Dhiarra menangkap sinyal ketidaknyamanan dari sikap encik Shin Adnan yang tiba-tiba berubah seketika. Encik Shin menjadi datar dan terkesan dingin setelah mengakui bahwa dirinyalah om Syafiq, om tiri yang ingin dijumpai di negara ini. Dhiarra tak habis pikir, kenapa pria yang tadinya cukup ramah dan hangat itu mendadak berubah sikap menjadi acuh padanya?
Tapi Dhiarra bukan lagi gadis kecil yang haus perhatian. Dirinya sudah cukup sangat dewasa untuk mengabaikan hal-hal remeh seperti itu. Dhiarra selalu bisa membawa diri dan mandiri di segala moment tanpa melihat siapa dan di mana dirinya. Gadis cantik itu telah terbiasa hidup kuat dan berdikari sedari dini.
"Encik Shin, saya ingin berbincang denganmu. Boleh tak, anda luangkan sedikit waktu?" Dhiarra merasa harus segera mengatakan tujuan kedatangannya ke negara ini. Tidak peduli dengan wajah-wajah masam di sampingnya. Dhiarra mendengar bisikan di hati, bahwa berjumpa dengan om Syafiq di kemudian hari, bisa jadi akan sangat sulit baginya.
"Katakan saja, Dhiarra. Kau ingin berbincang di sini atau di ruang kerjaku?" Encik Shin yang bersiap berdiri, kembali duduk dan bersiap menyimak apa yang akan dibincangkan gadis itu.
"Tidak perlu pribadi, saya rasa di sini sajalah, encik Shin. Saya juga ingin, tidak kita saja yang akan mendengar perbincangan ini . Tapi seluruh orang yang sedang duduk di meja. Tidak peduli siapa mereka bagi anda.., juga bagiku."
Gadis sangat cantik itu mulai berbicara dengan suara dan tatapan yang dingin. Di sapukan sekilas mata tajamnya ke sekeliling orang-orang di samping juga pada Shin Adnan.
"Begini, Encik Shin, anda tentunya sudah paham apa yang telah dilakukan abang anda, Hazrul bukan? Perbuatan yang dilakukannya telah terbukti menggelapkan uang di negara saya. Uang pengganti kerugian yang dituntutkan negara padanya cukup tinggi. Dan ku rasa anda pun telah paham, hanya seberapalah harta yang dimiliki abang anda."
Dhiara menutup bicaranya sejenak, kembali memandang tajam Shin Adnan. Mengambil nafas panjang dan meneruskan lagi bicaranya.
"Mengingat ibu dan abang anda begitu saling cinta, saya hanya mendukung saat ibu saya menjual seluruh aset yang dimiliki demi suaminya. Semua hasil penjualan harta benda ibuku telah diserahkan abang anda pada negara, sebagai jaminan tambahan kebebasan abang anda. Anda tahu bukan, harusnya aset yang ibuku jual itu milik siapa?"
Dhiarra kembali berhenti sejenak, menatap tajam Shin Adnan di depannya. Lelaki itu terus menyimak bicaranya dengan ekspresi tetap tenang dan diam.
"Lanjutkan, Dhiarra. ." Shin Adnan pun berbicara menatap Dhiarra tanpa gerak sedikitpun.
"Apakah anda tahu? Apakah abangmu tidak mengatakan bahwa uang jaminan yang sudah diserahkan masih jauh dari impas? Apakah anda tahu, bagaiman abang anda sekarang bisa bebas melenggang ke pulau Pinang?" Dhiarra menatap tajam pada Shin Adnan dengan sorot mata berkilatnya.
"Oke Dhiarra..Teruskan saja bicaramu." Shin Adnan sedikit menggerakkan dagu kepalanya pada Dhiarra.
"Abang anda berhasil membawa ibuku ke Penang, karena sokonganku. Ku tutup kekurangan uang penjamin itu, abang anda berjanji akan mengembalikan pinjamannya dalam sebulan. Tapi ini sudah enam bulan. Dan sayalah yang seperti sedang menanggung hukuman itu di negara saya sendiri. Usaha utama saya kena boikot pelanggan. Belum jika saya berada di luaran, orang-orang yang mengenaliku tak segan mengejar dan menyerangku. Jadi saat ini, keuangan serta keselamatanku sedang terancam di sana. Saya telah lelah bersembunyi."
Dhiarra mengambil nafasnya yang agak memburu, berusaha kembali mengaturnya hingga tenang. Shin sedang menunggu lanjutan bicaranya.
"Saya tak bisa lagi menghubungi ibuku saat ini. Terakhir kami berbicara, abang anda ingin aku menemuimu di sini. Dia kata aku bisa minta sesuatu darimu. Aku tak ingin meminta tanggung jawab ayah Hazrul padamu. Aku hanya ingin sedikit bantuanmu. Uruskan dokumenku, aku ingin menetap di sini sementara." Dhiarra menyudahi kembali bicaranya. Matanya tak lepas dari pria tampan di depannya.
"Maksudmu, kau ingin tinggal lama di sini dan diakui oleh negara ini? Kau ingin aku mengurus semua dokumennya?" Shin Adnan memajukan kepala dan punggungnya, lekat menatap mata indah itu lebih dekat.
