhiarra kembali membalik badannya terlentang.
"Jika jodoh, tak ada yang susah. Segalanya akan mudah. Buktinya aku dan Dennis. Seperti bumi dan langit. Bahkan kami pun sempat beda keyakinan. Alhamdulillah, Ra... Perjalanan kami ini dipermudahNya.."
Petuah Yuaneta ini bukannya mengada. Tapi memang beginilah kisah takdir dan jodohnya. Dennis Tan rela meninggalkan segala status gemilang keluarga demi dirinya. Sungguh, jodoh dan rizqi itu memang tak pernah bisa disangka! Hanya satu..,jangan pernah putus asa...Pepett!!
"Tapi jarak usia kalian itu tidak banyak.. Jadi tidak segan saling pepet.... Ish, apaan... Sudahlah Nett. Aku penat. Ayo kita tidur saja!"
Dhiarra langsung berbalik badan sehabis bicaranya. Memunggungi Yuaneta.
Sedang Yuaneta juga bersikap begitu, berbalik cepat memunggungi Dhiarra dengan bibir mencibir.
Mereka tertidur sangat lelap melewati waktu maghrib. Suara Adzan yang keras dari masjid Batu Berendam pun, bahkan telah terpental dan gagal menembusi gendang di telinga mereka.
🍒🍒🍒
Pelataran parkir di sebuah kilang (pabrik/perusahaan) garment sudah lengang. Dua lelaki tampan yang sedang berdiri, nampak bercakap-cakap sejenak agak pelan.
"Jangan lupa tugasmu itu, Iz... Dapatkan secepatnya!" dua lelaki itu berhadapan saling pandang.
"Siap tuan. Akan berusaha kudapat secepat mungkin!" lelaki yang dipanggil Iz itu mengangguk dan menjawab.
" Terutama macam mana gadis itu boleh pegang uang sangat banyak, sampai Hazrul pun meminjam kat dia..." lelaki itu mulai bergerak pergi dari Iz.
"Siap tuan, tak payah risau...!" Iz sedikit berseru rendah pada sang tuan.
Kedua lelaki itu telah bergerak saling menjauhi, mendekati mobil mereka di tempat masing-masing. Iz dengan mobil yang dikendarainya sendiri, dan sang tuan akan meluncur laju bersama sang sopir setianya.
🍒🍒🍒
Shin Adnan berjalan tergesa melewati setapak jalan di halaman rumahnya yang lengang dan remang. Pelayan lelaki yang terbiasa menyambut, terlihat mendekat dengan sama tergesanya.
"Selamat malam tuan.." pelayan lelaki mengangguk hormat sambil membungkuk sedikit pada Shin.
"Apa ada sesuatu yang ingin kau sampaikan?" Shin diam berdiri sambil memperhatikan pelayan itu.
"Tidak ada tuan.. Hanya saja, cik Dhiarra tidak ikut makan malam."
Mendengar laporan pelayannya, Shin terdiam. Alis golok hitamnya sedikit bergerak saling mendekat.
"Gadis Indonesia itu belum pulang?" pertanyaan Shin terdengar datar dan lirih.
"Saya belum nampak, tuan," pelayan itu sembari mengangguk.
"Bersiagalah menunggunya. Katakan untuk datang ke meja makan, jam berapa pun. Setelah itu, segera beri tahu aku. Kau paham?" Shin menatap pelayan lelaki itu dengan mata tajamnya. Meski sebenarnya pun tidak sedang marah pada si pelayan.
Pelayan lelaki yang masih muda itu pun mengangguk. Dia tidak tidak cemas atau was-was. Baginya, sang tuan adalah majikan yang memang senantiasa tegas, namun juga baik. Hanya satu sayangnya, sang majikan tampan yang kelewat mapan dan matang itu belum juga memiliki kekasih pujaan hati yang permanen!
🍒🍒🍒
Dhiarra sudah pasrah lambat pulang..
Bangun selepas isya' dan mendekati pukul delapan. Itu pun sebab dibangunkan oleh Dennis Tan, suami Yuaneta yang pulang dari kerja.
Gelagat ingin cepat pulang ke rumah besar, ditahan keras oleh Yuaneta dan sang suami. Keduanya memaksa Dhiarra untuk menunggu datangnya pizza jumbo yang terlanjur dipesan oleh Denis Tan untuk mereka habiskan bertiga di rumahnya.
Dan kinilah sekarang...
Gadis pendatang itu mempercepat langkah saat merasa seseorang berjalan mendekat ke arahnya. Merasa seperti saling berkejaran, menghindar namun terus dikejar.
"Cik... Cik ...!" langkah kaki yang cepat diperlambat. Cara panggil yang bukan seperti biasanya.
"Eh... Panggil saya kee..?!" Dhiarra sedikit rasa lega.Rupanya pekerja rumah ini.
"Betul.. Hanya nak sampaikan pesan tuan, cik Dhiarra ditunggu kat meja makan. Secepatnya..," pelayan itu terdiam menunggu.
Meski heran sebab sudah terlewat jam makan malam, tapi Dhiarra mengangguk menjanjanjikan.
Pelayan muda itu pun berlalu. Berjalan lebih tergesa lagi mendahului Dhiarra. Hanya kamar besar Shin sajalah tujuannya. Hendak melapor, bahwa gadis Indonesia itu telah datang...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 120 Episodes
Comments
UTIEE
wes ewes ewes.. wakakakakakakak
analogi baru nih.. 👍👍
2022-10-23
1
Katmia San
kalo di novel bukan kacung kaleng kaleng ada bang garick garangan singo edan, kalo yang ini uncle Shin gunung merapi suka nyembur 🤣🤣🤣 suka Thor, semangat terus berkarya...
2022-10-14
2
Siti aulia syifa Az_zahra
baru baca dah buat ngakak 😂😂😂😂, authornya hapal bener artis yg bening bening.
walaupun mereka bening bening gk usah mojok juga Ra, la wong uncle Shin on nya sama kamu😅😅😅😅😅
2022-08-26
1