Denis Tan, suami Yuaneta menyarankan agar Dhiarra membuka usaha kedai perobatan. Kedai yang cenderung menjual obat, buatan asli dari ndonesia. Denis mempunyai rekan akrab yang telah menggeluti dunia bisnis jual beli obat dari berbagai negara, dan berkedai pusat di kota Kuala Lumpur. Dhiarra pun cepat setuju hal itu. Yang utama baginya adalah mendapat tempat untuk naungan merancang busana, yang akan jadi bisnis targetnya.
Seperti saran suami Yuaneta, siang ini Dhiarra tengah menunggu teman Denis, di Lao San Cafe, daerah Lorong Hang Jebat, Melaka. Sebuah rumah makan unik bernuansa ala latar negara Cina, dengan pemiliknya pun sepasang suami istri berdarah Cina. Tempat yang sesuai dengan permintaan teman Denis, seorang warga Cina pendatang di negara Malaysia juga.
"Selamat siang, anda cik Dhiarra?" Dhiarra berdiri menyambut ulur tangan lelaki Cina yang baru turun dari sebuah mobil panjang dan mewah.
"Betul, saya Dhiarra, teman Denis Tan. Anda..?" Diara menggantung ucapan dengan tangan yang masih dijabat oleh lelaki asing itu..
"Saya Chen Lei. Panggil saya Chen!" Lelaki Cina itu memperkenalkan diri dengan nada sangat tegas. Sebagaimana kebanyakan cara bicara orang Cina.
"Baik encik Chen." Dhiarra menjawab mengiyakan.
"Tak usah guna encik, Dhiarra. Aku bukan Melayu. Jika ingin, pilih saja koko atau gege.Sesuka hatimu sajalah, Dhiarra!" Chen berkata pada Dhiarra sedikit acuh.
Dhiarra mengabaikan, bagaimanapun sikap Chen, Dhiarra menginginkan sebuah kerjasama. Kejasama jual beli di bidang import obat dari Indonesia melalui tangan Chen, bahkan mungkin sedikit bantuan dari lelaki Cina itu.
Selanjutnya, Dhiarra dan gege Chen berbincang tentang niat Dhiarra untuk memiliki sebuah kedai obat prodak Indonesia, dengan gege Chenlah suplyernya. Dan sedikit berharap bantuan agar gege Chen sekalian membantu mencarikan tempatnya.
"Maksudmu, kau ingin tinggal operasi sajakah?"Chen merenung Dhiarra cukup dekat dengan alis yang tertaut. Lelaki berkulit putih itu nampak sambil memikirkan sesuatu.
"Iya, gege Chen. Aku ingin tinggal membuka, menjualnya, dan tidak ingin berbelit. Seluk beluk di sini, aku belum mengerti. Tapi aku ingin cepat. Ku harap tolong uruskan sekali tempatnya. Apa gege Chen sudi?" Dhiarra berusaha tegas namun tetap lembut bicaranya. Ingin sedikit mendapat hati dari Chen, jika niatnya tersambut, pasti berderet kemudahan berada digenggaman!
"Tapi, Dhiarra. Apa kau sudah siap dananya?" Gege Chen terus menatap Dhiarra dengan dekat.
"Ku rasa uangku masih cukup, gege Chen. Andai kurang, apakah akan kau hentikan bantuanmu padaku, gege Chen?" Dhiarra juga sedikit mendekatkan wajah pada lelaki Cina yang berwatak keras itu. Gege Chen nampak mengambil nafasnya dalam-dalam, saat wajah Dhiarra yang halus cerah itu mendekat.
"Akan ku pikirkan,Dhiarra.." Jawaban gege Chen terdengar ragu dan gamang. Chen telah menarik wajahnya kembali dan cukup berjarak dari Dhiarra.
"Tolonglah, gege Chen. Aku tak ingin menganggur terlalu lama di sini. Seperti manusia tidak berguna saja rasanya." Dhiarra kembali mengeluarkan suara merayunya. Gege Chen terasa sangat susah menjawab.
"Baiklah, Dhiarra. Akan ku bereskan urusan kedai obatmu!" Akhirnya gege Chen menjawab Dhiarra dengan suara tercekat.
Chen adalah pebisnis profesional tanpa mengenal teman. Urusan teman dan pekerjaan adalah dua hal yang tak pernah berkaitan. Tapi kali ini, Chen merasa lunglai karena desakan gadis muda dari Indonesia itu. Dan mengarakan hal tiba-tiba yang belum pernah dilakukan selama dalam urusan bisnisnya.
"Ah, terimakasih atas janji kebaikanmu padaku, gege Chen. Kabar baik darimu adalah hal yang sangatlah ku tunggu. Harap jangan mengecewakanku, gege Chen." Dhiarra mendekap dua telapak tangannya ke dada. Gadis itu terlihat semakin lebih memikat dengan tingkahnya yang begitu. Chen terasa megap dibuatnya.
"Jangan risau. Pasti ku usahakan yang paling tepat untukmu, Dhiarra." Chen nampak menyembunyikan ekspresi hati di mukanya.
"Terimakasih, gege Chen!" Dhiarra telah yakin, bahwa Chen tidak akan berkhianat pada kata janjinya. Hati gadis itu terasa tenang sekarang.
Chen dan Dhiarra saling bercakap sebentar dengan dua botol minuman kemasan di meja. Dhiarra menolak tawaran Chen untuk makan siang di kedai. Dhiarra memang cukup pemilih untuk pesan menu dari sebuah rumah makan. Rumah makan Cina, terpaksa belum masuk ke dalam daftar tempat pilihannya.
Chen tinggal sementara di kota besar Kuala Lumpur, ibukota negara Malaysia. Sedang keluarganya ada di Indonesia, untuk pihak ayah, dan di Tiongkok untuk keluarga pihak ibu. Sedang orang tua Chen, ayah dan ibunya, memilih untuk tinggal menetap di kota Jakarta, Indonesia. Itulah, Chen lebih fasih menggunakan logat bahasa Indonesia, meski dia adalah seorang lelaki Cina sekalipun!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 120 Episodes
Comments
hania putri
gege itu panggilan untuk orang mana ya kak?
2023-01-19
1