"Ku rasa itu sangat mudah anda lakukan. Apa anda keberatan lalu mengusirku?" Dhiarra juga sedikit memajukan wajah lebih dekat dengan encik Shin.
"Untuk apa mengajukan usulan tukar kewarganegaraanmu?" Shin mengabaikan pertanyaan Dhiarra.
"Saya ingin menggali ringgit di negaramu dan sambil mencari ibuku. Saya merindukannya. Dan hal paling penting, saya hendak menagih pinjaman abangmu padaku. Bukankah jika sudah ada bukti pengakuan dari negara ini, segalanya akan mudah?" Dhiarra ingin Shin segera menyanggupi saja permintaannya.
"Apa hanya itu tujuanmu datang ke sini mencariku?" Shin Adnan memicing mata menyelidik di mata jernih Dhiarra.
"Sementara hanya itu, encik Shin. Ku harap anda tidak membuatku merasa kecewa dan sia-sia menjumpaimu. Kecuali jika ternyata anda bermurah hati mengeluarkan harta anda untuk mengganti kerugianku akibat ulah abangmu. Anda tentu tidak repot, saya akan cepat kembali ke negaraku." Dhiarra memberi tatapan mata penuh harap pada Shin.
"Bukan aku tak mau menanggung kesalahan keluargaku. Tapi tak semudah itu, Dhiarra." Shin memundurkan punggung, menyandar di kursi. Diperhatikan seksama gadis di seberang depannya.
"Baiklah, akan ku urus kewarganegaraanmu. Kau bisa melakukan apapun setelah itu. Tapi ingat Dhiarra, kau harus bisa jaga diri. Jangan pernah mempermalukanku." Shin menatap Dhiarra, lalu kepada orang-orang yang duduk di sampingnya.
"Kalian sudah paham siapa gadis ini? Sekarang giliran kalian memperkenalkan diri padanya." Shin memberi perintah serta memandangi mereka, namun tak satu pun yang bersuara seperti yang di inginkannya.
"Fara..,mulai darimu!" Shin menunjuk pada gadis cantik berkulit putih yang duduk tepat di samping Dhiarra agak jauh. Fara nampak ragu, tapi demi mendapat tatapan tajam Shin, gadis itu menurut. Mengulur tangan halusnya pada Dhiarra.
"Hai..Fara..Farahida Adnan." Dhiarra menyambut erat jabat tangan Fara padanya. Nama Fara berakhiran sama dengan Shin, mungkin Fara adik perempuannya.
"Dia adik perempuanku satu-satunya." Keterangan Shin sangat berguna bagi Dhiarra. Suasana kembali hening. Dan seorang perempuan muda berwajah masam di samping Fara, mengulur tangan sangat kaku pada Dhiarra.
"Sahila ." Perempuan itu sangat aingkat menyebutkan namanya.
"Dia Sahila Rahman. Saudarimu, anak perempuan bang Hazrul yang ke dua." Dhiarra mengangguk pada perempuan sinis yang ternyata saudara tirinya. Namun, kehangatan Dhiarra tetap disambut dingin oleh Sahila.
"Dan yang di sebelahnya itu adalah kakak Sahila, Nimra Rahman. Anak pertama." Melihat tatapan Nimra yang tak kalah sinis dari Sahila, Dhiarra hanya memasang wajah datarnya, tak ingin sambutan dingin dari Sahila itu terulang.
"Dan itu adalah suami Nimra, Rafiq." Shin menunjuk ke arah lelaki di samping Nimra. Lelaki dengan tatapan remeh pada Dhiarra sejak awal kedatangannya.
"Dan ada dua orang lagi saudara tirimu, Dhiarra. Bekas istri Hazrul, Zubaidah. Ibu mereka. Dan Hisyam, anak bungsu Hazrul. Mereka berdua sedang tidak di rumah.." Shin selesai memperkenalkan seluruh penghuni rumah besarnya.Lelaki itu mengambil minum segelas, dan menghabiskan sekaligus.
"Apa ada yang ingin kau katakan lagi, Dhiarra?" Shin telah siap berdiri.
"Sementara cukup, encik Shin. Terimakasih atas kesanggupanmu memenuhi keinginanku." Diana memandang redup wajah Shin yang berdiri menjulang di depannya.
Shin hanya mengangguk samar pada ucapan gadis itu. Sebelum pergi, dipanggilnya pelayan tadi dan berbicara sambil menunjuk tangan ke arah Dhiarra. Pelayan pergi mendapati Dhiarra.
"Mari, cik..Sila anda ikutkan saya.." Dhiara mengangguk dan berdiri. Sempat mengangguk sopan pada orang-orang di meja, sebelum pergi mengikuti pelayan itu. Pelayan akan mengantar Dhiarra menuju sebuah kamar tamu yang akan ditempatinya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 120 Episodes
Comments
M akhwan Firjatullah
Mak serasa ikut masuk k dalam cerita tp berasa ngobrol bareng Upin Ipin
2022-11-03
1
Novelable uwwu
cuma mw nulis aq dah komen ini thor..
2022-08-28
1
aning purwasih
Thor, up nya lama gk??? takut pas seru2nya kau gantungin, gk tau apa lagi kemarau?! pasti jadi kanebo kering klo kelamaan digantung
2022-08-24
1